
Di sebuah ruangan, mirip gudang, seseorang baru saja sadar dari pingsannya. Tapi dia tidak bisa bergerak sedikitpun. Seperti sedang menjadi sebuah patung.
Tatapan matanya nyalang, begitu melihat keberadaan Gavino di depannya.
Gavino memang ada di depannya. Duduk sambil menaikkan satu kakinya, ke kakinya yang satunya lagi.
Tidak hanya ada Gavino saja, karena ada George dan Robert juga. Yang berdiri di belakang punggung Gavino. Berdiri seperti seorang bodyguard.
Meskipun demikian, orang di depannya yang sedang duduk terikat kaki dan tangannya itu tidak bisa bicara.
Syaraf tubuhnya seperti mati. Tidak bisa digunakan untuk membuka mulut sehingga orang tersebut bisa bicara.
Sedangkan Gavino, masih duduk dengan tenang. Sambil bermain-main dengan handphone milik orang yang menjadi patung didepannya itu.
"Kamu bisa Aku lepaskan. Tapi tidak dengan handphone ini."
"Atau... Kamu mau bekerjasama denganku?" tawar Gavino pada orang tersebut.
Tatapan mata orang tersebut tajam, seakan-akan menolak tawaran yang diberikan oleh Gavino barusan. Dia tidak mau ada di bawah kendali Gavino.
"Oh, Kamu tidak mau bekerjasama denganku? padahal ini jauh lebih menguntungkan bagi dirimu sendiri. Tapi jika Kamu menolaknya, selain Kamu tidak bisa lepas dari para kawanmu itu, masa depanmu juga hancur dengan sendiri. Jadi... pilihan juga ada di tanganmu sendiri."
"Oh iya, Aku lupa! Kamu kan gak bisa jawab. Hehehe... sorry ya!"
Gavino berdiri dari tempat duduknya, kemudian berjalan menuju ke depan. Di mana orang yang tadi mengikutinya sedang duduk dalam keadaan terikat.
Teg teg teg!
Teg teg teg!
Dengan gerakan cepat, Gavino membuka totok yang tadi dia buat pada orang tersebut.
Keahlian ini di dapat Gavino dari sistem mafia yang dia miliki. Dan itu adalah keahlian khusus, untuk menaklukkan lawan.
"Cihhh! Apa yang Kamu inginkan?" Orang itu langsung memaki, dengan meludahi mukanya Gavino yang sedang baru saja membuka totokan_nya.
George dan Robert yang siap hampir saja memukul orang tersebut, tapi tangan Gavino sudah mencegahnya dengan mengangkat tangannya sendiri.
"Aku tidak perlu mengemis padamu, jika ingin membuka kedok Kalian. Dari handphone milikmu ini saja, Aku bisa membawanya di jalur hukum. Dan yang pasti Kamu tidak akan bisa lari dari kejaran polisi."
__ADS_1
"Siapa Kamu sebenarnya?"
Orang tersebut bertanya dengan menyipitkan matanya, melihat ke arah Gavino dan kedua pengawal pribadinya.
Selama ini, sosok George dan Robert tidak pernah terlihat ada di sekitar Gavino. Sebab keduanya memang ada pekerjaan yang harus mereka kerjakan setiap harinya.
"Aku?" Gavino balik bertanya, dengan menunjuk ke arah dadanya sendiri.
"Aku adalah target kelompok kalian. Karena ternyata, Daniel dan Reo sudah menjadi bagian kalian kan? Mereka berdua hanya kalian jadikan umpan untuk memancingku."
Mendengar jawaban dan penjelasan yang diberikan oleh Gavino, orang tersebut terbelalak kaget.
Dia tidak pernah menyangka jika, Gavino bisa mengetahui semua ini. Padahal yang mereka lihat, Gavino sangat dekat dan peduli dengan kedua temannya itu.
"Dari mana Kamu tahu? Apa mereka mengaku sendiri?" tanya orang itu lagi, dengan rasa penasaran yang tinggi.
Kepala Gavino mengeleng beberapa kali, mendengar pertanyaan yang diajukan oleh orang tersebut. Karena memang bukan Daniel dan Reo yang mengaku, tapi Gavino sendiri yang mengetahuinya.
"Kamu mau tahu, dari mana Aku tahu jika Daniel dan Reo adalah dia orang suruhan dari anggota Kalian semua?"
Orang tersebut diam. Tapi Gavino yakin, jika orang tersebut pastinya ingin tahu jawaban yang bisa memberikan penjelasan, bagaimana rahasia mereka bisa diketahui oleh Gavino sendiri.
*****
Tapi mereka mendatangi kantor keamanan kampus lagi, guna meminta copyan rekaman, yang diberikan oleh Gavino pada petugas tersebut.
Bukan hanya mereka berdua, tapi ada satu orang lagi. Yang merupakan ketua geng di kampus tersebut.
Ternyata kampus sebesar ini, ada sekelompok mahasiswa yang dikoordinir oleh geng tertentu. Untuk mengedarkan obat-obatan terlarang di area kampus.
Target mereka tentu saja para mahasiswa dan mahasiswi yang bisa mereka pengaruhi, dengan iming-iming uang, kebebasan dan kepuasan dalam segala hal.
Daniel dan Reo, termasuk dua mahasiswa baru yang sudah mereka pengaruhi.
Sedangkan Gavino, adalah target yang harus mereka singkirkan. Karena selalu menganggu aktivitas kelompok mereka kedepannya nanti.
Itulah sebabnya, ketua senat yang kebetulan dikirimi copyan rekaman tersebut, juga dibunuh oleh kelompok mereka.
Sebenarnya ketua senat mahasiswa, mendapatkan rekaman tersebut dari Gavino sendiri. Bukan dari petugas keamanan kampus, yang sudah mendapatkan laporan.
__ADS_1
Gavino meminta pada ketua senat mahasiswa, untuk menyelidiki kelompok-kelompok mereka. Yang sebenarnya diketuai oleh teman dekat ketua senat sendiri.
Itulah sebabnya, setelah Julian Aldrin mendengar dengan seksama suara rekaman tersebut, dia mengenali dengan pasti. Siapa orang yang mereka sebut-sebut sebagai Bos.
Sayangnya, tanggapan dari temannya itu membuatnya kehilangan nyawa.
Dan dari handphone serta laptop milik Julian Aldrin itulah, mereka akhirnya tahu jika, Gavino bukanlah mahasiswa biasa yang bisa mereka remehkan begitu saja.
*****
"Jadi, sejak kapan Kamu tahu? jika Daniel dan Reo adalah anggota kami juga."
Orang tersebut bertanya, setelah Gavino selesai menceritakan tentang kejadian yang dia ketahui. Tanpa diketahui oleh orang lain.
"Tidak perlu tahu. Yang jelas, sekarang Kamu tinggal pilih. Mau bekerja sama denganku, atau menjadi tahanan di gudang ini!"
Di belakang Gavino, George dan Robert menatap orang tersebut dengan tatapan tajam. Apalagi George, yang sudah terbiasa menanggani situasi seperti ini. Tentu yang mendapatkan tatapannya juga menciut takut.
Tentu saja tatapannya itu bukan sekedar tajam. Tapi juga mengintimidasi lawan.
Hal ini membuat orang tersebut menciut. Tapi dia juga tidak bisa cepat membuat suatu keputusan. Karena nyawanya sama-sama terancam dari dua sisi.
Satu sisi, jika dia memilih untuk tetap setia pada kelompoknya, dia akan terlibat dalam urusan hukum dan juga terancam di depak dari statusnya sebagai seorang mahasiswa di kampusnya saat ini.
Dan lagi, tadi kata Gavino dia juga akan dijadikan tahanan di ruangan pengap dan tidak ada sirkulasi udara. Lama-lama, dia juga bisa mati dengan sendirinya.
Tapi jika dia menerima tawaran dari Gavino, dia juga merasa takut jika, ada salah satu dari temannya mengetahuinya. Sehingga keselamatan dirinya juga tidak bisa dijamin.
"Aku tidak akan memaksa. Tapi Aku tidak akan melepaskan dirimu."
Setelah berkata demikian, Gavino melangkah pergi. Dia ingin keluar. Karena malam sudah sangat larut.
"Matikan semua lampu, dan biarkan dia sendiri!" perintah Gavino pada George dan Robert. Yang masih setia dibelakangnya.
"Siap!"
George dan Robert menjawab bersamaan. Dengan anggukan kepala juga.
Dan di saat mereka bertiga hampir sampai di pintu keluar, orang tersebut tiba-tiba memangil nama Gavino.
__ADS_1
"Tunggu Gavino!"