
Karena tantangan yang diberikan oleh sistem harus diputuskan dalam waktu yang singkat, Gavino pun akhirnya menerima tantangan tersebut.
'Aku menerima tantangan tersebut.'
( Ting )
( Tantangan di terima )
( Harus bisa menyelesaikan dan tidak busa mundur dari tantangan )
'Hemmm... baiklah.'
( Tantangan 1. Pilih senjata )
( Level 0 )
( Kekuatan 0 )
( Hadiah 0 )
( Batas akhir 5 menit )
'Hah! Bagaimana cara mainnya?'
( Good father bisa memilih senjata yang diinginkan, kemudian ikuti petunjuk )
'Baiklah. Ayo kita mulai!'
( Ting )
( Waktu tantangan mulai dihitung )
10%
20%
30%
40%
50%
60%
70%
80%
90%
100%
Gavino dengan cepat memilih pistol yang berbetuk kecil, yang tersedia di gambar virtual transparan miliknya.
Dari beberapa gambar pistol, hanya yang kecil itu menarik perhatiannya. Berbeda dengan bentuk pistol pada umumnya, yang bisa di lihat dibeberapa gambar online ataupun milik pihak kepolisian.
( Ting )
( senjata sudah dipilih )
( Level 1 )
( Kekuatan 0 )
( Hadiah 100 )
'Kekuatan kenapa masih kosong?'
__ADS_1
( Ting )
( Good father belum melakukan apapun pada senjata yang dipilih )
'Terus apa yang harus Aku lakukan?'
( Tentukan sasaran tembak, dengan pistol tersebut )
Di layar, muncul beberapa gambar target dengan jarak tertentu. Jadi, Gavino harus melakukan tembakan pada sasaran target. Dengan menyesuaikan jarak yang tepat dengan mengunakan senjata api yang dipilihnya tadi.
Karena Gavino tidak tahu cara mengunakan pistol secara nyata, dia juga tidak tahu, berapa jarak yang cukup bagus untuk sebuah penembakan.
Dengan perkiraan yang cukup dia hitung secara cepat, Gavino mengambil jarak antara target sasaran dengan posisi penembak sejauh 10 meter.
( Ting )
( Target terkunci )
Dan... dorrr!
Gavino menekan pelatuk pistol yang sudah dia pilih tadi. Tapi ternyata, jarak yang dia pilih tadi cukup jauh. Sehingga target hanya terkena dari arah samping.
( Ting )
( Tantangan 1 selesai )
( Level 2 )
( Kekuatan 4 )
( Hadiah 0 )
'Huhfff... Hadiah 0?'
( Good father belum tepat sasaran )
'Ya sudah, besok lagi. Aku sudah terlalu lelah setelah tadi ikut acara pembukaan usaha papa dan mama.'
( Ting )
"Huhfff..."
Gavino membuang nafas panjang, sebelum akhirnya berangkat menuju ke alam mimpi. Karena sekarang ini, jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah tiga pagi.
Sedangkan esok hari, meskipun dia libur sekolah, tapi Gavino sudah ada janji dengan Dante dan beberapa temannya yang lain.
Mereka semua, sedang berencana untuk berolah raga pagi ke stadion olah raga.
*****
Pagi ini, Gavino sudah bersiap-siap dengan pakaian olah raga. Karena dia akan pergi ke stadion, untuk bertemu dengan beberapa temannya di sana.
"Jangan lupa bawa botol air minum yang sudah Mama sediakan Gavin!"
Dari arah dapur, Mirele mengingatkan pada anaknya. Dia sedang memberikan arahan kepada maid, untuk masakan yang akan dimasak hari ini.
Meskipun ada kepala maid, tapi karena ada beberapa keinginan untuk memakan makanan yang tidak biasa. Mirele pun tak segan untuk masuk ke dalam dapur.
"Iya Ma. Gavin berangkat dulu!"
Setelah berpamitan dengan mamanya, Gavino keluar rumah. Dia menemui papanya, yang saat ini sedang joging di halaman depan.
Biasanya Gavino menemani Giordano, jika hati libur seperti sekarang ini. Tapi karena sudah punya janji temu dengan temannya, dia tidak bisa ikut joging bersama dengan papanya.
"Gavin berangkat dulu Pa!"
"Hati-hati di jalan. Dan jangan lupa, makan siang harus sudah ada di rumah!" Giordano memberikan pesan Gavino.
__ADS_1
Meskipun saat ini mereka sudah hidup serba mewah, dan itu karena Gavino. Tapi kehidupan mereka sebagai sebuah keluarga dalam arti yang sebenarnya, masih tetap berjalan dengan baik.
Gavino tetap patuh pada papa dan mamanya.
Begitu juga dengan Giordano sebagai seorang papa. Dia tetap memperhatikan bagaimana dengan perkembangan anaknya. Dan tidak segan untuk memberikan beberapa nasehat, jika itu memang diperlukan.
Mirele juga tidak berubah sebagai seorang istri dan mama untuk Gavino. Tetap sama seperti dulu. Perbedaannya hanya pada keadaan hidup mereka saja, dari pekerjaan dan keperluan lainnya.
Gavino sudah masuk ke dalam mobil, ketika Cardi menelponnya.
..."Hai Gavin! sudah sampai mana?"...
..."Iya, ini baru mau berangkat dari rumah. Ada apa Cardi?"...
..."Ah, kebetulan! Aku sedang tidak bisa membawa mobil atau motor sendiri. Bagaimana jika Kamu jemput Aku di rumah? apakah bisa?"...
..."Oh ok . Aku akan segera meluncur ke rumahmu ya!"...
..."Sipppp... thanks ya Gavino!"...
..."Welcome."...
Klik!
Karena mendapat permintaan dari Cardi, akhirnya Gavino melewati jalan satunya lagi, agar tidak memutar terlalu jauh.
Dia tidak lewat jalan yang biasanya, yang ada di depan rumah. Dan lurus ke jalan raya.
Gavino keluar dari halaman rumah, kemudian berbelok ke kiri, supaya bisa sampai di jalan menuju ke rumah Cardi.
Dan ini justru memberikan keberuntungan pada Gavino. Sebab, di jalan raya tak jauh dari rumahnya, yang biasa dia lewati, ada kecelakaan. Sehingga terjadi kemacetan.
Ini baru diketahui oleh Gavino, di saat dia menghidupkan radio. Sehingga berita kecelakaan itu bisa dia dengar.
"Wah untung saja Aku tidak lewat jalan di sana." Gavino bergumam seorang diri, di dalam mobilnya.
Dia pun menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, karena keadaan lalu lintas memang tidak ramai. Sebab ini adalah hari libur, sehingga tidak ada yang masuk kerja.
Tak lama kemudian, mobil Gavino berhenti di rumah Cardi.
"Sorry ya, Kamu harus repot jemput Aku. Cardi mengucapkan permintaan maafnya, karena sudah membuat Gavino repot dengan menjemputnya ke rumah.
"Tidak masalah. Yang penting kita bisa melakukan olah raga bersama di stadion nantinya."
Tidak membuang waktu lagi, Cardi segera masuk ke dalam mobil Gavino. Kemudian mereka berdua berangkat bersama ke stadion.
Di sana, Lorenzo dan Jeffrie dan Dante sudah menunggu. Karena rumah mereka memang berjarak lebih dekat dibandingkan dengan Gavino dan Cardi.
Jeffrie baru bisa kembali bergabung bersama, karena dia harus beristirahat terlebih dahulu selama beberapa bulan. Untuk kesembuhan tulang pinggulnya yang retak akibat kecelakaan.
Tapi sekarang Jeffrie sudah bisa melakukan aktivitas seperti biasa, meskipun tidak semua. Karena dia tetap harus menjaga diri, agar tidak terjadi sesuatu pada operasi yang dia lakukan dulu. Fi bagian pinggulnya itu.
"Hai!"
"Buon giorno!"
"Selamat pagi kawan."
"Ya-ya, buon giorno."
Mereka saling mengucapkan selamat pagi, pada saat bertemu.
Kini berlima sudah siap untuk berolah raga pagi. Hal yang jarang bisa dilakukan, jika tidak direncanakan terlebih dahulu.
Banyak dari mereka, yang harus ikut kegiatan keluarga di hari libur. Karena mereka juga tidak bisa berkumpul secara utuh, dalam satu keluarga. Karena kesibukan mereka, orang tuanya, dan kepentingan masing-masing.
Hal yang biasa terjadi pada sebuah keluarga modern pada saat ini.
__ADS_1
Tuntutan pekerjaan, sosial dan pendidikan. Kadang membuat pertemuan sebuah keluarga tidak bisa dilakukan secara langsung. Jika tidak pada saat liburan.
Kadang, hal itu juga masih sulit untuk dilakukan. Karena kesibukan mereka dalam bersosialisasi dengan masyarakat dan lingkungan yang ada di sekitar.