
Tempat tidur kecil di flat miliknya Gress, menjadi saksi pergulatan kedua anak manusia yang sedang lupa diri.
Keduanya sama-sama saling mencari posisi yang terbaik, agar bisa menyenangkan bagi mereka berdua. Tanpa peduli dengan keadaan tempat tidur yang sudah berantakan.
Beberapa saat kemudian.
"Huhfff..."
Hembusan nafas panjang terdengar dari mulut Gavino. Sedangkan helaan nafas, samar terdengar di sampingnya.
"Maaf Gress. Aku... Aku tidak bisa menahan diri. Jadi..."
Cup!
Gress justru menghentikan suara Gavino, yang belum selesai mengatakan kalimatnya. Dengan mengecup bibir Gavino, sehingga membuat Gavino terbelalak kaget, dengan kelakuan gadis yang baru saja dia ajak bergumul tadi.
Dia berpikir jika, Gress akan memukulnya, memakinya, atau apapun itu atas tindakannya yang diluar kendali.
"Aku juga menginginkannya Gavin. Jadi jangan meminta maaf. Aku akan merasa ikut bersalah, jika Kamu mengatakannya lagi."
Perkataan yang diucapkan oleh Gress, membuat Gavino tersenyum. Kemudian menghujani bibir Gress dengan ciuman-ciuman yang membuat mereka menginginkan lagi dan lagi.
Tapi kegiatan mereka berdua itu tidak membuat mereka lupa, jika ada tugas kuliah yang tetap harus dikerjakan.
Jadi, setelah selesai melakukan kegiatan panas mereka yang kesekian kalinya. Sekarang mereka sibuk mengerjakan tugas kuliah yang tadi tertunda.
Mereka berdua mengerjakan tugas tersebut, dengan sesekali diselingi dengan candaan dan ciuman yang panjang. Tapi nyatanya mereka bisa menahannya sedemikian rupa, sehingga tugas selesai dikerjakan.
Cup!
"Akhirnya selesai juga."
Gress kembali mengecup bibir Gavino dengan cepat. Di saat mereka berdua selesai mengerjakan tugas kuliah yang seharusnya sudah selesai sedari tadi.
"Gress. Berhenti menggodaku atau Kamu tidak akan bisa jalan besoknya!" ancam Gavino, karena dia tidak mau membuat Gress kelelahan.
"Maaf Gavin. Aku selalu tergoda untuk menciumnya," sahut Gress dengan menyentuh bibir Gavino dengan jari telunjuk.
"Apa ini untuk pertama kalinya bagimu?" tanya Gress tiba-tiba.
Gavino hanya mengangguk saja, tanpa menjawabnya dengan bersuara.
__ADS_1
"Emhhh... pantas."
Gress bergumam tidak jelas, dengan apa yang dia rasakan pada saat bergulat dengan Gavino tadi. Karena tubuh Gavino yang bergetar hebat, meskipun wajahnya dibuat setenang mungkin.
Tapi Gress, yang sudah sedikit berpengalaman, tentu saja tahu. Mana laki-laki yang sudah terbiasa dengan kehidupan bebas, dengan yang belum terbiasa.
"Bukanlah Kamu juga untuk yang pertama kalinya bersamaku?" tanya Gavino balik.
Gavino tahu, jika dialah orang yang pertama kali masuk ke dalam inti tubuhnya Gress. Sebab sulitnya dia menerobos masuk tadi. Dan begitu berhasil, ternyata ada dinding yang terkoyak, kemudian susul dengan darah yang ikut keluar bercampur dengan cairan bening yang membuatnya lebih licin.
Apalagi, Gress juga sempat menjerit kesakitan, sebelum akhirnya mengigit bahu Gavino. Agar suaranya tidak lagi keluar.
"Maaf, Aku membuatmu kesakitan saat Aku gigit tadi," ucap Gress dengan wajah memerah karena malu.
Sebenarnya keduanya sama-sama belum berpengalaman. Tapi keduanya juga tidak mengakuinya. Sebab di negara bebas seperti yang ada di negara Eropa atau Amerika, orang-orang seperti mereka ini akan dianggap tidak normal dan bodoh.
Bukan bodoh dalam artian yang sebenarnya, tapi karena mereka tidak mempunyai pergaulan yang luas. Sebab kebebasan untuk bergaul disamakan dengan sebuah pengalaman yang sangat penting.
Tapi ternyata Gavino dan Gress tidak termasuk manusia-manusia yang menganut paham kebebasan seperti itu. Meskipun pada akhirnya, sekarang ini mereka berdua juga melakukan hal itu.
Tapi usia mereka yang sudah tidak terbilang sebagai remaja lagi, tentu bisa lebih dewasa. Di saat menyikapi keadaan yang sedang mereka lakukan ini.
Pertanyaan yang diajukan oleh Gavino, membuat Gress terkejut.
"Hai Gavin. Lupakan semuanya. Aku tidak menuntut apa-apa dari kejadian ini. Kita melakukannya dengan cara suka sama suka, dan mau sama mau. Aku tidak akan meminta lebih. Percayalah Gavin."
Sebenarnya Gavino cukup khawatir dengan keadaan Gress, yang merupakan mahasiswa baru. Dan bukan dari negara Italia sendiri.
Dia takut jika terjadi sesuatu pada gadis tersebut, setelah kejadian barusan.
"Apa... emhhh... Kamu akan pergi ke Paris Gavin?"
Tiba-tiba saja Gress mengajukan pertanyaan kepada Gavino, tentang apa yang dia dengar tadi siang di kelas.
"Kamu mendengar Aku berbicara dengan seseorang di telpon?" tanya Gavino balik, sebelum menjawab pertanyaan dari Gress.
"Maaf. Aku tidak sengaja mendengarnya."
"Hum..."
Mendengar gumamam Gavino yang tidak jelas, membuat Gress menatap wajah pemuda yang baru saja mengambil mahkotanya tadi. Dia ingin tahu, apa yang akan dikatakan oleh Gavino padanya.
__ADS_1
"Iya."
Jawaban yang diberikan oleh Gavino hanya satu kata saja, yang membuat Gress ingin tahu lebih.
"Apa Kamu mau menemui gadis itu?" tanya Gress lagi, yang tahu sedikit tentang Bianca.
Teman sekolah Gavino dulu, yang sekarang ini sedang belajar, dengan mengambil sekolah desainer. Di kota mode dan negara yang mendapat julukan pusatnya mode di seluruh dunia, yaitu di kota Paris, Perancis.
"Gress. Aku ke Paris bukan untuk pergi jalan-jalan atau menemui Bianca. Tidak. Aku pergi untuk sebuah tugas dan pekerjaan yang harus Aku lakukan di sana."
Gavino memberikan penjelasan kepada Gress, agar Gress tidak merasa diabaikan olehnya. Karena harus dia tinggalkan dalam waktu dekat ini.
"Tugas, pekerjaan?"
Gress tidak tahu, apa yang dimaksud oleh tugas dan pekerjaan yang dikatakan oleh Gavino padanya. Dia hanya tahu, jika Gavino masih berstatus sebagai seorang mahasiswa, yang tidak punya pekerjaan lainnya.
"Iya. Ada tugas dan pekerjaan yang harus Aku selesaikan." Gavino kembali mengulang kalimatnya, untuk menyakinkan Gress.
"Alasan saja! Paling Kamu kangen kan dengan gadismu itu?" tanya Gress berapi-api.
Kening Gavino mengeryit heran, melihat sikap Gress yang jadi posesif seperti ini.
'Dia kenapa? Apa Gress merasa cemburu karena Aku akan pergi ke Paris. Yang dia pikir bahwa Aku akan menemui Bianca?' batin Gavino bertanya-tanya. Dengan perubahan sikap Gress sekarang.
Tapi beberapa detik kemudian, di saat Gavino masih terdiam dan tidak menjawab pertanyaan darinya, Gress berkata. "Maaf. Tidak seharusnya Aku bertanya apa kepentingan yang Kamu lakukan di Paris. Itu bukan urusanku dan bukan pula wilayah ku untuk bertanya."
Mendengar perkataan Gress barusan, membuat Gavino sadar, jika saat ini Gress sedang di landa cemburu.
Gress merasa cemburu, karena takut jika Gavino akan menemui Bianca di Paris.
"Apa Kamu sedang cemburu Gress?" serang Gavino dengan pertanyaan yang membuat Gress merah padam pada kulit wajahnya.
Dia tentu merasa malu, karena ketahuan sedang cemburu. Padahal baru beberapa saat tadi, mereka berdua sama-sama merasakan kebahagiaan dan kepuasan atas apa yang mereka lakukan.
"Apa Kamu cemburu?" tanya Gavino lagi, yang membuat Gress langsung menyembunyikan wajahnya. Dengan menutupinya mengunakan kedua telapak tangannya sendiri.
"Bicara Gress!" pinta Gavino, agar gadisnya itu bicara dengan jujur.
"Emhhh..."
Gumamam tidak jelas, terdengar dari mulut Gress, yang masih tertutup dengan telapak tangannya sendiri.
__ADS_1