Gavino ( Sistem Mafia )

Gavino ( Sistem Mafia )
Belum Bisa Dihubungi


__ADS_3

Clek!


Pintu kamar terbuka. Gavino masuk ke dalam kamarnya sendiri.


"Huhfff..."


Denggusan nafas panjang Gavino terdengar. Dia tidak langsung pergi mandi, tapi justru merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Dia memejamkan matanya. Mencoba untuk membuang pikirannya yang saat ini sedang penuh. Tapi tidak bisa dia ceritakan pada siapapun. Termasuk pada kedua orang tuanya sendiri, apalagi pada teman-temannya.


'Bagaimana Aku mengatasi semua permalasahan ini ya?' Gavino bertanya pada dirinya sendiri, dalam hati.


( Ting )


( Good father belum menyelesaikan misi tantangan )


'Hah, misi tantangan?'


( Ting )


( Memilih senjata api )


'Oh... Aku pikir apa. Hemmm... apa misi tersebut masih berlanjut?'


( Ting )


( Misi tantangan dilanjutkan. Level untuk senjata api baru ada di level 5 )


'Baru setengah ya?'


( Ting )


( Masih kurang banyak good father )


'Lalu apa yang bisa Aku lakukan untuk masalahku ini?'


( Ting )


( Selesaikan misi tantangan, good father bisa tahu cara memecahkan permasalahan yang ada )


'Baiklah. Ayo kita mulai!'


( Ting )


( Misi tantangan pilih senjata )


( Level 5 )


( Kekuatan 3 )


( Hadiah 15 poin )


( Batas akhir 3 menit )


'Kenapa kekuatan menurun?'


( Ting )


( Good father tidak menyelesaikan misi tantangan dengan benar )


'Waktunya juga kenapa semakin sedikit?'


( Ting )


( Selesaikan dengan waktu yang telah ditentukan. Kurang dari waktu, ada kelebihan, masuk dalam hitungan poin )


'Baiklah. Aku akan berusaha.'


Gavino menekan tombol hijau, untuk memulai misi tantangan yang diberikan. Dia harus bisa menyelesaikan misi tantangan tersebut, dengan waktu yang juga sudah ditentukan oleh sistem mafia.


( Ting )

__ADS_1


( Misi tantangan dimulai )


1%


10%


25%


50%


70%


80%


90%


95%


100%


( Ting )


Dengan cekatan, Gavino memilih gambar senjata api yang ada di layar virtual transparan.


Dia juga mengetik ke layar tersebut, untuk jarak yang dia inginkan. Yaitu senjata api dengan jenis Revolver, yang merupakan jenis senjata api dengan pelurunya dimasukkan ke tabung berputar.


Dan kebetulan yang tadi dipilih Gavino adalah revolver berkaliber 44 berisi 5-7 peluru. Karena ada juga revolver berkaliber 22, yang berisi 8-10 peluru.


Jarak tembak yang dipilih oleh Gavino juga lumayan jauh. Dia menentukan jarak tembakan pada 15 meter, dari tempat sasaran.


( Ting )


( Misi tantangan selesai, dengan hasil yang bisa di lihat saat ini )


( Level 6 )


( Kekuatan 7 )


'Oh, ada kenaikan juga.'


( Ting )


( Good father bisa menerima misi tantangan besok lagi )


'Lalu, masalahku bagaimana?'


( Ting )


( Good father bisa memilih keputusan, sama cepat seperti memilih misi tantangan tadi )


'Ok. Aku mengerti.'


Blasss!


Layar virtual transparan menghilang dari pandangan mata Gavino. Sekarang dia menghela nafas panjang, kemudian berjalan menuju ke arah kamar mandi.


Dia ingin pergi mandi, supaya nanti, di saat papa dan mamanya pulang, dia sudah rapi kembali.


*****


Di tempat yang lain.


"Bagaimana tantangan yang kita berikan pada Gavino?" tanya Verdi pada temannya.


Dia menyuruh orang lain, untuk menghubungi Gavino. Dengan memberikan sebuah tantangan yang harus dilakukan besok.


Dan tantangan ini tidak mungkin diacuhkan oleh Gavino. Karena tantangan tersebut, adalah sebuah transaksi mesin pencetak uang palsu.


Gavino diberitahu Verdi, jika mau menggagalkan rencana mereka, harus berangkat sendiri. Tanpa membuat laporan pada pihak kepolisian. Termasuk kepada teman-temannya yang lain.


"Dia pasti datang. Tidak mungkin dia menghiraukan apa yang kita lakukan besok."

__ADS_1


Verdi begitu yakin, jika Gavino akan datang sendiri. Setelah mendapatkan telpon dari temannya seminggu yang lalu. Dan sekarang, dia bersama-sama dengan temannya dari geng lain, menyusun rencana untuk menjebak Gavino.


Dengan rencana mereka kali ini, bisa dipastikan bahwa, Gavino akan berurusan dengan pihak polisi. Dan beberapa geng lain lagi yang lebih besar, dibandingkan dengan geng mereka sendiri.


Alat atau mesin pencetak uang palsu ini, sudah direbutkan oleh beberapa geng sejak lama.


Tapi keberadaan mesin pencetak uang palsu ini, ternyata ada di rumah seorang jendral besar. Dan baru beberapa minggu kemarin, mesin tersebut berhasil dicuri oleh seseorang yang ahli dalam bidangnya.


Untungnya, belum ada kabar dari hilangnya mesin tersebut. Sehingga dunia geng belum ada yang mengetahuinya.


Itulah sebabnya, mereka merencanakan sesuatu pada Gavino. Sebab dengan adanya permasalahan ini, Gavino akan dianggap sebagai pihak yang mengambil atau mencuri mesin pencetak uang palsu tersebut.


"Tamatlah riwayatmu Gavino. Hahaha..."


"Hahaha... tidak akan ada yang menjadi sok jagoan lagi setelah ini."


"Iya-iya, benar itu!"


Tawa Verdi dan kawan-kawannya, terdengar lepas dan tanpa beban. Karena mereka beranggapan bahwa, apa yang mereka rencanakan ini pasti berhasil.


Verdi tidak tahu bahwa, Gavino juga sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Untuk mengahadapi semua rencana yang sudah mereka buat.


*****


Malam telah larut. Gavino tidak bisa memejamkan matanya, karena belum bisa menghubungi seseorang. Yang bisa membantunya dalam urusannya besok.


"Bagaimana ini? Kenapa ponselnya mati?" gumam Gavino bertanya.


Sebenarnya, dia bisa saja mengirim pesan pada orang tersebut. Tapi Gavino merasa cemas dan juga khawatir. Jika pesannya akan dibaca oleh orang lain.


Jika pesan tersebut sampai terbaca oleh orang lain, berita tentang hilangnya mesin pencetak uang palsu tersebut akan muncul ke permukaan.


Masyarakat akan merasakan ketakutan, karena khawatir jika yang mereka miliki adalah palsu.


Mesin pencetak uang palsu ini, sangat identik. Sehingga tidak bisa dibedakan antara, uang yang dicetak oleh mesin asli atau dengan yang palsu.


Karena sesungguhnya, mesin ini palsu itu juga dirangkai oleh orang yang sama. Dikarenakan pesanan dari pemerintah untuk mesin pengganti, pada saat mesin yang asli sedang dalam keadaan bermasalah.


Tut tut tut!


Tut tut tut!


"Ayolah angkat telponnya..." ucap Gavino cemas. karena sedari tadi, telponnya tidak ada yang menerima.


Gavino putus asa. Dia meletakkan ponselnya sembarangan di atas tempat tidur. Setelahnya, dia pergi ke balkon. Mencoba untuk mengalihkan pikirannya, supaya tidak lebih kacau lagi.


Sudah hampir sepuluh menit Gavino berada di balkon kamar, dan tidak ada keinginan untuk kembali masuk ke dalam kamarnya lagi.


Tapi karena sayup-sayup terdengar suara ponselnya berdering, dengan cepat Gavino berjalan masuk ke kamarnya. Dan benar saja, ponselnya sedang dalam keadaan berdering. Tanda jika dia mendapatkan panggilan telpon dari seseorang.


Sayangnya, panggilan telpon tersebut bukan dari seseorang yang sedang dia tunggu. Karena panggilan telpon tersebut dari Lorenzo.


..."Halo Lorenzo. Ada apa menelpon malam-malam begini?" ...


..."Gavin, apakah Kamu tahu?" ...


..."Apa itu Lorenzo?" ...


Gavino merasa penasaran dengan apa yang ditanyakan oleh Lorenzo. Karena saat ini, dia sendiri sedang berada dalam keadaan yang tegang.


..."Madalena Gavin. Dia... dia ternyata, dia... suka denganku."...


..."Oh ya?"...


..."Iya. Aku... Aku bagaimana?"...


..."Eh, kenapa Kamu tanya Aku?"...


..."Please bantu Aku Gavin!" ...


..."Bantu bagaimana? itu urusan hati Kamu dan juga hati Madalena. Aku bisa bantu apa?"...

__ADS_1


Gavino juga bingung, bagaimana cara membantu permasalahan cinta temannya itu.


__ADS_2