Gavino ( Sistem Mafia )

Gavino ( Sistem Mafia )
Melawan


__ADS_3

Pikiran sang Kapten, yang ingin merasa aman dari segala sesuatu yang bisa saja terjadi pada dirinya, akhirnya membuat rencana untuk bisa menekankan vino supaya mengikuti keinginannya.


Kini, dia berencana mencari titik lemah dari seorang Gavino.


Sayangnya, dia belum pernah bertemu siapapun. Yang ada dekat dengan Gavino. Bahkan rumah Gavino saja dia tidak pernah tahu di mana tempatnya.


Hal ini membuat sang kapten sedikit kesulitan, untuk mencari keberadaan orang-orang terdekat Gavino.


Yang dia tahu, kedua orang tuanya Gavino sudah tidak ada lagi, atau meninggal dunia. Dan pada saat itu, Gavino sedang melakukan serangan untuk geng_nya Verdi.


Akhirnya, sang Kapten memerintahkan kepada salah satu anak buah yang dipercayai. Yang ikut bekerja sama dengan Bos yang tadi juga, untuk mencari data tentang Gavino.


Di mana rumahnya Gavino dan statusnya sebagai mahasiswa itu ada di universitas mana. Dengan demikian, dia akan lebih mudah untuk menangani seorang Gavino, yang sangat dikaguminya sebelumnya


"Maaf Gavin. Aku terpaksa harus melakukan semua ini, karena kamu mulai mencampuri urusanku. Di luar jam tugas."


Sang Kapten tersenyum tipis telah selesai memberikan tugas pada anak buahnya.


Tak lama kemudian, mobil yang dikendarai sang Kapten, melaju kembali ke jalanan menuju ke arah kantor.


Dia harus segera bersiap-siap untuk melakukan semua rencananya. Supaya tidak ada yang menghalangi-halangi tugasnya. Baik saat menjadi seorang Kapten polisi, atau pada saat harus memberikan pengawalan pada kegiatan Bos yang tadi.


*****


Bianca baru saja keluar dari kelas, bersama dengan dua temannya.


"Aku langsung pulang ya," pamit Bianca pada keduanya. Sebab, dia memang berencana untuk langsung pulang ke rumah.


"Ok Bi. Hati-hati ya!"


Teman-temannya itu mempersilahkan pada bianca untuk pulang ke rumah, setelah mereka melakukan cipika-cipiki terlebih dahulu. Sebagai kebiasaan yang selalu mereka lakukan sebelum berpisah.


Bianca baru saja menuju ke tempat parkir, untuk menuju ke mobil. Sebab, supir sudah menunggunya di dalam mobil, pada saat jam pulang kampus.


Tapi, sebelum dia sampai pada mobilnya, ada dua orang yang mendekat, kemudian bertanya kepada-nya. Cewek dan cowok.


"Hai, maaf. Apakah Kamu bisa membantuku?" tanya salah satu dari mereka yang cewek.


"Ya, apa yang bisa Aku bantu?" Bianca balik bertanya pada orang yang meminta bantuan kepada dirinya.


"Bisa kita bicara ke sebelah sana saja? Aku agak malu kalau di sini. Soalnya ini cukup ramai," ajak cewek tersebut memberikan alasan pada Bianca.


Sedangkan untuk yang cowok, dia hanya menganggukkan kepalanya. Di samping cewek tersebut.


Tapi apa yang terjadi pada Bianca, tidak pernah disangka-sangka. Sebab, cewek tadi, ternyata pura-pura merangkul Bianca. Kemudian menutupi hidung Bianca dengan sapu tangan.


Sedangkan yang cowok, langsung ikut membantu ceweknya untuk memapah Bianca menuju ke arah sebuah mobil.


Tentu saja hal ini tidak membuat orang-orang di sekitar area parkir kampus curiga. Sebab, hal seperti ini sudah biasa terjadi. Maksudnya, mereka berpikir bahwa, Bianca sedang diajak temannya sendiri.

__ADS_1


Dan supir yang bertugas mengawasi Bianca, juga tidak tahu. Sebab, mobilnya masih terlalu jauh dari tempat Bianca berada tadi.


Akhirnya, dia orang cewek cowok, berhasil membawa bianca keluar dari area kampus.


Sedangkan sang supir, masih menunggu di mobilnya sendiri tanpa merasa curiga jika Nona nya yang sedang dia kawal telah diculik oleh dua orang tak dikenal.


*****


Di tempat Gavino berada.


Dia sudah bisa melumpuhkan semua anak buah dari Bos yang menyerangnya. Bahkan, mereka semua sudah tidak bisa berdiri lagi, jika ingin menghajarnya.


"Siall! Kamu..."


Bugh!


"Awww!"


Bos tersebut, tidak lagi melanjutkan kalimatnya. Sebab sudah mendapatkan pukulan dari Gavino pada dada bagian kiri.


Dia juga merasa kesakitan, hingga akhirnya terhuyung-huyung. Untuk mempertahankan keseimbangan tubuhnya.


"Kamu licik! Kamu menyerang saat Aku tidak siap," ujar Bos tersebut protes.


"Hahaha... Kamu pikir, Kamu tidak lebih licik dibandingkan dengan ku? lihatlah! Mereka semua ada berapa jumlahnya? Sedangkan Aku? Kamu tahu sendiri, jika Aku seorang diri melawan mereka. Apakah itu tidak lebih licik, daripada aku yang memukulmu tanpa memberitahu terlebih dahulu?"


Bos tersebut terdiam, mendapatkan pertanyaan yang diajukan oleh Gavino. Dia membenarkan pertanyaan tersebut tapi hanya di dalam hati.


Sekarang, dia kembali menodongkan senjata apinya ke arah Gavino. Untuk melakukan perlawanan.


Tapi Gavino tidak merasa takut sama sekali.


"Aku tidak perlu senjata api, jika hanya ingin membunuhmu."


Ucapan Gavino yang terakhir ini, membuat Bos tersebut menertawakannya. "Hahaha... Kamu pikir, begitu mudah Kamu gertak!"


Dor dor!


Bos tersebut langsung menembakkan senjata api nya dua kali ke arah Gavino.


Tapi Gavino bisa langsung menghindar, sehingga Bos tersebut merasa semakin kesal dan marah pada kegagalannya sendiri.


Sekarang, dia kembali menembakkan senjata api nya, untuk bisa mengalahkan Gavino.


Sayangnya, Gavino selalu bisa menghindar. Hingga peluru di dalam senjata api tersebut kehabisan. Dan tidak bisa menembaknya lagi.


Akhirnya, dengan sangat terpaksa, Bos tersebut melakukan perlawanan dengan senjata kosong atau tanpa senjata dengan Gavino.


Dia tidak mau melepaskan Gavino begitu saja. Karena dia merasa semakin penasaran dengan sosok pemuda yang baru saja dia temui ini.

__ADS_1


Bagh bugh bugh!


Dagh dugh dugh!


Bugh!


"Awww!"


Setelah beberapa saat kemudian, Bos tersebut roboh ke tanah. Dengan kaki Gavino yang berada di atas dadanya.


"Apakah Kamu masih ingin melawan ku?" tanya Gavino dengan tersenyum miring.


"Uhuk, uhuk-uhuk!"


"Si_apa Ka_kamu s..sebe_narnya?"


Bos tersebut sudah terbata-bata, sehingga tidak bisa mengucapkan kalimatnya dengan lancar.


"Katakan! Apa yang Kamu kerjakan, dan Kamu sepakati dengan Kapten?" tanya Gavino, dengan menekan dada Bos tersebut. Sehingga dia kesulitan untuk bernafas.


"Apa, apa Ka_kamu adalah... ba_badan intel_lijen negara? Yang... ber_bertugas untuk memata-matai Ka_kap_kapten," tanyanya, dengan rasa penasaran yang tinggi.


Tapi Gavino tidak menjawab pertanyaan tersebut. Dia justru memutar-mutar telapak kakinya, sehingga tekanan yang dia lakukan pada dada Bos tersebut semakin terasa menyakitkan.


"Uhuk! uhuk-uhuk!"


"Kamu jawab sekarang atau tidak, itu tidak mempengaruhi nasibmu untuk beberapa menit ke depan. Kamu hanya punya dua pilihan. Ingin mati lebih cepat, atau perlahan-lahan dan menyakitkan?"


Gavino mengertak Bos tersebut, supaya menentukan pilihan nasibnya sendiri.


Mendengar pertanyaan tersebut, Bos itu meminta supaya Gavino segera membunuhnya dengan cepat. Dia tidak ingin merasakan siksaan dan kesakitan yang lebih, pada saat meregang nyawa.


Tapi pada kenyataannya itu tidak dilakukan oleh Gavino.


Gavino justru menginjak tangan Bos tersebut, hingga tangannya patah.


Crak!


"Awww!"


Suara jeritan Bos tersebut, membuat siapa saja yang mendengarnya merasakan perasaan yang miris.


Terdengar jelas, suara yang sedang merasakan kesakitan. Bahkan, setelah selesai dengan satu tangan, Gavino menuju ke arah kaki Bos tersebut. Untuk melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan pada tangan tadinya tadi.


"Jang_ngan. Ak_aku, maaf. A_ku min_minta maa_af. Ak_u mau mat_ti se_seka_rang saja."


Bos tersebut justru meminta supaya Gavino segera membunuhnya. Ini adalah permintaan seseorang, jika ada pada posisi yang sangat menyakitkan. Jadi, dia ingin segera menyudahi rasa sakit dan penderitaan yang dia terima.


Tapi Gavino yang sudah mulai terbiasa dengan suasana seperti ini, hanya tersenyum miring dan tidak mengabulkan permintaan tersebut.

__ADS_1


Dia justru menelpon anak buahnya, agar segera datang ke pantai V Lounge Beach. Dengan membawa beberapa berkas, yang biasa di bawa. Jika sedang membantai seseorang yang punya banyak usaha.


__ADS_2