
Meskipun Bianca merasa ketakutan, karena di telpon Dante secara terus menerus, tapi dia tetap mengikuti saran dari Dante. Supaya tidak menerima panggilan telpon tersebut.
Dante justru menyarankan, agar Bianca ganti nomor ponsel saja. Supaya Alano tidak bisa menghubungi dia lagi. Dan itu dibenarkan oleh Bianca sendiri, karena demi keselamatan dan kenyamanan dirinya juga.
"Apa Kamu punya nomor handphone Gavino yang baru? Aku tidak bisa melakukan panggilan telpon untuknya."
Bianca bertanya kepada Dante, tentang nomor ponsel Gavino di kota Roma. Karena nomor yang digunakan untuk menghubunginya sewaktu ada di Paris, sudah tidak bisa dihubungi.
"Nomor handphone milik Gavino itu sama. Atau... nomor Kamu dia blokir? Supaya Kamu tetap aman bersama dengan Alano."
Sekarang Bianca jadi berpikir bahwa, kemungkinan besar, apa yang dikatakan oleh Dante ada benarnya. Karena Gavino sangat tahu, bagaimana kelakuannya Alano. Sehingga tidak ingin membuat Alano marah-marah karena merasa cemburu.
"Apa kemarin-kemarin, di saat Gavino menemanimu, Alano tahu?"
Dante menebak apa yang terjadi antara mereka bertiga, karena sepertinya Alano over protektif terhadap Bianca.
Bisa jadi, Alano memergoki Gavino yang sedang menemui kekasihnya.
Begitulah kira-kira pemikiran Dante, menyimpulkan dari cerita Bianca, yang dikatakan padanya.
Tapi sekarang, Dante lebih terkejut lagi. Karena Bianca justru bercerita tentang keadaan yang sebenarnya terjadi kemarin. Di saat dia bertemu dengan Gavino. Bahkan mereka berdua sempat melakukan adegan bercinta, di apartemennya juga. Sebelumnya akhirnya Alano datang tanpa memberitahu Bianca terlebih dahulu.
Tentu saja Dante terbelalak kaget, mendengar cerita yang sebenarnya dari Bianca.
"Oh... pantas saja Alano seperti itu. semua laki-laki itu sama Bi, mereka tidak akan menerima, jika kekasihnya bertemu dengan cowok lain. Tapi jika dia yang bertemu dengan cewek lain, dia tidak mau diganggu. Itu rata-rata pemikiran dari seorang cowok, sama seperti itu. Pantas saja Alano merasa cemburu. Dan itu wajar."
"Tapi, bukankah hal macam itu sudah biasa Dante?" tanya Bianca membenarkan kelakuannya sendiri.
"Ya, Aku tahu jika itu hal yang wajar untuk anak muda di sekitar kita. Tapi Kamu juga harus tahu, bahwa jika cinta yang hadir di dalam hati, itu menginginkan hal yang terbaik untuk kekasihnya. Jadi Aku berpikir bahwa, sebenarnya Alano itu memang benar-benar mencintai Kamu. Cuma caranya saja yang ingin mengikat Kamu itu yang terkesan kasar, arogan dan semaunya sendiri. Tanpa mau memikirkan perasaan Kamu, dan apa yang Kamu inginkan selama ini.
Bianca terdiam, mendengar perkataan dan penjelasan yang diberikan oleh sepupunya itu. Sebab, sebenarnya dia juga tahu, bagaimana perasaan Alano kepadanya.
Tapi, perasaan was-was dan tidak nyaman itu yang sering mengganggu pikiran dan hatinya.
"Entahlah Dante. Aku, Aku tidak tahu apa yang aku rasakan saat ini."
"Sudahlah Bi. Lebih baik Kamu beristirahat dulu sana. Kamu bisa pulang dulu, atau tidur di rumah ini. Ada kamar tamu yang kosong dan bisa Kamu tempati."
__ADS_1
"Terima kasih Dante. Aku belum ingin pulang terlebih dahulu. Aku tidak mau mama kaget dengan kepulangan ku yang tiba-tiba ini."
Akhirnya bianca memutuskan untuk menginap di rumah sepupunya itu terlebih dahulu. Karena kebetulan, ini adalah rumah Dante sendiri. Yang sudah berpisah dari keluarganya, karena perpisahan kedua orang tuanya. Sehingga Dante memutuskan untuk membeli rumah sendiri.
Dante hanya menggeleng beberapa kali, melihat sepupunya yang sedang galau dan tidak tahu apa yang akan dilakukan kedepannya.
Setelah Bianca pergi dari hadapannya, untuk beristirahat di kamar tamu, Dante memutuskan untuk menghubungi Gavino.
Tut... tut... tut...
Tut... tut... tut...
Tapi ternyata, sambungan telepon tersebut tidak direspon oleh Gavino.
"Tumben Gavino tidak mengangkatnya? Apa dia sedang ada kelas? Tapi ini sudah sore, bahkan hampir malam."
"Aku coba menghubungi Lorenzo saja. Siapa tahu, dia mengetahui Gavino ada di mana."
Setelah berpikir sejenak, Dante akhirnya memutuskan untuk menghubungi Lorenzo terlebih dahulu, yang biasanya bersama dengan Gavino.
Tut... tut... tut...
Tut... tut... tut...
..."Hahaha... maaf Lorenzo. Aku sangat sibuk akhir-akhir ini. Kamu bagaimana kabarnya kawan?" ...
..."Aku sudah sangat baik. Meskipun beberapa waktu yang lalu sempat sakit." ...
..."Oh ya, sakit apa?" ...
..."Hahaha... tidak usah dibahas. Kamu ada keperluan apa menghubungiku?" ...
..."Hehehe... Aku mau tanya. Apa Kamu tahu, Gavino sedang ada kesibukan apa saat ini? Aku menghubungi nomor handphonenya tidak aktif." ...
..."Oh, dia sedang pergi dengan Gress ke Amerika. Mama asuhnya Gress, meninggal dunia semalam." ...
..."Ohhh, pantas saja Aku telpon tidak bisa terus. Ternyata dia pergi ke Amerika." ...
__ADS_1
..."Ya begitulah. Memang ada hal pentin?" ...
..."Tidak ada. Aku hanya ingin mengajaknya ketemu saja sih bicara halo biasa kok." ...
..."Mungkin dia ada di sana sampai jenasah di makamkan. Soalnya saat ini masih ada di rumah duka." ...
..."Ok. Jika Kamu tahu kepulangannya, tolong kasih kabar Aku ya!" ...
..."Siap-siap!" ...
..."Thanks ya Lorenzo!" ...
..."Ok Dante!" ...
Klik!
Dante menghela napas panjang, karena ternyata nomor ponsel Gavino yang tidak bisa dihubungi itu karena keberangkatannya ke Amerika. Bukan karena pemblokiran, atau ganti nomor ponsel.
*****
Di kantornya, sang Kapten bus aja mendapatkan kabar tentang tewasnya Bos dari pemilik laboratorium yang asli.
Tapi dia tahu siapa yang sudah melakukan pembunuhan itu.
Dia hanya mendapatkan laporan bahwa, mayatnya sudah ditemukan dalam keadaan yang tidak layak, di sebuah perkebunan di pinggir jalan.
"Ada apa dengan dia? Kenapa orang penting seperti itu bisa sampai tewas seperti yang ada pada gambar. Apakah ini hanya sandiwara, supaya dia bisa mengganti idensitasnya dengan identitas yang lain?"
Sang Kapten justru memiliki pemikiran lain, tentang laporan yang dia terima dari anak buahnya di lapangan.
Dia tidak berani bertanya kepada Gavino lagi, karena hal ini sebenarnya memang bukan tangung jawab Gavino. Yang notabene memang bukan siapa-siapa untuk melakukan penyidikan.
Akhirnya sang Kapten memberikan perintah kepada anak buahnya, untuk mencari alasan dari motif pembunuhan yang terjadi pada sang Bos tersebut.
"Aku akan mencari sampai tuntas masalah ini. Aku tidak mau jika ada sesuatu yang tersembunyi. Apalagi jika itu akan mempermudah maksud dari rencana Bos tersebut, untuk mengganti identitasnya."
Untuk melakukan pencegahan hal tersebut, sang Kapten menghubungi beberapa pihak, yang biasanya berperan melakukan apa-apa yang dicurigai tadi.
__ADS_1
Dia tidak mau kecolongan lagi, sama seperti kasus-kasus yang terdahulu. Jika sedang menangani orang-orang penting, yang sama seperti Bos tersebut. Karena hal itu biasa terjadi, pada kalangan orang-orang hitam alias mafia.
Dia tidak tahu, jika Gavino juga terlibat dalam proses rencana melenyapkan Bos tersebut.