Gavino ( Sistem Mafia )

Gavino ( Sistem Mafia )
Ruangan Atap Rumah


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan jauh, selama dua hari tiga malam, karena dalam keadaan santai, dengan adanya cuaca yang tidak tentu. Gavino dan yang lainnya, kini memasuki jalan besar menuju ke perumahan tempat tinggal Gavino.


"Ini jalan ke rumahmu?"


George tidak percaya dengan apa yang dia lihat di depan matanya sekarang ini.


Perumahan elit di kawasan kota Roma, yang tidak bisa di miliki oleh sebarang orang. Karena harga dari satu unit rumah yang tentu terbilang fantastis.


Meskipun kawasan perumahan ini bukanlah satu-satunya perumahan elit di kota Roma. Tapi tetap saja, George tidak bisa percaya begitu saja dengan apa yang dia lihat ini.


Tapi Gavino tidak menjawab. Dia hanya diam sambil menghubungi seseorang di luar sana.


..."Persiapan semuanya. Yang datang bersamaku ada enam orang."...


..."Baik Tuan muda. Sesuai dengan arahan Tuan muda sebelumnya."...


..."Bagus. Kamu sudah ada di jalan komplek perumahan."...


Klik!


George mendengar perkataan Gavino yang mirip dengan sebuah perintah. Dan gaya Gavino ini membuatnya semakin kagum pada anak muda keturunan king Goldblack.


Dua mobil yang ada di belakang Gavino, juga kasak kusuk membicarakan tentang apa yang mereka lihat sekarang.


"Apa ini benar? Anak muda itu benar-benar keturunan king Goldblack yang kaya raya?"


"Tapi kata kakakku, king Goldblack sudah tidak memiliki apa-apa lagi setelah melepas gelarnya sebagai raja mafia."


"Apa ini warisan orang tuanya anak muda itu?"


"Bisa jadi. Tapi rumah yang ada di Monte Isola itu sangat kecil dan tidak mencerminkan kekayaan mereka di sini."


"Oh, mungkin di Monte Isola hanya untuk mengelabui orang-orang di sana."


Mereka semua justru memiliki pemikiran lain, tentang kehidupan Gavino bersama orang tuanya. Karena tidak ada yang tahu jika, Gavino kini hidup seorang diri. Setelah kematian papa dan mamanya.


Tak butuh waktu lama, mobil Gavino membelok dan masuk ke dalam halaman rumah yang sama luasnya dengan rumah-rumah di kiri kanannya.


"Lihat, itu rumahnya!"


Orang yang duduk disebelah Robert, berteriak memberitahu pada temannya. Di saat mobil Gavino masuk ke dalam rumah.


Dan sekarang, tiga buah mobil berjejer parkir di depan rumah Gavino.


Tapi tentunya sang penjaga rumah tahu, mana mobil yang ditumpangi oleh Tuan mudanya.

__ADS_1


Penjaga rumah membuka pintu mobil untuk Gavino. Dia juga menundukkan kepalanya, hormat pada Tuan mudanya yang sudah sepuluh hari meninggalkan rumah ini.


"Selamat datang kembali Tuan muda," ucap penjaga tersebut, di saat Gavino sudah berdiri di depannya.


"Terima kasih."


"Apa semuanya aman?" tanya Gavino, dengan mengedarkan pandangannya ke sekeliling.


"Aman Tuan muda."


Setelah mendengar jawaban tersebut, Gavino mengerakkan tangannya, dan penjaga rumah mundur beberapa langkah. Untuk memberikan akses jalan untuk Gavino.


George dan yang lainnya, melihat dengan jelas. Bagaimana cara dan sikap Gavino yang tidak pernah mereka sangka sebelumnya.


Sekarang, mereka semua mengikuti langkah Gavino. Yang melangkah masuk ke dalam rumah.


Di luar pintu masuk utama, kepala maid sudah berdiri. Di ikuti oleh beberapa maid yang bekerja di rumah ini.


"Selamat datang Tuan Muda Gavino."


Kepala maid mengucapkan selamat datang, dengan menundukkan kepalanya hormat. Dan apa yang dilakukan oleh kelapa maid tersebut, diikuti oleh semua maid yang berbaris di dua sisi menuju pintu masuk.


Gavino pun mengangguk menerima ucapan kepala maid, kemudian melanjutkan langkahnya menuju ke dalam rumah.


George dan yang lainnya, masih setia berjalan dibelakang Gavino. Di susul kemudian kepala maid dan baru semua maid ikut masuk.


"Semua sudah siap Tuan muda."


"Oh, apa kamar untuk mereka semua juga sudah siap?" tanya Gavino, memastikan bahwa tamu-tamunya ini akan mendapatkan perlakuan dan pelayanan yang baik di rumahnya.


"Semua sudah siap Tuan muda."


Gavino mengangguk puas, mendengar jawaban yang diberikan oleh kepala maid.


"Kalian makan dulu, atau beristirahat?" tanya Gavino pada George dan yang lainnya.


Sekarang, George menoleh ke arah Robert. Meminta pendapat teman barunya itu.


"Baiklah. Sepertinya lebih baik kita makan dulu. Baru beristirahat."


Gavino akhirnya memberikan keputusannya terlebih dahulu, sebelum mereka memberikan jawaban atas pertanyaannya tadi.


"Hahhh..."


"Hemmm..."

__ADS_1


"Hum..."


Terdengar suara helaan nafas dari beberapa orang. Sepertinya, apa yang diputuskan oleh Gavino membuat mereka merasa lega. Karena sebenarnya, mereka sudah merasa lapar. Sebab sekarang ini memang sudah lewat untuk sarapan pagi.


Jarum jam, sudah menunjuk pada angka sepuluh lebih lima belas menit.


*****


Malam ini, semua kembali berkumpul bersama di meja makan. Untuk menikmati makan malam, setelah beristirahat seharian.


"Apa rencana untuk kedepannya nanti Gavin?" tanya George, yang sudah mengetahui nama Gavino saat mereka memutuskan untuk kembali ke kota Roma.


"Aku?" tanya Gavino balik, dengan menunjuk ke arah dirinya sendiri.


"Ck! Iya Kamu, siapa lagi?"


George berdecak kesal, karena merasa jika Gavino sedang menguji kesabarannya.


"Hum... bukannya yang punya misi untuk membalas dendam pada king Black adalah kalian berdua?" tanya Gavino lagi, pura-pura tidak paham.


"Ah, Kalian berdua terlalu berbelit-belit."


Sekarang gantian Robert kesal sendiri, karena melihat tingkah kedua orang yang menjadi teman barunya itu.


Sedang empat orang yang memang temannya sedari awal, hanya tersenyum tipis. Melihat dan mendengar pembicaraan mereka bertiga yang tidak pernah bisa akur. Banyak hal yang diperdebatkan tanpa kejelasan. Meskipun pada akhirnya, mereka tetap Baik-baik saja.


"Makan saja dulu. Tidak usah nek bicara soal apapun pada saat makan."


Mendengar perkataan terakhir yang diucapkan oleh Gavino, membuat George dan Robert terdiam, dan tidak lagi mengeluarkan suara.


Dan sekarang, mereka semua menikmati makan malam bersama. Dengan menu yang sudah disediakan oleh para maid di rumah ini.


Setelah hampir lima belas menit lamanya, semua orang sudah selesai dengan makanannya masing-masing.


"Ayo kita ke atas."


Gavino mengajak mereka semua tidak pergi ke atap bangunan. Di mana mereka semua bisa melihat keadaan kota pada malam hari. Meskipun tidak bisa menjangkau dalam jarak yang cukup jauh. Karena rumah Gavino hanya berlantai tiga saja.


"Tapi di luar sedang turun salju. Meskipun tidak lebat, tapi tetap saja udaranya sangat dingin." Robert merasa khawatir dengan keadaan dirinya dan juga yang lain.


"Ikut saja bodoh!"


"Kamu tidak tahu, jika rumah secanggih ini pasti ada perapian, atau setidaknya alat pemanas ruangan. Dan di atap bangunan rumah, bukanlah atap genteng biasa."


Ternyata analisa yang dikatakan oleh George ada benarnya.

__ADS_1


Dia yang terbiasa menjadi mafia, bahkan pernah menjadi pemimpin mafia di Norwegia, pasti paham betul. Bagaimana keadaan dan tata letak sebuah rumah di kota Eropa. Khusus untuk kota Roma.


Dan di sinilah akhirnya mereka berkumpul. Di sebuah ruangan kaca, yang ada di atap rumah Gavino. Dan yang paling penting, ruangan ini sangat cocok untuk mereka berdiskusi tentang rencana mereka ke depan nanti.


__ADS_2