Gavino ( Sistem Mafia )

Gavino ( Sistem Mafia )
Ternyata Sepemikiran


__ADS_3

Dua hari kemudian.


Bianca dan Gress sudah sama-sama kembali sehat. Dan mereka berdua, ada di dalam satu ruangan rawat. Atas permintaan mereka berdua juga.


Sehingga Gavino maupun Dante, bisa bergantian untuk menemani dan mengawasi mereka berdua.


Thomas Bryan juga tidak ribut dan mempermasalahkannya. Karena anaknya sendiri, Gress, yang memintanya. Sehingga dia tidak bisa menolak keinginan anaknya.


Tapi dia tetap menomorsatukan anaknya, jika ada sesuatu yang terjadi.


Meskipun Gress sudah meminta kepada papanya itu, untuk bersikap baik juga kepada Bianca. Tapi Thomas Bryan tetap saja tidak bisa seperti yang diinginkan oleh Gress.


Sama seperti sekarang ini, di saat botol cairan infus milik Bianca hampir habis. Dan Gress meminta tolong pada papanya, "Pa. Itu, tolong itu Pa. Kasih tahu pada perawat."


Tapi Thomas Bryan seakan-akan tidak mendengar suara anaknya, dan justru bermain-main dengan handphone miliknya.


"Pa, tolong Pa!" pinta Gress menunjuk ke arah Bianca, yang sedang tertidur.


Tapi Thomas Bryan justru mengalihkan perhatian, dan pergi dari tempatnya duduk.


Akhirnya Gress mencoba untuk turun dari tempat tidurnya, untuk mencari bantuan. Tapi sebelum dia sempat menjejakkan kakinya di lantai, Thomas Bryan sudah masuk kembali ke dalam ruangan, bersama seorang perawat.


Melihat papanya yang sudah datang dengan membawa bantuan, Gress tersenyum senang. Dia mengangguk, dan mengucapkan terima kasih pada papanya. Tanpa harus mengucapkan terima kasih dengan berkata-kata.


Ternyata, Thomas Bryan keluar tadi, bermaksud untuk memanggil perawat jaga, biar sekalian membawa botol cairan infus.


Jadi tidak perlu kerja dua kali, dan membuat perawat bolak balik.


"Thanks Pa," ucap Gress, berterima kasih pada papanya, Thomas Bryan.


"Papa tidak sekejam itu pada anaknya Papa Sayang," sahut Thomas Bryan. Yang memberikan penjelasan secara isyarat, jika dia melakukan semua ini untuk Gress. Dan bukan untuk Bianca.


Tapi Gress tidak peduli, dia tetap berterima kasih pada papanya. Karena sudah melakukan kebaikan untuk membantu Bianca.


"Kamu mau ke mana?" tanya Thomas Bryan pada Gress, yang posisinya saat ini sudah duduk di pinggir tempat tidur. Dengan kaki menjuntai ke bawah.

__ADS_1


"Tidak."


Gress menjawab dengan tepat, karena dia tidak mau jika papanya itu menjadi curiga. Karena tadi dia bermaksud untuk pergi memanggil tim medis.


"Jika Kamu perlu sesuatu. Pencet tombol merah untuk meminta bantuan. Tidak udah pergi sendiri, seandainya tidak ada Papa. Apa Kamu paham Sayang?" Thomas Bryan, memberikan pengertian pada anak gadisnya, yang tentunya juga sudah tahu, apa yang seharusnya dia kerjakan.


Gress hanya tersenyum dan mengangguk, mengiyakan perkataan papanya.


"Ya sudah. Sekarang Kamu butuh apa?" tanya Thomas Bryan lagi, dengan berjalan mendekat ke tempat tidur anaknya.


Puk puk!


"Sini Pa!" pinta Gress pada Papanya, supaya duduk mendekat ke tempatnya.


Dia juga menepuk-nepuk tempat tidur, supaya papanya itu mau duduk di dekatnya.


Tapi Thomas Bryan hanya mendekat dan berdiri di depannya, tanpa mau duduk ditempat yang tadi ditunjukkan oleh anaknya.


Cup!


Thomas Bryan mengecup kening anaknya, kemudian menangkupkan ke-dua tangannya pada pipi Gress. "Kamu mau bicara apa pada Papa?" tanya Thomas Bryan, sambil mendekatkan wajahnya ke wajah anaknya itu.


Thomas Bryan memiringkan kepalanya, untuk meyakinkan dirinya, dengan apa yang tadi didengarnya. Karena dia tidak yakin, dengan apa yang dikatakan oleh anaknya barusan.


"Maksudnya Kamu mau kembali ke Amerika? Apa Kamu tidak senang bertemu dengan Papa?" Thomas Bryan, justru membuat pertanyaan dengan curiga.


"Bukan. Bukan begitu maksud Gress Pa. Gress hanya ingin, ingin mendapatkan kehidupan yang lebih tenang. Sama seperti dulu, disaat Gress ada bersama dengan anak-anak panti yang lain. Meskipun dalam keadaan kurang, tidak berlebihan. Tapi Gress bisa merasakan ketenangan dan kenyamanan."


Mendengar jawaban dan penjelasan yang diberikan oleh anaknya itu, Thomas Bryan menghela nafas panjang. Sambil memejamkan matanya, karena ingat dengan semua hal yang pernah dilakukan pada anaknya itu.


"Maaf. Maafkan Papa Gress. Papa, Papa memang egois. Membiarkan Kamu hidup seperti waktu yang dulu, tanpa pernah merasakan kemewahan atau serba kecukupan. Sebagaimana layaknya yang seharusnya Kamu miliki. Tapi, bolehkah Papa menebusnya untuk sekarang? Papa tidak mau Kamu kembali pada kehidupan yang dulu."


Gress mengeleng beberapa kali, mendengar semua perkataan papanya. Yang penuh penyesalan, dengan apa yang dilakukannya di masa lalu. Baik terhadap dirinya, maupun untuk namanya. Karena Thomas Bryan justru membunuh mamanya Gress, begitu wanitanya itu melahirkan seorang bayi.


"Pa. Sudahlah, tidak usah mengingat masa yang dulu-dulu lagi. Yang penting, bagaimana kita hidup setelah ini Pa. Gress tidak marah ataupun dendam pada Papa. Karena semua itu dilakukan Papa, demi kebaikan Papa juga."

__ADS_1


Thomas Bryan memeluk Gress dengan erat, meluapkan rasa yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Sebelum dia mengakui Gress sebagai anaknya.


Dulu, meskipun dia mengawasi Gress, tapi rasanya tetap berbeda. Setelah dia mengatakan kebenaran tentang siapa dirinya pada Gress.


Untungnya, Gress juga mau menerimanya dengan baik. Meskipun awalnya juga tidak percaya, jika ternyata dia masih memiliki seorang Papa.


Kini, keduanya saling berpelukan. Meluapkan perasaan yang sama, yaitu rasa bahagia.


"Emhhh... Gress. Ada apa?" tanya Bianca, yang baru saja terbangun. Dan melihat Gress berpelukan dengan papanya.


"Tidak apa-apa Bianca. Kamu sudah bangun? Apa Kamu ada yang dibutuhkan?" tanya Gress, melihat Bianca yang sudah terbangun.


Bianca mengelengkan kepalanya, karena dia memang tidak membutuhkan apapun.


"Tidak Gress, Aku baik-baik saja. Kamu... emhhh, terima kasih Tuan Besar Thomas Bryan."


Thomas Bryan mengerutkan keningnya, mendengar ucapan Bianca yang mengucapkan terima kasih padanya.


"Apa..."


Thomas Bryan tidak melanjutkan kalimatnya, ketika Bianca menganggukkan kepalanya. Dengan tersenyum tipis.


Ternyata Bianca tahu, jika Thomas Bryan membantunya untuk mencari perawat. Guna menggantikan tabung cairan infusnya, yang tadi hampir habis.


Keinginan Bianca ini, sebenarnya belum pernah dia bicarakan pada Gavino. Karena dia baru memiliki pikiran seperti ini, setelah mengalami kejadian yang kemarin.


Dia juga tidak membicarakan pada Gavino, karena Gress tahu, jika Gavino tidak mungkin meninggalkan Bianca sendirian di sini. Jika kekasihnya harus mengikutinya ke amerika sana, sebab itu terdengar sangat egois.


Gress tidak tahu jika, Gavino justru mempunyai pikiran, untuk membawanya bersama dengan Bianca juga, pergi menetap ke Amerika bersama-sama.


*****


Bagh bugh bagh bugh!


Di markas besar, Gavino sedang menghajar Verdi bersama dengan Cardi juga.

__ADS_1


"Ini untuk kelancanganmu, karena telah mengusik ke-dua gadisku!" teriak Gavino, antara pukulan-pukulan yang dia layangkan pada Verdi dan Cardi.


Semua anak buah Gavino, sudah keluar dari ruangan tersebut. Yang ada hanya tinggal Lorenzo dan Dante, menemani dirinya untuk memberikan pelajaran. Pada dua orang tersebut.


__ADS_2