
Pagi ini, Gavino pergi ke kampus bersama dengan Gress.
Sudah lama sekali dia tidak pergi ke kampus karena semua masalah yang harus dihadapi di luar sana.
Sayangnya, pihak kampus tidak menerima atau memperbolehkan dirinya untuk cuti. Tapi hanya diberikan ijin sesuai dengan yang dibutuhkan. Sehingga untuk setiap harinya Gress harus membuatkan absen dan tugas-tugas atas nama Gavino.
Untungnya, pihak kampus tidak mempermasalahkan hal tersebut, karena Gress juga melakukannya atas ijin mereka. Sehingga Gavino tidak akan kehilangan nilai. Apalagi, tiap tes lisan atau wawancara langsung, Gavino selalu bisa datang dan menjawab semua pertanyaan dengan benar.
Hal ini sebenarnya memang sering dilakukan juga oleh beberapa mahasiswa lain, yang punya kepentingan yang sama seperti Gavino.
Karena sebab itu juga, pihak kampus menggunakan cara ini, karena permintaan cuti akan terus berdatangan seandainya dipermudah untuk pengajian cuti mahasiswa.
Mungkin saja, pihak kampus tidak ingin kehilangan waktu, dengan memberikan cuti.
Jika hanya ijin, mereka akan tekan datang ke kampus, dan waktu yang pelukan untuk menurutmu di kampus ini tidak akan terbuang sia-sia.
Apalagi, semua mahasiswa di sini itu adalah orang-orang yang sangat pandai dan selalu sibuk di luar sana. Dengan berbagai kepentingan masing-masing.
"Sayang, Kamu bisa di kampus sampai jam pulang kan?" tanya Gress, yang ingin ditunggui Gavino, sama seperti dulu. Pada saat mereka baru saja dekat.
"Sepertinya iya. Aku sedang tidak memiliki kegiatan yang harus aku selesaikan secepatnya."
Cup!
"Terima kasih Sayang!"
Gress mengecup bibir Gavino sekilas, untuk mengucapkan rasa terima kasihnya.
Tak lama, mereka berdua masuk ke dalam kelas karena waktunya sudah tiba. Sedangkan supir yang bertugas menjaga Gress, sudah siap berada di mobil, yang terparkir di area parkir kampus seperti biasanya.
Beberapa saat kemudian, Gavino bersama dengan Gress tampak keluar dari kelas bersama-sama.
"Sayang, Aku ada keperluan sebentar di luar. Nanti Aku akan kembali lagi ke sini. Tidak apa-apa kan, kelas berikutnya Kamu sendirian?"
Gress mengerutkan keningnya, mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Gavino. Sebab, tapi sebelum masuk kelas pagi, kekasihnya itu mengatakan bahwa, dia tidak akan pergi kemana-mana, dan hanya berada di kampus saja menemani dirinya.
Tapi karena Gavino mengatakan nanti akan kembali, Gress akhirnya tersenyum tipis.
"Baiklah. Cepat kembali jika urusannya sudah selesai ya Sayang!" pinta Gress, yang mengijinkan Gavino pergi.
Akhirnya, Gavino benar-benar pergi. Dan meninggalkan kulit sendiri di kampus.
__ADS_1
Mereka berdua tidak tahu, jika ada sesuatu yang sedang mengintai, mengawasi mereka sejak tadi pagi.
Sebenarnya, Gavino ingin pergi ke rumah Dante. Karena Bianca memberikan pesan padanya, jika ada sesuatu yang ingin dia bicarakan. Dan itu mengenai Dante sendiri.
Tapi Bianca meminta pada Gavino, untuk membawanya pergi dari rumah Dante untuk sementara waktu. Supaya dia bisa bicara dengan bebas, membahas tentang masalah sepupunya itu.
Gavino tidak tahu apa yang sebenarnya ingin dibicarakan oleh Bianca. Sebab, dia merasa jika, Dante tidak pernah memiliki masalah apapun dengannya.
Dan di sinilah mereka berdua sekarang berada. Disebuah restoran yang bergaya Jepang dengan ruangan privat, sehingga Bianca bisa menceritakan tentang Dante, tanpa harus merasa takut, jika ada orang lain yang akan mengetahui keberadaannya.
"Sebenarnya, apa yang ingin Kamu bicarakan Bi? soal Dante yang seperti apa?"
Sambil nunggu pesanan datang Gavino bertanya pada bianca, yang belum punya keinginan untuk pulang ke rumahnya sendiri. Dan masih berada di rumahnya Dante, yang katanya punya rahasia besar.
"Aku, Aku mengetahui sedikit tentang rahasia Dante. Tapi, tapi Aku berharap agar Kamu bisa menjaga ini, maksudku Kamu tidak akan membicarakan hal ini pada orang lain, termasuk Dante sendiri, jika Kamu mengetahuinya dari Aku."
Gavino semakin merasa penasaran, dengan apa yang ingin disampaikan oleh Bianca kali ini. Sebab, sepertinya ini adalah hal yang sangat penting.
"Sebenarnya, Dante itu..."
Bianca tidak melanjutkan kalimatnya, pada saat pelayan datang dengan membawa semua pesanan mereka, dengan menggunakan kereta makan.
Beberapa saat kemudian, setelah pelayan pergi, Bianca melanjutkan kalimatnya lagi.
Gavino juga mendengarkan semua perkataan yang diucapkan oleh Bianca, dengan seksama. Sebab Dia tidak mau jika ketinggalan informasi, yang disampaikan oleh Bianca kali ini.
Mendengar semua perkataan yang diucapkan oleh Bianca, membuat Gavino tidak percaya begitu saja, karena itu harus dibuktikan terlebih dahulu. Sebab, selama ini Gavino sudah mempercayai sepupunya Bianca.
Tapi jika semua yang dikatakan oleh Bianca ini benar, itu berarti Gavino punya lawan yang tidak ingin dihadapi.
Akhirnya, setelah semuanya selesai. Dan acara makan bersama mereka berdua juga sudah selesai, Gavino kembali mengantar Bianca ke rumah Dante.
Sebenarnya, Gavino sudah menawarkan tempat tinggal untuk Bianca, baik rumah maupun apartemen. Tapi gadis tersebut menolaknya.
Bianca masih ingin di rumah Dante, untuk menyelidiki, apa yang sebenarnya dilakukan oleh sepupunya itu tanpa sepengetahuan orang lain. Termasuk kedua orang tuanya Dante sendiri.
Secara tidak sengaja, Bianca mendengar pembicaraan Dante dengan seseorang yang tidak dikenalnya, sehingga Bianca curiga. Jika sepupunya itu punya komplotan lain, yang ingin mencelakai Gavino.
Sebab, Bianca mendengar jika Dante menyebut nama Gavino berapa kali. Pada saat melakukan panggilan telpon kemarin.
Untuk itulah, dia memberitahukan hal ini pada Gavino, supaya bisa tetap berhati-hati pada saat bertemu dengan Dante.
__ADS_1
*****
Setibanya di kampus, Gavino tidak menemukan Gress.
Tapi, sopirnya masih ada di dalam mobil.
"Di mana Gress?" tanya Gavino pada supirnya, karena dia tidak menemukan keberadaan Gress di kampus.
Dia sudah bertanya pada semua orang, dan juga berkeliling kampus, tapi tetap saja tidak menemukan gadisnya itu. Sedang telpon Gress juga sudah tidak aktif lagi.
"Tuan Muda. Bukannya tadi Nona pergi dengan Tuan Muda?"
Gavino mengerutkan keningnya bingung, mendengar pertanyaan yang diajukan oleh supirnya. Karena dia tidak merasa pergi dengan Gress, dan dia baru saja datang.
"Aku baru datang, dan sedang mencarinya. Bagaimana mungkin Aku bisa pergi bersama dengannya, dan sekarang ini justru mencari keberadaannya juga. Kamu pikir ini lucu ya?"
Supir terdiam mendengar pertanyaan dan protes yang diajukan oleh Gavino padanya.
Tapi supir tersebut juga kekeh dengan apa yang dia ketahui. Sebab, dia memang melihat kepergian Gavino bersama dengan Gress tadi, beberapa jam yang lalu.
Sekarang, supir tersebut memperlihatkan rekaman cctv yang ada di depan mobilnya, sebab, mobilnya itu dilengkapi dengan kamera cctv. Yang bisa digunakan untuk melacak sesuatu yang terjadi di depan mobil.
Dan Gavino benar-benar terkejut melihat semua rekaman yang tampak pada kamera cctv mobil.
Di dalam rekaman tersebut, Gavino melihat sosok dirinya yang sedang menggandeng gadisnya itu, kemudian mengajaknya pergi.
Dia juga melihat, bagaimana sosok tersebut berpakaian sama dengannya, padahal jelas-jelas itu bukan dirinya.
Pada tangkapan kamera, yang ditunjukkan waktunya itu terjadi sekitar 1 jam yang lalu.
Tapi satu jam yang lalu, Gavino sedang bersama dengan Bianca. Di sebuah restoran ala Jepang.
Jadi tidak mungkin dan bisa dipastikan, jika yang tertangkap dalam rekaman kamera cctv itu adalah dirinya.
"Siapa ya dia?" tanya Gavino dengan bergumam.
Hal ini membuat supir bingung dan heran, karena ternyata, orang yang tadi dia lihat bukanlah Tuan Muda nya.
"Berarti ada orang yang sedang menyamar sebagai Tuan Muda, dan ingin menjadikan Nona mengolah sebagai umpan."
Gavino menganggukkan kepalanya, setuju dengan apa yang dikatakan oleh supir. Sebab, dia juga sedang memikirkan hal yang sama.
__ADS_1
"Apa ini ada kaitannya dengan laboratorium yang dulu hancur? tapi, bukannya formula dan beberapa dokumen yang berkaitan sudah dihancurkan. Lalu siapa yang melakukannya?"
Gavino kembali berpikir, bahwa ini memang benar ada yg kaitannya dengan laboratorium yang sudah dihancurkan beberapa waktu yang lalu. Meskipun untuk saat ini, dia tidak bisa menduga-duga, siapa yang sudah menculik Gress.