
Malam telah berganti dengan pagi, dan Gavino baru saja pulang ke rumah.
Dia juga langsung masuk ke dalam kamarnya, tanpa mencari Gress terlebih dahulu. Padahal sedari kemarin, gadisnya itu mencari keberadaan dirinya.
Gavino langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, sebab dia sudah sangat lelah.
Tapi tak lama kemudian, pintu kamarnya justru di ketuk-ketuk oleh seseorang dari luar. Yang meminta ijin supaya bisa masuk ke dalam kamar, atau setidaknya bisa bertemu dengannya sekarang juga.
Tok tok tok!
Tok tok tok!
Gavino yang sudah sangat kelelahan, tidak menghiraukan suara ketukan pintu tersebut. Dia justru menutup kedua telinganya dengan selimut tebal, supaya tidak bisa mendengar suara ketukan lagi.
Tapi ternyata, orang tersebut masih saja berusaha untuk mengetuk pintu kamarnya.
Tok tok tok!
Tok tok tok!
"Hahhh, sialll! Siapa sih yang datang dan berani menggangguku?" gerutu Gavino, yang terpaksa bangun dari tidurnya, kemudian berjalan ke arah pintu kamar.
Pintu kamarnya sendiri, tidak akan ada yang bisa masuk atau keluar. Seandainya tidak bersama dengan Gavino. Sebab, kunci kamarnya menggunakan sidik jarinya sendiri.
Sedangkan orang lain, termasuk para maid, di larang masuk. Karena Gavino akan membersihkan kamarnya sendiri, tanpa bantuan orang lain.
Clek!
Orang yang mengetuk pintu kamar tersebut, langsung memeluk tubuh Gavino. setelah pintu kamar terbuka, yang membuat Gavino tersenyum setelahnya.
"Maaf Sayang. Aku tidak sempat memberikan kabar padamu. Aku sangat sibuk kemarin."
Gavino membalas pelukan hangat Gress, dengan memberikannya kecupan-kecupan di bibir gadisnya itu.
"Aku sangat mengkhawatirkan dirimu Gavin. Apa Kamu tidak kenapa-kenapa?" tanya Gress, setelah ciuman bibir mereka terlepas.
Cup!
"Aku tidak apa-apa. Terima kasih sudah mengkhawatirkan diriku."
Akhirnya Gavino membopong tubuh gadisnya itu, untuk masuk ke dalam kamarnya Gress sendiri. Yang berada di sebelah kamarnya.
Dia tidak mau bercinta di dalam kamarnya sendiri. Karena keadaan kamarnya saat ini, tidak nyaman untuk digunakan dalam kegiatan mereka berdua.
"Apa Kamu tidak merindukanku?" tanya Gress dalam gendongan Gavino. Yang sedang membopongnya.
Cup!
"Tentu saja Aku sangat merindukanmu Sayang. Apa Kamu tidak ada kelas pagi ini?"
Gress menggelengkan kepalanya beberapa kali, menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Gavino. Sebab, pagi ini dia memang tidak ada kelas untuk jadwal kuliahnya.
"Tapi ada dua kelas untuk kuis siang nanti. Sekitar pukul setengah tiga siang."
"Baiklah. Aku akan melakukannya dengan baik, dan tidak akan membuatmu lelah sepanjang hari ini."
__ADS_1
Gress tersenyum senang, sambil mencubit pucuk hidung Gavino, dengan gemasnya.
Clek!
Gavino membuka pintu kamar Gress, dan menendangnya dengan satu kaki. Untuk menutupnya kembali.
Dia merebahkan tubuh gadisnya itu di atas tempat tidur, kemudian mengurungnya dengan tubuhnya sendiri. Supaya Gress tidak bisa pergi ke mana-mana.
Dan akhirnya, mereka berdua melakukan olahraga pagi yang sangat menyenangkan. Hingga keduanya sama-sama lelah dan terbaring bersisian, merasakan kenikmatan yang baru saja mereka berdua nikmati.
*****
Di rumah Dante.
Bianca yang tidak mendapatkan kabar dari Gavino sejak kemarin, juga merasa cemas.
Dia bolak balik melihat ke layar ponselnya, untuk melihat notifikasi pesan atau panggilan dari pemuda, yang saat ini sedang dekat dengannya lagi.
"Kamu ke mana Vin? Kenapa menghilang dan tidak ada kabar?"
"Apakah Aku harus menghubungi Kamu terlebih dahulu? Padahal Kamu sudah berpesan, agar Aku tidak menghubungimu terlebih dahulu. Jadi, apa yang harus Aku lakukan sekarang?"
Bianca sedang gelisah, menunggu kabar dan juga kedatangan Gavino.
Tok tok tok!
"Bianca, Bi!"
Dari luar kamar, Dante mengetuk pintu kamar dengan memanggil namanya.
Clek!
Bianca membuka pintu kamar untuk Dante.
"Ayo sarapan dulu Bi. Kamu harus menjaga kesehatanmu supaya tetap sehat. Aku tidak mau, jika Kamu kenapa-kenapa di rumahku ini!" terang Dante, sambil mengerucutkan bibirnya gemas.
Tapi Bianca tahu jika, sepupunya itu hanya ingin membuatnya tersenyum atau tertawa. Sebab Dante mengetahui kegelisahan hatinya saat ini.
"Apa Kamu tidak tahu kabar Gavino sedari kemarin?" tanya Bianca, di saat mereka berdua berjalan ke arah meja makan.
"Bi. Gavino itu punya kesibukan yang sangat banyak di luar sana, selain kesibukan kuliahnya. Jadi, Aku juga tidak tahu, dia sedang sibuk apa sedari kemarin."
Mendengar jawaban yang diberikan oleh Dante, Bianca jadi menunduk sedih.
Dia paham, jika hanya dirinya yang tidak punya kesibukan di kota ini. Tapi dia juga belum berani keluar dari rumah ini, karena dia takut. Seandainya Alano atau anak buah dari kekasihnya itu menemukan keberadaan dirinya.
Bianca lupa, jika Gavino sudah menyatakan bahwa, Alano sudah dibereskan.
Hingga pada akhirnya, Bianca menepuk keningnya sendiri. Di saat teringat dengan ucapan Gavino kemarin-kemarin.
Pluk!
"Kamu kenapa Bi?" tanya Dante heran, saat melihat tingkah sepupunya yang bersikap sangat aneh.
"Tidak. Aku tidak apa-apa. Sebaiknya pagi ini Aku pulang ke rumahku sendiri. Apa Kamu mau mengantarku pulang?" tanya Bianca, yang juga melupakan pesan dari Gavino.
__ADS_1
"Pulang? Lalu, bagaimana caranya Kamu memberikan alasan pada mamamu?"
Dante bertanya demikian, karena dia ingin mendapatkan kejelasan, tentang alasan yang akan diberikan oleh Bianca pada mamanya nanti. Sebab, tantenya itu juga pastinya akan bertanya kepada-nya. Mengenai kepulangan anaknya dari Paris, yang terkesan mendadak.
"Apa Kamu lupa? Jika di luar sana, bukan hanya pihak Alano yang sedang mencarimu. Tapi ada pihak-pihak dari musuh Gavino sendiri, yang sudah mengincar mu. Karena mereka tahu bahwa, Kamu sedang dekat dengan Gavino. Yang menurut mereka sangat berbahaya, untuk kegiatan mereka."
Meskipun sebenarnya Bianca tidak paham dengan apa yang dikatakan dan dijelaskan oleh Dante, tapi dia menganggukkan kepalanya paham. Jika kadang kala seorang laki-laki, tidak harus menjelaskan secara detail, apa kegiatan mereka di luar sana.
"Jadi, Aku harus tetap berada di sini, hingga batas waktu yang tidak bisa ditentukan ya?"
Dante mengangguk cepat, menjawab pertanyaan yang diajukan oleh sepupunya itu. Sebab, dia memang tidak tahu, apa dan bagaimana keadaan di luar sana, yang telah digambarkan Gavino sangat berbahaya untuk Bianca sendiri.
Bianca menghela nafas panjang, berusaha untuk tetap bisa bersabar. Hingga keadaan membaik.
Semua ini juga terjadi karena dirinya. Jadi, dia tidak boleh mengeluh dan menuntut lebih pada Gavino. Yang sudah banyak pembantu dirinya selama beberapa waktu terakhir ini.
"Kamu tetaplah baik-baik di rumah ini. Gavino pasti sudah memikirkan banyak hal, demi keselamatan dan keamanan dirimu Bi."
Bianca kembali menganggukkan kepalanya, mendengar penjelasan yang diberikan oleh Dante.
"Tapi Dante, Aku ingin jika Kamu bertemu dengannya, tolong sampaikan pada Gavino, supaya dia bisa menghubungiku secepatnya."
Dante hanya menganggukkan kepalanya, mengiyakan permintaan sepupunya itu.
Dia tidak mau banyak memberikan pengertian lagi, karena itu akan membuat Bianca banyak mengajukan pertanyaan juga.
*****
Di rumah Gavino.
Gress sudah selesai bersiap-siap, untuk berangkat ke kampus.
Tapi Gavino masih tertidur pulas di kamarnya.
Cup!
"Sayang. Aku mau berangkat ke kampus. Apa Kamu tidak mau ikut ke kampus?" tanya Gress, yang berusaha untuk membangunkan kekasihnya itu.
"Emhhh... Aku masih ingin tidur saja."
Gavino menjawab pertanyaan tersebut dengan masih memejamkan matanya. Dan setelah selesai menjawab pertanyaan dari Gress, Gavino justru menarik selimutnya lagi untuk melanjutkan acara tidurnya.
Gress hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepalanya beberapa kali, melihat bagaimana cara kekasihnya itu untuk menghilangkan rasa lelahnya.
Apalagi tadi, mereka sudah berolahraga pagi selama tiga ronde.
Jadi bisa dipastikan bahwa, Gavino benar-benar merasa sangat lelah. Setelah seharian kemarin beraktivitas di luar sana, kemudian ditambah lagi dengan aktivitasnya pagi tadi bersama dengan Gress.
"Baiklah kalau begitu. Aku pergi dulu ya!"
Cup!
Gress memberikan kecupan singkat di bibir Gavino, saat dia pamit untuk pergi ke kampus siang ini.
Dia berharap, agar Gavino masih tetap berada di rumah. Di saat dia pulang dari kampusnya nanti malam.
__ADS_1
Ada beberapa hal yang ingin dia sampaikan kepada kekasihnya itu, yang harus secepatnya dibicarakan. Agar bisa menemukan penyelesaian yang baik.