
Lorena dan Dante, sudah tiba di rumah Gavino. Pada saat semua orang yang akan datang belum sampai.
Jadi, mereka berdua adalah tamu pertama yang datang. Karena Jeffrie datang tak lama setelah mereka berdua duduk.
"Bianca mana?" tanya Dante, yang belum melihat keberadaan sepupunya.
"Belum datang," jawab Gavino pendek.
"Wah, payah dia. Padahal, dia yang paling bersemangat untuk datang ke rumah ini." Dante membicarakan tentang Bianca, yang memang sudah tidak sabar untuk bisa bertemu dengan mama dan papanya Gavino.
Dia ingin tahu, bagaimana caranya kedua orang tua itu, bisa mendidik Gavino hingga seperti sekarang ini.
Cerdas dan kuat, tapi rendah hati dan tidak sombong. Apalagi, di awal-awal, Gavino tampak sangat miskin. Sehingga menjadi bulan-bulanan bully-an teman-temannya, yang merupakan geng nya Alano.
"Tenyata di Vin itu orang kaya. Nyatanya, dia bisa membeli rumah yang besar di kawasan elit juga."
"Berarti, selama ini dia hanya menutupi indentitas dirinya saja. Mungkin mau menguji, apakah ada orang yang mau berteman dengannya, yang memiliki penampilan seperti itu."
Begitulah Bianca pernah berkata pada Dante. Yang akhirnya membuat Dante merasa malu. Kemitraan beralih dari menjadi temannya Alano, kemudian sekarang ini menjadi temannya Gavino.
Mereka semua, akhirnya terlibat pembicaraan yang umum dilakukan oleh remaja-remaja seusia mereka. Hingga pada akhirnya, waktunya untuk makan malam akan segera dimulai.
Giordano dan Mirele, sudah meminta pada anak dan temannya untuk segera masuk dan mulai makan malam.
Tapi mereka menolaknya. Karena masih harus menunggu kedatangan Bianca. Yang tadi sudah berangkat dari rumah.
"Kamu yakin, jika Bianca tahu alamat rumah Kamu ini kan?" tanya Jeffrie, yang mulai merasa tidak tenang. Karena jika dari rumah Bianca ke rumah Gavino, secara hitungan normal, seharusnya Bianca juga sudah tiba sejak dirinya sampai tadi.
Ini menurut keterangan dari Dante, yang memang menghubungi Bianca terlebih dahulu. Sebelum dia pergi bersama dengan Lorenzo.
"Coba telpon sekarang!"
Lorenzo mengusulkan supaya menghubungi Bianca, dan menanyakan apakah masih ada di rumah atau berada di jalan.
Tut tut tut!
Tut tut tut!
Telpon tersambung. Tapi ternyata tidak ada yang mengangkatnya.
"Tidak di angkat?" tanya Jeffrie, yang melihat muka Dante memucat. Entah apa yang sebenarnya terjadi pada Bianca.
Gavino yang tidak tahu apa yang terjadi pada Bianca, mencoba untuk mencari keberadaan Bianca. Dengan mengunakan penglihatan dari cctv jalanan.
( sistem informasi dimulai )
( Ting )
1%
10%
40%
80%
100%
( sempurna )
( informasi didapatkan )
__ADS_1
Dari penglihatan sistem yang dikendalikan oleh Gavino, tenyata ada kecelakaan yang terjadi pada Bianca. Setelah Bianca ada di separuh perjalanan yang seharusnya menuju ke rumahnya ini.
Tapi orang-orang yang menolong dan mengeluarkan Bianca dari dalam mobil, bukan membawanya ke rumah sakit. Namun membawanya ke tempat yang lain.
"Dia di culik."
Gumamam Gavino yang tidak begitu jelas, di dengar oleh Lorenzo dan Dante. Begitu juga dengan Jeffrie. Mereka bertiga mengerutkan keningnya, memikirkan apa yang sebenarnya dikatakan oleh Gavino.
"Hai, apa yang Kamu katakan?" tanya Dante ingin kejelasan. Karena ini menyangkut keselamatan sepupunya.
"Dia kecelakaan, tapi itu memang disengaja. Dan sekarang, Bianca bukannya di rumah sakit. Tapi di suatu tempat, yang gelap."
Mereka bertiga saling pandang.
"Kamu bergurau kan?"
"Apa Kamu cenayang?"
"Di mana Bianca Gavino? Cepat bilang!"
Sekarang, Gavino berusaha untuk mencari keberadaan Bianca melalui sistem informasi yang ada di dalam otaknya.
( sistem informasi dimulai )
( Ting )
1%
10%
30%
50%
90%
100%
( sempurna )
( Informasi didapatkan )
Tak lama, Gavino seperti melihat sebuah layar yang menampilkan gambar Bianca. Yang dalam keadaan terikat disebuah ruangan yang gelap.
"Hah! Dia benar-benar di culik!"
"Gavin. Kamu yakin itu?"
"Dia ada di sebuah ruangan kosong dan gelap. Di bangunan yang tidak lagi digunakan."
"Siapa yang menculik Bianca?"
"Kawan-kawannya Alano."
Dante dan Jeffrie, yang sering keluyuran bersama dengan Alano, memicingkan mata, memikirkan di mana kira-kira tempat yang dikatakan oleh Gavino tadi.
Tapi karena di kota Roma ini banyak juga bangunan-bangunan yang tidak digunakan, alias terbengkalai, Dante dan Jeffrie tidak bisa menentukan. Di mana kira-kira tempat itu.
"Aku cari tahu dari Cardi dulu. Mungkin dia tahu, karena ingatannya tajam."
Akhirnya Dante menghubungi temannya, untuk meminta keterangan yang dia butuhkan.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Dante selesai berbicara dengan Cardi melalui telpon. Dia sedikit mendapat informasi, jika bangunan yang tidak digunakan lagi, dan sering dijadikan markas oleh Alano bersama dengan kawan-kawannya ada di dekat gedung olahraga.
"Maksud Kamu, yang ada di seberang sekolah kita?" tanya Lorenzo menyakinkan dirinya.
"Ya."
"Kita ke sana!" ajak Gavino berdiri dari tempat duduknya.
"Tunggu!"
Dante mencegah Gavino untuk pergi terlebih dahulu. "Kita tunggu sebentar. Pasti tak lama lagi, dia akan menghubungi kita. Kita tidak tahu kebenaran yang sesungguhnya."
"Baiklah. Kita tunggu sebentar. Tapi tetap harus bersiap untuk segala kemungkinan." Gavino memberikan instruksi.
Ketiga temannya mengangguk setuju.
"Ayo kita mulai makan malam nya! Sudah semakin larut. Nanti kalian keburu lapar dan juga waktunya untuk pulang."
Mirele datang untuk mengajak mereka makan malam yang tadi tertunda. Karena harus menunggu salah satu dari temannya yang belum datang.
"Ma. Makanlah terlebih dahulu bersama dengan Papa. Kami ada urusan sebentar," kata Gavino memberikan penjelasan kepada mamanya.
Sebenarnya, dia tidak tega membiarkan mamanya kecewa. Karena acara makan malam mereka batal.
"Ada apa Gavin?" tanya Mirele bingung.
Giordano muncul dari dalam. Dia datang dan ingin tahu, apa yang terjadi pada anak-anaknya itu.
"Tidak ada apa-apa Tante. Hanya sedikit permainan bersama dengan teman kami." Sekarang, Dante yang menjawab pertanyaan dari mamanya Gavino.
Mirele melihat ke arah suaminya, meminta pendapat.
Tapi Giordano yang juga tidak tahu apa-apa, hanya mengangkat kedua bahunya. Karena dia merasa jika, ini hanya sebuah gurauan dari anak-anak seusia mereka.
Gavino mendengar ponselnya berdering. Dengan cepat, dia mengambilnya dan melihat siapa yang menghubungi dirinya saat ini.
..."Halo." ...
..."Hahaha..."...
..."Hai, siapa ini? Apa maksud Kamu?" ...
..."Bianca ada bersamaku. Tapi Kamu tenang saja. Kami akan bermain-main, dan merasakan kebahagiaan. Jadi Kamu tidak udah merisaukan keadaannya." ...
..."Apa mau mu?" ...
..."Diam dan jangan melapor pada polisi ataupun orang tuanya Bianca!" ...
..."Tung..."...
Tut tut tut...
Sambungan telpon terputus sepihak, sebelum Gavino selesai berbicara.
"Ah, sialll!"
"Hai siapa yang menelpon?" Dante segera bertanya, karena mendengar umpatan dari mulut Gavino.
Akhirnya, Gavino menceritakan tentang keadaan Bianca. Dari gambaran penelpon tadi.
"Apa dia Alano?"
__ADS_1
"Aku pikir itu memang Alano."
Gavino menjawab pertanyaan Dante, dengan mendeteksi suara yang tadi dia dengar. Karena suara dari menelpon, di buat samar. Mungkin dengan mengunakan penutup masker wajah atau sejenisnya. Sehingga suara yang keluar tidak bisa dikenali.