
Ternyata di ruangan ICU kosong. Bahkan brangkar pasien tempat Giordano dirawat, sudah ditempati oleh pasien yang lain.
"Ke mana papa?"
Gavino akhirnya mengajak kedua petugas yang menjaganya, untuk mencari perawat atau dokter. Untuk bertanya tentang keadaan papanya.
"Papa Anda tidak bisa di tolong. Begitu juga dengan mama Anda."
"Apa? Bagaimana bisa itu terjadi pada papa dan mama?" tanya Gavino dengan berteriak keras.
Dia tidak terima dengan kabar kematian kedua orang tuanya. Di saat dia sedang tidak ada di dekat mereka semalam. Karena dia sedang melakukan sesuatu di luar sana.
Akhirnya dokter menceritakan tentang kejadian semalam. Di mana mereka semua sudah berusaha semaksimal mungkin, untuk bisa menyelamatkan pasien Giordano dan Mirele.
Namun sayangnya, kedua tetap tidak bisa ditolong. Setelah dilakukan berbagai macam cara, untuk bisa mempertahankan keselamatan pasien.
"Anda ke mana semalam? kami sudah berusaha untuk menghubungi Anda, tapi tidak ada jawaban sama sekali. Bahkan pada saat kami baru saja masuk ke dalam ruangan operasi, perawat masih berusaha untuk mencari keberadaan Anda. Tapi tetap saja nihil."
Gavino terdiam. Dia merasa bersalah atas semua kejadian ini. Pada papa dan juga mamanya.
Tapi dia juga tidak mungkin menceritakan tentang kejadian yang harus dia hadapi semalam. Bahkan pada akhirnya dia juga harus ikut di rawat di rumah sakit ini.
Setelah berusaha untuk menenangkan hati dan pikirannya, Gavino pergi ke kamar jenazah. Di antar oleh kedua petugas yang diperintahkan langsung sama sang Kapten.
"Kalian pergilah. Aku akan masuk ke dalam sendiri." pinta Gavino pada keduanya.
Wajahnya datar. Tidak ada air mata yang mengalir, dalam keadaan seperti ini. Bahkan, suara Gavino juga terdengar biasa saja. Tidak tampak seperti sedang menahan kesedihan.
Kedua petugas tersebut mengangguk mengiyakan permintaan Gavino. Mereka berdua, berdiri di depan pintu masuk kamar jenazah. Menunggu Gavino yang ingin melihat kedua orang tuanya untuk terakhir kalinya.
Clek!
Gavino masuk ke dalam sendirian. Dia mengunakan tombol kontrol untuk kursi rodanya, sehingga bisa jalan sendiri. Meskipun tidak ada yang membantunya untuk mendorong kursi roda tersebut.
Setelah Gavino masuk ke dalam kamar jenazah, kedua petugas yang menjaganya bicara tentang kejadian ini.
"Apa kita perlu memberikan laporan pada Kapten?" tanya salah satu dari mereka berdua.
"Harusnya iya. Supaya Kapten tahu jika, papa dan mamanya Gavino sudah tiada. Dan ada di rumah sakit ini juga."
"Baiklah. Ayo kita menelpon Kapten."
__ADS_1
Tak lama kemudian, sambungan telpon mereka diangkat oleh sang Kapten. Yang saat ini sedang dalam perjalanan menuju ke arah rumah sakit ini.
..."Apa kapten tahu, jika kedua orang tuanya Gavino di rawat di rumah sakit ini juga?"...
..."Iya Aku tahu. Itulah sebabnya, Aku membawanya ke sana. Agar dia bisa melihat keadaan papa dan mamanya juga."...
..."Tapi semalam kedua sudah tiada."...
..."Apa maksudmu?"...
Sang Kapten tidak tahu maksud dari perkataan anak buahnya. Dia berpikir jika kedua orang tuanya Gavino sudah pulang atau dipindahkan ke rumah sakit yang lain.
..."Mereka sudah meninggal Kapten."...
..."Mereka berdua meninggal? Kenapa bisa seperti itu?"...
Sang Kapten lupa, jika sebelum Gavino pergi, kedua orang tuanya sempat diserang dengan cairan infus dari dua orang yang tidak dikenal.
..."Apa karena racun itu?"...
Akhirnya sang Kapten bertanya pada anak buahnya, untuk penyebab kematian Giordano dan Mirele semalam.
Sang Kapten akhirnya meminta pada kedua anak buahnya itu, untuk tetap memantau kondisi Gavino. Dia takut jika terjadi sesuatu pada anak muda yang sudah sering membantunya selama ini.
..."Siap Kapten!"...
Klik!
Mobil sang Kapten pun akhirnya berjalan lagi, setelah tadi sempat berhenti, di saat menerima laporan dari anak buahnya.
Meskipun dia mengunakan headset bluetooth di telinga, tapi dia tidak mau konsentrasi terpecah. Sehingga membuat dirinya mengalami sesuatu hal yang tidak pernah diinginkan. Seperti kecelakaan, yang sering kali terjadi karena pengemudi sedang melakukan pembicaraan lewat telpon.
Setelah beberapa saat kemudian, mobil sang Kapten memasuki tempat parkir rumah sakit besar di kota Roma.
Dengan langkah lebar, dia menuju ke pintu lift. Menekan angka 3, di mana kamar jenazah berada.
Tap tap tap!
Langkah kaki sang Kapten terdengar konstan, begitu keluar dari dalam lift.
"Di mana dia?" tanya sang Kapten, begitu berada di depan pintu kamar jenazah. Dan bertemu dengan kedua anak buahnya.
__ADS_1
"Dia ada di dalam Kapten. Dia tidak mau di temani." Lapor anak buahnya bersamaan.
Sang Kapten melongok ke dalam, melalui pintu kaca yang bisa melihat bagaimana keadaan di dalam ruangan kamar jenazah tersebut.
Dia melihat Gavino yang masih dalam keadaan duduk di kursi roda nya, di antara jenazah papa dan mamanya.
Clek!
Sang Kapten masuk ke dalam. Dia membuka topi yang dia kenakan, untuk menghormati jenasah Giordano dan Mirele.
"Aku dan semua jajaran tim yang ada di bawah naungaku, ikut berbelasungkawa atas kepergian tuan Giordano dan nyonya Mirele."
Gavino hanya diam saja. Dia tidak menoleh ataupun mengucapkan terima kasih atas ucapan yang diberikan oleh sang Kapten. Padahal dia tidak sedang dalam keadaan menangis.
"Maaf Gavin. Tadi, dini hari Aku harus membereskan semua kekacauan di tempat kejadian. Dan mobilmu yang ada di jalan. Semua orang yang terlibat, juga sudah ada di dalam tahanan. Pihak Kami sedang memburu Verdi. Dan kami mengucapkan terima kasih, atas semua yang sudah Kamu lakukan. Sehingga mesin pencetak uang palsu tersebut tidak jatuh ke tangan yang salah."
Perkataan sang Kapten mirip seseorang yang sedang melakukan laporan pada atasannya.
Tapi sang Kapten tidak peduli. Dia sudah menganggap Gavino, anak muda belia yang belum lama dia kenal ini, sebagai rekan kerja yang patut dihormati.
Ada aura yang tidak biasa, terpancar dari sosok Gavino ini.
Setelah saling diam. Gavino mendongak menatap ke arah sang Kapten. Dia pun mengucapkan terima kasih, atas semua yang sudah dilakukan oleh sang Kapten untuknya.
"Boleh Saya meminta sesuatu pada Kapten?" tanya Gavino, setelah selesai mengucapkan terima kasih.
"Katakan!"
"Saya ingin acara pemakaman kedua orang tua Saya dilakukan secara diam-diam dan tersembunyi. Agar tidak diketahui oleh siapapun."
Sang Kapten menyipitkan matanya, mendengar permintaan dari Gavino.
"Kenapa?" tanya sang Kapten ingin mendengar alasannya.
"Saya tidak mau, jika pihak orang-orang yang menganggap Saya, musuh merasa senang. Karena mereka berhasil menyingkirkan papa dan mama."
Sang Kapten mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar penjelasan yang diberikan oleh Gavino.
"Tapi, bagaimana dengan akta kematian mereka? Apa tidak perlu dibuatkan juga?" sang Kapten kembali bertanya untuk kejelasannya ke depan nanti.
"Biar itu diurus oleh pihak rumah sakit bersama pengacara Saya. Yang penting, pemakaman kedua orang tua Saya ini tidak ada yang mengetahuinya."
__ADS_1