
Hari ini ujian selesai. Semua siswa siswi bersorak-sorai, meluapkan kegembiraan yang mereka rasakan. Karena beberapa hari terakhir ini, mereka seperti sedang menanggung beban berat.
"Gavin!"
"Vin!"
Bianca dan Madalena, berbarengan memanggil nama Gavino. Yang saat ini sedang berbincang-bincang bersama dengan Jeffrie dan Lorenzo.
Dante dan Cardi, tidak terlihat ada di antara mereka bertiga. Karena ruangan yang mereka gunakan untuk ujian memang membeda.
Seperti sedang ikut lomba gerak cepat, Bianca dan Madalena menghampiri Gavino bersamaan. Ini membuat Jeffrie dan Lorenzo saling pandang, tanpa bersuara.
Dalam hati mereka berdua berkata, 'perang besar apa kecil ini? atau cuma perang salju alias perang dingin.'
Tapi ternyata pertanyaan dan dugaan keduanya salah. Karena Bianca maupun Madalena, sama-sama saling berpelukan, di depan Gavino.
Jeffrie menyenggol pundak Lorenzo, mengunakan pundaknya sendiri.
Begitu juga dengan Lorenzo, yang membalas apa yang dikatakan dilakukan oleh Jeffrie padanya.
Mereka berdua tidak tahu, jika antara Bianca dengan Madalena sudah baik-baik saja. Sejak kasus di keluarga Madalena terungkap.
Karena mama Bianca, yang memang seorang spikiater. Membantu proses penyembuhan papanya Madalena.
Itulah sebabnya, Madalena dan Bianca berhubungan dengan baik. Bahkan menjadi lebih dekat, dan tidak lagi bersaing untuk mendapatkan perhatian dari Gavino.
Tapi Gavino tidak memberitahu pada mereka, teman-temannya. Karena menganggap bahwa semua itu tidak perlu menjadi sebuah pembahasan yang serius.
Dua remaja saling bersaing, kemudian menjadi baik. Itu adalah hal yang biasa terjadi.
Tapi dari arah samping, datang Dante dan Cardi dengan muka masam. Sama seperti orang yang sedang kesal dan kecewa.
"Mereka berdua kenapa?" tanya Lorenzo, yang merasa penasaran dengan kedatangan kedua temannya itu.
Yang lain hanya bisa diam. Mereka semua juga tidak tahu, apa yang menyebabkan Dante dan Cardi seperti sekarang ini.
"Hai! Kalian berdua kenapa?" tanya Jeffrie, begitu mereka sudah dekat.
"Kami? tidak ada apa-apa."
"Gak apa-apa."
Dante dan Cardi justru berbarengan menjawab pertanyaan dari Jeffrie, yang mengatakan bahwa mereka berdua tidak kenapa-kenapa.
Tapi tentunya itu bukan untuk Gavino. Dia tahu, ada sesuatu yang terjadi pada kedua temannya itu.
__ADS_1
Namun Gavino diam saja. Dia hanya mengamati kedua temannya itu, supaya keduanya tidak merasa sedang dicampuri kepentingan dan urusan pribadinya.
Dia berpikir bahwa, kedua temannya itu akan bicara sendiri. Jika mereka berdua mau, pada saat waktunya sudah dirasa benar.
Dante dan Cardi, melihat Bianca dan Madalena dengan masam. Entah apa yang sebenarnya terjadi pada mereka, sehingga tidak biasa ini terjadi.
"Pulang kita jalan yuk!"
Lorenza tiba-tiba memberikan usulan. Dia berpikir bahwa, sekarang ini sudah waktunya untuk bersantai. Karena ujian akhir sekolah telah usai. Jadi, sah-sah saja jika ingin melepaskan penat yang ada di otak.
"Ayok! ke mana kita?" sahut Jeffrie antusias.
"Wahhhh... beneran?" tanya Madalena tidak percaya.
"Kalau iya, aku telpon Mama dulu. Biar supir tidak datang menjemput. Atau jika sudah ada di jalan suruh putar balik saja," ujar Bianca, meminta kepastian.
"Bagaimana Dante, Cardi, dan Gavino. Bisa kan?" tanya Lorenzo lagi. Tentunya dia tidak akan merasa nyaman, jika ketiga temannya itu tidak bisa ikut pergi.
Dante melihat ke arah Madalena yang tampak jelas bahwa dia antusias dengan usulan Lorenzo.
"Baiklah. Aku ikut." Akhirnya, Dante mengiyakan ajakan Lorenzo.
Sekarang tinggal Gavino dan Cardi yang belum memberikan jawaban. Meskipun semuanya sudah setuju.
"Bagaimana Vin, ikut kan?" tanya Bianca meminta kepastian dari Gavino.
"Ok. Aku juga ikut." Cardi akhirnya memutuskan untuk ikut juga.
"Aku telpon Mama dulu ya!"
Bianca meminta waktu sebentar, untuk menghubungi mamanya. Karena biasanya, mamanya yang menjemputnya ke sekolah. Atau jika tidak bisa menjemput, mamanya Bianca akan menyuruh supir untuk menjemput anaknya.
Akhirnya, sebelum memutuskan untuk tujuan yang akan didatangi, mereka menuggu Bianca selesai menelpon mamanya. Karena jika Bianca tidak bisa ikut, rencana mereka ini juga tidak bisa diteruskan.
Tak lama kemudian, Bianca kembali ke tempat mereka berada.
"Bagaimana Bi?" tanya Madalena tidak sabar. Dia takut jika Bianca tidak bisa ikut jalan bersama mereka semua.
"Iya. Mama mengijinkan," jawan Bianca dengan tersenyum.
"Yes!"
"Sippp..."
"Ah, akhirnya..."
__ADS_1
"Nah gitu dong!"
"Ya sudah ayok!"
Tanggapan dari teman-temannya berbeda-beda. Tapi yang jelas, mereka semua ikut bergembira dengan ijin yang diperoleh Bianca dari mamanya.
"Kita ke mana?" tanya Bianca, yang memang tidak tahu. Ke mana tujuan mereka tadi.
"Udah si, jalan aja dulu. Ke mana nya nanti sambil dipikirkan di jalan." Jeffrie tidak sabar untuk segera berangkat.
"Ck! Harus diputuskan buat enak. Nanti kalau di jalan, kita kan gak kumpul. Gak bisa diajak bicara soal keputusannya. Jika ada yang gak setuju gimana?"
Lorenzo berpikir bijak, sebelum memutuskan untuk pergi jalan.
Menurut Lorenzo, tidak adil jika diputuskan salah satu dari mereka. Sedangkan yang lain hanya ikut saja, tanpa ditanya keinginannya terlebih dahulu.
"Ok. Aku usul ke pantai!"
"ke taman hiburan!"
"Ke mall aja yang dekat dan banyak pilihan."
Tapi ternyata menentukan pilihan yang harus dilakukan, juga tidak semudah mengerjakan soal ujian tadi.
Ada keinginan yang berbeda, satu sama lain. Karena kesukaan mereka juga berbeda.
"Kalau gak bisa sepakat, gak jadi berangkat ini," cicit Madalena sedikit kesal.
Menurutnya, semua ini hanya membuang-buang waktu. Tidak langsung cusss pergi, sehingga bisa puas di tempat yang akan di tuju nantinya.
"Ya sudah gini aja bagaimana, kita ke tanam hiburan. Kan di sana dekat mall juga, jadi bisa ke mall jika bosen. Atau sebaliknya."
Akhirnya Bianca memberikan usulan, supaya mereka tidak banyak mengulur waktu. Hanya karena berdebat mengenai tempat yang akan mereka tuju nanti.
"Nah itu lebih bagus tuh!" seru Cardi, yang disetujui oleh Jeffrie.
"Ok l, ayok!" ajak Lorenzo dengan berdiri dari tempat duduknya.
Akhirnya, tanpa meminta pendapat dari Gavino, mereka berangkat. Ini karena teman-temannya berpikir bahwa, Gavino pasti setuju dan tidak banyak protes.
Dan memang begitulah kebiasaan yang selama ini ada.
Gavino memang tidak banyak protes jika ada rencana semacam ini. Dia hanya ikut, jika bisa ikut. Tapi akan meminta maaf, jika dia terpaksa tidak bisa ikut dengan mereka.
Tak lama kemudian, iring-iringan tiga mobil keluar dari halaman sekolah. Mobil tersebut adalah miliknya Gavino, Dante dan Lorenzo.
__ADS_1
Beberapa minggu terakhir ini, Lorenzo sudah menyetir mobilnya sendiri. Untuk di bawa ke sekolah. Dia tidak lagi di antar kakaknya..
Sekarang mereka semua, menunju ke taman hiburan. Yang tak jauh dari tempat mall besar di kota ini.