Gavino ( Sistem Mafia )

Gavino ( Sistem Mafia )
Kejadian Di Kamar Rawat Giordano


__ADS_3

..."Saya curiga ada yang mengutak-atik mobil papa kapten."...


..."Maksudnya?"...


Gavino akhirnya menceritakan tentang kecurigaannya pada mobil papanya, yang sudah di sabotase seseorang pada malam hari. Di rumah Gavino sendiri.


..."Apa tidak ada kamera cctv di rumahmu? kenapa bisa kecolongan seperti itu?"...


..."Saya sudah periksa, dan ternyata cctv di rumah diputus sejak sore hari. Tanpa diketahui oleh orang lain."...


..."Oh... apa keluargamu, khususnya papamu punya musuh sebelum ini?"...


Gavino kembali menjelaskan pada sang kapten, lewat panggilan telpon, jika papanya tidak pernah memiliki musuh. Bahkan Giordano belum lama juga berkecimpung di dunia usaha dan bisnis, sehingga memiliki musuh. Sama seperti yang dicurigai oleh sang kapten.


..."Baiklah. Kita konsentrasi dulu untuk operasi nanti malam. Biar pikiran kita tidak terpecah dengan adanya kasus papamu ini. Polisi pasti akan membantumu menyelidiki mobil dan kecelakaan tadi pagi."...


..."Baik kapten. Terima kasih."...


Klik!


Gavino menghela nafas panjang, saat panggilan telpon dengan sang kapten selesai.


Dia memang meminta bantuan pada sang kapten, untuk masalah Verdi nanti malam. Karena dia merasa yakin jika, Verdi punya banyak rencana untuknya. Bukan hanya sekedar transaksi yang disampaikan oleh Verdi kemarin.


Gavino tidak mau gegabah, dan menyepelekan orang seperti Verdi. Yang tentunya sudah semakin berpengalaman dibanding dengan Alano pada waktu itu.


"Aku mau menjenguk Papa, dan meminta keterangan darinya juga. Kenapa papa sampai tidak memperhatikan kondisi setir dan sebagainya juga tadi pagi?"


Pertanyaan tersebut juga muncul di benak Gavino. Dia mengenal papanya sebagai seorang laki-laki yang teliti. Tidak adak dan suka tergesa-gesa.


"Pasti ada sesuatu yang terjadi juga pada papa. Atau..."


Clek!


"Hai! Siapa Kamu?"


Rasa penasaran Gavino semakin bertambah kuat, dengan adanya seseorang yang saat ini sedang ada di ruangan papanya.


Bahkan orang itu sedang menyuntikkan cairan ke dalam selang infus yang terpasang ditangan papanya. Dan orang itu tidak mengunakan seragam dokter ataupun perawat pada umumnya.


Untungnya Gavino memergoki aksi orang tersebut. Sehingga orang itu juga dalam keadaan kaget.


"Siapa Kamu?" tanya Gavino dengan tatapan mata tajam.


Tapi orang tersebut justru menyerangnya, dengan bergerak maju. Tangan orang tersebut juga sudah siap untuk melakukan pemukulan, karena sudah terkepal kuat.


Dengan gerakan cepat, Gavino juga meloncat ke arah samping. Sehingga pukulan dari orang tersebut hanya mengenai angin.


"Sialllan!" umpatnya marah.


Gavino hanya terdiam dan tidak menyahut umpatan orang tersebut. Dia ingin melakukan perlawanan, tapi juga merasa khawatir. Jika cairan yang tadi sudah disuntikkan ke selang infus papanya, akan segera bereaksi.

__ADS_1


Itulah sebabnya, Gavino tidak langsung menyerang orang tersebut. Tapi mencari jalan, agar dia bisa mencabut selang infus tersebut. Agar tidak mengalir ke dalam tubuh papanya lagi.


Set!


Selang infus terlepas dengan paksa. Darah dan cairan infus berceceran di lantai dan pinggir tempat tidur pasien.


Tapi pada saat Gavino akan memencet tombol merah, untuk memberikan tanda bahaya, orang itu menyerang Gavino lagi.


Hiaaattt!


Dug!


Bug bag bug!


Krak!


Arghhhh!


Hap bug!


Perkelahian antara Gavino dan orang tak dikenal itu pun tak bisa dielakkan. Di dalam kamar pasien intensif Giordano, kekacauan terjadi.


Dan pada saat ada kesempatan, Gavino pun berhasil menekan tombol merah. Yang ada di dinding, tak jauh dari tempat tidur papanya.


Teeetttt!


Orang asing itu pun panik. Dia berusaha untuk bisa keluar dari dalam kamar tersebut, sebelum ada orang lain yang masuk.


Tapi ternyata Gavino tidak memberinya kesempatan untuk bisa kabur.


Dug!


Orang tersebut terkena pukulan dan tendangan dari Gavino, sehingga dalam keadaan paniknya, orang itu tidak busa mengelak.


Dia jatuh ke lantai, dan pada saat akan bangun dari tempatnya tersungkur, Gavino sudah mencengkeram kuat kedua tangannya.


Clek!


Satu orang dokter dan perawat datang. Mereka berdua kaget melihat keadaan yang tidak wajar di ruangan pasiennya.


"Hai! Apa yang kalian lakukan? dan..."


Dokter tersebut bertanya berseru dengan bertanya. Tapi pada akhirnya terdiam dan tidak melanjutkan kalimatnya lagi.


Dia langsung bergegas menuju ke tempat tidur pasien, karena melihat selang infus yang terlepas. Sehingga darah dan cairan infus berceceran.


"Jangan dipasang lagi Dok!"


Gavino menghentikan kegiatan dokter, karena dia tidak mau jika selang infus itu dipasang lagi ke pergelangan tangan papanya.


"Cairan infus itu sudah dimasuki carian racun. Cepat ganti dan periksa papa saya! Apakah cairan tadi sudah ada yang masuk ke dalam tubuhnya atau belum."

__ADS_1


Mendengar perkataan Gavino, sang dokter dan perawat akhirnya mengerti, apa yang sebenarnya terjadi di kamar ini.


Mereka berdua, memanggil pihak keamanan untuk menangani orang yang saat ini sudah di cekal Gavino. Sedangkan perawat keluar dari dalam ruangan, untuk mengambil peralatan, obat-obatan dan selang infus yang baru.


*****


Gavino menunggu di kabar papanya. Dia tidak habis pikir, siapa sebenarnya orang yang ingin mencelakai papanya.


"Papa bukan orang yang mudah marah. Dia tidak mungkin menyinggung perasaan orang lain di luar sana. Lagipula, papa juga belum lama menjalani kehidupan sebagai seorang pengusaha."


"Mama... oh iya mama!"


Gavino segera bangkit dari tempat duduknya, begitu dia ingat dengan mamanya yang ada di ruang rawat lain.


Dia meninggalkan papanya, yang saat ini sudah selesai ditangani oleh dokter dan perawat. Dengan mengeluarkan zat-zat berbahaya, yang kemungkinan besar sudah sempat masuk ke dalam tubuh. Melalui selang infus tadi sehingga bercampur, dan masuk dengan mudah.


Sekarang, Gavino berjalan tergesa-gesa menuju ke kamar mamanya.


Giordano dan Mirele, memang ditempatkan di ruangan yang berbeda. Karena penanganan medisnya juga berbeda.


Tapi dengan adanya kasus ini, Gavino akan bernegosiasi dengan pihak rumah sakit. Supaya bisa menempatkan papa dan mamanya menjadi satu tempat.


Ini demi keselamatan dan keamanan pasien di rumah sakit ini juga.


Clek!


Pintu kamar Mirele dibuka Gavino. Sepi, selain mamanya sendiri. Yang saat ini sedang tertidur.


Tak lama kemudian, ada perawat perempuan yang masuk .


Clek!


"Maaf, Anda siapanya pasien?" tanya perawat tersebut menyelidik curiga.


"Saya Gavino. Anak dari pasien ini."


"Oh, maaf. Tadi Saya mendengar pembicaraan teman-teman sesama perawat, jika ada keributan yang terjadi di kamar intensif. Katanya ada penyusup masuk."


"Maaf jika tadi Saya sempat curiga."


Perawat tersebut meminta maaf dan menjelaskan pada Gavino, kenapa dia sampai bertanya tadi.


"Iya tidak apa-apa," ucap Gavino dengan mengangguk samar.


Dengan telaten, perawat tersebut memeriksa keadaan Mirele.


Mulai dengan denyut nadi dan tekanan darah. Detak jantung dan membuka kelopak mata dengan memberikan sinar lampu dari senter kecil yang dia bawa.


Semua hasil pemeriksaan medis tersebut, di cacat dalam catatan Mirele. Setelahnya, dia juga menyuntikkan obat yang sudah dia persiapkan dalam kotak medis seperti biasanya.


Gavino memperhatikan semua itu dengan teliti. Dia tidak mau jika terjadi sesuatu pada mamanya.

__ADS_1


"Maaf, Saya permisi."


Dan setelah semuanya selesai, perawat tersebut pamit pada Gavino.


__ADS_2