
Ingatan Gavino terus pada Gress, sehingga dia tidak bisa tertidur. Dan sekarang, dia meraih ponselnya yang ada di atas meja samping tempat tidur.
Dia menulis pesan untuk Gress.
^^^"Gress, Kamu sudah tidur?"^^^
^^^"Belum. Tapi sudah bersiap-siap untuk tidur. Ada apa Gavin?"^^^
^^^"Tunggu Aku."^^^
^^^"Maksudnya?"^^^
^^^"Aku akan segera datang ke rumahmu."^^^
Selesai menulis pesan tersebut, gavino menyambar jaketnya, kemudian memakainya sambil berjalan.
Tak lupa, Gavino menyambar kunci mobil, yang ada di atas meja, yang terletak di lorong rumahnya. Yang menghubungkan antara ruang tamu dengan ruang tengah.
"Mau ke mana Gavin?" tanya George yang baru saja masuk ke dalam rumah.
Sepertinya George baru saja menelpon seseorang, sambil merokok di halaman depan.
"Keluar sebentar."
Gavino menjawab pertanyaan dari Georgia, tanpa menghentikan langkahnya.
Dengan mengelengkan kepalanya beberapa kali, George pun tersenyum simpul. Karena mengetahui, apa yang sedang dilakukan oleh tuan muda nya itu.
Ternyata kegiatan gavino di luar kampus, tak luput dari pengawasan George. Sayangnya itu hanya di ketahui oleh George sendiri. Demi keselamatan Gavino juga.
Itu dilakukan George bukan tanpa alasan. Dia hanya tidak mau terjadi sesuatu pada Gavino. Yang dia anggap masih belum berpengalaman di dunia mafia.
Umur Gavino masih terlalu muda untuk waspada terhadap segala sesuatu yang bisa terjadi di sekitarnya. Dan anak muda seperti Gavino, biasanya mengedepankan emosi dalam keadaan yang tidak bisa dia kendalikan.
Sebab itulah, apa dan siapa yang dekat dengan Gavino, akan diselidiki oleh George secara detail. Dan tidak diketahui oleh orang tersebut. Dia tidak mau kecolongan lagi, sama seperti kasus Daniel dan Reo dulu.
Teman yang dekat dan di anggap sebagai orang baik, ternyata menikam tanpa diketahui. Untungnya, identitas Daniel dan Reo cepat diketahui oleh Gavino juga. Sehingga dia tidak menjadi korban para mafia muda yang sedang mencari sanjungan dari para mafia senior nya.
Tapi George juga tidak tahu jika, Gavino punya sistem mafia, yang bisa membantu Gavino melakukan sesuatu dengan mudahnya. Untuk beberapa urusan yang termasuk dalam kategori tidak biasa.
Tak butuh waktu lama, Gavino sudah sampai di depan gedung flat. Tempat tinggal Gress.
Ting tong!
Ting tong!
Gavino menelan bel pintu, begitu tiba di depan pintu kamar Gress.
Clek!
__ADS_1
"Gavin..."
"Aku merindukanmu..." potong Gavino, dengan menubruk tubuh Gress dan memeluknya erat.
"Mmm..."
Gress belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Gavin sudah menutup mulut Gress dengan bibirnya.
Mereka berdua langsung berciuman dengan panasnya, setelah pintu kembali ditutup dan dikunci dengan posisi masih berpelukan.
Gavino tidak memberikan kesempatan kepada Gress untuk melepaskan diri dari pelukannya. Bahkan kini sengaja membawa Gress ke sofa panjang, yang memang cuma ada satu di kamar tersebut.
Dia segera menindih tubuh Gress dan melakukan pergerakan yang tidak bisa dilawan oleh Gress sendiri. Karena sebenarnya Gress juga menginginkannya.
"Ga... Gavin..."
Akhirnya Gavino melepaskan bibirnya, memberikan kesempatan kepada Gress untuk bernafas dengan bebas terlebih dahulu.
"Huhfff... hosh..."
"Kamu tidak apa-apa? Huhfff..."
Gavino bertanya dengan nafas memburu, melihat keadaan Gress yang juga sama seperti dirinya. Tidak bisa bernafas dengan normal sama seperti biasanya.
"Hehhh... hehehe... Kamu kenapa Gavin, tadi kan ada di rumah. Kenapa tiba-tiba datang ke sini?" tanya Gress di sela-sela kesibukannya bernafas.
Dia juga terkejut dan jadi geli sendiri, membayangkan bagaimana keadaan yang baru saja selesai mereka berdua lakukan.
Pertanyaan yang diajukan oleh Gress, tidak dijawab oleh Gavino. Tapi bibirnya kembali menyapu bibir Gress secara singkat. "Aku merindukanmu," ucap Gavino, kemudian mengecup bibir Gress lagi.
Kegiatan mereka berdua kembali panas. Dan sekarang, mereka berpindah ke tempat tidur, yang ada tak jauh dari sofa tersebut. Karena itu lebih memudahkan pergerakan mereka, meskipun tempat tidurnya hanya berukuran kecil saja.
Hampir dua jam kegiatan mereka baru selesai, dengan keadaan diri mereka yang sama-sama berpeluh.
Nafas mereka masih memburu, selepas kegiatan mereka. Kini keduanya berhimpitan dalam keadaan berbaring di tempat tidur kecil, yang sebenarnya hanya muat diisi satu orang saja.
"Aku boleh menginap di sini?" tanya Gavino, sambil merapikan beberapa anak rambut yang menutupi pipi Gress.
Dia memiringkan tubuhnya, supaya bisa melihat bagaimana wajah Gress, selepas kegiatan mereka tadi.
"Jika Kamu merasa nyaman tidur berhimpitan seperti ini, tak apa." Gress berkata, dengan menatap wajah Gavino yang begitu dekat dengan wajahnya juga.
Cup!
"Aku pasti sangat nyaman bisa memelukmu sepanjang malam," sahut Gavino setelah mengecup bibir Gress dengan cepat.
"Hemmm... Aku tak yakin, jika Kamu akan berdiam diri dengan tidur sepanjang malam ini." Gress justru menantang Gavino secara tidak langsung.
"Hai! Kamu menantang ku?"
__ADS_1
"Tidak. Aku hanya mengatakan apa yang akan terjadi. Hahaha..."
"Hiihhh... hihhh..."
Gress tertawa terbahak-bahak, karena digelitiki Gavino. Yang dengan gemasnya terus menggelitiki Gress, dengan sesekali menciumi bibir dan pucuk kepalanya.
Dari kegiatan mereka yang hanya sekedar menggelitik, akhirnya kembali lagi terulang kegiatan yang sama seperti tadi.
Kegiatan yang menguras tenaga, tapi juga menyenangkan bagi keduanya.
*****
Pagi hari, Gavino terbangun dari tidurnya. Di saat merasakan tangan seseorang yang memencet hidungnya.
"Hai!"
Dia menepis tangan tersebut dan menangkapnya. Dia hampir saja memelintir tangan tersebut, sebelum akhirnya dia ingat, jika saat ini dia berada di dalam kamarnya Gress. Karena dia sendiri yang semalam datang untuk menemui gadisnya itu.
"Hemmm... Gress, Kamu mengusik tidurku. Apa Kamu mau Aku memakanmu pagi ini?"
"Hehehe... Bangun Gavin. Kamu gak pulang?" tanya Gress yang sudah bangun sedari tadi. Tapi belum beranjak dari tempatnya berada.
Dia masih merasa nyaman, dengan memeluk tubuh Gavino yang kekar dan mampu membuat dirinya lupa diri.
"Kamu berani mengusirku?" tantang Gavino memegangi tangan Gress yang kembali memencet hidungnya.
"Tidak." Gress menjawab dengan mengelengkan kepalanya cepat.
"Tapi Kamu harus bertanggung jawab atas segala perbuatan mu ini." Gavino membawa tangan Gress, yang dia pegang. Ke bagian tubuhnya, yang ikut bangun di pagi hari.
"Awww!" pekik Gress kaget, di saat sesuatu yang tegak diminta Gavino untuk dia pegang.
"Gavin..."
"Salah sendiri Kamu bangunkan tadi."
"Aku tidak membangunkan itu!"
"Sama saja. Dan sekarang Kamu harus bertanggung jawab!"
Setelah berdebat mengenai sesuatu yang tidak berguna, akhirnya tubuh Gress langsung dia balikkan sehingga ada pada posisi di bawah tubuhnya.
Dia mengurung tubuh Gress sehingga tidak bisa pergi ke mana-mana. Dengan demikian, dia bisa bebas menghukum Gress. Sesuai dengan apa yang dia inginkan pagi ini.
Akhirnya, kegiatan panas mereka di pagi hari, juga menghabiskan waktu dan tenaga. Sama seperti sedang melakukan olah raga.
"Huhhh... Huhhh..."
"Huhfff... hhh..."
__ADS_1
Nafas mereka berdua sama-sama memburu, mengakhiri permainan di pagi hari.