Gavino ( Sistem Mafia )

Gavino ( Sistem Mafia )
Perkelahian


__ADS_3

Sebulan kemudian, Gavino sudah masuk kampus. Sedangkan untuk George dan yang lainnya, di minta untuk mengelola kios dan usaha waralaba mendiang Giordano dan Mirele.


Di kampusnya ini, Gavino sendirian. Tidak ada temannya yang dulu.


Madalena akhirnya menyusul kakaknya, untuk kuliah ke luar negeri.


Begitu juga Bianca, yang pergi ke Perancis untuk kuliah di sana. Karena hobby nya yang berkaitan dengan mode.


Dante dan Jeffrie, masih bersama. Mereka berdua, ada di satu kampus yang sama. Di kota Roma ini juga. Tapi beda dengan kampusnya Gavino.


Sedangkan Cardi, kuliah ke luar kota. Di mana dulunya kota itu adalah kota tempat tinggal papanya dulu. Dan dia di kota tersebut ikut bersama dengan pamannya.


Lorenzo sendiri, akhirnya mendaftar ke militer. Dia mengikuti wajib militer.


"Hemmm..."


Gavino membuang nafas panjang, mengingat semua teman-temannya yang sekarang ini tidak lagi bersama dengannya.


"Hai! Itu yang sedang berdiri di dekat tiang basket!"


Seorang senior, memanggil Gavino yang sedang tidak berkonsentrasi. Akibat ingat dengan teman-temannya tadi.


"Studente stupido!"


"Ck! Dasar mahasiswa bodoh!"


"Sini Kamu!"


Tapi Gavino acuh. Dia tidak mendengar panggilan dan permintaan dari orang yang sedang berdiri di depan sana.


Di depan barisan para mahasiswa dan mahasiswi baru.


Pluk!


"Hai! Kau..."


Gavino terkejut, di saat ada seseorang yang menepuk pundaknya dengan keras.


"Kamu di suruh ke depan!" bisik orang yang tadi menepuk pundaknya. Dengan intonasi yang ditekan.


Gavino akhirnya tidak melanjutkan kalimatnya, di saat melihat wajah dengan tatapan mata yang tajam. Mengintimidasi dirinya. Padahal sama-sama mahasiswa baru juga, seperti dirinya.


Akhirnya Gavino hanya bisa membuang muka. Dia kesal, tapi dia juga tidak bisa melakukan apa-apa. Karena inga jika, hari ini adalah masa perkenalan kampus. Sedangkan tadi, dia justru melamun sendiri. Dan tidak memperhatikan senior-senior yang sedang berbicara di depan barisan.


"Hai, ke sini!"


Gavino menoleh. Kembali melihat ke depan.


Dan jari tangan dari senior yang ada di depan sana, menunjuk ke arah dirinya. Meminta Gavino supaya maju ke depan.


Kaki Gavino melangkah dengan pasti ke arah depan. Tapi sebelum dia tiba di depan, sebuah kaki menghadang, dan fatalnya, Gavino tidak melihat keberadaan kaki tersebut. Sehingga dia pun jatuh tersungkur ke lantai lapangan basket ini.

__ADS_1


Brukkk!


"Hahahaha... ada an.jing yang sedang atraksi!"


"Weihhh, keren juga jurusnya. Tepat mencium lantai yang lembut!"


"Hahahaha... adegan yang romantis!"


"Gak ada yang lebih hot lagi kah?"


Suara-suara sumbang dari mulut para senior, baik cowok maupun cewek. Terdengar sangat merdu di telinga Gavino. Sehingga dia pun mengepalkan tangannya tanpa ada orang yang tahu.


Dengan tenang, Gavino bergerak untuk bangkit. Dia melihat sekeliling, menandai orang-orang yang tertawa senang. Karena melihat keadaan dirinya yang seperti ini.


Dati barisan para mahasiswa dan mahasiswi baru, ada yang terlihat miris. Bersimpati dan kerasa kasihan dengan nasib sialnya Gavino.


Tapi ada juga yang ikut cengengesan, dan bahkan, ada yang ikut tertawa terpingkal-pingkal.


Mentertawakan dirinya yang sial karena ulah sebuah kaki.


Entah kakinya siapa tadi. Gavino tidak begitu memperhatikan orangnya.


"Bagaimana? Enak?"


Tanpa Gavino sadari, sudah ada seorang senior yang berdiri di depannya. Dengan menepuk-nepuk baju Gavino bagian depan.


Seakan-akan ikut membantu Gavino untuk membersihkan baju tersebut. Padahal tidak ada kotoran yang tampak pada bajunya. Dan itu hanyalah akal-akalan yang dibuat, agar dia bisa memukuli dada atau perut Gavino.


Dia paham dengan maksud tingkah seniornya ini. Karena mereka semua, sebenarnya ingin mem-bully dirinya. Di depan semua orang.


Termasuk teman-temannya, sesama mahasiswa dan mahasiswi baru.


Mereka, para senior itu, tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa. Karena mereka hanya melihat Gavino yang tampak seperti mahasiswa biasa, yang tidak punya kemampuan apa-apa.


Namun, sedetik kemudian.


Krakkk!


"Arghhhh!"


Pergelangan tangan senior yang tadi menepuk-nepuk baju Gavino, patah. Karena dipelintir oleh Gavino.


"Hai-hai!"


"Ehhh..."


"Hai, apa yang terjadi?"


Kegaduhan terjadi siang itu. Karena salah satu senior yang cidera akibat kesalahannya sendiri. Yang menganggu salah satu mahasiswa baru.


*****

__ADS_1


Ruangan senat tampak senyap.


Dua orang duduk saling berhadapan, terpisah dengan meja yang ada di depan mereka.


"Saya, atas nama para senior. Meminta maaf atas perlakuan yang tidak baik. Yang tadi Anda terima."


Gavino diam, mendengar perkataan orang yang ada di depannya saat ini.


Orang tersebut adalah ketua senat mahasiswa yang ada di kampus.


"Saya tahu, Anda tidak bersalah. Ada rekaman video untuk dokumentasi, atas semua kejadian tadi. Tapi Saya harap, ini tidak baik ke rektor."


Ketua senat meminta kerjasama, supaya Gavino diam dan tidak melanjutkan kasus pembullyan yang tadi dia terima ke para dosen. Atau ada kelanjutannya di luar kampus.


Mungkin, ketua senat ini melihat kepribadian Gavino yang tampak misterius.


Di luar, fisik dan penampilan Gavino biasa saja. Sama seperti mahasiswa baru pada umumnya.


Tapi ternyata, mahasiswa baru ini tidak bisa diremehkan begitu saja. Apalagi di saat ketua senat mencari tahu tentang indentitas Gavino di luar sana.


Dia akhirnya tahu, jika Gavino bukanlah seorang mahasiswa biasa. Karena masuk melalui jalur prestasi yang tidak diragukan lagi oleh semua orang.


Tapi yang membuat ketua senat ini sedikit bingung adalah, keluarga Gavino yang sudah tidak ada semua.


"Bagaimana Gavino. Apa Anda bisa berjanji, jika tidak akan menjadikan ini sebagai kasus di luar sana?"


Yang di maksud oleh ketua senat adalah, Gavino diminta untuk tidak balas dendam, dengan berurusan di luar area kampus.


"Saya bukan pengecut atau pecundang seperti anak buah Anda."


Ketua senat tersenyum miris, mendengar jawaban yang diberikan oleh Gavino.


Dia tahu, jika mahasiswa baru yang ada di depannya ini ingin mengatakan bahwa, para senior yang tadi mem-bully dirinya, adalah orang-orang yang suka menekan mental mahasiswa baru. Dengan adanya kegiatan mereka tadi.


"Maaf. Tapi seharusnya Anda juga mengunakan kekerasan fisik terhadap senior," kata orang tersebut dengan sedikit kesal.


"Mengunakan kekerasan fisik?" Gavino balik bertanya dengan cepat.


Dia tidak mau lagi diintimidasi seperti tadi, saat berada di lapangan basket.


"Apa menjegal langkah seseorang sampai terjatuh tidak termasuk kekerasan fisik?"


"Apa memukul-mukul dada dan perut, dengan dalih membantu membersihkan baju juga bukan kekerasan fisik?"


"Apa itu cara yang tepat untuk menegur seseorang?"


"Tolong beri Saya contoh yang baik, yang bukan perlakuan dengan kekerasan fisik. Yang tadi Saya terima."


Mendengar perkataan Gavino yang panjang lebar, ketua senat terdiam.


Dia memang tidak ikut ada di lapangan basket tadi. Tapi dia melihat semua dokumen video, yang telah terjadi di sana. Yang mengakibatkan sebuah perkelahian tidak seimbang. Antara kelompok senior dengan mahasiswa baru.

__ADS_1


__ADS_2