
Gavino sudah berada di rumah, pada saat Robert pulang dari kantor.
Jadi, dia pulang lebih awal dibandingkan dengan Robert. Karena ada selisih dua jam.
Sekarang, karena keadaan sudah stabil. Robert mengajak Gavino dan Gress untuk makan malam bersama. Karena mereka sudah lama tidak melakukan acara makan malam bersama seperti biasanya. Meskipun sebenarnya bukan acara besar, tapi dari makan malam bersama ini, mereka bisa saling berbincang atau bertanya sesuatu.
"Bagaimana keadaan Kamu Gress? Apa sudah lebih baik?" tanya Robert, setelah menyelesaikan makannya.
Gress yang baru saja menuang air putih lagi ke dalam gelasnya, tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut. Tapi dia justru meminum air yang baru saja dia tuang terlebih dahulu. Baru kemudian menjaga pertanyaan yang diajukan oleh Robert.
"Seperti yang Paman lihat. Aku sudah baik-baik saja. Terima kasih ya Paman, sudah ikut membantu menjaga ku, selama Aku sakit kemarin-kemarin."
Robert menanggapi jawaban yang diberikan oleh Gress, dengan mengangguk-anggukkan kepalanya. Karena dia juga sudah melihat bagaimana keadaan chris yang telah kembali sehat. Dan sudah melupakan peristiwa yang kemarin itu.
"Syukurlah jika Kamu sudah baik-baik saja. Jadi, kapan Kamu aktif kuliah lagi?" tanya Robert, yang tahu jika sebenarnya Gress sedikit tidak nyaman. Karena harus berada di rumah sepanjang hari.
"Jika diperbolehkan Gavin, Aku besok sudah mulai ngampus lagi Paman."
Robert melihat ke arah Gavino, yang sedari tadi hanya diam saja. Dan memakan kentang goreng kesukaannya.
"Gavin, apa Kamu ingin melihat Gress lebih tertekan lagi, karena harus berada di rumah sepanjang hari?" Robert bertanya kepada Gavino, yang memang melarang Gress untuk pergi keluar rumah terlebih dahulu.
"Aku hanya ingin memastikan bahwa keadaan di luar aman Paman," sahut Gavino, membela diri. Supaya tidak disalahkan.
"Tapi, dengan mengurungnya di dalam rumah terus-menerus, justru membuat Gress akan merasa tambah tertekan. Apa Kamu tidak sadar itu?"
Gavino menghela nafas panjang, mendengar perkataan Robert yang memang ada benarnya juga.
Tapi, dia tetap tidak mau disalahkan. Karena dia juga mempunyai alasan yang kuat, sehingga melakukan hal ini pada Gress.
"Besok boleh pergi ke kampus. Tapi pastikan telpon mu selalu aktif, dan membawa supir serta pengawal. Yang bisa memberikan keamanan untukmu."
Apa yang dikatakan oleh Gavino ini, membuat Gress melirik ke arah Robert. Karena pamannya itu, sudah membantunya untuk bisa keluar dari rumah. Agar dia bisa melakukan kegiatannya yang seperti biasanya.
"Terima kasih Sayang. Terima kasih Paman," ucap Gress, pada dua laki-laki yang berbeda usianya itu. Yang sudah memberikan support untuk dirinya selama ini.
Melihat wajah Gress yang kembali berseri-seri, membuat Gavino tersenyum. Meskipun hanya samar.
Begitu juga dengan Robert, yang ikut merasa senang. Karena gadisnya Gavino ini sudah sekali ceria lagi.
Tak lama kemudian, Robert pamit untuk pergi ke kamarnya sendiri. Sebab dia ingin segera beristirahat, supaya besok bisa kembali beraktifitas lagi. Dengan keadaan tubuh yang kembali segar juga.
__ADS_1
Sekarang, di meja makan tinggal Gavino dan Gress saja. Karena Gress masih menunggui kekasihnya itu menghabiskan kentang gorengnya, yang sedari tadi tidak habis-habis.
"Kamu sedang, sudah ada yang mendukungmu?" Tanpa mengalihkan perhatiannya dari piring kentang goreng, Gavino bertanya kepada Gress.
Hal ini membuat Gress mengerutkan keningnya, memikirkan apa maksud dari perkataan yang diucapkan oleh kekasihnya barusan. Sebab, tadi Gavino baik-baik saja dan tidak memprotes permintaan dari Robert.
Tapi sekarang, di saat sudah tidak ada Robert di antara mereka, Gavino justru memberikan pertanyaan tersebut padannya.
"Apa maksudnya ini Sayang?" tanya Gress yang masih bingung.
"Apa Kamu menginginkan perhatian dari Paman?" Gavino justru bertanya balik, tanpa memberikan jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh gadisnya itu.
Gress terdiam sebentar, memikirkan apa maksud dari pertanyaan yang diajukan oleh Gavino tadi.
Setelah beberapa saat kemudian, dia tersenyum tipis. Karena menyadari apa yang sedang dirasakan oleh kekasihnya itu.
"Kamu cemburu ya Sayang?" todong Gress, sambil menahan senyumnya.
"Tidak. Buat apa Aku cemburu pada Robert!" sanggah Gavino, yang tidak mau mengakui, jika dia sedang merasa cemburu pada Robert.
"Hihihi..."
Gress justru terkikik geli, melihat sikap dari seorang Gavino yang tidak biasa ini.
"Hhh..."
Gavino hanya menghela nafas panjang, tanpa mau merespon cibiran dari Gress. Meskipun hanya sekedar tertawa kecil tadi.
"Kalau cemburu itu bilang. Gak usah ditahan tahan nanti..."
"Hap!"
Gress tidak melanjutkan kalimatnya, karena mulutnya sudah dipenuhi dengan kentang goreng yang disuapkan oleh Gavino padanya.
"Emhhh... Ehmmm..."
"Hahaha..."
Gavino tertawa senang, karena melihat Gress yang sedang kesulitan, untuk memakan kentang goreng yang memenuhi mulutnya.
Dan kini, keduanya saling canda, dengan melempar kentang-kentang goreng yang berada di atas meja makan.
__ADS_1
Keceriaan ini, di lihat oleh kepala maid dengan senyuman tipis. Karena jarang-jarang, dia bisa melihat keceriaan Tuan Mudanya. Meskipun hanya dalam suasana yang sederhana dan tanpa direncanakan sebelumnya.
*****
Di rumah besar Verdi.
Dia sedang mengadakan rapat, bersama dengan orang orangnya. Yang saat ini sudah berhasil dikumpulkan lagi.
Dulu, sewaktu dia berada di dalam rumah tahanan atau di dalam penjara, semua ada buahnya berpencar. Untuk mencari keamanan sendiri-sendiri, supaya tidak tertangkap.
Dan kini, setelah Verdi keluar dari penjara, mereka akhirnya bisa berkumpul lagi. Untuk melakukan sesuatu yang dulu belum sempat mereka lakukan.
"Semua orang bisa mengemukakan pendapatnya untuk rencana kita kali ini. Tapi, jika bisa, kalian semua harus bisa merekrut masing-masing sepuluh anggota. Jadi, jika kalian ada 10 orang, setidaknya kita akan berjumlah bisa memiliki anak buah sebanyak 100 orang."
"Dengan demikian, kita bisa menyerbu markasnya Gavino."
Verdi memberikan kebebasan kepada anak buahnya, untuk mengemukakan pendapatnya, demi kebaikan keanggotaan mereka yang sudah berantakan sejak dia ditahan dan dipenjara selama beberapa tahun terakhir ini.
"Tapi Bos Verdi, kita belum punya markas besar. Kita juga belum punya nama, yang bisa membuat orang itu tertarik untuk ikut bergabung bersama kita juga," terang salah satu orang. Yang dibenarkan juga oleh anggota yang lainnya.
Sekarang Verdi meminta kepada mereka untuk mencari nama atau lambang, untuk memberikan identitas kepada kelompoknya.
Dia juga sedang mempelajari beberapa berkas laporan, tentang kematian pamannya. Yang merupakan penanggung jawab dari laboratorium, yang ternyata juga sudah dihancurkan oleh Gavino.
Kini, Verdi sedang membaca laporan tentang kematian Bos Pamannya, yang hanya diberitakan sebagai upaya bunuh diri saja. Tanpa dijelaskan tentang kebenarannya. Apakah itu benar-benar bunuh diri atau telah dibunuh oleh orang lain.
Dan untuk yang terakhir kalinya, Verdi membaca laporan tentang kematian big Bos, dari segala kegiatan mereka selama ini.
Ternyata, semuanya berpusat kepada gavino.
"Damn it! Shitt..."
"Ternyata semua ini adalah ulahnya Gavino. Aku jadi tidak bisa mendapatkan topeng-topeng yang Aku inginkan. Padahal, wajah pertama yang menjadi eksperimen paman adalah wajahku. Apa itu juga diketahui oleh Gavino?"
Verdi bertanya pada dirinya sendiri, setelah selesai membaca semua laporan yang telah dikumpulkan oleh anak buahnya itu.
Dia tidak tahu jika, dolphin sudah mengetahui semuanya tentang rencana pembuatan topeng dengan wajah orang-orang tertentu. Untuk mengelabui, atau melakukan tindak kejahatan. Dengan menggunakan wajah orang lain, sehingga nantinya, yang akan dikejar-kejar oleh pihak kepolisian adalah wajah dari yang tertangkap kamera, atau yang mereka lihat. Bukan dari penjahat aslinya.
Hal ini sebenarnya sudah direncanakan jauh-jauh hari, sebelum Verdi masuk ke dalam penjara.
Sekarang, Verdi akan mencari formula khusus. Yang akan digunakan untuk mencampurkannya dengan bahan-bahan tertentu, sehingga menjadi topeng yang sama seperti yang pernah dikembangkan oleh pamannya.
__ADS_1
Dengan demikian, apa yang menjadi tujuan utama mereka akan segera terwujud.
"Tunggu saja Gavin! tak lama lagi, tamatlah riwayatmu! hahaha..." Verdi tertawa terbahak-bahak, membayangkan keberhasilan yang akan dia raih.