
"Ayolah Vin, ada apa?"
Lorenzo mendesak agar Gavino bicara, tentang masalah yang mungkin saja sedang dihadapinya.
Padahal tadi, Gavino juga sudah membuka mulutnya untuk bicara. Tapi karena Lorenzo bertanya lagi, dia pun kembali menutup mulutnya untuk bicara.
"Aku tidak kenapa-kenapa. Aku hanya sedikit pusing ini," jawab Lorenzo.
Dia tidak pernah berkunjung ke tempat bermain seperti ini, yang ada wahana-wahana bermainnya. Jadi, dia pusing juga berada di atas kincir angin yang sedang berputar.
Itulah sebabnya, dia hanya diam saja sedari tadi. Dia tidak mau, jika teman-temannya tahu apa yang sedang dirasakan.
"Oh, Kamu takut ketinggian ya?"
Lorenzo justru memberikan kesimpulannya sendiri. Padahal bukan itu juga yang dimaksud oleh Gavino, dengan penjelasan yang dia sampaikan tadi.
Tapi karena Gavino tidak mau berdebat dengan Lorenzo, dia hanya menganggukkan kepalanya saja. Supaya Lorenzo tidak lagi bertanya-tanya.
"Kenapa gak bilang tadi Gavin? Aku bisa kok menemani Kamu naik wahana yang lainnya. Kan ada banyak pilihan juga si sini," cicit Lorenzo mirip cewek yang sedang bawel.
"Emhhh... tidak apa Lorenzo. Ini untuk belajar juga, supaya Aku bisa membiasakan diri pada ketinggian juga kan!"
"Hehehe... iya juga sih."
Setelah waktunya untuk turun, justru Lorenzo yang muntah-muntah. Kepalanya terasa pening dan perutnya mual.
"Hoeekkk!"
"Hoeekkk..."
"Eh, itu Lorenzo kenapa?" tanya Madalena dengan cepat. Dia merasa sangat khawatir dengan keadaan temannya itu.
"Sepertinya dia tidak tahan dengan perputaran kincir angin." Gavino memberikan penjelasan kepada Madalena.
Tapi tangannya masih ada di belakang leher Lorenzo, membantunya untuk bisa mengeluarkan semua yang ada di dalam perut.
Setelah beberapa saat kemudian, Lorenzo tidak lagi mengeluarkan muntahan. Tapi wajahnya jadi terlihat pucat, dengan keringat yang membasahi seluruh tubuhnya.
"Huhfff... kenapa justru Aku yang mabuk Gavin? bukannya Kamu yang takut ketinggian ya!"
Semua orang yang mendengar pertanyaan Lorenzo, justru tertawa-tawa. Karena mereka juga tidak menyangka, jika seorang Lorenzo akan seperti anak kecil lagi.
"Itu wajar saja Lorenzo. Mungkin karena Kamu banyak makan angin tadi," ujar Cardi asal.
__ADS_1
Dan perkataan yang diucapkan oleh Cardi, menyadarkan mereka semua. Jika waktu makan siang sudah terlewatkan begitu saja.
"Bagaimana jika kita pergi makan sekarang? kasian itu Lorenzo, perutnya pasti kosong sekarang ini," ajak Madalena, yang tidak tega melihat keadaan Lorenzo.
Dengan lembut, Madalena mengusap wajah Lorenzo yang penuh dengan keringat dingin.
Melihat adegan tersebut, Dante membuang muka. Begitu juga dengan Cardi. Karena mereka berdua tahu, siapa cowok yang saat ini sedang diperhatikan oleh Madalena.
"Ayok kita pergi makan!"
Akhirnya Bianca berusaha untuk mencairkan suasana tegang tersebut. Karena dia melihat perubahan warna pada wajah sepupunya, dan juga temannya, Cardi.
Gavino mengangguk mengiyakan, karena tahu maksud dari ajakan Bianca.
"Ayo. Kali ini tidak ada yang harus diperdebatkan. Aku yang traktir kalian semua." Gavino berkata memberitahu, agar tidak ada lagi drama perdebatan diantara mereka. Karena ingin membayarkan uang untuk mereka semua.
"Nah ini bagus!"
"Iyalah. Aku ngikut."
"Oke-oke!"
"Ayok kita cari tempat makan!"
Mereka semua, berjalan menuju ke kafetaria. Yang ada di taman bermain tersebut.
"Hum... Setelah ini Aku langsung pulang ya! jika kalian masih ingin ke mall, Aku tidak ikut," desis Lorenzo, yang masih dituntun Madalena.
Mereka semua, jadi saling pandang untuk meminta pendapat masing-masing.
"Kita gak jadi ke mall. Setelah ini, Mita antar Lorenzo pulang ke rumahnya. Aku khawatir dengan keadaannya, jika harus menyetir sendiri." Dengan tegas Bianca memberikan usulan, dan mengatakan kekhawatirannya pada Lorenzo.
Mereka semua mengangguk mengiyakan usulan tersebut. Begitu juga dengan Madalena. Meskipun wajahnya tampak tidak senang, dengan rasa khawatir yang tadi dikatakan oleh Bianca.
Dia merasa cemburu. Tapi dia juga tidak berbuat apa-apa. Karena memang seperti itulah keadaan yang saat ini terjadi pada Lorenzo.
Cowok yang sudah mencuri perhatian khusus darinya. Bukan Gavino, seperti yang dikatakan oleh orang lain.
*****
Selesai makan siang yang sudah lewat waktunya, mereka semua tidak lagi melanjutkan acara bermain-main di taman bermain ini.
"Aku balik sendiri aja gak apa-apa kok. Kalian lanjutkan saja bermainnya," kata Lorenzo, yang merasa tidak enak hati. Karena semua ini disebabkan oleh dirinya.
__ADS_1
"Gak apa-apa kok. Kita juga pada mau pulang. Iya kan teman-teman?" ucap Gavino, dengan memberikan pertanyaan pada yang lain. Supaya Lorenzo tidak lagi merasa bersalah.
"Iya. Aku juga ada janji sama Mama, untuk tidak pulang malam-malam," sahut Bianca memberikan dukungan.
"Emhhh... Aku juga mau pergi sama kakekku," sahut Cardi. Yang mengerti apa yang terjadi pada saat ini.
"Oh, ok lah kalau begitu. Ayok kita pulang!"
Akhirnya, Lorenzo setuju untuk pulang bersama-sama. Dan demi keamanan dirinya, Jeffrie menyetir mobilnya untuk mengantar Lorenzo pulang ke rumah, ditemani oleh Madalena.
Sedang yang lain, ada dibelakang mobilnya Lorenzo. Supaya mereka bisa mengantarkan Jeffrie dan Madalena. Setelah pulang dari rumahnya Lorenzo.
*****
Di perjalanan pulang ke rumah. Dante yang satu mobil bersama dengan sepupunya, Bianca, mulai bertanya-tanya.
"Bi. Kamu tahu gak..."
"Gak," sahut Bianca cepat. Padahal Dante belum selesai dengan Pertanyaannya.
"Ihh, Aku serius Bi!"
Dante kesal dengan sikap sepupunya itu. Karena ada sesuatu yang ingin dia ketahui dari Bianca.
"Iya deh... apaan?" Akhirnya Bianca bertanya, tentang apa yang ingin diketahui oleh Dante.
"Itu... emhhh... Kamu tahu tentang cowok yang disukai oleh Madalena?" tanya Dante terbata.
Dia sedikit merasa gugup, saat bertanya pada Bianca. Karena dengan begitu, akhirnya Bianca tahu bagaimana perasaannya pada Madalena.
"Maksudnya, Kamu suka dengan Madalena?"
Dante mengangguk mengiyakan pertanyaan yang diajukan oleh sepupunya itu. Karena memang begitulah kira-kira perasaannya pada Madalena saat ini.
Bukan hanya saat ini saja. Tapi sudah sejak lama, saat mereka berdua masih ada dalam geng nya Alano.
"Kenapa gak jujur saja sih?" tanya Bianca, yang tidak bisa mengerti dengan sikap Dante.
Dia berpikir bahwa, Dante dan Madalena sudah lama berteman dibanding dengan Lorenzo. Lalu, apa yang dikhawatirkan Dante? begitulah kira-kira pertanyaan yang ada di dalam hatinya Bianca.
"Ihsss... Aku pikir, Madalena suka dengan Gavino. Tapi ternyata tidak. Aku juga baru tahu tadi," desis Dante dengan mengelengkan kepalanya.
Sekarang, wajah Bianca yang berubah. Karena perkiraan Dante, juga sama seperti yang dia kira dulu.
__ADS_1
"Kamu yakin, jika Madalena suka dengan Lorenzo. Bukan di Vin?"
Dante mengangguk mengiyakan dengan pasti. Karena dia melihat sendiri, bagaimana wajah Madalena yang begitu cemas. Karena mengkhawatirkan keadaan Lorenzo tadi. Di saat mereka baru saja turun dari wahana kincir angin.