Gavino ( Sistem Mafia )

Gavino ( Sistem Mafia )
Maksud Baik


__ADS_3

"Sebaiknya Kamu pulang Vin. Kamu bisa beristirahat dengan baik di rumah daripada berada di sini."


Bianca memberikan saran kepada Gavino, supaya pulang ke rumah saja. Karena Gavino membutuhkan istirahat yang cukup, dengan menenangkan dirinya juga.


Jika dia masih beredar di rumah sakit, pikirannya tentu saja tidak akan lebih tenang. Karena Gavino akan selalu ingat dengan kejadian yang baru saja terjadi, antara dirinya dengan Thomas Bryan.


"Hhh... tidak Bi. Aku hanya butuh belaian. Mungkin saja, kegelisahan ku ini berkaitan dengan hormon yang sudah menumpuk dan tidak tersalurkan."


Pluk!


Bianca justru menepuk pundak Gavino dengan keras, karena alasan yang dibuat oleh Gavino ini menjurus ke arah percintaan. Sebab dia juga sudah lama tidak melayani Gavino, sejak kejadian kemarin.


Menurut pengamatan Bianca, Gress juga tentunya tidak bisa memberikan kepuasan untuk kepada Gavino. Karena Gress juga keadaan perawatan dan pemulihan kesehatannya. Sama seperti dirinya.


"Apakah ini adalah kekacauan yang terjadi tadi?" tanya Bianca, dengan menaikkan alisnya. Menerka-nerka jalan pikiran Gavino.


"Hahaha... Aku itu sangat normal. Dan aku tentunya butuh tempat untuk melampiaskannya. Tapi sayangnya, kedua gadisku justru tidak bisa, dan Aku tidak bisa melakukannya dengan orang lain lagi. Jadi..."


Cup!


Dengan cepat, Bianca membungkam mulut Gavino dengan bibirnya sendiri. Sehingga kekasihnya itu membelalakkan matanya kaget, dengan aksi nekatnya.


Tapi karena melihat keadaan Bianca yang sudah jauh lebih baik, akhirnya dia justru memegang bagian belakang leher Bianca. Untuk memperdalam ciuman mereka.


Bianca, yang tadinya hanya berniat untuk bercanda, kini harus bisa mengimbangi pergerakan-pergerakan yang dilakukan oleh Gavino padanya.


"Emhhh... mmm!"


Gavino melepaskan tautan bibir mereka berdua, setelah beberapa menit lamanya. Supaya Bianca bisa kembali bernafas.


"Ihsss... Kamu mau aku kehilangan nafas ya Vin?" rengek Bianca, dengan mengerucutkan bibirnya. Yang sekarang ini tampak membengkak, akibat dari ciuman yang dilakukan oleh Gavino padanya.


"Salah sendiri Kamu memancingku Bi!"


Gavino tidak mau disalahkan, atas apa yang mereka berdua lakukan barusan tadi.


"Masih untung Aku tidak melakukan lebih. Atau... Kamu sebenarnya masih bisa melayaniku?"


Sekarang Bianca memberlakukan matanya, mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Gavino. Karena pertanyaan tersebut bernada curiga, dengan sebuah tuntutan.

__ADS_1


Dan benar saja, setelah berkata demikian, Gavino menekan tengkuk Bianca lagi. Kemudian segera menyerang Bianca, dengan apa yang ingin dilakukannya. Sehingga Bianca tidak punya kesempatan untuk mengelak, ataupun melarikan diri dari situasi yang seperti ini.


Akhirnya, mau tidak mau, Bianca tetap mau melakukan apa-apa yang diinginkan oleh Gavino. Karena sebenarnya dia juga menginginkannya.


Meskipun mereka saat ini berada di rumah sakit, tapi mereka bisa dengan bebas melakukannya. Sebab ruangan ini adalah ruang VVIP, yang bebas dari pengunjung luar. Dan hanya akan ada dokter ataupun perawat yang datang, jika di minta saja.


Dengan demikian, mereka berdua bisa tetap tenang dan nyaman. Melakukan apa saja yang seharusnya memang mereka lakukan.


Setelah hampir setengah jam, Gavino menyelesaikan permainannya. Kemudian turun dan berbaring di samping Bianca, dengan memeluk butuh gadisnya itu. Yang sudah dia tutup dengan selimut.


"Terima kasih Bi. Aku, jauh lebih tenang. Love you so much!"


"Ti amo, anche se c'è anche un altro cuore in questo amore."


"Aku mencintaimu, meskipun ada hati yang lain di dalam cinta itu. Aku berharap, kamu mengerti dengan keadaanku ini."


Bianca tersenyum lega, mendengar pernyataan dari Gavino. Yang juga mengaku, jika Gavino memang mempunyai hati yang lain selain dirinya.


"Kamu tidak marah kan? Lei non è arrabbiata, vero, signorina?"


"Vin, Aku mencintaimu apa adanya. Jadi, aku juga menerima keadaanmu apapun itu."


Cup!


"Ti amo più di Bi. Mi prenderò cura di te, non importa quali siano le circostanze."


"Aku mencintaimu Bi. Aku akan tetap menjagamu bagaimanapun keadaannya, sekuat yang bisa Aku lakukan."


Kini keduanya sama-sama saling pandang, kemudian berpelukan dengan posisi nyaman. Setelah apa yang mereka lakukan dan katakan, untuk membuat perasaan mereka lebih lega lagi. Setelah semua yang terjadi pada mereka selama beberapa hari terakhir ini. Dengan puncaknya tadi, saat ada Thomas Bryan. Yang tidak menginginkan ada Bianca di antara Gavino dengan Gress.


*****


Di rumah mension Thomas Bryan.


Thomas Bryan tidak mau bicara dengan anaknya, Gress. Yang sedari tadi juga diam saja, sejak diajak pulang oleh papanya dengan paksa.


Gress merasa marah, karena papanya itu terlalu ikut campur dengan urusan perasaannya pada Gavino.


Padahal selama ini, Thomas Bryan tidak mempermasalahkan apapun. Dengan hubungannya dengan Gavino, yang sudah diketahui oleh Thomas Bryan sejak lama.

__ADS_1


Begitu juga dengan hubungan Gavino dengan Bianca, yang sudah sama-sama diketahui oleh Gress dan juga Thomas Bryan.


Jadi sebenarnya yang terjadi tadi adalah sebuah kesalahpahaman, atau rasa posesif Thomas Bryan terhadap anak semata wayangnya.


Tapi kini, hubungan ayah dan anak itu jadi memanas. Karena berhubungan dengan Bianca, yang dianggap sebagai pengganggu.


Padahal yang sebenarnya, baik Gress maupun Bianca, tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut. Dan sama-sama sadar, jika mereka berdua memiliki perasaan yang sama terhadap Gavino. Yang juga tidak bisa memilih diantara mereka berdua.


Jadi, tidak ada yang salah dalam kejadian tadi. Karena semua itu hanyalah kesalahpahaman dari Thomas Bryan sendiri. Karena sisi lain dari dirinya, yang menjadi seorang ayah bagi Gress.


"Gress. Maafkan Papa Sayang! Semua ini Papa lakukan untukmu. Papa tidak mau melihatmu merasa diabaikan, atau diduakan. Karena Papa juga tahu, jika Gavino tidak bisa melepaskan gadis tersebut. Sehingga dia hanya bisa memilihmu saja."


Gress tampak menoleh sekilas ke arah papanya, yang saat ini sedang duduk di dekatnya. Berusaha untuk membujuk dirinya, supaya tidak lagi marah-marah. Dengan aksi diamnya.


Nyatanya, Thomas Bryan yang pada awalnya juga diam, akhirnya tidak betah. Dan mengeja anaknya itu untuk berbicara.


"Gress," panggil Thomas Bryan lagi.


"Papa akan menuruti semua keinginanmu, tapi please... jangan Kamu masuk lagi, di antara hubungan mereka berdua. Papa tidak mau Kamu merasa kecewa Sayang!"


Sebenarnya, maksud dari perkataan dan apa yang dilakukan oleh Thomas Bryan madara sesuatu yang baik.


Tapi tentu saja hal itu tidak diterima oleh Gress, yang sudah lama menjalin hubungan dengan Gavino. Bahkan jauh sebelum dia mengenal Thomas Bryan sebagai Papanya.


"Gress marah dengan Papa. Jadi jangan ajak bicara soal apapun!"


Setelah selesai mengatakan kalimat tersebut, Gress segera berdiri. Kemudian berjalan menuju ke arah kamarnya. Berusaha untuk menghindari pembicaraan dan perbincangan dengan papanya itu, yang udah pasti akan membahas tentang Gavino dengan Bianca.


"Hhh..."


Thomas Bryan tampak membuang nafas, begitu ditinggal pergi oleh anaknya.


"Maafkan Papa Nak. Papa melakukan semua ini demi kebaikanmu. Mungkin saja saat ini Kamu belum menyadarinya. Tapi suatu hari nanti, Kamu pasti akan memahaminya sendiri. Seiring berjalannya waktu, yang membuatmu semakin dewasa.


Thomas Bryan tidak bisa memaksakan kehendaknya sendiri pada Gress, meskipun semuanya itu adalah demi kebaikan anaknya.


Dan dia harus bisa lebih sabar, untuk menghadapi suasana hati Gress yang tidak menentu setiap waktu.


Tapi Thomas Bryan percaya, jika anaknya itu akan secepatnya memahami permasalahan yang dihadapi ini.

__ADS_1


__ADS_2