
Selesai membuat perhitungan dengan Verdi dan Cardi, Gavino meninggalkan ruangan tersebut, dan menyerahkan mereka berdua pada anak buahnya.
Dia pergi bersama dengan Dante dan juga Lorenzo, yang sebenarnya sudah geregetan. Untuk bisa membuat perhitungan dengan Verdi serta Cardi juga. Sebab nama mereka berdua tadi, ikut diperoleh Cardi. Bahkan dijadikan sebagai perbandingan, yang membuat Cardi jadi seperti sekarang ini.
"Gavin! kenapa Kamu membiarkannya tetap hidup? Cardi itu sudah keterlaluan!"
Lorenzo, yang tadi namanya disebut beberapa kali, untuk perbandingan antara hubungan dekat Gavino dengan teman-temannya. Tentu merasa tidak tenang, karena di sini juga ada Dante. Yang bisa saja memiliki pemikiran yang sama seperti yang dipikirkan oleh Cardi.
Hal ini karena kemarin-kemarin, Dante sempat bergabung bersama dengan mereka. Meskipun pada harinya bisa lepas dari pengaruh dan hasutan Cardi bersama dengan Verdi juga.
Tapi tetap saja Lorenzo merasa tidak enak hati, jika apa yang dipikirkan oleh Cardi tadi, ternyata benar-benar ada di benaknya Dante.
Gavino akhirnya berhenti sejenak, untuk memandang kedua temannya itu secara bergantian.
"Lorenzo, Dante. Bolehkah Aku bertanya pada kalian berdua?" tanya Gavino, mencoba untuk menggali. Apa yang dirasakan oleh teman-temannya, jika bersama dengannya.
"Ada apa Gavin?"
Keduanya, Dante dan Lorenzo, balik bertanya secara bersamaan. Atas pertanyaan yang diajukan oleh devina pada mereka berdua.
"Kompak bener kalian? Hehehe..."
"Hahaha... itu namanya satu hati!" sahut Dante, setelah tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha... baru tahu Kamu?" Lorenzo juga ikut menimpa, setelah tertawa-tawa. Mentertawakan Gavino yang terlihat seperti pemuda pada umumnya, dan tidak terlihat sebagai seorang ketua mafia.
"Emhhh... kalian berdua sedang mengerjai Aku?" tanya Gavino, ketika sadar bahwa kedua temannya itu mungkin sedang mengerjai dirinya.
"Tidak! Mana berani kami mengerjai seorang ketua mafia, yang tentu saja punya kekuatan dan pengaruh yang sangat besar."
Dante mengelak dengan cepat, dengan tuduhan yang diberikan oleh Gavino pada mereka berdua.
Lorenzo langsung mengganggukan kepalanya, menyetujui perkataan Dante barusan. Sebab dia juga tidak mungkin melakukan seperti yang dituduhkan oleh Gavino tadi.
__ADS_1
"Emhhh... tapi, apakah yang dikatakan oleh cardi tadi benar? Mi sento come se non avessi mai fatto tutto questo. Ma perché pensa che io stia facendo favoriti?"
"Aku tidak pernah berpikir seperti itu, tapi kenapa Cardi bisa memiliki pemikiran dan penilaian yang dia katakan tadi?"
Dante dan Lorenzo, saling pandang. Mereka berdua juga tidak tahu, kenapa Cardi bisa berpikir seperti itu.
"Jika ada kesalahan atau kekeliruan yang Aku lakukan, tegurlah! Aku tidak akan marah pada kalian, seandainya kalian bisa memberikan penjelasan dan alasan dari teguran tersebut."
Sekarang, Dante dan Lorenzo mengangguk bersamaan. Di saat Gavino selesai bicara, memberikan instruksi kepada mereka berdua, supaya menegurnya. Seandainya ada sesuatu yang dilakukan, dan itu adalah sebuah kesalahan atau kekeliruan, yang harus diluruskan supaya bisa diperbaiki.
Akhirnya, Dante dan Lorenzo sama-sama mengganggukan kepalanya. Supaya pembicaraan mereka ini segera selesai, dan tidak membahas hal-hal itu lagi.
Mereka berdua tidak nyaman, jika harus membahas sesuatu yang bersifat pribadi. Dari teman mereka yang satu itu.
Meskipun sebenarnya tidak ada kesalahan yang dilakukan oleh Gavino, tapi tiap orang mempunyai penilaian masing-masing yang tentunya tidak sama antar satu temannya lainnya.
Kadangkala, kita tidak bisa ikut campur dalam urusan pribadi. Yang menurut kita memang tidak bisa dicampur aduk, agar tetap ada perbedaan antara yang bisa dibahas bersama dengan teman dekat yang tidak.
Dan seperti itulah kira-kira pertemanan mereka selama ini, sehingga untuk urusan pribadi seperlunya mereka tidak pernah mengurusi. Sehingga mereka sudah tidak tahu bagaimana kisah keluarga, percintaan, jika mereka tidak menceritakannya.
Sebab Lorenzo maupun Dante, tidak pernah mencampuri urusan pribadi Gavino. Seandainya Gavino sendiri tidak membahasnya atau meminta bantuan pada mereka berdua.
Hal ini tentu membuat mereka tidak berani bertanya atau ikut campur juga, karena dipastikan ada batasan-batasan tertentu. Yang harus mereka jaga dan hargai, sebagai bentuk paling menghormati sesama teman.
Karena ini juga, Gavino menganggap teman-temannya sudah saling mengerti, satu sama lainnya. Tanpa harus didekte oleh Gavino, karena di luar keanggotaan mafia. Dia hanyalah seorang pemuda biasa, sama seperti teman-temannya yang lain.
"Sudah yuk! Kita pergi makan-makan dulu!" ajak Gavino pada kedua temannya itu.
Dia sudah memberikan wewenang penuh, untuk keamanan dua tahanannya. Yaitu Verdi dan Cardi, pada anak buahnya yang berada di markas.
Untuk anak buahnya verdi sendiri, sudah dihabisi sedari kemarin-kemarin. Tanpa harus menunggu kedatangan Gavino.
Mereka, anak buahnya Gavino, tanya tinggal mendapatkan intruksi melalui telpon. Sehingga semua bisa dilakukan dengan cara yang cepat, yang memang sudah menjadi tugas dan pekerjaan mereka.
__ADS_1
*****
Robert sedang lakukan meeting di luar kios, bersama dengan beberapa kolega. Yang akan melakukan kerjasama dengan warabala Giordano dan Mirele.
Dia mengajak juga dua asisten kios, untuk membantunya melakukan negosiasi bersama dengan para kolega tersebut.
Untuk jadwal kegiatannya sendiri, sudah dia percayakan pada salah satu dari asistennya. Sedangkan yang satunya lagi, mengurus segala sesuatu tentang surat-surat penting. Yang diperlukan untuk kegiatan kerja sama kios dan warabala miliknya Gavino.
Usaha dan kerja keras Robert, memang patut diacungi jempol. Karena Robert melakukannya dengan sangat baik, seakan-akan perusahaan itu adalah perusahaannya sendiri. Dan bukan perusahaan orang lain.
Hal ini juga yang membuat Gavino merasa tenang, karena pada kenyataannya Robert memang benar-benar bisa dipercaya.
Dia juga berencana untuk menyerahkan semua miliknya pada Robert, untuk dikelola paman satunya itu. Apalagi ada Dante dan juga Lorenzo, yang pastinya tidak akan menolak seadanya dia meminta bantuan. Untuk membantu Robert, jika dia benar akan pergi ke Amerika. Bersama dengan Gress dan Bianca, suatu hari nanti.
Sekarang, Robert sedang mengurus pembelian sebuah hunian berupa Mension mewah, untuk Tuan Muda nya itu.
Robert juga sudah mendapatkan beberapa gambar dan atau ciri-ciri, yang diinginkan oleh Gavino. Untuk menempati sebuah Mension yang diimpikan.
Jadi, selain melakukan beberapa pertemuan metting, Robert juga mencari beberapa perusahaan properti. Yang biasa menangani jual beli hunian mewah, seperti Mension.
"Tuan Robert, Kami ada beberapa hunian yang tentunya sangat nyaman. Jadi sebentar lagi kami akan mengirimkan file-file, terkait Mension yang Anda butuhkan."
Kolega yang terakhir kali ditemui, ternyata juga mempunyai usaha lain, itu di bidang properti mewah.
Kolega tersebut, tidak hanya menangani di negara Italia ini. Tapi sudah mencakup seluruh kawasan Eropa, bahkan sudah melebar dengan merambah ke Amerika sana.
Tentu saja Robert merasa sangat senang, karena tugasnya sedikit ringan. Sebab dia tidak perlu mencari-cari lagi, ke orang lain.
Bisnis properti dan real estate ini adalah suatu kegiatan usaha atau bisnis, yang dilakukan oleh perorangan ataupun perusahaan. Yang bergerak di bidang kepemilikan properti yang dapat dijadikan sebuah aset, baik berupa tanah, bangunan serta segala sarana dan prasarana yang terdapat di dalamnya sebagai satu kesatuan.
Secara umum, bisnis properti ini berupa apartemen, rumah, tanah, ruko, kios kantor dan sebagainya ke khalayak umum. Termasuk juga dengan hunian mewah, yang tentu saja peminatnya juga bukan sembarang orang.
"Baiklah. Saya akan mempelajari file-file itu nantinya, dan jika tuan Muda Gavino setuju, Saya akan segera menghubungi Anda."
__ADS_1
Robert tentu saja tidak bisa memberikan sebuah janji, karena yang membutuhkan hunian mewah itu bukan dirinya, tapi tuan mudanya. Yaitu Gavino. Yang mempunyai rencana, untuk tinggal di amerika sana. Bersama dengan dua gadisnya, meskipun waktunya belum diketahui kapan.