
Gavino pamit pada kepala maid di rumahnya. Dia berpesan agar tetap bekerja dengan baik. Dan untuk gaji mereka semua, akan tetap dibayarkan oleh pihak orang yang sudah ditunjuk sebagai manajer di kios dan perusahaan warabala milik Giordano.
"Tetap bekerjasama dengan yang lainnya."
"Baik Tuan Muda. Hati-hati diperjalanan."
Kepala maid dan para pekerja yang lain, tentu sama. Mereka tidak akan banyak bertanya, dengan kesibukan dan kepentingan para tuan_nya.
Setelah selesai urusannya di rumah, Gavino segera berangkat. Dia mengunakan mobil yang ada di rumah. Karena mobil miliknya dan milik papanya, rusak parah dan masih ada di bengkel untuk diperbaiki juga.
Dia sudah menyerahkan segala sesuatunya yang berhubungan dengan usaha papa dan mamanya pada pihak manager dan pengacara.
Sekarang dia ingin menghilang dari kota ini untuk sementara waktu. Mencoba untuk mencari tahu, apa yang saat ini menjadi tujuan hidupnya. Karena kebahagian untuk kedua orang tuanya, sudah tidak lagi dia butuhkan.
Mereka berdua sudah tidak ada lagi di dunia ini. Pergi meninggalkan dirinya sendiri, pada saat Gavino juga tidak ada di sisi mereka berdua.
Penyesalan itu datang di hati Gavino. Karena dia lebih mementingkan nasib mesin pencetak uang palsu, dari pada memikirkan keadaan Giordano dan Mirele pada saat itu.
Cekiiittt...
Mobil di rem secara mendadak, sehingga gesekan ban mobil dengan aspal terdengar memekakkan telinga.
"Hah! apa itu tadi?"
Gavino langsung keluar dari dalam mobil, untuk melihat keadaan di luar. Dia sedang melamun, sehingga tidak melihat keberadaan orang yang mau menyebrang jalan.
Tapi ternyata, Gavino tidak menemukan apa-apa di depan mobilnya. Padahal dia sangat yakin bahwa, dia tidak sempat menabrak orang yang tadi dia lihat. Karena rem yang dia pijak, membuat mobil berhenti dengan cepat.
"Ke mana tadi orangnya? Aku yakin, jika tadi ada orang di sini."
"Masa sih Aku sudah menabraknya?"
Pertanyaan demi pertanyaan, diajukan oleh Gavino pada dirinya sendiri. Dan sekarang dia memeriksa keadaan di bawah mobil.
Ternyata dia juga tidak menemukan apa-apa di bawah mobilnya.
__ADS_1
"Lalu, tadi apa ya?" gumam Gavino bertanya, tentang apa yang tadi dia lihat.
"Emhhh... apa karena Aku melamun, sehingga Aku jadi berhalusinasi juga?" tanya Gavino lagi dengan bergumam.
Dia pun akhirnya memutuskan untuk kembali masuk ke dalam mobil, setelah mengelengkan kepalanya beberapa kali. Membuang segala pikiran yang tidak masuk akal, yang dia alami barusan.
Setelah kembali melakukan perjalanan, Gavino tidak mau lagi berpikir macam-macam. Dia berusaha untuk tetap berkonsentrasi, supaya tidak terjadi lagi hal yang sama seperti tadi.
Tapi ternyata, di belakang mobil Gavino, memang ada seseorang yang telah masuk ke dalam bagasi mobilnya dengan cepat. Sehingga Gavino tidak menyadarinya.
*****
Mobil yang dikendarai Gavino berhenti di pengisian bahan bakar. Dia menekan tombol setelah selesai menggesek kartunya, kemudian mengambil selang untuk melakukan pengisian pada tabung bahan bakar di mobilnya sendiri.
Setelah terisi penuh, dia bermaksud untuk masuk ke dalam mobil lagi.
Tapi langkahnya berhenti, di saat melihat pintu bagasi mobilnya terbuka sedikit. "Kenapa Aku tidak perhatian, jika bagasi dalam keadaan terbuka seperti itu?" gumam Gavino bertanya.
Namun sayangnya, ada beberapa mobil yang mengantri dibelakangnya. Sehingga mau tidak mau, dia harus pergi dari terminal pengisian bahan bakar tersebut.
Dug dug dug!
Gavino mencoba untuk memukul pintu bagasi. Dia mengantisipasi, jika ada suatu di dalamnya.
Tapi ternyata tidak ada pergerakan apapun dari dalam. Sehingga Gavino memutuskan untuk membukanya segera.
Klik!
Pintu bagasi terbuka. Dia tidak menemukan apa-apa di dalamnya.
"Aneh. Aku sangat yakin, jika tadi di rumah bagasi dalam keadaan baik. Sewaktu di jalan, Aku tidak berhenti juga, untuk memasukkan sesuatu ke dalam bagasi. Tapi tadi, di saat selesai mengisi bahan bakar, kenapa tampak terbuka. Padahal ini tidak ada apa-apanya juga. Apa Aku berhalusinasi lagi?"
Akhirnya Gavino tidak ambil pusing. Dia kembali berjalan menuju ke arah pintu depan, membukanya dan masuk ke dalam.
Di saat dia siap untuk menghidupkan kembali mesin mobilnya, ada seseorang dibelakang tempat duduknya, siap dengan menodongkan senjata api ke arah leher Gavino.
__ADS_1
"Lanjutkan perjalananmu, dan jangan berhenti lagi!" perintah orang tersebut dengan gertakannya.
Dalam hati, Gavino akhirnya membuat kesimpulan bahwa, orang tersebut yang tadi dia lihat dan hampir saja tertabrak mobilnya.
Mungkin, di saat di turun memeriksa, orang tersebut masuk dengan paksa ke bagasi mobilnya, kemudian berpindah lagi ke tempat duduk penumpang di bagian belakang.
Dan sekarang, dia sedang mengancam Gavino agar tetap menjalankan mobilnya lagi.
Tapi Gavino berusaha untuk tetap tenang, dan tidak merasakan rasa takut. Bahkan akhirnya dia juga bertanya pada orang yang saat ini sedang menodongnya, "memangnya Anda mau ke mana Tuan?"
"Diam, dan jangan banyak tanya!"
Orang tersebut tidak menjawab pertanyaan dari Gavino. Dia justru membentak Gavino, supaya tetap diam dan tidak banyak bicara.
Akhirnya Gavino menuruti permintaan orang tersebut. Dia juga tidak mau mati konyol, sia-sia tanpa ada alasan yang jelas.
Setelah hampir dua jam lamanya, Gavino merasa lapar dan haus.
"Tuan. Bolehkah Saya berhenti sebentar saja? Saya lapar dan juga haus. Saya mau mengisi perut dulu." Gavino berharap agar orang itu mau juga ikut bersamanya. Karena dia berpikir bahwa, pastinya orang itu juga dalam keadaan lapar dan juga haus.
"Berhenti saja di mini market. Kamu bisa beli roti atau burger di outlet yang ada di dalam mini market. Begitu juga dengan minumannya."
"Umhhh... tapi bagaimana caranya Saya makan? Lebih baik ke rumah makan saja! Tenang Tuan, Saya tidak akan lari." Gavino berusaha untuk bernegosiasi, dengan orang yang masih setia mengarahkan pistolnya di leher Gavino.
"Terserah Kamu. Tapi awas ya, Aku tidak akan segan untuk membunuhmu, jika Kamu macam-macam!"
Gavino menganggukkan kepalanya, mengiyakan perkataan orang tersebut. Kemudian memelankan laju mobilnya, dan akhirnya berhenti di sebuah rumah makan yang dia temui.
Pada saat dia turun dari mobil, dia kembali melongok kan kepalanya, masuk ke dalam mobil.
"Tuan. Ayok ikut makan sekalian! Pasti tuan juga lapar dan haus," ajak Gavino masih dengan sikap yang tadi.
Orang itu berpikir sejenak, sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya. Orang tersebut membuka pintu mobil, kemudian berjalan dengan Gavino menuju ke tempat makan yang ada di pinggir jalan. Setelah menyelipkan senjata api yang tadi dia pegang ke pinggangnya.
Mereka berdua, akhirnya duduk dan memesan makanan untuk makan siang mereka berdua.
__ADS_1
Dari luar, orang lain melihat keduanya seperti dua orang teman yang sedang melakukan perjalanan jauh. Dan berhenti untuk sekedar makan saja.