
Gavino masih mempertajam penglihatan matanya. Memperhatikan bagaimana keadaan Madalena yang dia lihat dalam sistem informasi otaknya.
Di layar informasi, terlihat gambar Madalena yang tadi baru saja datang dan masuk ke dalam rumah. Tapi teriakan langsung terdengar dari sebuah kamar.
"Alena! Kenapa terlambat pulang?"
Madalena yang tadinya tampak biasa-biasa saja, kini terkejut dan langsung pucat pasi.
Dia juga tampak berjalan dengan menundukkan kepalanya, menuju ke arah kamar tersebut. Di mana tadi ada suara yang menegurnya.
"Maaf Pa," ucap Madalena di depan pintu.
Layar informasi bergeser ke arah kamar, yang ada di depan Madalena sekarang.
Di dalam kamar tersebut, tampak seorang laki-laki yang sedang duduk dengan menatap layar laptopnya.
Dan di layar laptop tersebut, memperlihatkan beberapa gambar dari kamera cctv yang ada di rumah itu. Begitu juga dengan depan pintu kamarnya. Jadi, Madalena terlihat jelas di layar laptop laki-laki tersebut.
"Cepat masuk ke dalam kamar. Dan mulai besok pagi, Kamu tidak mendapat jatah makan sampai dua hari ke depan."
"Dan itu, ATM dan kartu kredit, letakkan di atas meja. Supir akan mengantar dan menjemputmu. Sesuai dengan jam yang seharusnya. Tidak ada alasan untuk tidak bisa tepat waktu!"
Madalena hanya bisa mengangguk dengan patuh. Setelah membuka tas dan mengambil dompetnya, Madalena mengeluarkan ATM dan kartu kredit yang dia miliki.
Dia meletakkan kartu-kartu tersebut di atas meja, yang ada di depan kamar papanya. Sedangkan dia sendiri, berlalu setelah tidak lagi mendengar suara perintah dari dalam kamar.
Kamar tersebut adalah kamar papanya. Sudah hampir satu tahun ini, papanya selalu memberikan peraturan yang ketat padanya. Dia juga tidak pernah lagi menemui dirinya, karena papanya selalu mengunci pintu kamar pribadinya itu.
Semua orang yang ada di rumah ini, mendapatkan perintah dari spiker yang terpasang di setiap sudut ruangan.
Jadi, bisa dipastikan bahwa tidak ada orang yang tidak akan mendengar perintah tersebut.
Begitu juga dengan Madalena, yang merupakan anak satu-satunya yang saat ini ada di rumah.
Kedua saudaranya, sedang berada di luar negeri untuk belajar. Sedangkan mamanya, sudah meninggal satu tahun yang lalu. Dan sejak saat itulah, papanya jadi seperti sekarang ini.
Untuk semua peralatan pribadi papanya, sudah ada di dalam kamar. Untuk keperluan lain, makan dan sebagainya, di sediakan oleh maid atau pekerja rumah. Lewat celah pintu yang hanya di buka papanya Madalena saat dia perlukan saja.
Semua orang juga patuh. Karena jika tidak, akan ada orang-orang suruhan papanya, yang datang untuk memberikan pelajaran kepada mereka yang membangkang.
Meskipun itu adalah Madalena sendiri, sebagai anak kandungnya. Tidak ada pengecualian untuk setiap aturan dan perintah yang diberikan oleh papanya Madalena.
( Ting )
( Informasi selesai )
Gavino menghela nafas panjang, kemudian membuangnya perlahan-lahan.
__ADS_1
'Jadi seperti itu kehidupannya Madalena. Tidak sama seperti yang terlihat. Atau jangan-jangan, apa yang dia lakukan di luar rumah adalah bentuk dari tekanan yang dia rasakan di rumah?'
Batin Gavino berkata, karena memiliki beberapa dugaan tentang keadaan Madalena yang sebenarnya.
'Apa yang bisa Aku lakukan untuk Madalena?'
Secara tiba-tiba, sistem yang ada di otaknya aktif dengan sendirinya.
( Ting )
( Sistem diaktifkan )
"Emhhh... Aku ingin tahu, apa penyebab papanya Madalena seperti itu?"
( Sistem informasi papanya Madalena )
1%
5%
15%
25%
40%
60%
75%
90%
95%
100%
( Informasi didapatkan )
Beberapa gambar tampak terlihat jelas bagi Gavino. Dan dia sungguh tidak pernah mempercayai penglihatannya sendiri saat ini.
"Apa ini papanya Madalena?"
( Benar good father )
Sekarang, Gavino ganti melihat beberapa foto keluarga Madalena, saat masih bersama dengan mamanya. Yang sekarang ini sudah tiada. Jadi, Madalena itu sudah tidak mempunyai mama lagi. Dia hanya memiliki papa dan dua
Dan semuanya benar-benar di luar dugaan Gavino. Bahkan mungkin saja, tidak akan dipercayai oleh siapapun yang mengenal keluarga mereka selama ini.
__ADS_1
*****
Dua tahun yang lalu.
Mamanya Madalena divonis gagal jantung. Dia sudah beberapa kali masuk ke ruang operasi, untuk melakukan cangkok jantung.
Sedangkan jantung-jantung yang digunakan untuk operasi pencangkokan tersebut, didapat dari beberapa jantung milik penjahat yang mati karena ditahan. Atau karena kecelakaan.
Jadi, sebelum mereka benar-benar mati, jantung mereka diambil oleh tim dokter. Untuk digunakan sebagai jantung yang akan dipasang pada jantung mamanya Madalena.
Apalagi papanya Madalena adalah ketua dari laboratorium yang mengembangkan ujicoba cara cangkok organ dalam manusia. Khususnya jantung. Karena selama ini, cangkok jantung memang jarang sekali berhasil.
Laboratorium tersebut juga mengembangkan ujicoba mereka, untuk pembuatan jantung.
Dan mamanya Madalena ini juga merupakan alat uji coba yang digunakan oleh suaminya sendiri, untuk keberhasilan dari jantung buatannya.
Namun sayangnya, tubuh dari Mamanya Madalena, selalu menolak jantung-jantung yang dicangkokkan ke dalam tubuhnya.
Ini memang sering terjadi pada kasus cangkok jantung yang sangat berisiko. Karena resiko utamanya adalah, jika tubuh menolak jantung donor. Ini terjadi karena sistem kekebalan tubuh dapat menganggap jantung baru sebagai benda asing yang bukan milik tubuh pasien, dan berusaha mematikannya.
Dan inilah yang justru membuat mamanya Madalena tidak bisa menerima jantung-jantung tersebut. Karena setiap selesai operasi cangkok jantung, tubuhnya malah semakin melemah.
Pada akhirnya, mamanya Madalena tidak bisa lagi bertahan hidup. Setelah tujuh kali menjalani operasi, yang berlangsung selama satu tahun terakhir ini.
Dia meninggal satu tahun kemudian. Setelah divonis gagal jantung. Dan ini karena suaminya sendiri. Karena semua operasi yang dilakukan, diketuai oleh suaminya sendiri. Yaitu papanya Madalena.
"Sialll! Aku gagal menyelamatkan hidup istriku sendiri. Apa yang sudah Aku lakukan selama ini tidak ada hasilnya!"
"Bagaimana Aku bisa hidup dengan semua kegagalan ini?"
"Tidak berguna!"
Makian dan perkataan yang diucapkan oleh papanya Madalena, karena rasa kecewanya.
Dia merasa gagal sebagai ahli laboratorium tersebut, dan juga sebagai seorang suami yang seharusnya menjaga istrinya.
Papanya Madalena kecewa, dan depresi. Sehingga melakukan semua hal yang tidak masuk akal. Dengan segala aturan yang dia buat untuk kehidupan keluarganya saat ini.
Madalena dilarang untuk makan dan jajan di luar. Dia akan selalu disediakan makanan dan minuman oleh maid dari rumah.
Kartu ATM dan kartu kredit yang dibawa Madalena, hanya digunakan untuk keperluan sekolah dan barang pribadi yang ingin dia beli. Karena tidak tersedia di rumah.
Dia juga di larang tidur dengan mengunakan baju tidur biasa. Tapi dengan piyama longgar dari bahan super katun.
Madalena juga dilarang untuk mengunakan kosmetik apapun, jika sedang berada di rumah. Semua peralatan yang ada di kamar Madalena, dibersihkan dengan air panas. Agar tidak virus di dalam kamarnya.
Sebenarnya, Madalena sangat tidak nyaman dengan keadaan ini. Tapi dia hanya bisa diam dan menuruti semua aturan dan keinginan papanya.
__ADS_1
Dia berpikir bahwa, dia bisa bebas setelah kuliah di luar negeri suatu hari nanti. Sama seperti yang saat ini dirasakan oleh kedua saudaranya.