Gavino ( Sistem Mafia )

Gavino ( Sistem Mafia )
Kejadian Tak Terduga


__ADS_3

Di rumah sakit.


Kekacauan terjadi lagi di ruang ICU. Dokter dan perawat sibuk mondar-mandir keluar masuk ke ruang ICU yang tertutup kaca, dan hanya diisi oleh satu orang pasien saja.


Jadi, dua ruangan kaca di ICU sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.


Tubuh kedua pasien, menolak obat yang masuk ke dalam tubuhnya dalam waktu dekat ini. Padahal obat tersebut dimaksudkan untuk membersihkan darah pasien dari racun yang terlanjur masuk ke dalam tubuhnya.


Sedangkan kantong darah sudah habis sampai 3 kotak.


"Bagaimana Dok?" tanya perawat yang ikut menanggani pasien.


Saat ini, perawat dan dokter ada di ruangan Mirele. Sedangkan di yang satunya lagi ada ruangan kaca tempat Giordano berada.


"Kita tidak bisa meneruskan transfusi darah ini. Sepertinya tubuhnya menolak darah dari luar!" seru dokter, meminta pada perawat untuk melepas selang yang digunakan untuk transfusi darah.


"Tapi jika tidak ada darah baru, darahnya akan terkontaminasi racun dan membeku dengan cepat."


Dokter tidak menyahuti perkataan yang diucapkan oleh perawat tersebut. Karena apa yang dikatakan itu benar adanya. Tapi jika dibiarkan, darah yang masuk ke dalam tubuh Mirele juga sia-sia belaka. Tidak ada gunanya sama sekali.


Bahkan bisa menghabiskan stok darah di rumah sakit ini.


"Racun apa yang sebenarnya dimasukkan ke dalam tubuh pasien ini?" tanya dokter dengan bergumam.


Tentu kasus kedua pasien di ruang kaca yang ada di ICU ini terbilang langka.


Pasien bernama Giordano, menerima transfusi darah dengan baik. Tapi tekanan darah yang ada di tubuhnya tetap tidak stabil. Ini ada kaitannya dengan racun yang tadi sempat masuk ke dalam tubuhnya. Dan itu dalam jangka waktu yang cukup lama.


Sedangkan istrinya, Mirele, tubuhnya tidak mau menerima transfusi darah yang dibutuhkan tubuhnya. Setelah dua kantong di awal tadi, saat membersihkan racun yang terlanjur masuk ke dalam tubuhnya.


Sebab, Mirele sudah terkontaminasi dengan racun yang tadi disuntikkan ke dalam cairan infus dalam jumlah yang banyak. Karena waktu ketahuan, cairan infus sudah hampir habis di tabung infus.


"Kita coba lakukan cuci darah secepatnya! Jika tidak ada hasil dari darah yang baru, kita pasrahkan saja semuanya pada nasib. Yang penting kita sudah berusaha."


Perawat mengangguk mengiyakan. Dengan cepat perawat tersebut keluar dari ruang kaca, kemudian melakukan persiapan untuk cuci darah bagi Mirele.


Beberapa saat kemudian, persiapan sudah selesai dilakukan. Dua orang perawat membawa brangkar pasien Mirele menuju ke ruang khusus untuk cuci darah.


Dokter juga sudah siap dengan segala sesuatu, yang sudah menjadi tugasnya.


Setelah satu jam lamanya, dokter tersebut keluar bersama satu perawat. Sedangkan beberapa perawat masih ada di dalam ruangan, untuk memantau perkembangan Mirele.


"Buat laporan yang seharusnya. Jika dalam waktu satu atau dua jam kedepannya tidak terjadi sesuatu, maka bisa dipastikan bahwa pasien baik-baik saja seterusnya."

__ADS_1


"Tapi jika ada kelainan, nyawa pasien tidak bisa diselamatkan. Ataupun jika selamat, dia tidak akan bisa melakukan apa-apa selama hidupnya."


Perawat yang diberikan tugas, mengangguk mengiyakan permintaan dari sang dokter.


Karena setelah ini, mereka semua akan kembali sibuk dengan perkembangan kondisi Mirele. Yang baru saja selesai dengan cuci darah_nya.


Tapi ternyata, di ruang ICU juga terjadi kekacauan.


Alat pendeteksi detak jantung Giordano tak lagi berfungsi. Grafik tak lagi naik turun, tapi datar dan...


Tuuuttt...


"Panggil Dokter segera!"


Salah satu perawat memberikan perintah temannya yang lain, untuk memanggil dokter. Sedangkan dia sendiri, kedua tangannya memegang alat pacu jantung.


Gledeg!


Srek srek gledeg!


Dua kali alat bantu pacu jantung ditempelkan pada dada Giordano. Tapi tetap saja, grafik pada layar tidak berubah. Tetap rata.


"Apa yang terjadi?" tanya dokter terkejut dengan apa yang dia lihat.


Kedua pasiennya itu tidak bisa mempertahankan diri dari serangan racun yang diberikan oleh orang tak dikenal, beberapa waktu yang lalu.


"Apakah anaknya bisa dihubungi?" tanya dokter, yang tadi memberi perintah pada seorang perawat. Untuk menghubungi Gavino. Anak dari kedua pasiennya yang kritis saat ini.


"Tidak ada jawaban sama sekali Dok. Sepertinya anak dari kedua pasien ini sedang ada masalah atau pekerjaan yang harus dia lakukan."


"Kasih pesan saja. Biar dia bisa baca secepatnya, jika ponselnya sudah aktif lagi!"


"Baik Dok."


*****


Di tempat Gavino berada.


Dia memang menonaktifkan ponsel miliknya, pada saat sang kapten mengaktifkan alat komunikasi khusus untuk mereka berdua.


ini dia lakukan agar konsentrasinya tidak terpecah, saat ada panggilan ataupun pesan yang masuk ke ponsel miliknya.


Gavino harus bisa melakukan semuanya dalam keadaan tenang dan berkonsentrasi. Karena sang Kapten, hanya membantunya Dari jarak jauh.

__ADS_1


Untungnya, sang Kapten punya senjata api yang bisa digunakan dengan jarak yang cukup jauh.


Sama seperti yang dilakukan oleh Gavino, pada saat sistem Mafia memberinya tantangan senjata api kemarin. Dan ternyata itu memang tepat. Karena sang Kapten bisa melumpuhkan semua anak buahnya Verdi, yang berada di balkon lantai atas. Dari jarak yang dikatakan oleh Gavino pada sang Kapten.


Dan sekarang, Gavino juga sudah bisa melumpuhkan semua anak buahnya Verdi di lantai bawah. Meskipun hanya dengan tangan kosong.


Tapi tentu saja tidak bagi lawannya.


Menurut lawan yang menghadapi Gavino, tangan tersebut seperti memegang alat kejut listrik. Sehingga tidak ada yang bisa menghindar dari sengatan tangan Gavino.


Sebab sudah bercampur dengan kekuatan listrik dari sistem.


Sayangnya, Verdi masih punya waktu untuk melarikan diri. Di saat perutnya terkena pukulan tangan kosong Gavino.


Dia tersungkur dengan memegangi perutnya, sambil mengaduh kesakitan. Sehingga semua anak buahnya yang ada di tempat tersebut maju secara bersamaan. Memberikan kesempatan kepada Verdi untuk melarikan diri. 6


..."Kapten, apa Verdi membawa mesin pencetak uang palsu itu adalah bersamanya?"...


..."Tidak Gavino. Dia tidak membawa mesin pencetak uang palsu tersebut. Tapi.. Aku juga tidak tahu, di mana mereka menyembunyikan mesin tersebut."...


..."Apa sudah ada di orang yang katanya mau datang? Shittt!"...


Gavino menyadari kejanggalan di dalam rencana dan keadaan Verdi yang sekarang. Karena pada saat kekacauan terjadi seperti sekarang ini, Verdi justru menghilang.


..."Kapten. Ini jebakan!"...


..."Sepertinya Kamu benar. Jika begitu, cepat pergi dari sana Gavin!"...


Dan tak lama kemudian, setelah sang Kapten memberikan peringatan dan perintah pada Gavino, terdengar ledakan dari dalam ruangan yang lain.


Duarrr!


Ternyata Alat peledak sudah diaktifkan.


Gavin berguling ke arah luar rumah. Tapi di saat dia membuka pintu, ledakan juga terjadi tepat didepannya.


Duarrr!


"Gavino!"


Terdengar panggilan sang Kapten pada alat komunikasinya. Tapi Gavin tidak lagi bisa menyahuti panggilan tersebut.


Dia bahkan tidak bisa melihat sekitarnya. Karena asap tebal menutupi penglihatan matanya, di dalam bangunan tua yang memang gelap sedari awal Gavino datang tadi.

__ADS_1


__ADS_2