
Bugh bagh bugh!
Perkelahian antara Gavino dengan security yang memergoki dirinya berada di tangga darurat, tidak bisa dielakkan lagi.
Gavino menginginkan semuanya cepat selesai, sedangkan security tersebut ingin menghajar Gavino dengan cara mengalahkannya.
Kemenangan yang mereka berdua perebutkan, karena sama-sama memiliki kepentingan yang sama. Yaitu dianggap lebih kuat daripada yang lain, dengan memenangkan perkelahian mereka berdua kali ini.
Sayangnya security tersebut tidak tahu, siapa sebenarnya Gavino. Karena yang dia tahu jika, Gavino hanyalah kekasih dari nona mereka. Anak dari pemilik perusahaan ini, yaitu kekasihnya Gress.
Jadi Security tersebut tidak pernah mengetahui jika, Gavino memiliki kekuatan yang di dapatnya dari sistem. Sebab memang tidak ada yang tahu, jika Gavino memiliki sistem yang mendukungnya selama ini.
Brakkk!
Tubuh security tersebut terpental, dan membentur pintu darurat. Yang terbuat dari baja ringan, sehingga penyok.
"Awww..."
Terdengar suara security tersebut yang sedang mengaduh, karena merasakan rasa sakit pada bagian tubuhnya. Baik akibat pukulan dan juga benturan pada pintu darurat tersebut, sehingga dia tidak bisa bergerak dengan bebas seperti tadi.
Melihat lawannya itu sudah tidak berdaya, Gavino melenggang pergi. Meninggalkan tempat tersebut, untuk mencari jalan lain. Yang bisa membawanya ke tempat Gress berada. Yaitu di ruangan direktur utama.
Sayangnya, apa yang terjadi di tangga darurat tersebut, ternyata mendapat pantuan dari Thomas Bryan. Yang saat ini sedang berada di dalam ruangan IT kantor. Sedangkan untuk keberadaan Gress sendiri, memang berada di ruangannya Thomas Bryan.
"Br3ngs3k! Ternyata Gavino memang kuat, dan tidak bisa diremehkan begitu saja." Thomas Bryan mengeram dengan marah, melihat kekalahan security nya. Yang ternyata kalah di saat melawan Gavino.
Thomas Bryan lupa, jika Gavino juga pernah menyalahkan beberapa anak buahnya sekaligus. Sebelum dirinya sendiri akhirnya takluk pada pemuda itu, yang ternyata adalah kekasih dari anaknya sendiri.
"Kenapa dia bisa begitu kuat? padahal dia juga tidak terlihat kekar, seperti bentuk tubuhnya para security dan anak buah ku yang lain." Thomas Bryan bertanya-tanya, mengapa pemuda seperti Gavino itu bisa sekuat yang dia lihat. Padahal jika secara umum, Gavino tampak tidak memiliki kekuatan apapun.
"Awasi terus dia! Jangan biarkan dia masuk ke ruangan direktur. Jika dia sudah mendekat, utus security atau bodyguard lainnya. Yang tentu saja jauh lebih kuat, daripada yang tadi."
"Siap Tuan Besar!"
__ADS_1
Pegawai pada bagian IT, hanya bisa mengiyakan permintaan dari Bos Besar-nya. Karena keinginan dari Tuan Besar-nya itu adalah perintah yang harus dilaksanakan, jika tidak mau terjadi apa-apa pada dirinya.
Thomas Bryan beranjak dari tempat duduknya, setelah selesai memberikan perintah kepada pegawai IT nya.
Dia akan menemani anaknya, Gress, yang tadi dia tinggalkan di ruangannya sendirian.
"Aku harus memastikan bahwa Gavino tidak datang mengganggunya. Aku tidak mau jika Gress akan terpengaruh lagi, sebab Aku yakin. Jika Gavino itu memiliki kekuatan supranatural lain, yang tidak diketahui oleh siapapun."
Begitulah kira-kira pemikiran Thomas Bryan, yang memberikan penilaian terhadap seorang Gavino. Yang pada saat kemarin kemarin dia sanjung, dan juga dia patuhi.
Tapi begitu dia berperan sebagai seorang papa, nyatanya semua itu hilang. Entah apa yang menjadi penyebabnya.
"King Black!"
Ternyata Gavino berhasil menemukan jalan, untuk bisa sampai di ruangan direktur. Sehingga dia bisa menemukan Thomas Bryan, yang baru saja keluar dari dalam lift. Untuk menuju ke ruangan yang sendiri.
Thomas Bryan cukup terkejut dengan kedatangan Gavino, yang tidak pernah dia sangka-sangka. Sebab dia sudah memerintahkan anak buahnya, untuk mengamankan sekitar ruangan direktur. Agar Gavino tidak bisa mencapainya.
Thomas Bryan, yang tadi disebut dengan sebutan kebesarannya. Yaitu king Black, menatap sinis ke arah Gavino. Pemuda yang kemarin-kemarin dia perlakuan sebagai seorang Tuan Muda.
Tapi kini semuanya berakhir, dengan perseteruan mereka. Karena Thomas Bryan tidak menyetujui rencana yang dibuat oleh Gavino, untuk membawa Gress ke Amerika sana. Bersama dengan Bianca juga.
Thomas Bryan menginginkan agar Gavino hanya memilih anaknya seorang, tanpa ada gadis lainnya.
Padahal Gress sendiri, sebenernya tidak mempermasalahkan soal Bianca. Yang memang sudah menjadi bagian dari hubungan mereka berdua, sehingga cinta segitiga antara mereka ini terjalin dengan baik. Bahkan mereka juga pernah melakukan hubungan intim, bersama-sama pada malam itu. Di rumah Gavino sendiri.
Sayangnya, hal itu tidak pernah diketahui oleh siapapun. Dan memang tidak untuk diceritakan pada siapapun juga.
"Mau apa Kamu ke sini?" tanya Thomas Bryan menantang Gavino.
"Tuan Besar tentu saja sudah sangat tahu, apa maksud dari kedatangan Saya ke sini. Jadi, sepertinya Saya tidak butuh basa-basi juga. Karena Tuan Besar sudah sangat paham, dengannya niatan Saya."
Gavino tidak mau mengatakan apapun, yang sebenarnya sudah diketahui oleh Thomas Bryan sendiri.
__ADS_1
Jadi dia tidak mau berbasa-basi dengan bersikap lemah lembut, karena saat ini Thomas Bryan sedang memusuhinya.
Dia pingin menunjukkan kepada papanya Gress, bahwa dia adalah seorang pemuda yang punya tekad, tangung jawab dan berusaha keras. Untuk bisa mendapatkan kesempatan dan peluang yang diinginkan.
"Aku memperjuangkan Gress, untuk bahagian Gress juga. Anda hanya papanya, yang belum tentu bisa memberikan kebahagiaan untuknya. Jadi, cobalah mengerti dan jangan egois. Coba tanyakan pada anak Anda sendiri, apakah dia mau dan bahagia bersama Saya, atau dia rela melepaskan kebahagiaannya itu, demi keegoisan Anda sendiri!"
Gavino menantang sisi egois Thomas Bryan, sebagai seorang Papa. Yang tentunya ingin melihat anaknya bahagian.
Thomas Bryan terdiam, memikirkan apa yang dikatakan oleh Gavino padanya.
Jika dipikir-pikir lagi, apa yang dikatakan oleh Gavino barusan memang benar adanya. Sebab Gress sudah merasa bahagia terlebih dahulu bersama dengan Gavino, jauh sebelum mengenalnya sebagai seorang Papa. Sehingga dia harus berpikir ulang, jika ingin mengekang kebebasan dan kebahagiaan anaknya.
Melihat kondisi Thomas Bryan yang terdiam, Gavino kembali menyerangnya.
"Anda adalah papa yang sangat egois, jika Anda tidak memberikan kebebasan kepada Gress. Untuk memilih kebahagiaannya sendiri. Dan apakah itu artinya Anda adalah seorang papa yang bijaksana? Mencintai anaknya? Tentu saja tidak!"
Tangan Thomas Bryan mengepal kuat, mendengar perkataan Gavino yang menyinggungnya. Meskipun sebenarnya itu memang sebuah kebenaran yang sesungguhnya. Karena dia sedang dalam keadaan egois, dengan mengekang kebebasan anaknya sendiri.
"Tapi Aku tidak mau, jika Kamu harus memilih gadis itu juga. Sebab Gress layak untuk berbahagia, tanpa ada saingan dalam hubungan hati."
Akhirnya Thomas Bryan mengungkapkan kekhawatirannya, ketakutannya. Yang berpikir bahwa Gavino tidak akan mampu untuk memberikan kebahagiaan kepada Gress. Hanya karena adanya Bianca di antara mereka berdua.
"Apa Anda tidak bertanya, apakah Gress juga merasa keberatan?" tanya Gavino lagi, karena semua yang dilakukan oleh Thomas Bryan ini, memang kemauannya sendiri. Dan tidak ada kaitannya dengan persetujuan Gress.
"Aku mendukung papa!"
Tiba-tiba saja Gress muncul, menjawab pertanyaan Gavino. Yang sebenarnya ditujukan kepada Thomas Bryan.
Mendengar jawaban yang diberikan oleh Gress barusan, membuat Gavino memiringkan kepalanya. Untuk memperhatikan lebih baik, bagaimana raut wajah gadisnya itu. Di saat memberikan keterangan tadi.
Dia yakin, jika apa yang dikatakan oleh Gress barusan, hanya untuk membuat papanya tidak merasa sedih.
"Kamu serius Sayang?" tanya Gavino, untuk meyakinkan dirinya, bahwa semua ini adalah sebuah kebenaran dan keputusan final yang dibuat oleh Gress untuknya.
__ADS_1