Gavino ( Sistem Mafia )

Gavino ( Sistem Mafia )
Kabar Duka


__ADS_3

Hari berlalu, kasus meninggalnya mahasiswa yang ada di perpustakaan kampus akhirnya terungkap juga.


Dan pelaku, telah ditahan oleh polisi, untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya terhadap korban yang menjadi target balas dendam. Hanya karena cintanya yang tidak diterima lagi oleh korban.


Kadang kala, perasaan hati yang tidak bisa dipaksakan, justru membuat seseorang yang tidak menerima keputusan tersebut, akhirnya melakukan segala cara untuk kepuasan amarah yang sedang menguasai hati.


Itulah keegoisan cinta, yang katanya deritanya tiada akhir.


Tapi, untuk sebagian orang yang mengagungkan cinta. Itulah yang dianggap sebagai sebuah perjuangan.


Meskipun perjuangan tersebut akhirnya menghilangkan nyawa orang yang dicintai. Dan penyesalan akhirnya datang belakangan.


*****


Gress mendapat kabar bahwa, salah satu orang tua asuhnya yang ada di amerika meninggal dunia.


Dia merasa sangat sedih, karena tidak bisa pulang ke sana. Untuk memberikan penghormatan terakhir, sebelum orang tua asuhnya itu dimakamkan.


Melihat gadisnya yang tampak bersedih hati, Gavino yang tidak diberitahu oleh Gress tentang berita duka tersebut, akhirnya bertanya. "Sayang, Kamu kenapa?"


"Hiks... Mama. Mama meninggal dunia, hiks..." Gress akhirnya menceritakan tentang berita duka tersebut, yang baru saja dia dengar dari saudara asuhnya di sana.


"Maksudnya yang ada di Amerika sana?" tanya Gavino memperjelas pernyataan Gress.


Gress hanya mengangguk saja, masih dengan keadaan menangis. Dia tidak bisa mengatakan banyak kata-kata, karena dadanya terasa sesak.


"Apa kamu ingin pulang ke sana?" tanya Gavino, yang sebenarnya mengetahui keinginan gadisnya itu.


"Tapi bagaimana..."


"Kita berangkat sekarang."


Gress membelalakkan matanya, karena tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Gavino. Yang mengajaknya untuk segera pergi ke Amerika.


"Cepat bereskan apa yang ingin Kamu bawa. Aku akan mengurus segala sesuatunya segera."


Setelah memberikan instruksi kepada Gress, Gavino segera menghubungi king Black. Agar segera menyiapkan pesawat jet pribadi, yang akan digunakan untuk terbang ke Amerika.


Tanpa banyak bertanya lagi, Gress segera masuk ke dalam kamarnya. Melakukan prepare untuk keberangkatannya ke rumah duka, yang ada di Amerika. Negara asal Gress dibesarkan.


Dia percaya bahwa, Gavino tidak mungkin mempermainkan perasaannya. Apalagi dalam situasi duka seperti ini.


Tut... tut... tut...


..."Ya Tuan Muda. Ada yang bisa Saya bantu untuk Tuan Muda?"...


..."Aku butuh pesawat sekarang. Aku mau pergi ke Amerika bersama dengan Gress."...

__ADS_1


..."Ada apa dengan dia Tuan Muda?"...


..."Mama asuhnya di sana meninggal dunia. Apa Tuan Besar belum mendapat berita duka ini dari sana?"...


..."Benarkah? Belum ada kabar ini dari sana. Mungkin mereka..."...


..."Apa Kamu ingin ikut Tuan Besar?"...


..."Aku menyusul kemudian saja. Tuan Muda berangkatlah, dan hati-hati."...


..."Baiklah. Tidak masalah Tuan Besar. Aku bisa mengerti."...


..."Terima kasih. Dua jam lagi, pesawat siap."...


..."Ya. Aku akan segera ke bandara."...


Klik!


Setelah memberikan kabar pada Thomas Bryan, Gavino meminta pada supir untuk bersiap untuk mengantar dirinya dan Gress ke bandara sekarang juga.


Kepala maid yang belum tahu, kaget saat diberitahu tentang kepergian Gavino dan Gress yang mendadak ini.


Tapi, Gavino memberitahu bahwa, Robert tidak ikut bersama dengan mereka ke Amerika. Jadi, Gavino akan memberikan kabar pada Robert yang sudah terkejut pergi ke kios.


Kepala maid akhirnya mengangguk lega. Karena dia berpikir bahwa, semua akan ikut pergi ke Amerika.


"Baik Tuan Muda."


Setelah Gress siap, Gavino yang tidak perlu berganti pakaian langsung mengajaknya berangkat. Karena supir juga sudah siap dengan mobil di depan rumah.


Sedangkan untuk urusan kampus, Gavino menghubungi pihak kampus saat di perjalanan nanti.


Jadi, tadi sebenarnya tadi Gavino dan Gress seharusnya siap pergi ke kampus. Tapi karena kabar duka itulah, akhirnya mereka memutuskan untuk pergi ke Amerika saja.


"Tenang ya. Kita akan tiba di Amerika secepatnya." Gavino berusaha untuk menenangkan hati Gress, yang masih merasa cemas.


Akhirnya Gavino menarik tubuh gadisnya itu, untuk dia peluk, supaya lebih tenang.


Dan apa yang dilakukan oleh Gavino ini, ternyata cukup manjur. Karena tak lama kemudian, Gress merasa lebih nyaman dalam pelukan kekasihnya itu.


*****


"Dante. Bantu Aku bertemu dengan Gavino," rengek Bianca, yang pada akhirnya bisa melarikan diri dari kekasihnya, Alano.


Dia baru saja datang, tapi tidak langsung pulang ke rumahnya sendiri. Bahkan dia juga tidak memberitahu kepada mamanya, jika dia pulang ke Roma.


Bianca justru hubungi Dante, dan meminta kepada sepupunya itu untuk merahasiakan kepulangannya pada pihak keluarga.

__ADS_1


"Kenapa Bianca? ada apa?"


Dante yang juga tidak mengetahui permasalahan sepupunya itu, bingung dengan keputusan yang diambil oleh Bianca kali ini.


Apalagi, kepulangannya ini juga harus dirahasiakan dari pihak keluarga.


Dante jadi curiga, jika ada masalah yang sangat serius yang sedang ditutupi oleh Bianca dari keluarganya sendiri.


Akhirnya dengan terbata-bata, Bianca menceritakan tentang kehidupannya di Paris. Dan juga hubungannya dengan Alano yang dia rahasiakan juga.


"Jadi, saat Gavino mencari informasi tentang nomor handphone dan juga email punyamu, Kamu sudah berhubungan dengan Alano?" tanya Dante terkejut.


Dia tidak pernah menyangka jika, sepupunya itu sudah menjalin hubungan yang tidak sehat dengan Alano selama ini.


"Aku terpaksa. Tapi..."


"Tapi hubungan Kamu dengan Alano itu tidak sehat Bi! Apa Kamu tidak sadar itu?"


Bianca justru menangis setelah mendengar pernyataan Dante, karena dia juga menyadari bahwa apa yang tadi dikatakan oleh Dante memang ada benarnya juga.


"Aku... Aku memang bodoh Dante. Tapi, Aku juga sadar jika, sebenarnya Alano itu sangat mencintaiku. Tapi caranya yang takut kehilangan diriku itu, yang membuatnya jadi seperti itu."


Bianca justru membela Alano, dari apa yang dia rasakan selama menjadi kekasihnya Alano.


Tapi karena dia juga lama-lama merasa tidak tahan lagi dengan perlakuan Alano, akhirnya Bianca kabur tanpa sepengetahuan kekasihnya, yang sedang ada tugas keluar kota bersama dengan anak buahnya.


Sayangnya, Bianca tidak tahu jika, ada pengawal yang ditugaskan untuk menjaganya, yang sudah memberikan laporan pada Alano tentang kaburnya Bianca.


Dan benar saja, tak lama setelah Bianca selesai bicara dengan Dante, Alano menelponnya.


Tring... trig...


Bianca terbelalak, melihat ke layar handphone miliknya. Karena ada nama kekasihnya di sana. Meminta padanya agar segera menerima panggilan telpon tersebut.


"Siapa?" tanya Dante, yang melihat Bianca ragu untuk menerima panggilan tersebut.


"Alano," jawab Bianca pendek.


Dante meminta pada Bianca untuk mengabaikan panggilan tersebut, karena hanya membuang-buang waktu saja.


Tapi Bianca juga merasa takut jika, Alano akan berbuat nekat. Jika dia tidak mau menerima panggilan telpon darinya


"Bi. Kamu itu pengen lepas dari Alano kan?"


Bianca mengangguk mengiyakan pertanyaan yang diajukan oleh sepupunya.


"Ya sudah kalau begitu. Biarkan saja!"

__ADS_1


__ADS_2