Gavino ( Sistem Mafia )

Gavino ( Sistem Mafia )
Kembali Bersatu


__ADS_3

"Cosa sta facendo?"


"Anak bodoh! Apa yang dilakukannya itu?"


Thomas Bryan kesal sendiri, melihat kelakuan anaknya di dalam kamar, yang sedang membereskan barang-barang pribadinya ke dalam sebuah tas kecil.


"Apa dia berniat kabur? Dia benar-benar tidak memandangku, menghormati Aku sebagai papanya?"


Dengan geram, akhirnya Thomas Bryan menghubungi salah satu bodyguardnya, untuk memantau semua pintu, terutama pintu kamarnya Gress.


..."Jangan biarkan dia keluar dari kamar atau jika dia keluar dari kamar tetap kawal!"...


..."Baik Tuan Besar!"...


..."Ingat ya! jika Nona Gress sampai pergi dari rumah, jaminannya adalah kepalamu!"...


..."Iy... iya Tuan Besar!"...


..."Dasar tidak berguna! muori!"...


Klik!


Brakkk!


Jawaban anak buahnya yang ketakutan dan gemetaran membuatnya semakin kesal, sehingga dia mengumpat marah. Dan hiasan meja kerjanya, dilempar begitu saja untuk pelampiasan.


"Apa sih maunya anak itu?"


"Aku sudah mengangkatnya sebagai Nona Besar di sini, semua kekayaan dan kekuasan yang Aku miliki, nantinya juga menjadi miliknya. Dasar mental pecundang!"


Thomas Bryan justru mengatai anaknya, dengan latar belakang dan kepribadian anaknya sendiri. Dia tidak merasa tenang, jika Gress masih tidak menurut dengannya, dan hanya ingin pergi dari sisinya.


Keinginan yang sebenarnya baik untuk masa depan anaknya itu, tapi sayangnya Gress tidak memikirkan semua itu. Hanya menginginkan berada dekat dengan Gavino saja, sebagai kekasihnya sejak awal sebelum mengenal Thomas Bryan sebagai papanya.


Ternyata ketakutan Thomas Bryan benar adanya, karena layar ponselnya memberikan hasil rekaman, jika anaknya itu membuka pintu kamar dengan perlahan-lahan, membaca situasi dan keadaan di sekitar kamarnya sendiri.


"Hehhh... benar-benar ini Gress!"

__ADS_1


Dengan cepat Thomas Bryan beranjak dari tempat duduk, kemudian keluar dari ruang kerjanya, bersiap untuk pulang ke rumah. Padahal jadwal metting untuknya tinggal 5 menit ke depan.


Sesampainya dia depan ruangan kerjanya, Thomas Bryan memerintahkan sekretaris untuk membatalkan metting.


"Beritahu semua devisi, jika metting dibatalkan. Kepastiannya metting akan diberitahukan kemudian!" Sekretaris tersebut hanya bisa mengangguk saja, kemudian secepatnya melakukan apa-apa yang harus dia lakukan untuk membatalkan metting tersebut.


"Huhfff... enaknya Bos ya..."


Sekretaris tersebut langsung terdiam, begitu Thomas Bryan yang sedang berjalan dengan 5 langkah di depan sana menoleh lagi.


"Lakukan tugas dan pekerjaan, tidak usah banyak bicara!" bentak Thomas Bryan dengan tatapan mata yang tajam. Membuat sekretarisnya langsung menunduk ketakutan.


"Ada-ada saja yang protes!" gumamnya kesal.


Dia kembali bergegas menuju ke lift khusus, yang akan langsung membawanya ke tempat parkir khusus juga, sebab hanya untuk mobil pemilik perusahaan saja.


Di tempat parkir khusus tersebut, sudah ada deretan berbagai macam mobil beserta supirnya, siap untuk mengantarkan kemana saja dia pergi. Thomas Bryan tinggal memilih untuk memakai mobil yang mana.


Supir akan siap membukakan pintu mobil untuknya, begitu dia sudah ada pada jarak 2 meter. Siap untuk menjalankan tugas mereka.


"Pulang!"


Sekarang Thomas Bryan berada dalam perjalanan pulang ke rumah, tapi tangannya tetap pemegang ponsel, memperhatikan bagaimana anaknya yang udah berjalan dengan mengendap-ngendap di lorong rumahnya, di tingkat 3.


"Bisa lebih cepat tidak! Guidi la macchina come una lumaca!"


"Menjalankan mobilnya saja seperti siput! bagaimana bisa cepat sampai di rumah!"


Thomas Bryan memarahi supirnya, yang dirasa tidak bisa menjalankan mobil dengan cepat. Dia tidak sabar untuk bisa sampai di rumah.


Seharusnya dia bisa menggunakan helikopter dari atap kantor, yang bisa mendarat di atap rumahnya juga. Sayangnya, helikopter yang biasa stay di atas gedung sedang dalam pengecekan armada penerbangan.


"Dalam keadaan seperti ini Aku justru mendapatkan kesulitan dari transportasi. Apa perlu Aku memblokir semua jalan ini?"


Makian dan gerutuan, keluar dari mulut Thomas Bryan tiada henti, karena keadaan lalu lintas yang cukup padat mengakibatkan mobilnya tidak bisa bergerak dengan bebas.


"Huhfff..."

__ADS_1


Berkali-kali Thomas Bryan membuang nafas untuk mengurangi rasa kesal yang dirasakannya. Dan semuanya itu adalah akibat dari ketakutannya sendiri, yang tidak mau kehilangan Gress sebagai anaknya.


"Cepat-cepat!"


*****


Di rumah sakit tempat Lorenzo dan dan Dante di rawat.


Gavino meminta pada pihak rumah sakit untuk memindahkan Lorenzo dan Dante, pada sebuah kamar VVIP yang bisa memuat 2 ranjang pasien. Sedangkan untuk biaya sewa kamarnya tetap dianggap dua kamar, sehingga pihak rumah sakit menyetujui, karena dianggap tidak merugikan mereka.


Akhirnya sekarang ini Lorenzo dan Dante bisa berada di dalam satu kamar yang luas, sehingga Gavino, Bianca dan juga Robert bisa menunggu mereka berdua, tanpa takut adanya kesenjangan dan rasa cemburu, karena yang satunya akan merasa diabaikan jika ditinggal menunggu di kamar yang lain.


Hal ini diantisipasi oleh Gavino sendiri, mengingat mereka berdua adalah sahabatnya yang mengalami kejadian ini karena dirinya.


"Terima kasih Gavin, Kamu sudah memberikan kehidupan kedua untukku," ucap Dante, begitu dia sudah sadar dan bisa berbicara.


"Iya. Aku dugem mau mengucapkan terima kasih padamu Gavin," sahut Lorenzo dengan mengucapkan terima kasih juga.


"Hehhh, apa kalian berdua? Aku tidak melakukan apa-apa! Semua ini adalah untuk kesembuhan kalian berdua, karena kalian juga sudah berkorban banyak untukku. Jadi jangan pernah mengucapkan terima kasih, karena itu akan membuatku sangat kecewa."


Gavino melarang keduanya untuk mengucapkan terima kasih, karena dia juga merasa bersalah atas apa yang menimpa kedua sahabatnya itu.


"Ya-ya... kalian bisa saling mengucapkan terima kasih dan meminta maaf. Tapi kalian bertiga tidak pernah memikirkan bagaimana khawatirnya Aku bersama dengan Paman Robert, yang tidak mendapatkan kabar apapun dari kalian!"


Bianca protes karena tidak dianggap oleh mereka bertiga, ada dia juga merasakan rasa khawatir, bersama dengan Robert, disaat mereka bertiga tidak ada yang memberikan kabar sama sekali.


Padahal Bianca sudah berniat untuk menyusul mereka, tapi dicegah dan di larang oleh Robert.


Mendengar protes yang diucapkan oleh Bianca, Gavino hanya tersenyum tipis karena dia memang merasa bersalah. Pada saat pamit untuk menyusul Gress, Bianca sudah memperingatkannya untuk memberikan kabar, apapun yang terjadi. Tapi ternyata hal itu tidak bisa dilakukan Gavino, meskipun Gavino juga tidak bersalah dalam hal ini.


Untuk Dante dan Lorenzo, hanya bisa mengangkat 2 jarinya membentuk huruf V, upaya Bianca tidak marah lagi.


Tapi sekarang mereka berempat justru tertawa dan saling berpegangan tangan satu sama lain, membentuk sebuah lingkaran, dengan Gavino bersama dengan Bianca yang berada di tengah-tengah dua tempat tidur, diantara Dante dan Lorenzo.


"Sebaiknya kita bersatu seperti ini untuk melawan Thomas Bryan. Aku tak pernah menyangka jika dia akan kembali pada tabiat lamanya, yang memusuhi Gavino," kata Lorenzo, yang sedikit banyak tahu sejarah tentang Thomas Bryan, jika di dunia mafia dikenal dengan sebutan king Black.


Dante dan Bianca mengangguk setuju, dengan apa yang dikatakan oleh Lorenzo. Hal ini membuat Gavino merasa haru, atas perhatian ketiga temanya itu.

__ADS_1


"Aku mengucapkan berterima kasih pada kalian, karena Kalian semua selalu ada di sisiku sejak dulu."


Robert yang menyaksikan bagaimana hubungan ke-empat anak muda tersebut, tersenyum bahagia. Dia berharap persahabatan mereka berempat tetap terjalin sampai kapanpun, dan tidak ada penghianatan diantara mereka satu sama lainnya.


__ADS_2