
"Ka_kamu... mem... memang ti_dak bis_sa direm_mehkah Ga_gav_vin," ucap George terbata-bata dengan lemah.
Semua orang terdiam, tanpa mau melakukan apa-apa. Sebab, belum ada instruksi apapun dari Gavino. Sedangkan king Black juga memperhatikan bagaimana kondisi adiknya dengan tatapan datar.
"Apa Paman George mau mengakui, siapa Bos Paman selama ini?" tanya Gavino sekali lagi, tentang Bos yang menjadi dekengan George selama ini.
Tapi George ternyata tidak mau bicara. Dia cukup patuh dengan aturan para mafia, untuk tetap tutup mulut. Seandainya harus tertangkap di tangan musuh-musuh mereka.
Dan king Black, yang sedari tadi merasa heran dengan pertanyaan itu, juga belum bereaksi.
Dia tidak tahu, kenapa Tuan Mudanya, Gavino, punya pemikiran sendiri. Jika George memiliki orang lain dibalik semua yang dilakukan oleh adiknya itu.
Sebab, jika apa yang dikatakan oleh Gavino itu benar, berarti selama ini adiknya memiliki dua tugas. Yang kemungkinan salah satunya berlawanan, alias mengkhianati salah satu dari orang yang diikutinya.
Dan untuk itu, George telah mengkhianati mereka. Yaitu Gavino dan king Black sendiri.
"George. Jika apa yang ditanyakan oleh Gavin adalah benar, katakan, siapa orang itu. Maka Aku akan meminta dan memohon pada Tuan Muda untuk mengampuni mu."
"Hehhh... hehehe..."
Tawa George mengejek king Black, meskipun sangat lemah. Tapi sepertinya dia tidak takut seandainya dia mati sekalipun.
"Apa Kamu tidak mau bicara?" tanya king Black sekali lagi. Memberikan kesempatan kepada George.
Tampaknya, George benar-benar sudah tidak mau bekerja sama dengannya lagi. Terbukti, George kembali tertawa mengejek, dalam menghadapi malaikat mautnya.
"Hehhh... hehehe... ap_pa kali_lian ti_idak bis_sa car_i or_rang it_tu sen_diri? pay_yah se_sekal_li kali_lian."
Mendengar ucapan adiknya, king Black akhirnya tidak peduli dengan keadaan George lagi. Sebab, adiknya itu tidak patut untuk diberikan pengampunan atau dikasihani.
"Sudah Tuan Muda. Habisi saja dia!"
King Black meminta kepada Gavino, untuk menghabisi adiknya sekarang juga.
Dia tidak mau melihat adiknya itu semakin tersiksa, karena belum juga diambil nyawanya oleh malaikat maut.
Sedangkan yang lainnya, yang terbiasa dengan keadaan seperti ini. Hanya bisa menatap datar ke arah George.
__ADS_1
Orang yang dulunya pernah bekerjasama dan dekat dengan mereka, namun tidak pernah diketahui, bahwa ternyata, George adalah adiknya king Black sendiri.
Kelima orang tahanan, pesuruh George, merasakan kengerian. Dengan apa yang mereka lihat saat ini. Sebab sebenarnya, mereka hanya preman jalanan yang dibayar oleh George. Dan juga iming-iming, untuk bisa masuk menjadi keanggotaan sebuah geng besar. Yang belum pernah mereka ketahui.
Dari situasi yang seperti ini, akhirnya Gavino maupun king Black berpikir bahwa, di luar sana, ada kesatuan Mafia lain. Yang tidak pernah mereka sadari dan ketahui, siapa yang memimpinnya.
Dan bisa dipastikan, jika ada beberapa anggota dari mereka, yang masuk ke sana juga. Untuk memberikan informasi atau membocorkan rahasia di kesatuan mereka sendiri. Menjadi pengkhianat, sama seperti George juga.
Hal ini tentu perlu diwaspadai, dan diselidiki lebih lanjut dalam waktu dekat. Sebab ini termasuk bahaya laten. Sebab musuh mereka, adalah anggota mereka sendiri.
Lebih mudah mengalahkan musuh yang tampak di depan mata, daripada musuh yang menjadi teman kita sendiri. Karena mereka termasuk musuh dalam selimut, yang tidak pernah kita ketahui keberadaannya.
Dan seperti itulah George selama ini.
Dia bekerja dengan Gavino, tapi juga bekerja dengan orang lain. Dan pada saat lebih menghasilkan serta menguntungkan yang bekerjasama dengan orang lain, akhirnya dia mengkhianati Gavino.
Bahkan, melakukan segala cara. Untuk bisa menjatuhkan kakaknya sendiri. Yaitu king Black. Orang yang sebenarnya memberikan perlindungan kepadanya, meskipun tidak pernah diketahui.
Tak lama kemudian, George menghembuskan nafas terakhirnya. Setelah beberapa saat lamanya merasakan rasa sakit.
"Aku sudah berusaha untuk membawamu keluar dari apa yang Kamu lakukan. Sayangnya, Kamu tidak pernah menurut dan enggan menuruti apa yang Aku katakan. Kamu justru melakukan apa yang Kamu yakini sebagai kebenaran. Dan inilah yang akhirnya Kamu dapatkan."
King Black mengucapkan kalimat terakhir, di depan jasad adiknya. Sebelum akhirnya, Gavino memberikan instruksi kepada beberapa orang anak banyak. Supaya membereskan jasadnya George.
"Bereskan dia, dan buatkan acara pemakaman yang layak untuknya."
Anak buahnya Gavino, mengangguk patuh. Kemudian segera melakukan apa-apa yang seharusnya mereka lakukan. Tanpa banyak bertanya.
Gavino melihat sekilas kepada King Black. Tapi ternyata, sikap king Black sudah seperti biasanya. Dan tidak tampak kesedihan di raut wajah tersebut.
Mungkin, hal seperti ini sudah terbiasa terjadi dan dia lewati. Sehingga dia bisa menyembunyikan kesedihan dalam hatinya. Tanpa diketahui oleh orang lain.
Tapi Gavino sangat tahu, bagaimana perasaan yang dirasakan oleh king Black sendiri.
Meskipun dia berhati kejam, tapi setidaknya dia tetap punya rasa simpati terhadap adiknya. Yang jelas-jelas sudah membuatnya sangat kecewa.
"Maaf Tuan Besar," ucap Gavino, sambil membungkukkan badannya di depan king Black. Yang saat ini sedang berduka.
__ADS_1
"Tidak masalah Tuan Muda. Hal ini sudah biasa terjadi. Dan kita memang harus tegas, supaya tidak ada lagi kejadian seperti ini ke depannya nanti."
King Black juga sedikit membungkukkan badannya, menerima salam hormat dari Gavino. Yang telah selesai memberikan hukuman kepada adiknya tadi.
Sekarang, mereka berdua akan bersiap-siap pergi ke pemakaman. Untuk menghadiri sesi pemakaman George.
Mereka akan berikan penghormatan terakhir pada George, di pemakaman tersebut.
Sebenarnya, Gavino ingin memberikan kabar ini kepada Robert. Tapi dia juga berpikir bahwa hubungan George dan Robert tidak baik-baik saja diakhir pertemanan mereka.
Bahkan, George tega ingin mencelakai Robert, di saat kekacauan terjadi di kios. Meskipun itu dilakukan oleh orang lain, tapi itu juga atas perintah yang diberikan oleh George sendiri.
Akhirnya Gavino mengurungkan niatnya untuk memberitahukan hal ini kepada Robert.
*****
Di sebuah Mension.
Seorang laki-laki dewasa, tersenyum miring. Melihat bagaimana keadaan George. Yang pada akhirnya tidak berdaya. Kemudian berakhir dengan menghembuskan nafas terakhirnya, di tangan Tuan Mudanya dulu.
"Bodoh kau George! Aku udah memperingatkan dirimu untuk pergi dari rumah itu. Tapi Kamu justru berpikir bahwa, semua itu bisa mengelabui mereka. Kamu lupa, jika mereka adalah orang-orang yang pintar dan cerdik. Tidak sama seperti yang Kamu pikirkan selama ini."
"Sekarang, tamatlah riwayatmu!"
Orang tersebut bergumam seorang diri, sambil menghisap sebatang cerutu, yang tentunya sangat mahal.
Seorang wanita cantik, datang dengan membawa sebotol minuman anggur. Yang tadi sudah dipesan oleh Tuan Besarnya itu. Dan wanita cantik tersebut, juga sudah siap melakukan apapun yang diperintahkan oleh Tuan Besarnya.
"Aku mau pijatan lembut, untuk membuang rasa pusing di kepalaku ini."
Akhirnya, laki-laki dewasa tersebut memberikan perintah kepada wanita cantik tersebut. Sambil mengelus bagian perutnya yang terlihat. Sebab, wanita tersebut menggunakan pakaian yang sangat minim. Sehingga banyak sekali bagian dari anggota tubuhnya yang tidak tertutupi secara sempurna.
Wanita tersebut justru tersenyum sangat manis, seakan-akan menggoda dan meminta pada laki-laki tersebut, untuk melakukan hal yang lebih lagi terhadap dirinya.
Dengan gerakan yang lembut, wanita tersebut mulai memijat kepala Tuan Besarnya itu dari arah depan. Sehingga membuat tangan laki-laki tersebut bebas melakukan apa saja, terhadap bagian-bagian tubuhnya yang lain.
Dan tentu saja hal itu tidak berlangsung lama, karena pada akhirnya Tuan Besarnya itu menuntunnya untuk melakukan permainan yang lebih panas di tempat itu juga, tanpa rasa malu. Seandainya ada orang lain yang melewati tempat tersebut. Sebab, tempat itu adalah sebuah ruangan yang sangat luas, di salah satu bagian Mension yang bisa dilalui oleh siapapun yang melintasinya. Karena mereka berdua saat ini, ada di ruang pantri, yang terletak di sudut ruang tamu Mension.
__ADS_1