
..."Lakukan apa yang menurutmu bisa Kamu lakukan. Tapi ingat Gavin! Kamu tidak boleh asal bertindak."...
..."Baik Kapten. Terima kasih."...
Klik!
"Huhfff..."
Gavino membuang nafas panjang, setelah selesai menghubungi sang Kapten. Orang yang selama ini dia percaya, jika ada sesuatu yang terjadi pada dirinya.
Sekarang, jarum jam di dinding kamarnya, sudah menunjukkan pukul dua malam.
Ini bukan malam lagi, tapi sudah dini hari. Yang artinya, hari sudah berganti dengan pagi. Tapi dia justru tidak bisa memejamkan matanya juga, meskipun sudah tidak ada lagi yang dikerjakan.
"Oh iya. Apakah ini ada kaitannya dengan orang yang menelpon ku makan itu? sewaktu Aku pulang mengantarkan Gress ke flat."
Kecurigaan Gavino bercabang pada seseorang yang menelpon dirinya. Dan dia sendiri juga tidak tahu, siapa orang yang menelpon dirinya sampai saat ini.
"Jika benar, apa kaitannya dengan Gress? apa juga hubungan kelima cowok yang mengerjai Daniel dan Reo, dengan Gress dan Julian Aldrin?"
Gavino mencoba untuk menghilangkan semua pertanyaan yang muncul di dalam hati dan pikirannya.
Dia ingin beristirahat, supaya besok bisa berangkat kuliah tanpa ada kata terlambat. Apalagi besok dia juga akan bertemu lagi dengan Daniel bersama dengan Reo juga.
Dua teman baru, yang sebenarnya belum dia kenal dengan baik juga.
Akhirnya Gavino memaksakan diri untuk memejamkan mata. Meskipun beberapa kali gagal untuk tertidur. Namun pada akhirnya dia terpejam juga, di saat jam di dinding menunjukkan pukul setengah empat pagi.
*****
Siang ini, Gavino bersama dengan Daniel dan Reo datang ke kantor keamanan kampus.
Mereka bertiga ingin mengetahui perkembangan kasus yang pernah mereka laporkan. Di saat Daniel dan Reo mendapatkan penyerangan tanpa sadar.
"Permisi Sir."
"Ya, silahkan duduk. Apa yang bisa Saya bantu?" Petugas keamanan, justru bertanya pada mereka. Dengan keperluan yang ingin mereka lakukan di kantor keamanan ini.
"Maaf Sir. Kami datang untuk menanyakan perkembangan kasus y kami laporkan beberapa hari yang lalu. Lina hari yang lalu. Dan kami juga memberikan bukti rekaman pada Anda Sir."
Daniel dengan jelas mengatakan apa maksud kedatangan mereka bertiga ke kantor keamanan kampus ini.
Tapi sepertinya, petugas keamanan tidak menyambut dengan baik. Karena orang itu terlihat acuh, dan tidak serius mendengar perkataan Daniel tadi.
"Kasus dan laporan ada banyak di sini. Saya tidak bisa jika di suruh untuk mengingat satu persatu dari setiap laporan yang masuk."
Mendengar perkataan dari petugas keamanan kampus, membuat Gavino tidak yakin. Jika ini akan berakhir baik. "Daniel, kita balik aja! gak ada hasilnya kita serahkan ini ke sini juga," bisik Gavino di telinga Daniel.
"Maksudmu?" Daniel belum mengerti, apa maksud dari perkataan Gavino barusan.
__ADS_1
Tapi Gavino tidak lagi berbicara ataupun berbisik pada Daniel. Dia hanya memberikan isyarat, dengan menatap sekilas ke arah petugas tersebut.
"Hhh..."
Daniel justru membuang nafas. Kemudian mengajak Reo untuk kembali. "Kita balik."
Reo yang tidak tahu apa-apa, melihat dengan bingung ke arah Gavino dan juga Daniel. Dia ingin mendapatkan penjelasan dari ajakan Daniel, kenapa tiba-tiba mengajaknya pergi dari tempat ini. Padahal mereka bekum mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Tapi karena Gavino diam, sedangkan Daniel hanya mengekang sambil merapatkan mulutnya sendiri. Reo pun akhirnya mengerti.
"Baiklah Sir, Kami pergi dulu. Semoga bisa segera diproses ya Sir!"
Petugas tadi hanya menganggukkan kepalanya, mengiyakan permintaan dari Reo. Tanpa menjawab dengan sepatah katapun.
Beberapa saat kemudian, setelah mereka pergi dari kantor keamanan kampus.
"Hai! Kita belum dapat kejelasan dari petugas tadi, kenapa pergi?"
Reo protes dengan apa yang mereka lakukan. Karena harus pergi dan meninggal kantor keamanan kampus.
Dia berpikir bahwa, semua itu tadi hanya sia-sia belaka.
"Apa yang ingin Kamu dapatkan?"
"Kamu tidak lihat, bagaimana petugas keamanan tadi merespon pertanyaan yang diajukan oleh Daniel?"
Reo terdiam sejenak, mendengar dua pertanyaan yang diajukan oleh Gavino padanya kali ini. Dia tidak begitu memperhatikan, bagaimana cara petugas tadi bicara. Karena dia hanya fokus pada pertanyaan yang diajukan oleh Daniel.
Daniel juga mengangguk, menyetujui perkataan Gavino.
"Lalu?"
Kini Reo bertanya, apa yang akan dilakukan nanti setelah ini.
"Kita cari sendiri. Untung saja, kemarin itu Aku menolak menyerahkan handphoneku. Dan hanya mengirimkan rekaman video ke handphone petugas."
"Aku tidak yakin, jika rekaman itu masih dia simpan. Bisa jadi udah dihilangkan jejaknya, agar tidak ada pekerjaan yang harus dia kerjakan dari laporan kita."
Kali ini, baik Daniel maupun Reo, sama-sama saling pandang tanpa bersuara. Mereka berdua menyetujui perkataan Gavino, jika melihat reaksi dari petugas tadi.
"Berarti kita akan bergerak sendiri, untuk mencari pelaku?" tanya Reo, setelah tahu situasi yang ada.
Gavino mengangguk mengiyakan pertanyaan Reo kali ini.
"Aku ikut!"
"Aku juga ikut!"
Akhirnya, Daniel dan Reo sama-sama setuju, dengan apa yang direncanakan oleh Gavino selanjutnya. Yang akan mencari pelaku, yang sudah membuatnya pingsan pada saat itu.
__ADS_1
"Itu dia orangnya!"
Tiba-tiba, dari arah lorong perpustakaan, terdengar suara orang-orang yang berteriak.
"Apa ada perkelahian?" tanya Reo yang tidak tahu apa-apa.
"Aku juga tidak tahu," jawab Daniel bingung.
Tapi tidak dengan Gavino. Dia tahu, ke mana arah pergerakan orang-orang yang saat ini melangkah cepat ke arah mereka.
"Ayo pergi!"
Gavino mengajak mereka berdua untuk segera pergi dan bersembunyi.
"Apa yang terjadi?"
"Ak..."
Srettt!
Dengan gerakan cepat, Gavino menarik tangan Daniel dan Reo. Supaya pergi meninggalkan tempat mereka saat ini.
Dan benar saja, tak kurang dari sepuluh orang, datang dengan wajah yang garang. Seperti orang yang siap untuk melakukan peperangan.
Dari atas pohon yang ada di samping perpustakaan, Gavino dan kedua temannya tadi, bisa melihat dan mendengarkan semua pembicaraan mereka semua.
"Kamu yakin jika ketiga orang tengil tadi ke sini?" tanya salah satu dari mereka.
"Iya. Aku sangat yakin."
"Aku juga melihatnya tadi. Tapi kenapa sekarang mereka tidak ada ya..."
"Tidak mungkin mereka bisa menghilang begitu saja kan?"
"Bisa saja! Kamu tidak ingat dengan kejadian di belakang gedung teater kemarin?"
"Apa di Gavin punya ilmu ninja?"
Mendengar pembicaraan mereka, Daniel dan Reo saling pandang. Kemudian melihat secara bersamaan ke arah Gavino.
"Kenapa kalian melihatku seperti itu?"
"Apa kalian pikir Aku ninja? Sama seperti yang mereka katakan."
Gavino bertanya pada Daniel dan Reo, karena dia tahu, jika keduanya saat ini terpengaruh dengan perkataan orang-orang yang ada di bawah sana.
"Tapi Gavin, apa yang mereka katakan tadi ada benarnya."
"Iya. Aku juga jadi berpikir hal yang sama ini."
__ADS_1
Keduanya, Daniel dan Reo, sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya. Akibat dari perkataan orang-orang yang sedang mencari keberadaan mereka bertiga.