
Ketiganya bagun tidur kesiangan, karena saat ini sudah pukul 09.00 pagi.
"Hahhh! Bagaimana bisa Aku kesiangan seperti ini?" tanya Gress, yang lebih cocok ditujukan untuk dirinya sendiri.
Gress akhirnya bergegas pergi ke kamar mandi, membiarkan Gavino dan Bianca yang masih menggeliatkan tubuhnya. Untuk meregangkan otot-otot terlebih dahulu.
"Aku ke kamarku dulu ya, Kamu mandilah setelah Gress selesai."
Bianca menganggukkan kepalanya, mengiyakan perkataan yang diucapkan oleh Gavino padanya.
Akhirnya Gavino beranjak dari tempat tidur, kemudian berjalan menuju ke arah pintu. Dia ke luar dari kamar tersebut, menuju ke kamarnya sendiri.
Clek!
Setibanya di kamar, Gavino cukup terkejut dengan sistem, yang tiba-tiba aktif dengan sendirinya. Tanpa dia aktifkan terlebih dahulu, sama seperti keadaan semalam juga.
( Ting )
( Selamat pagi Good Father )
'Pagi. Ada apa? Aku baru saja mau mandi.'
( Ting )
( Misi tantangan semalam sukses )
'Lalu?'
( Hadiah sudah dikirimkan )
( Good Father bisa cek )
'Emhhh, baiklah. Aku ingin tahu, sekarang brangkas ku ada berapa, setelah misi untuk tantangan semalam selesai.'
( Ting )
( Tampilkan brangkas sistem sementara ini )
# Tampilan on
# Hadiah utama 765. 000 poin
# Hadiah bonus 977.000 poin
# Kemampuan 90%
# Keahlian Khusus \= Mempengaruhi pikiran
# Sisa umur \= 2.540 hari
# Kecepatan sesuai dengan permintaan
( Ting )
__ADS_1
( Menerima misi tantangan akan menambah )
# Hadiah utama \= 0 poin
# Hadiah bonus \= 1.500 poin
# Keahlian Khusus \= Menaklukkan hati
# Tambahan usia \= 30 hari
( Ting )
( Tampilan brangkas untuk yang terakhir ini )
# Tampilan on
# Hadiah utama 765. 000 poin
# Hadiah bonus 978.500 poin
# Kemampuan 90%
# Keahlian Khusus \= Mempengaruhi pikiran, menaklukkan hati
# Sisa umur \= 2.570 hari
# Kecepatan sesuai dengan permintaan
( Ting )
'Wah, bagus sekali. Sering-seringlah memberiku misi tantangan yang enak seperti yang semalam ya! hehehe...'
( Ting )
Gavino terkekeh sendiri, mengingat misi tantangan yang semalam bisa dilewatinya dengan baik. Karena menurutnya, itu adalah satu hal yang mudah untuk diselesaikan.
Sekarang dia pergi ke kamar mandi, untuk membersihkan diri dengan hati yang riang. Karena sudah terpuaskan semalaman, bersama dengan dua gadisnya sekaligus.
Hal semacam itu sebenarnya tidak pernah terpikirkan oleh Gavino secara pribadi. Tapi karena misi tantangan semalam, akhirnya dia punya ide untuk bisa bermain dengan dua gadisnya itu sekaligus, kapan-kapan. Untuk waktu kedepannya nanti. Supaya mereka juga lebih akrab satu sama lain. Dan juga bisa belajar bagaimana cara memuaskan dirinya.
Tepat pukul 10.00 pagi, mereka bertiga berkumpul di ruang makan, yang sebelumnya sudah disediakan oleh koki rumah. Karena Gavino sudah memberitahu asisten rumah tangga, supaya memasak untuk mereka bertiga. Sebab untuk Robert sendiri, makannya masih berbeda dengan makanan mereka. Jadi ada menu khusus untuk Robert.
Sekarang mereka sarapan pagi terlebih dahulu, sebelum nanti diantar oleh Gavino.
"Kamu pulang ke rumah Dante atau ke rumah Kamu sendiri?" tanya Gress, yang masih belum tahu jika, Bianca belum pulang ke rumahnya. Tapi masih berada di rumahnya Dante.
"Aku masih ada di rumah sepupuku, Dante. Tapi, dalam waktu dekat ini aku akan pulang. Atau setidaknya, Aku akan menyewa sebuah apartemen sendiri."
Mendengar jawaban yang diberikan oleh Bianca, tidak hanya Gress yang merasa terkejut dengan rencana tersebut. Tapi Gavino juga langsung melihat ke arah Bianca, dengan tatapan mata tidak percaya. Sebab, gadisnya itu tidak pernah membicarakan hal ini padanya.
"Kamu mau pindah ke apartemen?" tanya Gavino, ingin memastikan jawaban yang diberikan oleh bianca itu adalah benar. Dan bukan hanya kesalahan telinganya yang tadi mendengarnya.
Bianca mengangguk cepat, karena memang seperti itulah rencana yang ingin dia lakukan beberapa waktu ke depan nanti.
__ADS_1
"Tapi kenapa?" tanya Gress, yang juga ingin tahu. Kenapa gadisnya Gavino yang satu itu, suka membuat rencana sendiri. Yang tidak pernah membicarakannya dengan orang lain terlebih dahulu, termasuk dengan Gavino sendiri.
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin bisa sedikit dengan bebas, tanpa harus didekte oleh dante atau siapapun."
Mendengar jawaban tersebut, Gavino mengerutkan keningnya. Memikirkan apa yang sebenarnya dirasakan oleh kekasihnya itu. Karena selama ini, dia tidak pernah merasa jika, dia melarang atau membatasi ruang gerak dari seorang Bianca.
"Jangan melihatku seperti itu Vin. Ini bukan tentangmu, ataupun tentang siapapun. Tapi lebih pada diriku sendiri, yang merasa sendiri. Aku juga sudah terlalu lama tinggal di rumahnya Dante. Jadi tidak ada salahnya kan, jika Aku pindah dari rumah tersebut. Aku juga sudah merepotkan Dante selama ini. Jadi... apa tidak membaiknya, jika Aku mencari tempat tinggal sendiri?"
Mendengar alasan yang diberikan oleh Bianca, akhirnya Gavino dan juga Gress, sama-sama mengangguk mengiyakan.
"Jika Kamu butuh bantuan, atau sesuatu, Kamu bisa menghubungi ku Bi!" Gavino memberikan penawaran, supaya Bianca tidak usah sungkan padannya.
"Iya Bi. Aku juga bisa bantu Kamu," sahut Gress tidak mau kalah.
Bianca tampak tersenyum manis, melihat dan merasakan bagaimana kedua orang yang bersamanya sedari semalam ini, begitu baik padanya.
Apalagi selama ini, Gavino juga menanggung biaya hidupnya. Dengan sebuah kartu kredit yang sudah diberikan Gavino padanya.
"Terima kasih Vin, Gress. Kalian berdua sudah bisa menerima Aku, dan juga begitu baiknya kalian berdua denganku."
Bianca mengambil telapak tangan Gavino dan Gress, kemudian diletakkan di atas telapak tangannya sendiri. Kemudian tangan yang satunya lagi, menepuk-nepuk tangan mereka berdua.
Pluk pluk pluk!
"Terima kasih untuk kebaikan kalian." Ucap Bianca, pada kedua orang yang ada di depan dan sampingnya pagi ini.
"Ayo sudah. Kita selesaikan sarapan kita dulu!" ajak Gavino pada kedua gadisnya itu.
*****
"Ingat Cardi! Ajak Dante juga, karena rencana ini akan segera berhasil, jika ada dia." Verdi memperingatkan kepada Cardi, supaya merayu Dante. Agar ikut bersama dengan rencana yang sudah mereka susun kali ini.
"Tapi... Aku, Aku tidak bisa memaksanya juga. Seandainya dia tidak mau."
Alasan yang di buat oleh Cardi, membuat Verdi melihatnya dengan menyipit.
"Maksudnya apa? Apa kamu tidak bisa merayu dia?" tanya Verdi sekali lagi, mengenai tentang alasan yang diberikan oleh Cardi padanya.
"Kamu harus tahu Verdi. Orang seperti Dante itu, meskipun dia tidak menghalangi rencana kita, tapi dia juga tidak mau ikut terlibat, karena bagaimanapun juga, dia memperhatikan kondisi sepupunya. Yang saat ini, juga sedang dekat dengan Gavino."
"Maksudnya, Bianca itu jadi gadisnya Gavino sekarang ini?" tanya Verdi, memperjelas penjelasan yang diberikan oleh cardi padanya.
Dengan cepat, Cardi menganggukkan kepalanya. Mengiyakan pertanyaan tersebut. Karena itulah yang dia ketahui beberapa waktu yang lalu, mengenai keadaan Gavino. Yang sebenarnya sudah membuat dua gadis yang selalu takluk dengan kemauannya.
"Apa Dante tidak masalah, jika sepupunya itu menjalin hubungan dengan Gavino. Yang sebenarnya juga sudah punya gadis lainnya?"
Cardi kembali menganggukkan kepalanya, mengiyakan pertanyaan yang diajukan oleh Verdi barusan.
"Hah! yang benar?"
Verdi tidak percaya dengan apa yang dia dengar dan lihat, atas jawaban yang diberikan oleh Cardi padanya.
"Jika demikian, rencananya bisa kita lakukan dengan lebih baik lagi. Aku akan membuat satu topeng lagi, untuk satu wajah gadis lagi. Yang sedang dekat dengan Gavino juga.
__ADS_1
Verdi seakan-akan menemukan sebuah rencana yang lebih spektakuler lagi, daripada rencananya yang kemarin.
Dia ingin menambahkan rencana yang lainnya lagi, untuk menyempurnakan rencananya itu. Yang sudah diberitahukan kepada Cardi sebelumnya hari ini.