Gavino ( Sistem Mafia )

Gavino ( Sistem Mafia )
Sudah Diputuskan


__ADS_3

Tapi ternyata Gress menggelengkan kepalanya. Dia tidak mau tinggal di rumahnya Gavino, karena merasa tidak nyaman dengan keadaan dirinya yang hanya sebagai kekasihnya saja.


"Lebih baik cari flat lain, yang tidak di tempat ini." Gress memberikan usulannya.


"Tapi ini sudah malam Sayang. Kamu mau cari flat di mana? Jadi lebih baik tinggal di rumahku dulu. Jika Kamu memang tidak betah, Kamu boleh mencari tempat tinggal lainnya nanti."


Mendengar perkataan Gavino, Gress tidak bisa menolak lagi. Karena apa yang dikatakan oleh Gavino memang benar adanya.


Akhirnya malam ini, Gress pindah sementara waktu ke rumah Gavino. Tapi hanya barang-barang tertentu saja yang dia bawa. Karena kamar ini masih belum resmi dia tinggalkan.


Setibanya di bawah, Gavino menunggu supir yang belum sampai. Sehingga penjaga flat, yang merupakan orang suruhan yang mengawasi Gress bertanya. "Mau ke mana Tuan? Dan kenapa tadi, motor Tuan yang ada di sana di bawa dia orang?"


Mendengar pertanyaan yang diajukan oleh penjaga, membuat Gavino merasa geram sendiri, karena menganggap bahwa penjaga tersebut tidak teliti dengan adanya tamu dan penghuni flat di sini.


"Kamu tidak tahu? Tadi mereka berdua adalah perampok. Untung saja, kami tidak apa-apa."


"Apa, perampok?" tanya penjaga kaget.


Gavino mengangguk dengan segera.


"Maaf. Aku tidak tahu. Aku pikir mereka adalah suruhan Tuan. Karena kedua orang tersebut yang biasa nongkrong di sana!"


Penjaga tersebut penunjuk ke sebuah toko, yang berada tak jauh dari flat ini.


"Apa Kamu mengenal mereka berdua?"


Sekarang, ganti Gress yang bertanya, sehingga penjaga tersebut mengalihkan perhatiannya pada Gress.


"Nona tidak apa-apa?" tanya penjaga tersebut dengan tatapan penuh penyesalan.


Tapi karena Gress mengelengkan kepalanya, penjaga tersebut menghela nafas lega. Dia merasa takut, karena lalai menjaga keselamatan nona nya ini.


"Maaf. Saya tidak mengenal mereka. Tapi Saya bisa mencari tahu informasi tentang mereka berdua sekarang."


"Tidak perlu!" sahut Gavino cepat.


Baik Gress maupun penjaga tersebut, menoleh dengan cepat ke arah Gavino.


"Orang-orang ku sudah menemukannya. Bahkan sekarang sudah di bawa ke markas juga. Dan... itu, mobil sudah menjemput kami. Jadi, kami permisi dulu."


Penjaga tersebut mengalihkan perhatiannya pada mobil yang baru saja datang.


Dengan segera, Gavino mengajak Gress untuk masuk ke dalam mobil. Karena sebenarnya Gress masih terlihat gemetar ketakutan.


Setelah mobil Gavino pergi, penjaga tersebut menghubungi bos nya. Untuk melapor keadaan nona nya.


..."Halo Tuan Besar. Maaf, ada kejadian yang tidak Saya ketahui tadi."...

__ADS_1


..."Kejadian apa?"...


Penjaga tersebut akhirnya menceritakan tentang kejadian yang terjadi di dalam kamar Gress, di mana tadi ada perampokan di sana.


..."Lalu, bagaimana keadaan nona mu?"...


..."Dia baik-baik saja bersama dengan kekasihnya Tuan. Dan kekasihnya itu bilang jika, dua perampok itu sudah ditangani oleh anak buahnya."...


..."Kekasihnya anakku punya anak buah? Memang dia itu siapa sebenarnya?"...


..."Apa Tuan ingin melihat sosok kekasih Nona sekarang ini?"...


Penjaga tersebut memberikan pertanyaan yang sama, seperti kemarin-kemarin. Karena sedari kemarin, Tuan Besarnya tidak mau melihat wajah dari kekasih Nona nya.


..."Baiklah. Kirimkan fotonya segera!"...


..."Baik Tuan!"...


Klik!


Setelah mematikan panggilan telpon, penjaga tersebut mengirimkan foto dan video tetang Gavino pada Tuan Besarnya.


*****


Di jalan, Gavino masih menenangkan Gress yang belum bisa tenang sedari tadi.


Gress hanya mengangguk saja, di dalam pelukannya Gavino. Dia tidak menyahuti perkataan kekasihnya dengan mengeluarkan suaranya.


Hatinya sendiri masih bingung. Apakah dus bisa hidup dengan tenang di dalam rumah kekasihnya itu nanti. Karena bisa dipastikan, dia tidak bisa melakukan apa-apa untuk kesenangan dan kenyamanannya sendiri.


Selama ini, dia terbiasa mandiri dengan sendiri. Melakukan apa saja tanpa harus sungkan terhadap orang yang ada disekitarnya.


"Kenapa Sayang?" tanya Gavino dengan mengelus rambut Gress yang berada di dalam pelukannya.


"Tidak apa-apa. Aku hanya merasa tidak enak hati, karena harus merepotkan Kamu."


Cup!


Gavino mengecup kening gadisnya itu, supaya tidak berpikir macam-macam lagi.


"Sudahlah. Lebih baik Kamu tidur. Sini!"


Dengan telaten, Gavino merubah posisi duduknya, supaya Gress bisa merebahkan tubuhnya untuk tidur. Dengan pahanya yang dijadikan sebagai bantal.


Gress menurut. Karena sebenarnya dia memang membutuhkan istirahat untuk ketenangan dirinya saat ini.


Drettt drettt drettt!

__ADS_1


Ponsel Gavino bergetar. Ada telpon masuk dari anak buahnya yang dia perintahkan untuk mengejar dua perompak tadi.


..."Halo Tuan Muda."...


..."Ada apa?"...


..."Dua orang itu tidak mau bicara apa-apa Tuan. Mereka hanya bilang, jika semua ini mereka lakukan karena memang itulah pekerjaan mereka selama ini."...


..."Biarkan saja mereka berdua di sana. Tidak perlu Kamu beri minum atau makan. Sesekali lihat saja keadaannya." ...


..."Siap Tuan. Motor Tuan sudah kembali ke rumah utama Tuan." ...


..."Iya. Terima kasih!" ...


Klik!


Sebenarnya, Gavino punya markas sendiri, yang tidak diketahui oleh orang lain. Termasuk Robert maupun George.


Orang-orangnya ini, adalah kelompok geng yang pernah dia kalahkan. Sehingga patuh padanya. Dia juga memberikan mereka tempat dan uang yang bisa digunakan mereka untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Tanpa harus melakukan tindak kejahatan lagi.


Tapi ada juga yang dia tempatkan di rumah, sebagai penjaga keamanan di rumahnya.


Setibanya di rumah.


Gavino tersenyum tipis, melihat bagaimana keadaan Gress yang tertidur pulas di pangkuannya.


Dia tidak ingin membangunkan gadisnya itu, sehingga dia harus membopongnya masuk ke dalam rumah. Agar Gress tidak perlu berjalan sendiri.


"Apa kamarnya sudah disiapkan?" tanya Gavino pada kepala maid, yang datang menyambut kedatangannya.


"Sudah Tuan."


Kepala maid menjawab dengan menganggukkan kepalanya, kemudian pergi ke arah mobil. Karena supir mengeluarkan koper berisi baju dan barang pribadi maupun milik kekasih tuan mudanya itu.


Kepala maid membantu membawakan koper tersebut, untuk di bawa ke kamar yang sudah dia bereskan tadi. Karena sebelumnya, Gavino memang sudah menghubungi dirinya. Agar membersihkan kamar yang akan ditempati oleh Gress.


Sekarang, Gavino meletakkan tubuh Gress dengan hati-hati, supaya tidak terbangun.


Untungnya, Gress hanya menggeliat dan bergumam tidak jelas. Tapi tidak sampai terbangun dari tidurnya.


"Tuan. Ini kopernya," ujar kepala maid memberitahu.


"Iya. Terima kasih."


Kepala maid hanya mengangguk saja, kemudian segera undur diri dari dalam kamar tersebut. Karena dia tidak mau menganggu urusan Tuan Muda nya dengan gadis yang saat ini ada di atas tempat tidur.


"Sepertinya, gadis tersebut benar-benar beruntung. Karena diperlakukan seperti itu oleh tuan muda. Aku belum pernah melihat tuan muda begitu perhatian terhadap seorang gadis. Meskipun sikapnya selama ini juga tidak bisa dikatakan sebagai seseorang yang arogan dan semaunya."

__ADS_1


__ADS_2