Gavino ( Sistem Mafia )

Gavino ( Sistem Mafia )
Kamu


__ADS_3

Di markas besar king Black, kelima orang pengacau yang datang ke kios Gavino, sedang mendapatkan penyiksaan dari anak buahnya king Black.


Tapi, mereka juga punya teknik sendiri. Sehingga di saat mereka melakukan penyiksaan, orang tersebut tidak sampai pindah alam, alias meninggal dunia.


Tapi tentu saja, hal ini lebih menyiksa dan menakutkan para tawanan. Jika dibandingkan dengan hukuman mati, dengan cara langsung menembak mereka yang ditahan.


Sayangnya, seperti itulah hukuman yang ada dalam aturan mereka.


Aturan ini dibuat supaya, mereka tidak lagi mengulanginya. Seandainya saja mereka masih diberikan kesempatan untuk bisa bebas dari hukuman yang seharusnya.


Aturan ini juga bisa menjadi pembelajaran bagi siapa saja yang melihatnya termasuk anak buah king black sendiri. Jika mereka ingin berkhianat.


Plak!


"Aaa..."


Bugh!


"Ampun!"


Cetarrr!


"Awww, ampun! Ampuni kami!"


Suara-suara yang terdengar memilukan, saling sahut-sahutan sedari tadi. Sebab, kelima orang tersebut, mendapatkan perlakuan yang sama. Dalam waktu yang persamaan juga.


Tapi bagi mereka yang melakukan tugas menyiksa, suara-suara tawanan tersebut, justru seperti alunan melodi yang memabukkan dan membuat candu.


Hal yang membuat mereka semakin bersemangat, dengan tugas mereka.


Clek!


Pintu ruangan yang digunakan untuk menyiksa terbuka.


Dari pintu yang baru terbuka itu, muncul Gavino dengan aura dinginnya. Dalam keadaan wajahnya yang tanpa ekspresi.


Hal ini tentu saja, membuat semua anak buahnya menghentikan kegiatan mereka, kemudian menunduk hormat padanya.


"Suruhan siapa kalian?"


Gavino bertanya dengan suara pelan, yang membuat semua orang, termasuk para anak buahnya sendiri yang tentunya ikut mendengarkan, mendongakkan kepalanya heran. Melihat bagaimana sikap Gavino yang melunak dan tidak terlihat marah.


Tapi ternyata, bagi sebagian anak buahnya yang lain, tahu betul. Bagaimana dengan sikap Gavino yang sedang seperti ini.


Kelima pengacau tersebut, tidak bisa dimintai keterangan lebih lanjut. Sebab mereka masih setia untuk menutup mulutnya. Apalagi, kelimanya juga ada yang membawa ponsel.


Jadi, tidak ada panggilan ataupun pesan yang masuk, untuk digunakan sebagai bahan penyidikan.


Tapi bukan para mafia binaan king Black, jika mereka tidak bisa mengetahui semua tentang kelima orang tersebut. Bersama dengan pesuruhnya. Dan itu bukan orang lainnya lagi, tapi adik dari king Black sendiri. Yaitu George.

__ADS_1


Mendengar penjelasan yang diberikan oleh anak buahnya, king Black membelalakkan matanya kaget.


Dia tidak pernah menyangka jika, adiknya bisa senekat itu. Hanya karena ingin menguasai usaha keluarga Gavino. Yaitu kios Giordano dan Mirele, yang juga ada usaha waralabanya.


Hal ini membuat king Black merasa malu pada Gavino, sehingga dia tidak bisa bicara secara langsung pada Tuan Mudanya itu.


"Tuan Muda. Saya... Saya minta maaf pada Tuan Muda. Ini, semua ini adalah ulah dari George." King Black alias Thomas Bryan, yang sesungguhnya sangat menyanyi adiknya itu, merasa sangat kecewa atas sikap dan perlakuan dari seorang George.


Tapi ternyata Gavino sudah menduganya, sehingga dia tidak merasa terkejut. Gavino tenang mendengar penjelasan yang diberikan oleh king Black.


"Saya, Saya menyerahkan George pada Anda Tuan Muda. Ternyata, tahanan yang Saya berikan kepadanya. Tidak membuatnya menjadi lebih baik." Terang Thomas Bryan, dengan menundukkan kepalanya hormat pada Gavino.


Yang diajak untuk bicara, hanya tersenyum tipis. Mendengarkan semua perkataan yang diucapkan oleh Thomas Bryan barusan. Sebab Gavino sendiri, sebenarnya sudah tahu, apa yang dilakukan oleh George di rumahnya sendiri, yang digunakan sebagai rumah tahanan. Supaya dia bisa berubah lebih baik lagi.


Tapi nyatanya, semua itu tidak ada hasilnya.


George justru berpikir bahwa, dia mampu mengalahkan Gavino maupun kakaknya sendiri, yaitu king Black.


Mungkin, George bisa mengelabui kakaknya itu. Dengan rasa sayang yang dimiliki oleh king Black padanya.


Tapi tentunya itu tidak berlaku untuk Gavino. Bocah kemarin sore, yang belum punya pengalaman apa-apa dibandingkan dirinya sendiri. Yang sudah pernah menjabat sebagai ketua mafia di Norwegia.


Sayangnya, George tidak pernah tahu jika, Gavino jauh lebih mengetahui segalanya, dibandingkan dirinya. Termasuk semua kegiatannya selama ini.


Hanya saja, selama ini Gavino hanya diam saja. Dan melakukan apa-apa terhadapnya, karena masih melihat dirinya yang dulu pernah dekat.


Tapi sepertinya tidak untuk sekarang. Gavino akan tegas, karena George sudah mengusik usaha milik papa dan mamanya.


Tapi ternyata, untuk saat ini, king Black sudah angka tangan. Dia memberikan keputusan ini pada Gavino.


"Baiklah. Jemput dia sekarang juga di rumah!"


Akhirnya, Gavino memerintahkan kepada king Black untuk menjemput George, kemudian membawanya ke markas besar.


Sedangkan untuk anak buahnya George yang lima orang ini, akan menunggu hukumannya setelah kedatangan George juga.


Setelah king Black pergi bersama beberapa anak buahnya, Gavino memerintahkan orang-orang yang masih ada di ruangan tersebut, untuk menjaga kelima orang tahanannya.


Dia sendiri akan pergi beristirahat ke lantai atas. Sebab yang menjadi ruangan tahanan ini adalah ruang bawah tanah.


Markas besar ini, adalah sebuah bangunan rumah dengan lantai 3.


Jika dilihat dari luar, sebenarnya rumah ini hanya sebuah rumah biasa, sama seperti yang lain. Yang tidak terlihat seperti sebuah rumah markas para mafia.


Apalagi, para maid dan penjaga rumah, juga tidak menampakkan diri seperti sosok para mafia. Meskipun semuanya adalah laki-laki.


Tidak ada itupun wanita di rumah ini.


Orang luar tidak akan pernah tahu jika, di dalam rumah tersebut, khususnya di ruang bawah tanah, adalah sebuah tahanan yang sangat menakutkan bagi siapa saja yang memasukinya.

__ADS_1


Dan Gavino sendiri, sangat jarang datang ke tempat ini.


Dia hanya akan memberikan instruksi maupun tugas, melalui panggilan telpon atau pesan singkat saja.


Berbeda dengan anak buahnya yang ada di rumah, yang memang asli anak buahnya sedari awal. Gavino memberikan sinyal khusus, sama seperti yang ada dalam mobil, motornya dan kiosnya juga.


Semua sinyal khusus tersebut, adalah sinyal dari sistem yang berpusat di ponselnya. Kemudian dia tempatkan juga pada ponsel masing-masing anak buahnya.


Semua itu demi keamanan dan keselamatan dirinya dan orang-orang yang bekerja dengannya.


Dan George, telah melupakan semua itu. Sehingga dia berbuat sesuatu yang gegabah, atau ceroboh, dengan menyuruh lima orang pengacau yang tidak ada apa-apanya, dibandingkan dengan Gavino sendiri.


Kini, nasibnya ada di ujung tanduk. Sebab dia akan segera menerima hukumannya, dengan keputusan yang diambil oleh Gavino sendiri. Dan bukan lagi kakaknya.


*****


Di rumah George.


Dia sedang menikmati anggur sambil menghisap cerutu. Menikmati segala kemewahan, yang dia terima. Meskipun sebenarnya dia menjadi tahanan dari para mafia. Sayangnya, mafia itu adalah kakaknya sendiri. Yaitu king Black, alias Thomas Bryan.


George tidak tahu, jika saat ini kakaknya itu sedang dalam perjalanan menuju ke rumahnya. Untuk menjemput dirinya, kemudian mengantarkannya ke markas besar.


"Ambilkan Aku anggur lagi di gudang penyimpanan!" George memberikan perintah kepada maid, yang sedari tadi berdiri tak jauh dari tempatnya.


Maid tersebut, melakukan tugasnya untuk melayani George. Apapun yang dia perintahkan.


Brakkk!


Pintu ruangan yang digunakan oleh George untuk bersantai, dibuka secara paksa.


"Hai!


George teriak sambil berdiri dari tempat duduknya, karena terkejut dengan orang yang membuka pintu ruangannya secara paksa.


Ternyata orang tersebut adalah anak buah dari kakaknya sendiri, dan di saat George melangkah untuk memberikan pelajaran kepada orang tersebut, muncul kakaknya dari arah belakang.


"Berhenti George!"


Tentu saja, suara kakaknya yang tegas itu membuat George membuatkan matanya.


Tapi dia tidak merasa takut.


"Ada apa Kamu datang ke sini?" tanya George kesal, dengan kedatangan Thomas Bryan di rumahnya ini


"Apa yang Kamu pikirkan George? Kamu sangat berani."


George mengerutkan keningnya, mendengar perkataan yang diucapkan oleh kakaknya itu, Thomas Bryan.


"Aku? Aku melakukan apa?" tanya George pura-pura tidak tahu.

__ADS_1


"Jangan mengelak George. Semua sudah terbukti!" bentak Thomas Bryan dengan tatapan mata yang tajam ke arah adiknya itu.


Dia sungguh menyesal, sebab kelakuan adik semata wayangnya itu yang tidak bisa dia arahkan. Supaya menjadi lebih baik dan tidak lagi berbuat semaunya.


__ADS_2