
Instalasi Gawat Darurat, sibuk dengan adanya korban kecelakaan. Dengan luka yang cukup parah di pelipis dan di bawah dagu.
Kaki kirinya juga ada luka robek di atas lutut, tapi tidak terlalu parah. Sedangkan kaki bagian bawah, justru aman. Sebab pengendara menggunakan sepatu boots. Sedangkan untuk tubuhnya yang lain cukup aman, sebab tertutup dengan jaket kulit asli yang cukup tebal.
Untuk luka di pelipis dan dagunya itu, karena ada pecahan kaca yang menancap di bagian tersebut. Sehingga banyak darah yang keluar melalui luka tersebut.
"Ini harus segera di jahit!"
"Ambilkan peralatan!"
"Kapas dan alkohol!"
"Jarum dan benang!"
Dokter dengan cekatan memberikan instruksi kepada perawat, untuk menyediakan alat-alat yang dibutuhkan.
Di luar ruangan IGD.
Gress dan Robert menunggu dengan cemas, karena keadaan Gavino yang belum diketahui. Sebab masih ditangani oleh tim dokter.
"Gress, duduklah!"
Robert meminta Gress untuk duduk, supaya tidak mondar-mandir. Dan membuatnya semakin cemas.
"Aku... Aku sangat cemas Paman," ujar Gress dengan terbata-bata.
"Ya. Aku juga sama cemasnya. Tapi itu tidak akan mengubah keadaan, karena Gavino masih ada di dalam. Dokter pasti akan melakukan hal yang terbaik untuk dia."
Akhirnya Gress mengikuti saran Robert, untuk duduk. Dia meremas jari jemarinya sendiri, untuk mengurangi rasa gugup.
Tak lama kemudian, dokter keluar dari ruangan IGD. Mencari keberadaan keluarga pasien.
"Keluarga pasien dengan nama Gavino!"
"Saya Dok!"
"Bagaimana Dok?"
Gress dan Robert, berdiri bersamaan. Dengan meminta penjelaskan kepada dokter, yang baru saja keluar mencari keberadaan mereka.
"Apa sudah siap untuk ruangan inapnya?"
"Ya sudah Dok. Saya udah mendaftarkan ke administrasi, dan siap untuk dipindahkan."
Akhirnya dokter kembali masuk ke dalam ruangan, untuk memberitahu kepada perawat, supaya memindahkan Gavino ke ruang rawat inapnya.
Dengan cemas, Gress dan Robert menunggu mereka di depan pintu IGD.
"Tenang Gress. Jika dokter sudah memindahkan Gavino ke ruangan rawat inap, itu tandanya Gavino sudah melewati masa kritisnya." Robert kembali menenangkan Gress, padahal dia sendiri sebenarnya juga masih merasa cemas.
Tak lama kemudian, dua perawat mendorong tempat tidur Gavino, untuk dipindahkan ke kamar rawat inapnya. Sesuai yang sudah dipesan oleh Robert.
__ADS_1
Gress dan Robert, berjalan mendekat ke tempat tidur Gavino didorong oleh perawat. Mereka mendampingi dari arah samping, menuju ke ruangan yang akan mereka tuju.
Keadaan Gavino masih belum sadarkan diri.
*****
Di tempat kejadian, jalan yang menjadi tempat tempat kecelakaan Gavino.
Anak buahnya Gavino, melakukan penyelidikan tentang kecelakaan yang menargetkan bosnya.
Dan ternyata, kecelakaan tersebut disengaja, bukan karena ketidaksengajaan.
Sekarang, mereka mencari tahu jejak dari orang yang bermaksud mencelakai Gavino. Dari beberapa rekaman cctv sekitar, dan juga rekaman cctv yang berada pada sepeda motor Gavino sendiri.
Ternyata, orang tersebut tidaklah orang jauh. Tapi orang terdekat dengan Gavino sendiri. Bahkan pernah menjadi orang kepercayaan dari Gavino, untuk beberapa waktu yang lalu.
Semua bukti telah diketahui anak buah Gavino, kemudian dilaporkan kepada Robert.
Sayangnya, saat ini Robert sedang berada di rumah sakit. Sedangkan handphone miliknya justru tertinggal di dalam mobil. Yang ada di parkiran rumah sakit.
Karena tidak ada tanggapan dari Robert, dua orang akhirnya menyusul ke rumah sakit, untuk memberikan laporan.
"Cepat berikan laporan pada Robert. Jika temannya sendiri yang melakukan semua ini!"
Dengan cepat, orang tersebut melajukan mobilnya untuk sampai di rumah sakit. Guna melaporkan hasil penyidikannya tersebut.
Sedangkan yang lainnya, mencari jejak dari orang yang sudah mencelakai Gavino.
*****
Gavino sudah berada di ruangan rawat inap, sama dengan Gress dan juga Robert. Dia masih belum sadarkan diri, sedangkan perawat sudah kembali ke tempat tugasnya.
"Paman, apa Gavin akan baik-baik saja?" tanya Gress, dengan pemegang tangan kekasihnya itu.
"Percayalah Gress. Gavin akan baik-baik saja."
Sekarang Robert mencari ponselnya, "di mana ponselku?" tanya Robert, di saat dia sadar jika tidak membawa ponselnya.
"Gress. Tunggu Gavin ya! Aku mencari ponselku terlebih dahulu. Mungkin tertinggal di dalam mobil."
"Ya Paman."
Tapi sebelum Robert membuka pintu, ada dua orang yang sudah membuka pintu dari luar. Ternyata itu adalah anak buah buah Gavino.
"Tuan Robert."
Tentu saja Robert kaget, karena anak buahnya Gavino datang dengan tergesa-gesa.
"Ada apa?"
Akhirnya mereka ceritakan hasil dari penyidikan mereka. Meskipun sebenarnya kecelakaan itu juga sudah diselidiki oleh pihak kepolisian. Tapi temuan mereka ini, belum dilaporkan pada pihak kepolisian.
__ADS_1
"Jadi..."
"Benar Tuan."
Robert menghela nafas panjang, karena dia tidak pernah menyangka bahwa, George adalah orang yang menjadi dalang dari kecelakaan Gavino ini.
"Apa maksudnya melakukan semua ini?" Pertanyaan Robert ini, tentu saja tidak ada yang menjawabnya.
"Apa kalian tahu, di mana tempat tinggalnya George sekarang?"
"Masih di cari Tuan."
"Teruskan pencarian. Aku akan segera melakukan pencarian juga. Maaf, ponselku sepertinya tertinggal di dalam mobil."
Anak buahnya Gavino, hanya mengangguk mengerti, karena tadi mereka memberikan informasi. Tapi tidak ada balasan dari Robert. Itulah sebabnya, mereka segera menyusulnya ke rumah sakit ini.
Robert ingin pergi ke parkiran mobil, untuk mengambil ponselnya. Dia ingin
menghubungi beberapa pihak apartemen, untuk mencari data tentang keberadaan George. Yang katanya pindah ke sebuah apartemen.
Tapi karena tak lama kemudian Gavino sadar, tahunya robot mengurungkan niatnya.
"Egh... Aww..."
Gavino mengaduh kesakitan, karena pelipis dan dagunya yang terasa sakit. Akibat jahitan dari luka robek yang dia alami.
"Gavin," seru Gress dengan meringis karena ikut merasakan rasa sakit.
Sedangkan Robert memencet tombol pasien untuk memanggil dokter.
Tak lama kemudian, dokter masuk ke dalam ruangan untuk melakukan pemeriksaan terhadap Gavino yang baru saja sadar.
Akhirnya dokter melakukan pemeriksaan, dan mengatakan bahwa kasino baik-baik saja.
"Tidak apa-apa. Ini wajar," ujar dokter berikan keterangan.
Gress mengangguk. Begitu juga dengan Robert, yang akhirnya mengurungkan niatnya untuk pergi terlebih dahulu.
Dia menunggui Gavino, hingga semuanya baik-baik saja.
"Robert. Ba... bagaimana?" tanya Gavino terbata-bata. Dia sepertinya ingin tahu, apa yang terjadi pada dirinya.
"George," jawab Robert, yang seakan-akan tahu, ke mana arah pertanyaan yang diajukan oleh Gavino.
"George?"
"Ya. Dia adalah otak dari kecelakaan yang Kamu alami ini."
Gress juga kaget, mendengar penjelasan yang diberikan oleh Robert pada Gavino.
"Kenapa paman George melakukan semua ini?" tanya Gress tidak percaya.
__ADS_1
Tapi Robert tidak bisa memberikan penjelasan, karena tidak tahu, apa motif dari George melakukan semua ini.
"Apa mungkin dia mau menjadi king mafia selajutnya?" gumam Gavino menerawang jauh. Karena hari ini, dia baru saja mendapat gelar itu dari king Black.