
Dalam perjalanan kehidupan ini ada pasang dan surut. Ada saatnya kita maju, tapi ada juga waktunya untuk kita tetap berada di tempat, ataupun memutuskan mundur.
Semua keputusan itu tergantung keadaan, dan keberanian kita untuk membuat suatu keputusan. Karena tidak semua waktu, memberikan dukungan untuk kita.
Dan sepertinya hal itulah yang dilakukan oleh Thomas Bryan, untuk karirnya di dunia mafia.
Kejadian demi kejadian yang dialaminya, membuatnya semakin dewasa dalam menyikapi suatu permasalahan. Dari dirinya yang dulu kejam, bahkan tidak mau merawat dan justru membuang anaknya sendiri. Kini justru berbalik 180 derajat, sehingga dia tidak mau kehilangan anaknya lagi.
Dia pasti akan melakukan apa saja, untuk keselamatan anaknya saat ini.
"Bagaimana Dokter?" tanya Thomas Bryan dengan tidak sabar. Di saat dokter yang menangani Gress keluar ruangan.
"Apa Tuan Besar tahu di mana keluarga asli Nona Gress?" tanya Dokter tersebut, tanpa bermaksud mengabaikan pertanyaan dari pemilik rumah sakit, di mana dia bertugas.
"Aku papanya Dok!"
Jawaban yang diberikan oleh Thomas Bryan, membuat dokter tersebut cukup terkejut juga. Sebab selama ini, semua orang juga tahu. Jika seorang Tuan Besar Thomas Bryan, tidak memiliki keturunan atau anak.
"Tapi, yang yang maksud ini adalah darah keturunannya secara langsung Tuan Besar." Dokter tersebut mencoba untuk memberikan pengertian kepada Thomas Bryan.
"Katakan, apa yang Kamu butuhkan!"
Mendengar penjelasan yang diberikan oleh dokter tersebut, Thomas Bryan akhirnya membuat pertanyaan yang kemungkinan besar pasti akan dimengerti oleh dokter tersebut.
"Dia membutuhkan darah yang cukup banyak. Karena darahnya sudah bercampur dengan racun yang disuntikkan beberapa jam yang lalu. Dan sepertinya racun tersebut sudah menyebar ke seluruh tubuhnya. Sehingga darah Nona harus segera dibuang, digantikan dengan darah yang baru."
"Di rumah sakit, di bank darah, untuk darah jenis yang dibutuhkan Nona tinggal dua kantong. Jadi dia masih perlu banyak darah untuk memenuhi kebutuhan suruh tubuhnya."
Akhirnya dokter tersebut memberikan penjelasan kepada Thomas Bryan, dengan permasalahan yang saat ini sedang dihadapinya.
"Ayo, ambil darah ku. Jika perlu, ambil semuanya!" ajak Thomas Bryan, dengan menarik tangan dokter tersebut. Menuju ke dalam ruangan IGD.
Mendapati perlakuan seperti ini, dokter tersebut tidak lagi bertanya.
Dia segera melakukan tindakan pemeriksaan terlebih dahulu pada calon pendonor darah, agar diketahui secara jelas. Apakah orang yang akan melakukan pendonoran darah itu layak atau tidak.
Sebelum melakukan prosedur, dokter tersebut menjalani pemeriksaan fisik singkat pada Thomas Bryan. Yang meliputi pemeriksaan tekanan darah, denyut nadi, dan suhu. Kemudian, dokter akan mengambil sampel darah untuk memeriksa komponen pembawa oksigen darah ( hemoglobin).
Apalagi ada kriteria khusus untuk usia, bagi pendonor darah. Jadi tidak semua orang diperbolehkan melakukan donor darah.
Orang tersebut harus berusia 17 sampai 60 tahun. Apabila usianya masih kurang dari 17 tahun dan ingin melakukan donor darah, pastikan ada izin tertulis dari orang tua dan telah memenuhi syarat lainnya. Memiliki tekanan darah normal, yaitu antara 100-160 untuk tekanan sistolik dan 70-100 untuk tekanan diastoliknya.
Dan saat ini, Thomas Bryan berusia hampir 60 tahun. Jadi dia masih bisa melakukan donor darah, sesuai dengan kriteria di atas. Apalagi fisiknya juga cukup kuat.
Thomas Bryan juga diberikan penjelasan secara singkat, mengenai efek samping yang akan dirasakan setelah selesai melakukan donor darah. Yaitu pusing atau sakit kepala ringan, pendarahan di area tusuk, memar dan nyeri serta merasa lemas atau kelelahan.
__ADS_1
Setelah donor darah, disarankan untuk minum lebih banyak, menghindari aktivitas fisik yang berat, dan perbanyak konsumsi makanan kaya zat besi.
Saat melakukan donor darah, sekitar 350 hingga 450 cc darah Anda akan dikeluarkan untuk diberikan pada orang lain yang membutuhkan. Karena kehilangan cukup darah tersebut, wajar saja Anda merasa mengantuk berlebihan, lemas, berkeringat dingin, mudah lelah, pusing, sulit konsentrasi, dan beragam keluhan lainnya.
Tapi Thomas Bryan sudah tidak bisa mendengarkan apapun penjelasan yang diberikan oleh dokter tersebut. Sebab dia lebih mengkhawatirkan keadaan anaknya, Gress. Yang saat ini terlihat sangat lemas dan pucat, di atas tempat tidur pasien.
"Cepat lakukan! Atau jalan semua akan mati di sini." Thomas Bryan mengancam dokter tersebut, bersama dengan tim medis lainnya. Karena mereka tidak segera melakukan upaya untuk menyelamatkan Gress.
Mendengar ancaman tersebut, mereka langsung mempersilahkan Thomas Bryan untuk tidur di tempat tidur pasien, yang ada di sebelahnya Gress.
Mereka memasang selang dan suntik, sebagai alat yang akan digunakan untuk mengambil darah dari Thomas Bryan.
"Ambil sebanyak mungkin untuk memenuhi kebutuhan darah Nona Gress. Aku tidak mau tahu, yang penting dia selamat. Apa kalian semua mendengarkan perkataan ku ini?"
Dokter dan tim medis lainnya, mengangguk mengiyakan perkataan dari Thomas Bryan. Yang merupakan pemilik rumah sakit ini.
Mereka tidak lagi membantah, apalagi pada saat hasil tes menyatakan bahwa, darah Thomas Bryan, cocok untuk Gress. Jadi tidak ada alasan untuk mereka, membantah permintaan dari Tuan Besar-nya itu.
*****
Sementara di tempat lainnya, Gavino dan Dante, berhasil mengejar ambulans yang membawa Bianca.
Bruakkk!
"Br3ngs3k!"
Supir ambulans mengumpat, karena terkejut dengan aksi mobil yang ada di depannya.
Mobil ambulans tersebut terpaksa harus berhenti, karena mobil Dante, berhenti secara mendadak. Tepat di depan ambulan tersebut.
"Hai! Apa kalian tidak bisa menyetir? Atau buta ya!"
Satu orang yang ada di dalam ambulans tersebut keluar dan memaki-maki. Berjalan menuju ke arah mobilnya Dante.
Gavino dan Dante, memang sengaja tidak langsung keluar dari dalam mobil. Tapi mereka menunggu reaksi dari para penumpang ambulans, supaya orang-orang tersebut yang turun terlebih dahulu. Dan mendekat ke arah mereka.
Dan nyatanya rencana Gavino berhasil.
Dugh!
Brukkk!
"Awww... Sialan!"
Sebelum orang tersebut mengetuk pintu mobil, Dante yang berada pada posisi supir, membuka pintu mobil dengan gerakan cepat. Sehingga mengenai orang tersebut, kemudian datuk terpental.
__ADS_1
"Maaf, ada yang bisa Aku bantu?"
"Scusa, c'è qualcosa in cui posso aiutarti?"
Dante bahkan pura-pura tidak tahu, apa yang terjadi pada orang tersebut. Sehingga membuat orang tersebut marah, kemudian berdiri dan melayangkan tinjunya ke arah Dante.
Tapi ternyata, Dante sudah siap dengan segala kemungkinan. Sehingga dia bisa menghela, dengan miring ke arah kanan. Sehingga pukulan yang dilakukan oleh orang tadi mengenai pintu mobil.
Dugh!
"Hahhh sial!"
Orang tersebut mengumpat lagi, karena pukulannya tidak tepat sasaran.
Temannya yang masih berada di dalam mobil ambulans, merasa penasaran. Karena temannya yang tadi turun, terlihat sedang mendapatkan perlawanan dari penumpang mobil yang ada di depan.
"Mau apa mereka? Sudah salah malah cari masalah lagi!"
Orang yang baru saja turun dari mobil ambulans tidak tahu, jika penumpang mobil yang ada di depannya itu adalah Gavino dan Dante. Musuh dari keanggotaannya sendiri, yang dipimpin oleh Verdi.
"Hai! Apa yang Kamu lakukan?" bentaknya pada Dante, yang sedang mencengkeram tangan temannya.
"Aku? Aku melakukan apapun," sahut Dante pura-pura tidak mengerti maksud dari pertanyaan tersebut.
"Kamu cari mati ya!"
Orang tersebut langsung melayangkan tinjunya arah Dante, tapi iya tidak tahu, jika dari arah belakang ada Gavino yang siap untuk mencegahnya.
"Hehhh!"
Orang tersebut akhirnya kaget sendiri, disaat Gavino mengambil kedua tangannya. Dan meningkatnya ke belakang.
"Apa mau Kalian berdua?" bentaknya, yang masih belum sadar, dengan siapa mereka berhadapan saat ini.
"Apa yang akan Kamu lakukan? jika tahu siapa kami yang sebenarnya."
Kedua orang tersebut pengerutkan keningnya, mendengar jawaban yang diberikan oleh Gavino barusan. Dan gak lama kemudian mereka pun baru sadar, jika saat ini mereka sedang berhadapan dengan Gavino dan Dante. Yang wajahnya mereka lihat, ada pada kedua korban kecelakaan. Yang sebenarnya adalah teman mereka sendiri yang dikorbankan.
"Kalian..."
Bugh bugh bugh!
Gavino menghajar mereka, sebelum menyelesaikan kalimatnya.
Sedangkan Dante, berlari menuju ke arah ambulans. Untuk menyelamatkan sepupunya, Bianca. Yang masih dalam keadaan tidak sadarkan diri.
__ADS_1