
Proses penyidikan untuk identitas dan praduga dari kematian korban ternyata cepat ditemukan.
Dari beberapa barang bukti yang ditemukan, akhirnya pihak kepolisian membuatkan berita acara untuk laporannya. Agar bisa diproses secepat mungkin.
Identitas korban adalah sebagai berikut.
Nama : Julian Aldrin
Umur : 22 tahun
Gender : Laki-laki
Pekerjaan : Mahasiswa
Alamat : Apartemen MIXZ lantai 3 C2, Roma
Di lihat dari letak kamar apartemen dengan atap gedung apartemen sendiri, termasuk jauh. Karena gedung apartemen ini ada dua belas lantai.
Jadi, jika berniat untuk bunuh diri, dia bisa saja terjun dari kamar apartemennya sendiri. Tanpa harus repot-repot ke atap gedung dan melukai diri sendiri.
Penyelidikan di kamar apartemen Julian, juga ditemukan barang yang hilang dan rusak. Termasuk laptop dan handphone korban. Meskipun semua barang lainnya tetap utuh dan ada di tempatnya. Sehingga memunculkan praduga, jika tidak ada adegan kekerasan di dalam kamar.
Tapi cctv di kamar tidak ada. Begitu juga dengan cctv di lorong depan kamar Julian ikut hilang.
Ini membuat penyidik mengarah pada orang-orang terdekat Julian. Karena pelaku pembunuh, sepertinya hafal dengan keadaan dan kondisi di tempat tinggalnya Julian.
Gavino mendapatkan kabar tentang kematian Julian dari Gress.
"Kamu tahu kan ketua senat mahasiswa, Julian Aldrin? Dia ditemukan tewas di atap gedung apartemen, di mana dia tinggal di sana!" Gress bercerita dengan mimik marah, kesal tapi juga sedih dan takut.
Dia tentu merasakan hal yang tidak bisa dia bayangkan, seandainya itu terjadi padanya. Karena dia juga tinggal seorang diri di kota Roma ini.
Bahkan, tempat tinggalnya hanya sebuah flat sederhana. Yang pastinya lebih ramai dengan penghuninya yang beragam.
"Apa yang terjadi?" tanya Gavino, yang belum mendengar berita ini.
Dia baru saja datang, karena seharian ini memang tidak ada kegiatan. Sedangkan kelas untuk mata kuliahnya kali ini, justru dimulai pada jam tujuh malam.
Akhirnya Gress menceritakan tentang kejadian yang dialami Julian.
"Tapi ini menurut informasi dari pihak kepolisian. Karena belum bisa dipastikan, untuk motif pembunuhan terhadap Julian, selain perampokan."
Gavino mengerutkan keningnya, mendengar jawaban yang diberikan oleh Gress kali ini.
"Perampokan di kamar apartemen mahasiswa? apa yang dicari?" tanya Gavino yang tidak percaya dengan dugaan sementara polisi dengan kasus Julian.
"Laptop dan handphone milik Julian Aldrin hilang Gavin. Apa lagi yang bisa di rampok?"
Jawaban yang diberikan oleh Gress kali ini masuk akal juga. Karena meskipun ada di dalam apartemen, tidak mungkin mengambil barang-barang berharga dengan bentuk yang besar atau kerepotan saat membawanya.
Jika mau mengambil ATM atau kartu kredit milik Julian Aldrin pun, mereka tidak tahu password atau pin yang digunakan.
Dan seandainya bisa pun, jejak mereka akan cepat dilacak dari transaksi kartu yang mereka gunakan.
Tapi menurut Gavino, hal ini tetap saja tidak benar. Dia berpikir jika ada sesuatu yang lebih dari sekedar perampokan.
Cetik!
"Hai! Apa yang Kamu pikirkan?" tanya Gress, dengan menjentikkan jarinya di depan wajah Gavino yang sedang melamun.
"Eh, emhhh... gak ada."
__ADS_1
Gress hanya tersenyum kecut, mendengar jawaban yang diberikan oleh Gavino kali ini.
"Kamu gak liat Reo atau Daniel?" Gavino bertanya tentang kedua temannya yang beluk terlihat sedari tadi.
Tapi Gress tidak menjawabnya. Dia hanya mengendikkan kedua bahunya, tanda jika dia tidak peduli.
"Hhh..."
Gavino pun mengelengkan kepalanya, melihat tingkah Gress yang acuh tak acuh itu.
*****
( Ting )
( Selamat malam Good Father )
'Aku ingin tahu, apa yang sebenarnya terjadi pada Julian Aldrin.'
( Ting )
( Berikan identitas Julian Aldrin. Sistem akan mencarikan informasi yang Good Father butuhkan dengan segera )
Gavino pun mulai mengetikkan nama dan identitas diri dari ketua senat mahasiswa, yang dikabarkan telah dibunuh oleh perampok di apartemen tempat tinggalnya.
Tak lama setelah itu. Di saat Gavino selesai dengan kegiatannya.
( Ting )
( Identitas ditemukan )
( Peneluran tentang korban atas nama Julian Aldrin di apartemen MIXZ lantai 3 C2, Roma )
1%
10%
30%
35%
45%
50%
60%
70%
85%
90%
100%
( Ting )
Membutuhkan waktu yang cukup lama, saat pencarian dilakukan oleh sistem.
( Hasil dari tangkapan cctv di lorong apartemen MIXZ lantai 3 C2, Roma )
Di layar lebar transparan yang ada di depan Gavino kali ini, ada gambar lorong sebuah apartemen. Yang kemungkinan besar adalah lorong depan kamar Julian Aldrin.
__ADS_1
Di tangkapan layar cctv tersebut, ada lima orang yang berjalan menuju ke sebuah kamar. Kemudian mengetuk pintu salah satu kamar yang ada di lorong tersebut.
Tak lama kemudian, orang yang mengetuk pintu tadi tampak berbincang dengan seseorang yang kemungkinan besar adalah Julian Aldrin, yang baru saja membuka pintu kamar apartemennya.
Tapi di sana, sepertinya terjadi percekcokan. Yang membuat semua orang masuk dengan paksa di dalam kamar tersebut.
Satu diantara mereka, ada yang melihat ke arah kamera cctv. Kemudian mendekatnya. Setelah itu, tampak sebuah tangan yang menutupi kamera.
Tak lama setelah itu tuuuttt....
Layar menghitam. Dari waktu itulah, cctv lorong apartemen MIXZ lantai 3 C2 hilang.
Gavino menghela nafas panjang, setelah melihat semua informasi tadi.
'Ini cctv yang ada di lorong. Yang di kamar Julian ada juga gak? Atau memang di dalam kamar tidak ada cctv?'
( Ting )
( Pencarian dilakukan )
1%
10%
25%
50%
70%
85%
90%
95%
100%
( Ting )
( Hasil tangkapan kamera cctv di dalam kamar apartemen MIXZ lantai 3 C2, Roma )
Kini Gavino bisa lebih jelas melihat wajah-wajah mereka. Yang tadi masuk ke dalam kamar dengan paksa.
Dan Gavino pun menghela nafas panjang. Karena apa yang dia pikirkan tadi, saat mendengar cerita dari Gress, terbukti benar.
Julian Aldrin tidak bunuh diri atau di rampok oleh orang lain. Tapi dari kawanan teman-temannya sendiri, yang tentunya sangat dia kenal dengan baik.
*****
..."Bagaimana bisa Kapten? Saya tidak ada bukti untuk tuduhan yang membawa mereka ke jalur hukum." ...
Gavino menelpon Sang Kapten, yang sudah lama tidak dia hubungi. Sejak pemakaman Giordano dan Mirele waktu itu.
..."Lalu dari mana Kamu bisa yakin? jika orang tersebut adalah tersangka yang memang membunuh ketua senat mahasiswa." ...
..."Itulah yang harus dipecahkan Kapten. Aku tidak ada bukti. Dan Aku justru bisa dituduh balik, jika memberikan penjelasan atau keterangan tanpa adanya bukti-bukti yang jelas juga." ...
Sang Kapten terdiam sejenak, mendengar jawaban yang diberikan oleh Gavino.
Dia sebenarnya ingin mempercayai, apa yang dikatakan oleh anak muda. Yang sudah sering membantunya itu.
__ADS_1
Tapi pada kenyataannya, setiap tuduhan ataupun kasus yang terjadi seperti ini. Tidak diperbolehkan untuk gegabah. Semua harus ada bukti yang kuat, karena jika tidak, justru kita sendiri yang akan terkena masalah ke depannya nanti.
Atau yang lebih parahnya lagi, justru kita yang dituduh menjadi tersangkanya.