
Setengah jam kemudian.
Bianca masuk ke dalam kamar mandi, untuk membersihkan diri. Sedangkan Alano kembali memakai kemeja dan juga celananya.
Setelah bianca keluar dari kamar mandi, Alano pamit untuk pulang.
"Aku mau pulang Bi. Kamu tidak apa-apa kan Sayang?" tanya Alano setelah mengaitkan kancing kemejanya yang paling bawah.
Bianca mengangguk tanpa mengeluarkan suara. Dia sedang malas untuk menjawab dan berbicara dengan kekasihnya itu.
"Kenapa Kamu membisu? apa Kamu kurang puas tadi?" Alano justru berpikir jika, Bianca belum merasakan kepuasan atas permainan mereka barusan.
"Tidak. Pulanglah aku tidak apa-apa," jawab Bianca pada akhirnya. Dia a tidak ingin, kekasihnya itu paham paham atas diamnya.
Tapi karena sikap yang berbeda membuat Alano berpikir lain. Dan akhirnya memutuskan untuk tidak jadi pulang. Dia akan menginap di apartemen Bianca saja.
"Baiklah. Aku tidak akan pulang. Sini!"
Alano justru menarik tangan bianca agar duduk di pangkuannya. Kemudian dia mencium kening, pipi dan bibir Bianca. Bahkan ciuman di bibir membuatnya kembali terangsang, sehingga semakin menuntut Bianca supaya merespon ciumannya.
Tangan Alano juga tidak mau diam, membuat sehingga Bianca akhirnya ikut terbuai. Dengan tubuhnya yang tidak bisa dia kendalikan. Meskipun hati dan pikirannya menolak. Tapi nyatanya, gerakan tubuh Bianca justru mengikuti kemauannya Alano.
Dalam hati Bianca mengutuk hormon di tubuhnya sendiri, yang ikut terangsang atas permainan dan sentuhan-sentuhan yang dilakukan oleh Alano pada bagian-bagian tertentu pada tubuhnya. Sehingga membuatnya men_desah tanpa sadar.
Akhirnya mereka kembali bergumul di atas tempat tidur, melakukannya kegiatan mereka untuk yang kedua kalinya.
"Kamu tidak pernah membuatku bosan Bi," desis Alano lembut di telinga Bianca, saat dia menciumi leher bagian belakang telinganya.
Bianca hanya tersenyum tipis, mendengar pujian dari kekasihnya itu. Meskipun dalam hati diam merasa sangat sedih atas apa yang terjadi antara dirinya dan Alano selama ini.
*****
Pada waktu itu, Bianca baru saja pulang dari kampusnya. Hari memang sudah malam. Dan di saat dia mau mencari taksi, ada tiga orang laki-laki yang mengejarnya.
Bianca dikejar-kejar lima orang yang tidak dikenal. Sehingga membuat Bianca berlari sambil meminta tolong.
__ADS_1
Di saat seperti itu, tiba-tiba ada seseorang yang menariknya ke dalam keadaan pelukan. Yang membuatnya merasa nyaman karena telah diselamatkan oleh orang tersebut.
Tapi Bianca jadi kembali ketakutan, saat tahu siapa orang yang sedang memeluknya. Karena orang tersebut adalah Alano.
"Al... Alano."
Bianca menyebut nama Alano dengan terbata, karena gemetaran saking takutnya.
"Tenang Bi, tenang. Ada Aku, jadi Kamu tenang ya! Kamu masih ingat Aku kan?"
Bianca hanya mengangguk dalam ketakutannya, dengan bibirnya yang gemetaran. Sehingga tidak bisa mengatakan apa-apa untuk menjawab pertanyaan Alano.
Dia masih ketakutan atas kejadian yang tadi menimpanya, saat dikejar-kejar orang yang tidak dia kenal.
"Jangan takut, jangan takut. Ayok! ayo ke rumahku dulu. Tidak jauh dari sini."
Bianca hanya mengangguk saja, pasrah dalam dekapan Alano. Karena keadaan pakaian yang dia kenakan juga sudah robek sana sini. Sehingga dia ikut masuk ke dalam mobil Alano, kemudian pergi ke rumah teman lamanya itu. Yang tidak diketahui sebelumnya, jika Alano ada di kota Paris ini.
Di rumah Alano, bianca diminta untuk mandi dan membersihkan diri. Kemudian diberikan piyama tidur oleh Alano.
Maaf Bi. Di sini tidak ada perempuan, jadi kamu pakai piyama tidurku ya!" kata Alano dengan memberikan setelan piyama besar berwarna hitam bergaris putih kepadanya.
Alano menelan air liurnya sendiri, melihat kemolekan tubuh Bianca. Gadis yang sangat dia cintai. Namum sayangnya, Bianca sangat membencinya.
'Akhirnya Aku punya kesempatan untuk menyentuhmu Bi,' pikiran Alano telah melayang-layang jauh
Ternyata semuanya adalah rencana Alano sendiri, yang membuat Bianca dikejar orang-orang yang tidak dikenal, hingga dia datang sebagai penolong.
Itu semua memang atas rencana Alano, karena dia ingin dekat dengan Bianca. Jika bisa, dia juga ingin menjadikan bianca sebagai gadisnya.
"Ayo kita makan dulu. Kamu pasti sudah lapar," ajak Alano pada bianca yang sedang menunduk malu, karena sedari tadi Alano menatapnya dengan mata yang tidak berkedip.
Bianca yang merasa sudah aman, hanya mengikuti langkah Alano yang menuju ke meja makan.
Bianca tidak curiga sedikitpun, jika Alano sudah menyiapkan semua perangkap untuknya. Yang akan membuatnya tidak bisa lepas dari pengaruh Alano setelah ini.
__ADS_1
Karena semua makanan dan minuman yang disediakan untuk Bianca, sudah diberikan obat-obatan. Yang akan membuat Bianca tidak sadar dengan apa yang dia lakukan nantinya.
Dan begitulah akhirnya. Selesai makan, Bianca mulai merasakan keanehan pada tubuhnya. Dia merasa kepanasan, hingga membuatnya ingin membuka piyama yang dia kenakan saat ini juga.
'Apa yang terjadi padaku, kenapa rasanya sangat panas?' batin Bianca bertanya-tanya.
Sesekali Bianca justru men_desah sambil mengelus-elus lehernya sendiri. Yang membuat Alano, yang berada di seberang meja makan, menatapnya dengan lapar.
"Bi. Kamu tidak apa-apa?" tanya Alano pura-pura khawatir.
Bianca menggeleng cepat, tapi juga mendesis menyebut nama Alano. Seakan-akan mengajak Alano untuk berbuat lebih pada dirinya.
"Al... Alanooo... ahhh..."
"Ayo, sebaiknya ke kamar. Di sana ada pendingin ruangan. Kamu tidak akan kepanasan lagi," ajak Alano dengan menarik tangan bianca.
Tentu saja Bianca menurut. Bahkan tangannya yang satu lagi mengelus-elus manja di lengan Alano.
"Al..."
Bianca kembali menyebut nama Alano sambil mendesis, seakan-akan minta untuk disentuh.
Alano tidak membuang waktu. Dia segera menyentuh beberapa bagian tubuh Bianca, begitu mereka masuk ke dalam kamar.
Apalagi baju piyama yang sudah terbuka sebagian, memperlihatkan keadaan tubuh Bianca yang sangat menggiurkan.
Alano tidak membuang waktu. Dia segera menyerap bibir bianca, melu_mat dan mengekspor semua bagian-bagian tertentu di tubuh Bianca.
Sedangkan Bianca sendiri, ikut menikmatinya juga. Men_desah dengan menyebutkan nama Alano. Sehingga membuat Alano semakin berga_irah dengan membuat gerakan-gerakan yang semakin merangsang Bianca.
Akhirnya Alano tidak tahan lagi, kemudian membawa bianca ke tempat tidur, kemudian segera menindihnya.
Alano meninggalkan tanda kepemilikan di sekujur tubuh Bianca. Begitu juga dengan Bianca, yang tiba-tiba sangat buas dengan memberikan beberapa tanda kepemilikan juga di tubuhnya Alano.
Semua itu karena pengaruh obat yang tadi di campur ke dalam makanan dan minumannya.
__ADS_1
Bianca menjerit kenikmatan di bawah Alano. Sehingga membuat Alano semakin bergerak cepat, dan membuat cepat ritme percintaan mereka sedikit brutal. Dan mereka melakukan beberapa kali, sebelum akhirnya sama-sama kelelahan dan tidur dengan posisi saling berpelukan.
Alano tertidur dengan nyaman dan senyuman yang menandakan bahwa dia sangat bahagia. Karena berhasil membuat Bianca ada di bawahnya. Di tambah lagi dengan apa yang baru saja dia ketahui, jika dialah orang pertama bagi Bianca. Yang sudah menyentuh Bianca sampai sejauh ini.