
Sehari telah berlalu. Robert dan teman-temannya, akhirnya menginap semalam lagi di rumah Gavino. Karena cuaca di awal musim dingin, menurut badan meteorologi, diperkirakan sangat ekstrim.
"Maaf ya Tuan. Kami jadi terpaksa menginap semalam lagi. Besok pagi-pagi, kami akan pergi dari sini."
"Kami juga mengucapkan terima kasih, karena ada tempat untuk kami berlindung."
Robert mewakili teman-temannya, mengucapkan permintaan maafnya, dan juga rasa terima kasih kepada Gavino dan George.
Gavino dan George hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, tanpa memberikan keterangan kepada Robert. Jika sebenarnya mereka berdua bukan ayah dan anak.
Melihat wajah keduanya, Robert salah paham, dengan terpautnya usia, antara Gavino dan George. Yang memang lebih pantas menjadi ayah dan anak.
Kini, mereka semua kembali menikmati makan malam bersama dengan menu seadanya. Dengan perapian yang memang terus menyala sejak pagi tadi. Sebab rumah sederhana ini tidak terdapat mesin penghangat ruangan.
Mereka hampir bersiap untuk tidur, setelah selesai makan malam. Tapi keributan yang terjadi di kejauhan, membuat mereka mengurungkan niatnya.
"Ada apa di ujung jalan sana?"
"Kita liat saja."
"Jangan ada yang keluar rumah!" teriak George mengingatkan.
"Kenapa?" tanya Robert bingung dengan larangan George.
Tentu saja George melarang mereka semua untuk keluar dan melihat bagaimana keadaan di luar sana.
Dia merasa khawatir, jika itu adalah orang-orang yang sedang mencari keberadaan dirinya. Yang sudah pergi dan melukai beberapa orang, dari kelompoknya di kota Roma.
Tapi di saat seperti ini, George juga tidak mungkin mengatakan kepada orang-orang yang baru saja dia kenal. Dengan semua kekhawatirannya. Karena itu bisa membuat mereka menjadi waspada terhadap dirinya.
"Tidak apa-apa. Itu pasti hanya orang-orang yang kurang waras saja," sahut Gavino memecah suasana canggung. Karena George yang terdiam dan tidak bisa memberikan penjelasan kepada Robert.
George melihat ke arah Gavino sekilas, dan pada saat yang sama, Gavino pun menangkap netra George yang seakan-akan berterima kasih padanya.
"Ohhh..."
"Ayo cepat tidur! Besok kita sudah harus pergi pagi-pagi sekali."
Robert akhirnya percaya dengan penjelasan yang diberikan oleh Gavino. Dia tidak curiga dengan George, yang sebenarnya adalah salah satu pemimpin mafia dunia.
"Cepat geledah semua rumah yang tersisa!"
George bergerak ke arah pintu rumah, di saat mendengar suara perintah dari luar rumah. Dia mengenal, suara siapa yang saat ini ada di luar rumah Gavino.
Dia pun akhirnya meminta pada Robert dan teman-temannya untuk masuk ke dalam kamar. Atau memilih pergi dari rumah ini melalui pintu belakang. Sedangkan dirinya sendiri berdiri di depan pintu yang masih tertutup rapat.
"Anak muda, Kamu juga pergilah!"
Robert yang kebingungan tidak sempat untuk bertanya pada George. Apalagi dia juga melihat jika tangan George saat ini memegang senjata api.
Tanpa pikir panjang lagi, Robert mengajak teman-temannya untuk bersiap membantu George. Yang dia anggap sebagai Tuan rumah di sini.
Dan pada saat George mau membuka mulutnya untuk bicara, dia terpaksa terdiam dan menghentikan semua pergerakan di dalam rumah. Karena orang-orang di luar sudah sampai di depan pintu.
Brakkk... brakkk... brakkk!
Pintu diketuk dari luar dengan cara yang kasar. Ini menandakan bahwa, orang-orang tersebut tidak punya niatan untuk bertanya baik-baik.
"Buka pintunya! Atau Aku tendang untuk masuk secara paksa!"
__ADS_1
Di luar rumah, terdengar suara orang yang memerintah. Yang membuat George yakin, jika dia sudah bisa dipastikan tidak akan selamat. Dia tidak mungkin mengorbankan orang-orang yang ada di sekitarnya, demi ke egois nya, untuk pergi melarikan diri.
Tapi ternyata orang-orang yang dia minta untuk pergi ada di belakangnya. Bersiap untuk segala sesuatu yang akan terjadi nanti.
( Ting )
( Good father bersiap )
'Siapa dan ada berapa orang yang ada di luar rumah?'
( Ting )
( Ada 10 orang. Dengan masing-masing membawa senjata api lengkap dengan pelurunya )
( Kekuatan mereka ada di antara level 7, 9, 10, 12, dan 15 )
'Hemmm... setara dengan George?'
( Ting )
( Tapi mereka ada 10 orang good father. Dengan pengalaman mereka yang sudah bergelut dengan dunia mereka sebagai anggota mafia yang profesional )
'Beri Aku kekuatan dan cara yang tepat untuk melawan mereka.'
( Ting )
( Tentukan sendiri good father, sistem akan memberikan arahan dari layar )
'Ok siap!'
( Ting )
Pintu di dobrak dari luar. Tapi di dalam rumah kosong. Gavino dan yang lainnya, sedang bersembunyi di tempat-tempat yang berbeda-beda.
Mereka semua menyebar, dengan persembunyian mereka.
"Cari di semua tempat! Pasti George ada di sini. Jika pergi, dipastikan belum jauh."
"Api perapian masih mengepulkan asap."
Salah satu mereka yang dipastikan sebagai pemimpin, memberikan ulasannya. Kenapa dia bisa yakin, jika rumah ini sebenarnya tidak dalam keadaan kosong.
Trap trap trap
Tap tap tap
Suara langkah kaki yang sedang berlari dan berjalan cepat menggema di malam yang senyap.
Brukkk!
Tidak sengaja, lemari yang digunakan untuk bersembunyi teman dari Robert roboh.
"Itu dia! Tangkap, dan sampai lolos!"
Bag big dug!
Bug tag tuk!
"Hiattt..."
__ADS_1
Trang...
Crakkk...
"Ahhh..."
"Aduh!"
Suara pukulan disertai adu jotos tak bisa dielakkan lagi.
Gavino dan George, juga sudah keluar dari persembunyiannya sedari tadi. Membantu Robert dan teman-temannya yang tadi di serang orang-orang yang tidak mereka kenal.
Dor!
Srettt!
Dor!
Suara tembakan saling berkejaran, di antara suara angin yang bertiup disertai hujan salju.
Dalam keadaan turun salju disertai dengan angin kencang, tak menghentikan perkelahian antara mereka semua.
*****
Beberapa saat kemudian, sudah tidak ada lagi perkelahian yang terjadi.
"Huhhh..."
"Huhfff..."
"Hahhh..."
"Aduhhh... Aaa..."
Terdengar suara helaan nafas panjang dari beberapa mulut yang sedang dalam keadaan payah.
Darah juga berceceran di lantai.
Beberapa teman Robert, bahkan ada yang terluka parah.
Sedangkan dari pihak orang-orang yang tadi datang, ada dua orang yang tergeletak tak bernyawa. Satu terluka parah, sehingga tidak bisa ikut berlari bersama kawannya yang tadi kabur meninggalkan mereka.
Gavino dan George juga banyak memar di sekujur tubuhnya.
Bahkan tangan George, yang sebelah kiri, terkena sabetan senjata tajam milik orang-orang yang tak di kenal tadi.
Kini, Gavino dan Robert saling bantu membantu menangani luka-luka yang ada secara sembarangan. Hanya mengunakan alat-alat dan obat-obatan yang ada di kotak P3K, yang di dalam mobil masing-masing.
"Katakan George, siapa mereka?"
Gavino bertanya pada George dengan tatapan menyelidik. Dia yakin, jika orang-orang tadi sedang mencari George.
"Maaf," ucap George dengan menundukkan kepalanya.
Dia tahu dia salah. Dengan melibatkan mereka-mereka yang tidak bersalah, ikut dalam situasi sulit yang dia alami.
"Maksudmu, mereka semua adalah..."
"Iya. Mereka semua adalah utusan king Blank."
__ADS_1