Gavino ( Sistem Mafia )

Gavino ( Sistem Mafia )
Harus Ada Pembicaraan


__ADS_3

"Apa yang ingin kalian ketahui sebagai jawabannya?" Gavino justru membuat pertanyaan balik, pada kedua gadisnya itu. Tanpa memberi jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh Bianca tadi.


Gavino tersenyum tipis, setelah mengajukan pertanyaan. Karena mendapati kedua gadisnya itu sama-sama mengerucutkan bibirnya, karena merasa kesal dengan sikap dan tingkah Gavino kali ini.


"Sudahlah. Tidak usah ngambek-ngambek seperti itu! Aku pasti akan bicara, jika sudah waktunya nanti," ujar Gavino, memberikan gambaran ada keduanya. Supaya tidak lagi marah kepada dirinya.


"Stai iniziando a tenerci dei segreti?"


"Kamu mulai membuat rahasia pada kami berdua ya Vin?"


Gress dan Bianca, mengajukan pertanyaan yang sama. Karena mereka berdua menuntut sebuah jawaban yang membuat mereka merasa puas dan lega, agar tidak merasa penasaran lagi.


"Hemmm... sepertinya aku tidak bisa mengelak, karena kalian selalu bisa membuatku untuk bicara."


Gavino akhirnya terpaksa memberikan jawaban, atas teka-teki yang membuat kedua gadisnya itu merasa penasaran.


"Aku ingin mengajak kalian berdua, untuk tinggal di negara Paman Sam sana. Apa kalian setuju?"


Sekarang, Gress dan Bianca saling pandang untuk kesekian kalinya. Karena mendengar jawaban yang diberikan oleh Gavino barusan.


"Tinggal di negara Paman Sam? Maksudnya Amerika?" tanya Gress, mengulang kembali jawaban yang diberikan oleh Gavino tadi.


Dengan cepat, Gavino menganggukkan kepalanya. Mengiyakan pertanyaan dari Gress. Yang tentunya merasa kaget, mendengar jawaban darinya.


Sekarang giliran Bianca yang mengajukan pertanyaan, "kenapa pindah ke sana? atau, ini ada kaitannya dengan Verdi dan Cardi? Tapi bukannya mereka sudah Kamu tangkap ya Vin? atau mereka telah kabur?"


Gavino menggeleng dengan cepat.


"Lalu?" tanya Bianca, mengejar sebuah penjelasan yang dapat membuatnya lebih puas. Karena mengetahui alasan yang pasti.


"Hhh... apa Aku harus membuat sebuah alasan, yang bisa meyakinkan Kalian berdua? padahal, Aku hanya ingin mengajak kalian tinggal di sana, agar bisa lebih tenang. Apakah itu salah?" tanya Gavino, yang enggan memberikan jawaban, atau penjelasan mengenai alasannya. Kenapa dia memilih untuk tinggal di Amerika sana, setelah semua kejadian yang mereka alami.


Tapi sepertinya kedua gadisnya itu tahu, apa yang sedang dipikirkan oleh Gavino saat ini.


"Aku tidak keberatan," ujar Gress memberikan jawaban.


Dia tentu saja merasa tidak keberatan, meskipun sehat ini dia sudah bertemu dengan papanya.

__ADS_1


Tapi dia juga menginginkan sebuah kehidupan yang lebih tenang, sama seperti dulu. Sebelum mengenal Gavino maupun Thomas Bryan. Yang ternyata memiliki banyak musuh.


"Aku, Aku tentu saja sangat setuju.Tapi, apakah kamu sudah berpikir masak-masak Vin?" Bianca mencoba untuk memberikan jawaban, tapi juga ingin tahu. Bagaimana cara pandang Gavino, mengenai rencananya itu.


"Aku sudah memikirkannya sejak jauh-jauh hari. Setelah semua yang terjadi pada kita. Aku hanya ingin sebuah ketenangan, jauh dari hiruk-pikuk kota Roma. Aku berharap, di saat berada di negara Paman Sam sana, tidak ada yang bisa mengenaliku lagi."


Gavino memberi alasan yang pasti, kenapa dia ingin mengajak kedua gadisnya itu pindah ke negara Paman Sam.


"Tapi, bagaimana kuliahku?" tanya Gress, yang mempertanyakan pendidikannya.


"Kamu bisa pindah Gress!" sahut Bianca cepat. Karena dia juga pastinya akan pindah kuliah di sana.


"Apa Kamu juga akan pindah kuliah di sana?" tanya Gress, mencari tahu pemikiran dari Bianca. Yang sepertinya menyambut dengan antusias, dengan rencana yang sudah dibuat oleh Gavino untuk mereka berdua.


"Tentu saja Gress. Aku makan pindah ke sana. Lagi pula, sekolah desain ada di mana saja. Dan di Amerika juga menjadi trend center, untuk sebuah mode fashion. Jadi, kenapa tidak?"


Gress mengangguk setuju, dengan apa yang sudah dijabarkan sebagai alasan Bianca menerima rencana Gavino.


"Lalu, bagaimana dengan mamamu?" Gress masih mencari celah, untuk membuat Bianca ragu. Dengan keputusannya, menerima rencana yang dibuat oleh Gavino, tanpa berbicara pada mereka terlebih dahulu.


"Mama tidak akan mempermasalahkan, apapun yang menjadi keputusanku. Karena semua keputusan yang Aku ambil, akan menjadi tanggung jawab ku sendiri."


"Apakah Kamu tidak ingin pergi dari kota Roma ini?"


Akhirnya Bianca mengajukan pertanyaan balik, pada Gress. Yang sepertinya merasa keberatan, jika ikut pergi ke Amerika. Atau bisa juga, Gress keberatan jika dia mengikuti Gavino ke Amerika, yang tentunya akan pergi bersama dengan Gress.


Tapi Bianca tidak langsung bertanya, dengan apa yang menjadi pemikirannya saat ini. Dia cukup dewasa, untuk tidak menyinggung apapun. Soal hubungan mereka bertiga.


Dan sepertinya, Gavino lebih peka. Setelah mendengar pertanyaan yang diajukan oleh bianca pada Gress.


"Jika kalian berdua tidak setuju, Aku tidak masalah. Aku akan pergi sendiri, untuk menenangkan diriku dan juga menyelesaikan studi ku di sana." Gavino akhirnya menyatakan keputusannya, yang tetap akan pergi ke Amerika sana. Meskipun kedua gadisnya itu tidak ikut bersama dengannya.


Sekarang, Gress terdiam cukup lama.


Sedangkan Bianca tersenyum, mendengar keputusan yang diambil oleh Gavino barusan.


Dia ingin melihat kekasihnya itu tidak terpengaruh pada apapun, setelah membuat suatu keputusan. Sebab seorang pemimpin, harus memiliki pendirian. Setelah membuat keputusan, sehingga tidak mudah untuk digoyahkan. Hanya karena satu orang game tidak mendukungnya.

__ADS_1


Sekarang Gress menundukkan kepalanya, karena dia memang merasa keberatan. Jika harus meninggalkan kota Roma, dan juga papanya sendirian.


Meskipun sebenarnya Gress merasa cukup senang, karena dia juga mempunyai rencana untuk tinggal di Amerika dengan tenang. Tapi tentunya tanpa adanya Bianca, karena itu sama saja dengan kehidupannya di kota Roma saat ini.


"Aku akan memikirkannya lagi."


Akhirnya Gress meminta sedikit waktu, untuk berpikir sebelum membuat keputusan.


*****


Di markas besar, Verdi yang sudah tidak berdaya, masih memikirkan cara. Untuk bisa mendapatkan kesempatan agar bisa kabur dari tempat ini.


Dia mencoba untuk berkomunikasi dengan Cardi, agar bisa bekerjasama mencari cara supaya bisa kabur.


"Cardì! riesci a sentirmi? Scopriamo come uscire di qui!"


"Cardi! Apakah Kamu bisa mendengarku? ayo cari cara, supaya kita bisa keluar dari tempat ini!" Verdi meminta pada Cardi, agar bisa bekerjasama dengannya.


"Eghhh... Aku, Aku sudah tidak bisa berfikir. Aku, pasrah dengan keputusan yang dibuat oleh Gavino untukku."


Ternyata Cardi sudah putus asa, dan tidak ingin melakukan apapun. Yang tentu saja bisa membuat keadaannya lebih rumit lagi. Karena bisa jadi, pada saat dia kabur dan tertangkap nantinya, nyawanya akan melayang. Dan dia tidak punya kesempatan lagi.


"Cihhh! dasar Kamu pengecut!"


"Sssttt... Kamu tidak usah memakiku. Pikirkan saja, bagaimana caranya agar Kamu bisa segera kabur dari sini. Dan tidak usah mengajakku untuk pergi dari sini!"


Verdi tersenyum sinis, membenci sikap Cardi yang dianggapnya sebagai seorang pengecut. Karena menyerah begitu saja, dengan keputusan yang ada di tangan Gavino.


Tapi berbeda dengan pemikiran Cardi sendiri, yang mencoba untuk tidak melawan Gavino. Karena sebenarnya Cardi juga ingin bebas, dan tidak mengalami penyiksaan.


Mereka berdua, Cardi dan Verdi, masing-masing memiliki pemikiran yang sama. Tetapi dengan cara yang berbeda, tuk bisa mendapatkan sebuah kebebasan. Agar bisa tetap bertahan hidup.


Clek!


Pintu ruangan terbuka. Ada dua orang anak buahnya Gavino, yang masuk ke dalam ruangan.


"Apa yang kalian bicarakan?" bentak salah satu dari mereka yang masuk ke dalam ruangan, di mana Verdi dan Cardi di sekap.

__ADS_1


"Tidak. Kami tidak bicara apa-apa."


__ADS_2