
Selesai memberikan pengarahan dan pengajaran kepada anak buahnya, Gavino pergi ke apartemen Bianca. Meskipun sebenarnya Bianca sebelum menempati apartemen tersebut, Gavino hanya datang ke sana untuk beristirahat saja. Sebelum pulang ke rumahnya sendiri.
Hal ini karena letak apartemen dengan rumahnya, lebih dekat apartemen, dibandingkan dengan rumahnya sendiri. Jika dari jarak tempat markasnya berada.
Tapi kali ini Gavino sedang tidak ingin istirahat sendirian, sehingga dia menghubungi Bianca terlebih dahulu. Setelah keluar dari markas, menuju ke apartemen. Supaya gadisnya untuk pergi menyusulnya.
..."Halo Bi. Bisa ke apartemen sekarang? Aku sedang berada di perjalanan menuju ke apartemen."...
..."Kamu dari mana?"...
..."Dari markas."...
..."Baiklah. Aku akan bersiap-siap dulu. Tunggu Aku ya!"...
..."Ok!"...
Klik!
Gavino mengakhiri panggilan telponnya, setelah Bianca menyetujui ajakannya. Kemudian dia kembali menormalkan laju mobilnya. Karena tadi dia sempat memperlambat kecepatan, supaya bisa berkonsentrasi. Di saat menghubungi gadisnya itu.
Tidak butuh waktu lama, Gavino sudah tiba di apartemennya Bianca. Dan di saat dia baru saja masuk, kemudian mendudukkan tubuhnya pada sofa single, pintu apartemen kembali terbuka.
Seorang gadis masuk ke dalam apartemen, begitu pintunya terbuka. Dan tentunya yang datang adalah Bianca sendiri.
"Halo Vin!"
"Hai Bi..."
Gavino tidak sempat melanjutkan kalimatnya, karena Bianca sudah memeluk dan menciumi bibirnya, dengan penuh harap.
Hal ini membuat Gavino tidak bisa menahan diri, untuk tidak melakukan apa-apa, yang bisa dia lakukan bersama dengan gadisnya kali ini.
Apalagi dirinya dengan Bianca memang sudah tidak bisa bertemu sesering mungkin, supaya Dante dan anak buahnya Verdi maupun Cardi, tidak menjadikan Bianca sebagai. Untuk dijadikan umpan, sama seperti yang ada pada rencana Verdi. Yang diketahui oleh Gavino dari sistem.
Setelah beberapa saat kemudian, kegiatan mereka berdua sudah selesai. Sekarang, mereka berdua dalam posisi berbaring di tempat tidur, dengan posisi saling berpelukan.
__ADS_1
"Kapan Kamu pindah ke sini Bi?" tanya Gavino, memastikan jika gadisnya ini masih mempunyai niatan, untuk pindah dari rumahnya Dante.
Gavino merasa khawatir dengan keselamatan Bianca sendiri, meskipun di rumahnya Dante aman. Karena tetap ada orang-orangnya Gavino, yang menjadi penjaga rumah sepupunya Bianca.
"Apa kondisi di luar sudah aman?"
Bianca justru balik bertanya, sebelum menjawab pertanyaan dari kekasihnya itu.
"Aku tidak bisa memastikannya. Karena pihak lawan, masih terus tarik ulur dengan semua rencana yang sudah mereka siapkan."
Mendengar penjelasan yang diberikan oleh Gavino, Bianca mengerutkan keningnya. Dengan memperhatikan wajahnya Gavino dengan penuh tanda tanya.
"Aku bisa jelaskan ini. Tapi, kamu harus lebih berhati-hati setelah mendengar semua ini ya!"
Anggukan kepala Bianca, membuat Gavino akhirnya percaya. Sehingga memberikan penjelasan dan jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh gadisnya ini.
"Sebenarnya... sebenarnya mereka sedang merencanakan sesuatu hal yang tidak masuk akal. Tapi ini tetap harus diwaspadai, karena bagaimanapun juga yang akan terjadi kedepannya nanti. Itu semua tidak luput dari kewaspadaan kita sendiri."
Bianca menganggukkan kepalanya, paham dengan apa yang dikatakan oleh kekasihnya kali ini. Karena bagaimanapun juga, lawan Gavino kali ini lebih tertib. Dan semuanya direncanakan secara matang.
"Apa Dante tidak pernah bertanya padamu? maksudnya pertanyaan yang... sedikit, emhhh... tidak masuk akal, atau mungkin saja menyinggung soal Aku gitu lho," tanya Gavino, mengorek keterangan dari bianca. Terkait dengan sepupunya Dante. Yang diketahui sedang dekat dengan Cardi.
"Sepertinya... tidak pernah sih."
Bianca memang tidak pernah membicarakan soal Gavino bersama dengan Dante, jika berada di rumah. Karena Bianca sendiri, juga harus berhati-hati. Jika mau berbicara dengan sepupunya itu.
*****
Di rumah Dante.
Keadaan rumah sepi, sama seperti biasanya. hanya ada dua penjaga, yang tampak sedang berbincang di pos security.
Dante, yang baru saja pulang kembali ke luar bertanya pada security yang berjaga. "Apa tadi ada tamu yang datang ke rumah?"
"Siap! tidak ada Tuan Muda."
__ADS_1
Kedua security yang berjaga, menjawab dengan kompak atas pertanyaan yang diajukan oleh Dante. Karena mereka tidak menerima tamu seorangpun sejak tadi pagi.
"Emhhh... lalu, Nona Bianca pergi sendiri?" tanya Dante lagi, karena tidak menemukan Bianca di dalam kamarnya.
"Oh, Nona Bianca tadi diantar supir. Coba tanya supir Tuan Muda," jawab salah satu dari mereka berdua.
Dante menganggukan kepalanya paham, di saat mendengar jawaban yang diberikan oleh security tersebut. Karena itu berarti, Bianca sedang bertemu dengan kekasihnya. Yaitu Gavino, yang merupakan temannya juga.
Akhirnya Dante kembali masuk ke dalam rumah, untuk bertanya kepada supir.
Setelah menemukan supir yang tadi mengantar Bianca, Dante bertanya, "Kamu mengantar Nona Bianca ke mana?"
"Oh, tadi Nona Bianca minta di antar ke apartemen Tuan Muda." Supir, menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Dante. Sepupu dari Bianca, yang merupakan Tuan rumah ini.
"Apartemen? Apartemen mana?" tanya Dante lagi, dengan mata menyipit.
Akhirnya supir memberikan penjelasan kepada Dante bahwa, dia baru sekali ini mengantarkan Bianca ke apartemen tersebut. Dan bianca mengatakan bahwa itu adalah apartemennya tuhan Gavino.
"Seperti itu Tuan Muda. Nona Bianca hanya memberikan penjelasan seperti itu, dan Saya tidak berani bertanya lagi."
Dante menganggukkan kepalanya, mengiyakan penjelasan yang diberikan oleh supirnya. Karena para pekerja di rumah ini, memang tidak pernah banyak bertanya.
Yang menjadi pertanyaan Dante adalah, kenapa Gavino menempati apartemen yang sederhana. Karena nama bangunan apartemen yang disebutkan oleh supir tadi, merupakan sebuah apartemen biasa tanpa ada kemewahan apapun.
"Apa maksudnya Gavino tinggal di apartemen itu?" tanya Gavino pada dirinya sendiri, karena pada saat ini Dante sudah kembali berjalan ke arah kamarnya sendiri.
"Aku perlu menghubungi Bianca gak ya? Aku hanya merasa khawatir jika dia kenapa-kenapa, karena Bianca tidak memberi kabar padaku."
"Tapi, dia sudah dewasa dan berhak mengambil keputusan yang sendiri. Lagipula, dika aku bertanya aku akan terkesan terlalu mencampuri urusannya. Jadi... besok saja jika dia sudah pulang, Aku akan bertanya padanya."
Akhirnya Dante memutuskan untuk tidak menghubungi sepupunya itu, karena dia berpikir bahwa, saat ini Bianca sebenarnya juga tidak mau diganggu. Karena sepupunya itu sedang bersama dengan Gavino.
Setelah membuat keputusan seperti itu, Dante bersiap-siap untuk pergi tidur. Tapi baru saja dia naik ke atas tempat tidur, ponsel miliknya bergetar. Pertanda jika ada orang yang menghubunginya saat ini.
Dante kembali turun dari tempat tidur kemudian menuju ke meja, di mana ponselnya berada. Karena dia memang menempatkan ponselnya itu jauh dari tempat tidur. Dengan harapan untuk tidak terpengaruh dengan sinyal magnetik dan elektronik dari sinyal ponsel, yang bisa mengganggu kesehatannya sendiri.
__ADS_1
"Cardi? Ada apa dia menghubungi ku malam-malam seperti ini?" Ternyata yang menghubunginya saat ini adalah Cardi.