
Penyidikan kasus markas dan Verdi, telah diselesaikan oleh Gavino. Meskipun ternyata, Verdi yang mereka temui di mall adalah Verdi yang palsu.
Tapi setidaknya, dengan temuan ini mereka harus lebih berhati-hati terhadap semua penjahat. Yang tingkatannya lebih tinggi dibandingkan hanya sekedar Verdi.
Sebab bisa jadi, Verdi hanya dijadikan sebagai umpan dan uji coba make-up. Karena kenyataannya, wajah Verdi yang palsu tidak sama seperti Verdi, atau tidak mirip sama sekali. Jika tidak menggunakan make up tersebut.
Dan markas yang saat ini telah di kuasai pihak berwajib, atas nama pamannya Verdi. Dan menjadikan orang lain untuk uji coba hasil obat yang diujikan di laboratoriumnya.
Jadi, selain pengemasan obat-obat terlarang menjadi bahan baku makanan, mereka juga menggunakannya sebagai bahan dasar make-up. Sehingga pemakaiannya bahan dasar kecantikan yang telah dicampuri dengan obat-obatan terlarang tersebut, membuat pemakainya selalu menginginkan untuk memakainya secara terus-menerus.
Ini juga akan memberikan efek samping yang beberapa ya untuk pemakainya.
Jadi, target pasar yang direncanakan oleh pengembangan obat di markas tersebut memang untuk semua kalangan bukan hanya untuk anak-anak muda saja.
Untungnya, peredaran obat-obatan yang mereka hasilkan belum sampai ke pasaran dan baru di uji coba ke beberapa orang. Yang telah dijadikan sebagai kelinci percobaan di markas tersebut.
Sayangnya, para kelinci percobaan tersebut saat ini dalam keadaan kritis, dan sedang berada di rumah sakit.
Tim ahli laboratorium, semuanya sudah di amankan demo di tahan di kantor polisi.
Sedangkan pemilik saham, atau yang punya ijin kepemilikan dari markas tersebut, tidak diketahui jejaknya.
Gavino dan Gress pulang ke rumah, setelah memastikan Lorenzo mendapatkan perawatan medis yang terbaik.
Lorenzo ditunggui oleh Magdalena dan juga kakaknya.
"Aku pulang dulu ya! Cepat sembuh."
Terima kasih Gavino. Kamu juga. Itu lukanya cepat kering dan kembali bisa beraktifitas." Lorenzo berkata demikian, dengan maksud menyindir Gavino dengan kegiatannya yang lain, bukan dengan kegiatan seperti yang mereka lakukan.
Gavino hanya menanggapi dengan tersenyum miring. Karena dia sangat tahu, apa yang dikatakan oleh Lorenzo itu memang menjurus pada kegiatannya bersama Gress.
"Hahaha... peka juga Kamu!"
Tawa Lorenzo pecah, meskipun pada akhirnya meringis menahan rasa sakit.
"Hahaha... wekkk!"
Tapi aksi saling ejek segera berakhir, di saat Gress menarik tangan Gavino untuk segera keluar dari ruangan rawat Lorenzo.
Jadi, setelah Gavino mendapatkan perawatan di ruang IGD, mereka kembali keruangan rawat Lorenzo untuk berpamitan. Karena mereka harus beristirahat, termasuk Lorenzo yang diminta untuk tetap tinggal di rumah sakit hingga esok pagi.
"Sayang, Aku belum selesai membalas perkataan Lorenzo," rengek Gavino karena berhasil di tarik keluar dari ruangan rawat Lorenzo oleh Gress.
"Udah. Nanti gak selesai-selesai!"
Gress mengatakan dengan wajah serius, sehingga Gavino tidak mau membantahnya.
__ADS_1
Dia menurut kemana Gress membawanya. Sebab dia juga merasa, jika apa yang dikatakan oleh Gress barusan, memang benar adanya.
Dan ternyata, di luar rumah sakit, supir sudah menunggu dirinya. Dan motor miliknya, sudah di amankan oleh anak buahnya sejak dari markas tadi.
Cup!
"Terima kasih Sayang," ucap Gavino setelah mengecup bibir Gress sekilas.
"Buat apa?" tanya Gress bingung, karena tiba-tiba Gavino mengucapkan terima kasih.
"Ini!"
Gavino masuk ke dalam mobil, yang sudah dibukakan pintunya oleh supir.
"Oh... Aku tadi menghubungi paman Robert, supaya mengirim supir ke rumah sakit. Dan Aku juga ditanya kenapa sampai berada di rumah sakit. Ya Aku cerita pada paman, tentang apa yang terjadi padamu."
Sekarang Gavino tahu jika, Gress ini tidak tahu apa-apa tentang pekerjaan yang dia lakukan bersama dengan Lorenzo.
Untungnya, Robert juga tidak langsung menghubungi dirinya.
Tapi sedetik kemudian, Gavino menepuk keningnya sendiri. Karena melupakan ponselnya yang tadi disita oleh pihak keamanan markas. Pada saat mereka ditahan dan diikat juga
Bahkan ponselnya Lorenzo juga ikut disita.
Mobil yang menjemput mereka sudah melaju dengan tenang di jalanan.
"Sayang. Emhhh..."
Gress justru salah paham, dan mengira jika Gavino merasakan kesakitan pada bagaian tubuhnya yang lain.
"Bukan. Bukan sakit. Aku... Aku mau pinjam ponselmu. Hehehe..."
"Oh... ini!"
"Terima kasih Sayang!"
Gavino mengucapkan terima kasih, saat Gress memberikan ponselnya. Dua ingin menghubungi sang Kapten. Untuk menanyakan tentang ponselnya dan juga ponsel Lorenzo yang tadi di tahan oleh para penjaga keamanan di markas.
Dengan cekatan, Gavino menekan nomor handphone milik sang Kapten. Karena kebetulan dia sangat hafal dengan nomor handphone tersebut.
Tut tut tut!
Tut tut tut!
..."Selamat malam. Dengan siapa ini?"...
..."Selamat malam Kapten. Maaf ini..."...
__ADS_1
..."Gavin? Aku pikir siapa. Soalnya nomor handphone tidak terdeteksi di memori."...
..."Hahaha... iya Kapten. Tapi maaf, ini bukan ponsel Saya. Ini Saya justru mau bertanya pada Kapten. Karena ponsel milik Saya dan Lorenzo, ada pada ketua keamanan yang tadi menyekap kami."...
..."Oh yang itu ya! Ya-ya, ada. Sudah kami amankan sebagai salah satu barang bukti. Apa Kamu mau ambil sekarang?"...
..."Jika tidak keberatan. Saya akan ambil sekarang. Soalnya Saya juga kebetulan masih berada di jalan."...
..."Baiklah. Aku tunggu."...
..."Terima kasih Kapten."...
..."Iya. Sama-sama."...
Klik!
Gavino menutup panggilan teleponnya, kemudian menyerahkan kembali ponsel tersebut kepada Gress.
"Terima kasih Sayang."
Gress hanya mengangguk dan tersenyum, mendengar suara Gavino yang lembut di telinganya.
"Pak. Kita ke kantor polisi terlebih dahulu!"
"Siap Tuan Muda."
Gavino memberikan instruksi kepada supir, untuk melajukan mobilnya ke kantor polisi terlebih dahulu. Karena dia akan mengambil ponsel miliknya dan juga milik Lorenzo.
*****
Di tempat yang lain.
"Breng_sekk! Bagaimana bisa laboratorium tersebut ketahuan? Bukankah ijin yang sudah di kantongi adalah untuk pelatihan para bodyguard atau layanan keamanan masyarakat? Bagaimana bisa ketahuan ini?"
Seseorang marah besar. Karena laboratorium tersembunyi yang dia miliki telah ketahuan oleh pihak kepolisian.
Dia akan rugi besar, dengan disitanya semua isi laboratorium beserta lahan yang dia miliki.
Bahkan, orang-orang yang bekerja dengannya juga telah ditahan.
Sekarang dia hanya bisa berharap, agar tidak ada satu orangpun, yang membicarakan atau menyebutkan namanya di depan polisi saat diinterogasi.
"Sebaiknya Aku pergi ke luar negeri dulu," gumamnya sambil melirik ke salah satu negara, yang ada pada peta dunia.
Peta dunia tersebut ada di dinding sebelah kanannya, terpampang jelas dengan peta yang sangat besar.
"Susun rencana planning C, supaya kepemilikan markas itu bukan lagi atas namaku!"
__ADS_1
"Siap Tuan!"
Sudut bibir orang tersebut tertarik ke atas. Dia puas, sudah bisa bermain-main dengan banyak pihak yang akan sibuk untuk beberapa waktu kedepannya nanti.