Gavino ( Sistem Mafia )

Gavino ( Sistem Mafia )
Bisa


__ADS_3

Keadaan di rumah Thomas Bryan semakin panas, pada saat Gress meminta pada Papanya itu untuk membuka pintu kamarnya, yang dikunci oleh anak buah papanya sendiri.


Gress mengetahui kepulangan papanya, karena dia mendengar dibalik pintu, di luar kamar, jika papanya sedang berbicara dengan bodyguardnya, atau anak buahnya.


Dugh dugh dugh!


"Buka pintunya Pa!"


Dugh dugh dugh!


"Apri la porta papà! Gress vuole uscire di qui!"


Gress menggendor-gedor pintu kamarnya, sambil berteriak, meskipun dia tidak tahu, apakah teriakannya terdengar sampai ke luar kamarnya atau tidak.


Dugh dugh dugh!


"Thomas Bryan, lepaskan Aku!"


"È questo che dici di amare un bambino? No! In realtà pensavo di essere solo un prigioniero in questa casa!"


Teriak Gress memprotes papannya, karena tidak berlaku adil dengan menahan dirinya di dalam kamar, dan tidak memperbolehkan dirinya untuk keluar dari rumah ini.


Gress merasa bahwa dia hanyalah seorang tahanan bagi Thomas Bryan, dan bukan sebagai seorang anak. Itulah yang dipertanyakan oleh Gress pada papanya, pada saat dia sudah merasa sangat putus asa.


Di luar kamar.


Thomas Bryan mendengar semua teriakan anaknya dengan miris. Dia bukannya merasa bersalah atas sikapnya itu, tapi justru berlalu dan membiarkan pintu itu tetap tertutup rapat.


Dia tidak mau membukakan pintu untuk anaknya, karena merasa tidak dihargai sebagai orang tua, yang tentunya punya banyak pertimbangan dan memikirkan nasib anaknya sendiri. Meskipun itu tidak bisa dikatakan secara gamblang.


"Tetap awasi Nona!"


Thomas Bryan membeli memberikan perintah kepada bodyguard di rumah, supaya tetap mengawasi pintu kamar Gress. Dia tidak mau jika terjadi sesuatu pada anaknya itu, seandainya gadis tersebut nekad.


Tapi Gress tidak hilang akal, mumpung ada papanya di rumah. Dia pura-pura mengancam akan bunuh diri, jika pintu kamarnya tidak segera di buka.


Dugh dugh dugh!


"Papa! Jika pintu kamar ini tidak dibuka, Aku akan bunuh diri saja!" teriak Gress beberapa kali, sambil menggedor-gedor pintu.


Bodyguard yang berada di luar kamar Gress,


tentu saja merasa panik. Kemudian bergegas mencari Thomas Bryan, untuk melaporkan ancaman Nona-nya.


"Tuan! Tuan Besar!"


"Huhhh huh huh..."

__ADS_1


Bodyguard tersebut berlari sehingga nafasnya memburu, tambah lagi dia juga berteriak-teriak memanggil Thomas Bryan, sehingga semuanya tidak stabil.


Thomas Bryan yang baru saja masuk kedalam kamarnya sendiri, tentu saja terkejut mendengar teriakan dan laporan aku tidak tersebut.


"È così difficile da capire per quel ragazzo!"


Dengan cepat, Thomas Bryan keluar dari kamarnya ngambil menggerutu, mengatakan jika gress adalah anak yang susah diatur.


"Susah sekali mengaturnya, anak gadis biasanya adalah penurut. Ini pasti karena pengaruh Gavino itu!"


Sekarang Thomas Bryan justru menyalahkan Gavino, atas tindakan yang diambil oleh anaknya. Sebab Gress berbuat demikian, karena dengan alasannya yang ingin bertemu Gavino.


Akhirnya Thomas Bryan keluar dari kamar, berjalan cepet menuju ke arah kamar anaknya. Di belakangnya ada bodyguard yang mengawalnya juga.


Dugh dugh dugh!


"Thomas Bryan! Buka pintunya!"


"Apri velocemente la porta di questa stanza! O morirò anch'io in questa stanza?"


Gress terus mengendor pintu, sambil berteriak mengancam papanya. Bahkan dia juga menyebut papanya dengan sebutan nama saja.


Dugh dugh dugh!


Clek!


Gress memukul dada papanya, karena dia tidak tahu jika pintu kamarnya akan terbuka.


Tapi Thomas Bryan tidak merasakan rasa sakit, hanya karena pukulan dari tangan anaknya yang tidak seberapa kuat.


"Apa yang Kamu inginkan?" tanya Thomas Bryan menantang Gress.


"Aku sudah bilang, jika Aku ingin bebas! Aku tidak mau berada di rumah ini!" teriak Gress lagi, mengatakan keinginannya.


Setelah Gress selesai bicara, Thomas Bryan menarik tangan anaknya itu untuk ikut bersama dengannya. "Ayok, Aku antar Kamu ke sana!" bentak Thomas Bryan dengan suara keras, sedangkan tangannya masih menarik tangan Gress dengan kuat.


Gress tidak sempat membawa apapun, karena dia memang tidak mempersiapkan apapun saat mengendor pintu. Yang penting dia bisa keluar dari rumah ini, setelahnya urusan belakangan.


*****


Di rumah sakit, Gavino bersama dengan bianca baru saja selesai makan. Menemani Dante dan juga Lorenzo, supaya temannya itu mau makan dalam jumlah yang banyak.


Meskipun makanan rumah sakit itu terlihat enak tapi tetap saja tidak nyaman untuk lidah orang yang sehat.


"Belikan Aku ramen untuk makan besok!" pinta Lorenzo, memesan makanan pada Bianca dan Gavino, yang biasanya keluar mencari makanan untuk mereka berempat.


"Hai! Kamu itu sakit, jadi tidak diperbolehkan untuk makan makanan seperti itu terlebih dahulu. Meskipun memakan makanan diluar, tapi tetap mencari makanan yang sehat."

__ADS_1


Bianca langsung menceramahi Lorenzo, yang menginginkan ramen untuk makanannya besok.


"Hahaha..." tawa Dante membahana.


"Hahaha... Attento che stai ricevendo una ramanzina!" Sekarang ganti Gavino yang berkomentar, setelah kekasihnya itu selesai bicara.


Lorenzo yang menjadi sumber permasalahan mereka ini, hanya bisa nyengir kuda.


"Aku kan hanya membuat pesanan, jika tidak ada ya sudah." keluh Lorenzo, karena tidak ada yang mendukungnya.


"Bukan begitu Lorenzo. Tapi besok-besok saja jika sudah sembuh benar, Kamu bisa makan apa saja yang Kamu inginkan!" terang Bianca memberikan penjelasan kepada Lorenzo, supaya tidak salah sangka.


"Hemmm..."


Akhirnya Gavino menggelengkan kepalanya, meminta supaya kekasihnya itu untuk diam saja, dan tidak menyahuti apapun yang dikatakan oleh Lorenzo.


"Orang yang sedang sakit itu biasanya lebih sensitif. Jadi lebih baik diam saja Sayang," bisik Gavino di dekat telinga Bianca.


"Hihihi... iya Aku lupa Sayang," sahut Bianca dengan berbisik juga.


Tapi Lorenzo yang peka sudah tidak merasa nyaman, melihat sepasang kekasih itu berbisik-bisik.


"Hai, telingaku ini peka! tidak usah bisik-bisik seperti itu!" hardik Lorenzo memperingatkan kedua temannya itu.


"Hihihi..."


Bianca terkikik geli sendiri, melihat dan mendengar suara Lorenzo yang dirasa lucu.


"Tesoro, non fare così. Deve aver cercato di trattenersi." Gavino memperingatkan Bianca, agar menghentikan tawanya.


"Emmm... ehhh, ya-ya."


Lorenzo mendengus dingin, karena merasa dia dijadikan bahan pembicaraan dan juga olok-olok mereka.


Dante hanya menggeleng beberapa kali, melihat tingkah mereka semua, sudah lama tidak dilihatnya bercanda ria seperti ini.


"Aku merindukan suasana seperti ini. Apakah ini masih bisa bertahan lama?" tanya Dante, bertanya pada mereka bertiga. Dia berharap bisa terus menemukan suasana yang sama seperti ini, sehingga dia tidak merasa sendiri seperti beberapa waktu kemarin.


"Kita akan terlalu bersama menghadapi segala permasalahan." Terang Lorenzo, yang mengerti kegelisahan temannya itu.


Gavino dan Bianca mengangguk setuju, dengan apa yang dikatakan oleh Lorenzo kali ini. Sehingga membuat bantal tersenyum lega, mengucapkan terima kasih dengan gerak matanya.


Kini Gavino dan Bianca lebih mendekat ke arah Dante, memeluk sepupu Bianca yang merupakan sahabat mereka juga.


"Kamu tidak perlu merasa khawatir. Kita akan selalu bisa bersama, menghadapi segala permasalahan dan itu akan lebih ringan jika kita saling tolong menolong."


Semua mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan Bianca barusan.

__ADS_1


__ADS_2