Gavino ( Sistem Mafia )

Gavino ( Sistem Mafia )
Harus Bisa


__ADS_3

Sepanjang jalan menuju ke rumah Madalena, Lorenzo diam dan tidak bisa mengeluarkan suaranya.


"Zo," panggil Madalena lirih.


"Hum..." sahut Lorenzo, yang masih berkonsentrasi pada setir.


"Apa... emhhh... Kamu..."


"Kita mampir ke situ dulu ya!"


Lorenzo mengajak Madalena untuk mampir ke sebuah kafe kecil, yang ada di deretan ruko sepanjang jalan yang mereka lalui.


Madalena hanya menurut. Menurutnya, itu akan lebih baik daripada mereka berdua bicara dalam keadaan Lorenzo yang sedang menyetir mobilnya. Itu bisa membahayakan keselamatan mereka berdua juga, jika Lorenzo tidak berkonsentrasi.


Sekarang, mereka berdua sudah duduk saling berhadapan di pojok ruangan kafe tersebut. Dengan dua gelas jus pesanan masing-masing.


"Maaf Lena. Maafkan Aku sebesar gunung yang ada di dunia ini. Aku... Aku bukannya tidak menyukaimu. Tapi..."


Lorenzo menghela nafas panjang terlebih dahulu, sebelum melanjutkan kalimatnya lagi. Karena dia merasa kesusahan dalam menyampaikan sesuatu hal, yang berhubungan dengan Madalena.


Sang putri halu.


Madalena masih diam. Dia tidak menyahut, atau bertanya kepada Lorenzo. Dia berusaha untuk menahan diri, agar tidak mengeluarkan suara terlebih dahulu. Karena dua merasa yakin bahwa, saat ini ada hal penting yang akan disampaikan oleh cowok yang berada di depannya saat ini.


Cowok yang dia sukai, tanpa diketahui oleh orang lain. Bahkan Lorenzo sendiri. Dan dia terpaksa harus mengatakannya terlebih dahulu pada Lorenzo, agar tidak menyimpan rasa seorang diri.


"Aku... jujur Aku terkejut dengan pengakuan yang Kamu lakukan tempo hari. Aku pun merasa sangat senang, karena ternyata Kamu menyukai Aku yang bukan siapa-siapa, dan tidak ada apa-apanya juga."


"Tapi... Aku juga berpikir jauh ke depan nanti. Kamu berhak untuk mendapatkan yang lebih baik daripada Aku."


"Kamu akan meneruskan kuliah di luar negeri. Di sana, ada banyak cowok yang mungkin saja, bisa membuatmu jatuh cinta. Karena sesuai dengan kriteria yang selama ini Kamu idamkan."


"Maaf. Bukannya Aku menolak Lena. Tapi jika kita bersatu, ada dua hati yang justru bersedih karena kebahagiaan kita ini."


"Jadi, sebaiknya kita..."


"Cukup Zo. Aku mengerti apa yang Kamu katakan ini." Madalena memotong kalimat Lorenzo yang terakhir kalinya, sebelum selesai dia ucapkan.


Sepertinya, Madalena sudah paham. Kemana arah pembicaraan yang diberikan oleh Lorenzo padanya.

__ADS_1


"Aku tidak memaksamu untuk menerima cintaku ini. Aku tahu, ini bukan waktu yang tepat. Apalagi, tak lama lagi kita juga akan sulit untuk bisa bertemu lagi."


"Jadi... Aku menerima keputusan yang Kamu berikan."


Lorenzo terbelalak melihat wajah Madalena yang tetao tenang, saat mengatakan semua yang tadi dia ucapkan.


Dia tidak menyangka bahwa, Madalena bisa menerima kenyataan ini dengan berlapang dada. Karena selama ini, yang dia tahu adalah, Madalena adalah cewek manja. Dengan semua angan-angan yang dia miliki.


Itulah sebabnya, Madalena lebih dikenal dengan sebutan putri halu.


"Thanks Lena. Kamu mengerti keadaanku saat ini."


Madalena tersenyum tipis, mendengar perkataan Lorenzo yang juga tersenyum lega. Dengan apa yang tadi dia katakan.


"Sekarang minum jus Kamu. Aku antar Kamu pulang setelah ini." Lorenzo mengatakan itu dengan enteng, karena beban di dalam hatinya sudah tidak ada lagi.


Madalena juga menganggukkan kepalanya, mengiyakan perkataan Lorenzo.


"Maaf ya, jika pernyataan cintaku kemarin membuat Kamu tidak nyaman. Tapi, setelah ini..."


"Kita tetap berteman Lena. Jangan punya pikiran yang aneh-aneh!"


Madalena meringis, mendengar perkataan Lorenzo yang memotong kalimatnya barusan. Dia merasa jika, dia yang sebenarnya tidak bisa baik-baik saja.


Di rumah sakit.


Gavino sedang berada di ruangan dokter. Dia diajak bicara oleh dua orang dokter, yang menangani papa dan mamanya.


Menurut mereka, Giordano dan Mirele sedang dalam keadaan kritis. Karena cairan obat yang sudah terlanjur masuk ke tubuh mereka, adalah jenis racun yang mematikan.


Usaha pihak dokter untuk menetralisir racun tersebut, belum bisa sepenuhnya menghilangkan efek dari racun tersebut.


Itulah sebabnya, sekarang ini Giordano dan Mirele harus di rawat di ruangan ICU.


"Bagaimana pihak keamanan rumah sakit tidak mengetahui semua ini? Ada penyusup yang membahayakan keselamatan pasien lho Dok!" Gavino mempertanyakan kredibilitas rumah sakit ini.


"Maaf tuan Gavino. Ini murni kejahatan. Pihak keamanan sudah melakukan penyelidikan bersama dengan pihak kepolisian. Dan Anda tahu sendiri, jika cctv rumah sakit diretas penjahat tersebut."


"Hahhh!"

__ADS_1


Gavino membuang nafas kasar. Dua tahu, jika cctv rumah sakit ini ada yang mengutak-atik. Bahkan, security terperdaya dengan tangkapan layar cctv di pusat pemantauan. Karena memberikan tangkapan keadaan dan suasana yang kondusif.


Ternyata, kamera cctv yang ada di rumah sakit ini sudah di setting sedemikian rupa oleh para penjahat. Dan tidak ada kejanggalan dalam tangkapan kamera cctv.


Itulah sebabnya, pihak keamanan rumah sakit tidak mencurigai apa-apa. Dan akhirnya panik, di saat ada alarm bahaya berbunyi. Bahkan mereka tidak bisa percaya begitu saja, jika ternyata mereka kecolongan. Sehingga membuat keselamatan dua pasien menjadi taruhannya.


"Lakukan yang terbaik untuk papa dan mama Saya Dok." Pinta Gavino , yang tidak tahu harus berbuat apa untuk keselamatan kedua orang tuanya saat ini.


"Tentu Tuan."


"Tim dokter sedang berusaha. Kita akan lakukan semua yang terbaik untuk tuan Giordano dan nyonya Mirele."


Sekarang Gavino keluar dari dalam ruangan tersebut. Dia melihat jam tangannya, dan terkejut dengan waktu yang ditunjukkan oleh jarum jam tersebut.


Ternyata saat ini sudah pukul delapan malam. Itu artinya, dia hanya punya waktu tiga jam, untuk bisa datang ke tempat yang sudah ditentukan oleh Verdi. Yang akan melakukan transaksi ilegal.


Akhirnya dia menghubungi sang Kapten, untuk memberitahukan posisinya saat ini.


..."Halo kapten."...


..."Ya Gavin. Bagaimana? Apa Kamu sudah dalam perjalanan?" ...


..."Saya masih ada di rumah sakit. Ada kejadian yang tidak bisa Saya tinggalkan tadi. Tapi... apa kapten sudah siap?" ...


Gavin tidak ingin memperpanjang masalah. Dia segera bertanya pada sang kapten, dengan kesiapan yang ada mereka perlukan.


..."Aku siap. Tinggal menunggu kabar darimu saja." ...


..."Baik kapten. Saya akan segera ke sana."...


Klik!


Selesai melakukan panggilan telpon tersebut, Gavino segera berjalan dengan cepat menuju ke arah ruang ICU.


Dia meminta pada pihak perawat dan penjaga yang ada di ruangan tersebut melakukan pengecekan secara berkala ke ruangan papa dan mamanya.


Biasanya, tidak ada penjaga khusus di ruang ICU. Tapi karena kejadian tadi, pihak rumah sakit memberikan keamanan ekstra untuk kedua pasiennya itu.


Setelah selesai memberikan pesan pada perawat dan penjaga, Gavino segera bergegas ke tempat parkir. Karena dia akan mengikuti tantangan Verdi, yang memintanya untuk menggagalkan transaksi mereka.

__ADS_1


Tapi karena yang dua hadapi sekarang ini bukan sekedar geng sekolah saja, Gavino memutuskan untuk meminta bantuan pada sang kapten.


Tapi tentunya itu dilakukan tanpa sepengetahuan Verdi dan kawan-kawannya. Supaya mereka tidak membatalkan rencana, dan membuat rencana yang lain lagi.


__ADS_2