Gavino ( Sistem Mafia )

Gavino ( Sistem Mafia )
Kegiatan Yang Sama


__ADS_3

Dengan kecepatan tinggi, sama seperti yang tadi dilakukan Gavino saat menerima tantangan dari sistem mafia miliknya, mobil yang dikendarainya tiba di kios warabala.


Tap tap tap...


Gavino berlari-lari mencari keberadaan Robert. Yang tadi memberinya kabar tentang hilangnya George.


"Robert!"


"Eh, Gavin! Cepat sekali Kamu sampai?" Robert justru bertanya hal yang tidak perlu repot-repot untuk dijawab oleh Gavino.


"Bagaimana? ada kabar tentang George atau tidak?" tanya Gavino tidak sabar.


"Hhh... belum Gavino. Ponselnya tidak bisa dihubungi sedari tadi. Dan keberadaan mobilnya juga tidak terdeteksi. Dan..."


"Tadi, kabar berita yang Kamu sampaikan ke Aku dari mana itu?" Gavino menuntut penjelasan kepada Robert, karena dialah yang tadi menghubungkan dirinya.


"Aku... Aku hanya mengarangnya. Karena Aku panik, tidak bisa menemukan dirinya."


"Ahhh... sialll!"


"Apa Kamu lupa, jika George itu bukan anak kecil lagi? Bahkan, seharusnya dia sudah punya anak yang lucu-lucu dengan..."


Gavino tidak melanjutkan kalimatnya, saat sadar dengan sesuatu. Jika George sebenarnya tidak diculik.


"Kenapa Kamu tidak memeriksa ke beberapa wanitanya?"


"Hahhh! Maksudnya George pergi ke salah satu wanita-wanita yang dekat dengannya?" ulang Robert mengajukan pertanyaan lagi.


Gavino menganggukkan kepalanya pasti. Dia yakin, jika George bukanlah orang yang mudah untuk dilumpuhkan oleh orang lain, meskipun dengan cara di bius.


Secara, George itu mantan ketua mafia di Norwegia sana. Jadi dia tentunya punya seribu cara, untuk bisa kabur dari orang-orang yang menargetkan dirinya.


"Aku tidak hafal semua wanitanya Gavin. Bagaimana caranya Aku mencarinya?" keluh Robert, persis seperti seorang anak kecil yang sedang di tinggal pergi oleh ayahnya.


"Jadi ini tidak benar kan? Belum ada kepastian jika George di culik kan?"


Robert meringis malu, karena ketahuan sedang dalam keadaan panik. Sebab dia tidak bisa menghubungi George.


"Sialll Kau Robert! Aku sampai meninggalkan kesenanganku, hanya karena Kamu yang kehilangan George saja. Bahkan Aku hampir kecelakaan, karena ngebut di jalan tadi."


Gavino berkata dengan geram, melihat kelakuan dan tingkah Robert.


"Ayo, antar Aku ke flat!"


"Flat? Flat siapa?"


Robert memang tidak tahu tentang Gress. Itulah sebabnya, dia merasa heran, di saat Gavino memintanya untuk mengantarkan dirinya ke sebuah flat.


Pluk!


Gavino menepuk pundak Robert dengan sedikit keras, sehingga membuat asistennya itu meringis menahan sakit.

__ADS_1


"Tidak usah banyak bertanya. Segera ambil ini!" pinta Gavino, dengan menyodorkan kunci mobil pada Robert.


"Hhh..."


"Jangan banyak protes!" bentak Gavino, yang membuat Robert bertambah marah dan kesal.


Namun Gavino tidak menghiraukan gerutuan Robert, yang mengatakan sesuatu dengan tidak jelas. Karena Gavino merasa itu sangat pantas, untuk sebuah hukuman yang ringan bagi anak buahnya yang melakukan kesalahan.


Tapi tentu saja tidak untuk Robert, yang berpikir bahwa, apa yang tadi dia lakukan adalah bentuk sebuah kepedulian terhadap seorang teman.


Dengan sangat terpaksa, Robert akhirnya menyetujui permintaan Gavino. Dengan mengambil kunci mobilnya Gavino dari tangan memiliknya sendiri.


Sekarang, Robert sudah berada di jalanan, menuju ke sebuah alamat, yang tidak terlalu jauh dari kampusnya Gavino.


"Apa flat itu milik temanmu?" tanya Robert, yang berusaha untuk mencairkan suasana tegang yang tadi sempat terjadi diantara mereka berdua


Tidak ada jawaban dari Gavino. Karena dia sedang fokus mengetik pesan demi pesan, yang dia kirimkan kepada Gress.


^^^"Apa Kamu sudah tidur?" ^^^


^^^"Belum Sayang. Kamu di mana? Bagaimana keadaan paman George?" ^^^


^^^"Tidak apa-apa. Dia tidak diculik." ^^^


^^^"Hah! Dari mana Kamu tahu Sayang, jika paman George tidak di culik?" ^^^


^^^"Nanti saja Aku cerita." ^^^


^^^"Nanti? Maksudmu..."^^^


^^^"Eh, hehehe... siap Sayang!" ^^^


Robert ngamuk-ngamuk sendiri, karena pertanyaan demi pertanyaan yang dia ajukan tidak ditanggapi oleh Gavino.


"Gavin. Aku bertanya padamu sedari tadi!" omel Robert yang sedang kesal.


"Setelah ini, pergilah ke Club, biar otakmu bisa beristirahat." Gavino justru bicara tentang hal lain, yang tidak ada sangkut pautnya dengan pertanyaan yang diajukan oleh Robert.


Gavino langsung keluar dari dalam mobil, begitu mobil berhenti di depan gedung flat.


"Pergilah Robert. Tenangkan pikiran dan hatimu. Biarkan George yang sedang bersenang-senang, karena lusa dia sudah tidak ada di sini lagi."


Mendengar perkataan Gavino, Robert baru ingat. Jika George dan Gavino akan pergi ke Paris, karena suatu urusan yang penting.


Tanpa menunggu jawaban dari Robert, ternyata Gavino sudah tidak ada lagi di tempatnya tadi. Jadi Robert sendirian sedari tadi. Setelah Gavino menyuruhnya untuk pergi menenangkan diri.


"Agrhhh... bodohnya Aku!" umpat Robert untuk dirinya sendiri.


Sedangkan Gavino tersenyum miring, melihat tingkah asistennya George. Yang belum begitu paham dengan kebiasaan seniornya.


Ting tong...

__ADS_1


Ting tong...


Gavino memencet bel pintu kamar Gress, sambil melakukan panggilan telpon.


Memastikan bahwa Gress tidak salah membuka pintu kamar untuk orang lain, selain dirinya.


..."Halo Sayang!" ...


..."Hai!"...


Clek!


Gress membuka pintu kamar, tepat di saat dia juga menyambungkan panggilan telpon Gavino untuknya.


"Sayang... emhhh... mmm..."


Clek!


Gress tidak bisa berkata atau bertanya terlebih dahulu, karena Gavino sudah menutup pintu dengan satu kakinya, sambil menyerbu bibirnya.


"Emhhh... mmm... Ga... Gavin..."


Cup!


"Hoshhh... hoshhh..."


Nafas keduanya sama-sama terengah-engah, ketika kedua bibir mereka lepas.


Bahkan Gress belum sempat bernafas dengan normal, di saat tubuhnya di bopong Gavino ke tempat tidur. Kemudian meletakkan dengan lembut.


"Maaf, Aku sudah tidak bisa menahannya lagi. Karena gangguan yang sebenarnya tidak perlu ada tadi."


Gavino kembali menyerbu bibir Gress, kemudian beralih ke pipi dan turun ke leher jenjang nan putih itu. Sehingga Gress bergelinjang karena kegelian sendiri, akibat ulah dari kekasihnya itu.


Akhirnya mereka berdua melakukan kegiatan yang tadi sempat tertunda, dengan laporan Robert yang tidak ada benarnya sama sekali.


*****


Di tempat lain.


George ternyata juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Gavino. Bahkan dia mengunakan jasa dua wanita secara langsung, untuk memuaskan hasratnya sore ini.


Membayangkan Gavino yang sedang bercinta dengan gadisnya, membuat George tidak bisa menahan diri. Dan ingin melakukan hal yang sama seperti tuan mudanya itu.


Itulah sebabnya, George sengaja menonaktifkan ponselnya, dan juga memastikan sinyal khusus yang ada pada mobilnya.


Jadi, mobil-mobil milik Gavino, yang sekarang digunakan juga oleh George serta Robert, memiliki sinyal khusus. Yang bisa dilacak oleh mereka saja.


Itu bisa memudahkan mereka mencari keberadaan masing-masing, jika terjadi sesuatu pada salah satu dari mereka.


Mungkin karena itu juga, Robert merasa panik dan takut terjadi sesuatu pada George. Karena tiba-tiba sinyal itu tidak bisa di lacak, bersamaan dengan ponsel George yang tidak aktif saat itu juga.

__ADS_1


Tapi mereka bertiga juga tidak menyadari, jika ada seseorang yang sedang memantau kegiatan mereka selama ini.


Karena salah satu dari mereka adalah target yang pernah lolos dari kejaran, beberapa waktu yang lalu.


__ADS_2