
Gavino mengajak Gress juga, di saat dia mau pergi melihat lokasi bengkel, yang akan dibuka oleh Lorenzo.
"Apa masih jauh?" tanya Gress, karena dia sudah sedikit mengantuk.
"Tidurlah jika Kamu mengantuk Sayang. Nanti Aku akan bangunkan Kamu, jika sudah sampai di tempatnya," terang Gavino, yang tidak tega melihat keadaan kekasihnya.
Gress tentu saja merasa sangat capek dan mengantuk. Selain kelas yang padat, dia juga seminar dan pertemuan yang harus diikuti. Karena sebagi mahasiswa penerima beasiswa dari luar negeri.
Sebenarnya Gavino ingin memberitahu pada Gress, tentang identitas dirinya, yang sebenarnya masih memiliki seorang ayah. Tapi karena permintaan dari Thomas Bryan sendiri, akhirnya Gavino tetap diam dan ikut merahasiakan kebenaran tersebut.
Tapi Gavino ingin juga melihat Gress bahagia, dengan memberitahukan bahwa, dia itu sebenarnya masih memiliki orang tua, meskipun hanya seorang ayah. Dan bukan maksud dari orang tuanya, yang telah membuangnya di waktu masih bayi.
Karena sebenarnya, orang tua asuh dari Gress di Amerika sana, adalah orang suruhan dari Thomas Bryan sendiri. Jadi rumah yang dijadikan penampungan anak-anak tersebut, memang dikelola oleh orang lain, dengan dana yang dikucurkan oleh Thomas Bryan sendiri setiap bulannya.
Meskipun bukan semua anak yang ada di sana adalah anak biologis dari Thomas Bryan, tapi dia juga tidak menginginkan anaknya tubuh seorang diri, tanpa adanya temen yang menemaninya, yang sebaya dengan anaknya.
Ternyata Gress benar-benar tertidur dalam perjalanan menuju ke lokasi bengkel.
Gavino mengelus rambut gadisnya itu, dengan masih melihat ke depan. Sebab dia sedang menyetir sendiri tanpa adanya supir.
Tak lama kemudian, mobilnya tiba di lokasi yang diberitahukan oleh Lorenzo.
Di depan sana, Lorenzo juga sudah menunggunya, bersama dengan dua orang temannya lorenzo. Yang akan diajak bekerja di bengkel mobilnya nanti.
"Sayang, Kita sudah sampai. Kamu mau ikut turun, atau menunggu di dalam mobil?" Gavino bangunkan Gress, setelah menghentikan mobilnya.
"Emhhh... Aku, Aku nunggu di dalam mobil saja ya! Aku mengantuk sekali."
"Ya sudah kalau begitu. Aku turun dulu ya!"
Gress mengangguk sambil tersenyum tipis, kemudian kembali memejamkan matanya. Sedangkan Gavino segera turun dari mobil, setelah mematikan mesinnya. Tapi mengatur suhu di dalam mobil sedemikian rupa, agar Gress tetap merasa nyaman.
"Hai semua," sapa Gavino setelah berada di depan Lorenzo dan kedua temannya.
__ADS_1
"Hai Gavin. Ini dua temanku yang mau ikut gabung di bengkel mobil nanti."
Sekarang Gavino menyalami tangan keduanya, dengan sebutkan nama masing-masing.
Satu bernama Joe, yang kedua bernama Rei.
"Gavino." Gavino menyebutkan namanya sendiri, setelah mereka menyebutkan nama mereka juga.
Setelahnya, mete melihat-lihat keadaan bakal calon bengkel mobil yang dikelola oleh Lorenzo dan kedua temannya itu.
"Ini cukup besar dan bagus. Kalau untuk ukuran strategis, keduanya sama-sama strategisnya Gavin." Lorenzo memberikan penjelasan kepada Gavino, yang merupakan ini penanam modal usahanya nanti.
"Apa kita bisa langsung lihat lokasi kedua?" tanya Gavino, yang ingin melihat lokasi yang satunya lagi.
"Ok, ayok!"
Akhirnya dua buah mobil pergi meninggalkan tempat tersebut, untuk menuju ke lokasi kedua yang diincar oleh lorenzo.
"Iya Gavin. Sebenarnya tempat ini memang lebih strategis menurutku juga, tapi di sini sudah ada dua buah bengkel mobil, yang ada di ujung sana, dan di sebelah sana juga."
Lorenzo menunjuk ke arah dua tempat, dimana yang katanya sudah menjadi usaha bengkel mobil terlebih dahulu.
Sekarang Gavino menganggukkan kepalanya, menimbang-nimbang, bagaimana yang sebaiknya ditentukan.
"Kalau menurut feeling Kamu sendiri, mana yang lebih cocok untuk usaha Kamu?" tanya Gavino, yang menyerahkan putusan kepada Lorenzo sendiri.
"Kalau Aku ya... ingin di sini. Tapi Kamu juga tahu kan, persaingan usaha itu akan ada. Apalagi mereka sudah lama dan besar. Pastinya akan ada sesuatu yang nanti terjadi pada usaha kita."
Sekarang Gavino mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar penjelasan yang diberikan oleh Lorenzo.
"Apakah Kamu takut bersaing?" tanya Gavino pada temannya itu.
"Bukan begitu maksudku Gavin. Aku hanya tidak mau jika, modal yang sudah Kamu keluarkan tidak bisa balik lagi, jika bengkelnya hancur karena ulah persaingan ini."
__ADS_1
Ternyata Lorenzo memikirkan hal ini jauh ke depan nanti. Karena hal tersebut memang sering terjadi. Meskipun tidak terlihat sebagai usaha menghancurkan saingan usaha. Tapi cara yang digunakan akan lebih halus, sehingga tidak diketahui jika itu adalah sebuah sabotase dari persaingan usaha.
"Baiklah. Ambil tempat mana saja yang menurutmu cocok. Aku ikut," terang Gavino memberikan keputusan penuh pada Lorenzo.
"Bagaimana gaess? Kita ambil tempat yang tadi atau yang ini saja?" tanya Lorenzo pada kedua temannya. Yaitu Joe dan Rei.
"Jika alasannya karena resiko persaingan, menurutku sih yang di sana gak apa-apa. Tapi kalau ingin cepat maju dan mau tahu pasar yang sebenarnya, ya di sini."
Rei justru mengemukakan pendapatnya, dan itu dibenarkan oleh Gavino juga, dengan sebuah anggukan kepala.
"Kamu bagaimana Joe?" tanya Lorenzo, yang meminta pendapat pada temannya yang satu lagi. Karena sedari tadi, Joe hanya diam saja.
"Aku setuju dengan Rei. Tapi kembali lagi kepada Kamu juga. Karena Kamu yang akan mengelolanya. Kalau kami berdua kan, cuma sekedar membantu." Joe sepertinya tipe orang yang menurut saja, tanpa mau banyak ambil resiko.
Lorenzo terdiam sejenak, mempertimbangkan beberapa hal yang memang ada di dalam pikirannya sendiri.
"Baiklah. Kita putuskan untuk ambil yang ini saja." Akhirnya Lorenzo memutuskan untuk mengambil tempat yang terakhir ini, sebagai tempat usaha bengkel mobilnya nanti. Meskipun persaingan sudah ada, yaitu dua buah bengkel yang buka lebih dulu.
Tapi karena menurutnya sendiri, apa yang dikatakan oleh Gavino maupun Rei benar. Dia juga tidak mau jika bengkel mobilnya nanti tidak cepat maju.
Jika untuk urusan persaingan yang dia takutkan, masih adakah Gavino dan juga orang-orang Gavino, yang pastinya tidak akan tinggal diam dan membantunya.
"Ok. Semua sudah beres. Tinggal Kamu kirimkan file-file yang diperlukan. Jadi, Aku mau pulang dulu."
Gavino pamit untuk pulang, setelah semuanya selesai diputuskan.
"Gak pergi cari makan dulu Gavin?" tanya Lorenzo menawari.
"Maaf. Saat ini Aku gak bisa gabung dulu bersama kalian. Gress sudah kepayahan, jadi Aku langsung pulang saja. Kalian makan dulu gak apa-apa," pamit Gavino.
Dia tidak mungkin meninggalkan Gress yang masih ada di dalam mobil. Hanya untuk sekedar ikut makan malam bersama dengan Lorenzo dan kedua temannya itu.
"Ok. Hati-hati ya!"
__ADS_1