Gavino ( Sistem Mafia )

Gavino ( Sistem Mafia )
Permintaan


__ADS_3

Hari ini Gavino pergi ke markas. Dia ingin melihat keadaan Cardi dan Verdi, yang memang sengaja masih ditahan, dan tidak segera dihabisi.


"Tuan Muda," sapa anak buahnya Gavino dengan sopan.


Gavino hanya menganggukkan kepalanya, untuk menjawab salam tersebut.


Begitu tiba di depan pintu ruangan, di mana ruangan tersebut adalah tempat penyekapan Verdi dan Cardi. Gavino bertanya, "apa mereka berdua membuat masalah?"


"Tidak Tuan Muda. Mereka berdua tidak membuat masalah apapun, dan kami juga tidak memberikan makan dan minum. Sesuai dengan perintah dari Tuan Muda."


Gavino mengangguk puas, setelah mendengar jawaban dari anak buahnya. Sekarang dia membuka pintu ruangan, kemudian berjalan masuk ke dalam ruangan.


Verdi dan Cardi, terlihat menyedihkan. Mereka berdua, tampak tidak berdaya duduk di tempatnya masing-masing. Dengan keadaan kaki dan tangan yang terikat, sehingga tidak bisa melakukan apa-apa.


"Selamat siang kawan. Sabuon pomeriggio amico." Gavino menyapa keduanya dengan ramah, kemudian mengambil kursi dan mendudukinya. Di depan kedua tawanannya tersebut.


"Eghhh..."


"Emhhh..."


Keduanya, Verdi dan Cardi, sama-sama membalas sapaan Gavino. Tapi mereka berdua juga tidak bisa mengeluarkan suara, karena mulut dan tenggorokan ayang sudah kering. Seakan-akan sudah menyatu dan tidak bisa dibuka lagi.


Gavino tersenyum lebar, ketika mau lihat keadaan mereka berdua.


"Bagaimana? sei disposto ad arrenderti e chiedere di morire?"


"Apakah kalian menyerah, dan meminta untuk segera mati?" tanya Gavino, memberikan penawaran kepada Verdi dan Cardi. Yang tentu saja sudah tidak bisa menjawab pertanyaannya.


"Emhhh... atau, kalian masih mau seperti ini?" tanya Gavino lagi, karena mereka berdua hanya bisa melihatnya dengan mata yang sudah tidak jelas lagi.


Keadaan Verdi dan Cardi, benar-benar sudah memprihatikan. Karena anak buahnya Gavino, tidak pernah memberi mereka makanan ataupun minuman. Sesuai dengan permintaan Tuan Muda mereka, yang menginginkan mereka mati secara perlahan-lahan.


Ini adalah sebuah penyiksaan, yang paling ditakuti oleh semua orang. Karena harus merasakan penderitaan yang lebih lama, dibandingkan dengan sebuah tembakan atau dibunuh secara langsung.


Tapi Gavino bukannya sembarangan memberikan keputusan hukuman seperti ini. Dia ingin memberikan contoh, kepada para musuhnya atau juga anak buahnya. Jika beginilah hukuman yang harus diterima, seandainya melakukan kesalahan yang sama seperti yang dilakukan oleh mereka berdua.


Dan hal ini sudah biasa terjadi di dunia mereka, yang bergelut di dunia Mafia.


"Aku bertanya pada kalian. Siapa yang ingin mati terlebih dahulu?" tanya Gavino, dengan memperhatikan keduanya satu persatu.

__ADS_1


Tapi ternyata, Verdi masih bisa tersenyum. Meskipun hanya samar dan gagal membentuk sebuah senyuman. Karena lebih mirip dengan gambaran tentang penderitanya.


Untuk Cardi sendiri, sudah tidak bisa bersuara lagi. Sama seperti Verdi.


Tapi dia tidak memperlihatkan ekspresi apapun, karena keadaannya yang sudah tidak bisa melakukan apa-apa. Sehingga dia hanya bisa pasrah, apapun yang akan diterimanya sebagai bentuk dari hukuman yang diberikan oleh Gavino padanya.


Melihat keadaan Verdi dan Cardi, Gavino sebenernya tidak tega. Tapi dia tidak mau jika keduanya jadi besar kepala, jika harus memberikan mereka pertolongan. Meskipun hanya dengan memberi mereka minum.


Keadaan mereka berdua semakin parah, dengan pencahayaan ruangan ini yang gelap. Tanpa adanya fentilasi udara, untuk sirkulasi udara. Sehingga tidak pengap dan lebih sehat, karena adanya pergantian udara.


Tapi karena ruangan ini memang ada di bawah tanah, tentu saja tertutup dengan ruangan yang ada di atas sana. Di tambah lagi, ruangan ini memang yang lebih kecil daripada ruangan sebelah yang lebih besar. Yang digunakan untuk anak buahnya Verdi, yang ikut tertangkap kemarin itu.


"Baiklah. Aku akan pergi dari sini, karena kalian berdua tidak membutuhkan ku."


Gavino beranjak dari tempat duduknya, kemudian berniat untuk pergi dari ruangan tersebut.


"Eghhh..."


Gavino menghentikan langkahnya, kemudian menoleh ke arah Verdi. Yang baru saja mengeluarkan suaranya, seakan-akan sedang memintanya untuk tinggal terlebih dahulu.


"Apa Kamu mau mengatakan sesuatu?" Gavino akhirnya bertanya pada Verdi, dengan berjalan untuk mendekat ke tempat duduk musuhnya itu.


Dengan malas, Gavino mendekat. Sesuai dengan permintaan dari Verdi.


Dia berpikir bahwa, Verdi ingin menyampaikan sesuatu padanya. Tapi terkendala dengan suaranya, yang tidak bisa keluar dari tenggorokan.


"Kamu mau minum? Supaya Kamu bisa bicara," tanya Gavino, menawari minuman pada Verdi.


Tapi nyatanya Verdi justru menolaknya, dengan memejamkan mata dan menggelengkan kepala beberapa kali.


Gavino dengan sabar menunggu, apa yang sebenarnya ingin dilakukan oleh Verdi. Sehingga memintanya untuk tidak pergi, dan menungguinya.


Ternyata Verdi mendongakkan kepalanya, melihat ke arah Gavino. Dengan sisa ratapan matanya yang tajam.


Sepertinya Verdi pingin menyampaikan rasa bencinya pada Gavino, untuk telah terrakhir kalinya. Sebelum dia menghembuskan nafas terakhirnya, entah kapan waktunya itu.


Namun ternyata Gavino cukup peka, sehingga hanya membalas tatapan mata Verdi dengan sebuah senyuman.


"Baiklah, Aku pergi. Jika kalian ingin mati, pergilah secepatnya atau kalian akan menunggu Aku datang ke sini lagi? Silahkan saja!" Gavino pamit, dengan memberikan kebebasan kepada mereka berdua. Kira-kira kapan memilih untuk mengakhiri hidup mereka berdua. Sebab dia hanya pergi ke markas 3 hari sekali.

__ADS_1


Setelah itu, Gavino benar-benar pergi dari ruangan tersebut. Sebab dia akan pergi ke rumah Thomas Bryan. Untuk melaksanakan tantangan dari sistem.


*****


Di kantor.


Thomas Bryan sedang mengadakan metting, dengan semua dewan direksi. Untuk memperkenalkan anaknya, Gress, yang akan menjabat sebagai CEO di perusahaannya.


Dia ingin memberikan kesibukan kepada Gress, agar tidak terlalu memikirkan apa-apa tentang Gavino.


Padahal yang sebenarnya, Gress seharusnya masih beristirahat. Karena kemarin itu, diajak pulang paksa oleh Thomas Bryan.


Tapi karena dokter keluarga juga sudah memeriksa, dan mengatakan jika Gress bisa melakukan apapun yang bersifat ringan. Akhirnya Thomas Bryan dek mau membuang-buang waktu, untuk mengajak anaknya itu masuk ke dalam perusahaan.


"Saya mengajak kalian semua bertemu secara mendadak ini, untuk memperkenalkan seseorang yang akan menggantikan saya ke depannya."


Thomas Bryan memulai acara, langsung pada inti. Maksud dari pertemuan yang dilakukannya ini. Sebab metting ini memang mendadak, dan baru dikabarkan semalam.


"Ini adalah Gress. Dia adalah anak Saya, yang selama ini tidak pernah Saya tampilkan ke publik. Semua itu Saya lakukan untuk keselamatan dan kenyamanannya. Jadi, saya merasa bahwa waktu inilah yang tepat, untuk memperkenalkan dirinya pada kalian semua."


Semua dewan direksi perusahaan saling pandang, karena selama ini mereka memang tidak pernah mengenal sosok anaknya Thomas Bryan.


Apalagi dikabarkan jika pemimpin mereka yang terkenal arogan, mempunyai kebiasaan yang melenceng. Yaitu menyukai sesama jenis, sehingga tidak memungkinkannya untuk memiliki seorang anak.


Tapi Thomas Bryan sudah memiliki sebuah tameng, untuk menjawab pertanyaan mereka semua. Meskipun tanpa harus mereka ucapkan.


"Anak Saya ini, sedari bayi ada di Amerika. Dan apa kalian pernah mendengar, jika sekretaris dan asisten pribadiku ada yang pergi. Begitu dia ketahuan hamil?"


Thomas Bryan memancing ingatkan mereka semua, dengan peristiwa di masa lalu.


Sebab mamanya Gress, memang termasuk salah satu dari sekertaris dan asisten pribadi dari seorang Thomas Bryan. Yang pada saat itu memang sedang berjaya di masa muda.


Jadi tidak ada yang salah, seandainya dia melakukan apapun yang diinginkan.


"Ohhh, sekretaris yang pernah bertengkar dengan Anda itu ya Tuan Besar Thomas Bryan?" Akhirnya ada juga yang mengingat kembali, tentang peristiwa di masa lalu. Yang sepertinya sudah tidak diingat-ingat lagi oleh siapapun, diantara mereka.


Thomas Bryan menganggukkan kepalanya, mengiyakan pertanyaan yang diajukan oleh salah satu dari dewan direksi perusahaan miliknya.


Akhirnya mereka semua mengingat kembali kejadian tersebut, kemudian melihat ke arah Gress. Dan tak lama kemudian, mereka semua tersenyum dan menganggukkan kepala. Untuk memberikan salam kepada CEO baru mereka itu.

__ADS_1


Gress hanya bisa ikut mengganggukan kepalanya, menerima salam tersebut.


__ADS_2