
Jederrr!
Bagaikan ada suara guntur yang tiba-tiba datang, tanpa adanya hujan terlebih dahulu. Yang membuat Gress tak tahu harus bagaimana bersikap.
Matanya berkaca-kaca menahan air matanya, meskipun dia tidak bersuara.
Grep!
Gavino segera memeluk Gress, di saat melihat gadisnya yang tampak sedih, saat tahu kebenaran tentang Bianca dari mulutnya sendiri.
Cup!
"Sayang. Jangan memikirkan banyak hal. Aku ada di sini Sayang," ujar Gavino, menenangkan hati gadisnya yang sepertinya sedang terpukul. Mengetahui tentang gadis yang tadi diperkenalkan oleh kekasihnya sendiri. Yang ternyata adalah saingan hatinya.
"Apa... apa dia datang untukmu?" tanya Gress terbata-bata.
Dia berpikir bahwa, Bianca sengaja datang ke acara tadi, karena ingin bertemu dengan Gavino. Terlihat jelas dari tatapan mata Bianca, jika gadis itu masih ada perasaan pada Gavino.
Tapi Gavino tidak bicara lagi, untuk memberikan penjelasan dan jawaban yang ditanyakan Gress padanya.
Dia justru mencium, dan mel_lum4t dengan lembut bibir gadisnya itu.
Gavino ingin menyakinkan pada Gress, jika hanya dia yang ada di dalam hatinya saat ini. Dan tidak ada lagi gadis lainnya.
Ciuman yang dilakukan oleh Gavino, lama-lama menuntut Gress untuk mengimbanginya juga.
Dan Gress yang sudah tahu bagaimana cara untuk bisa membuat Gavino betah tidak akan melepaskannya, ikut juga mengimbangi gerakan yang dilakukan oleh kekasihnya itu. Karena tadinya dia hanya pasif.
Sekarang, Gress membuka mulutnya dengan suka rela, menyambut bibir dan lidah Gavino yang sedari tadi sudah bermain-main di sana.
Dan kini, mereka berdua menikmati keindahan cinta, dalam kebersamaan percintaan. Yang membuat mereka beraktifitas, untuk menyalurkan perasaan dan hasrat yang memuncak. Karena emosi, rasa cinta dan ego yang menjadi satu.
*****
Pagi, sebelum Gavino keluar dari dalam kamarnya. Dia mengaktifkan sistem terlebih dahulu. Untuk mengetahui bagaimana keadaan yang sebenarnya terjadi pada Bianca dan Alano.
( Ting )
( Selamat pagi Good Father )
'Apa yang sebenarnya terjadi pada Bianca?'
( Ting )
( Mencari informasi tentang Bianca )
1%
10%
20%
30%
__ADS_1
40%
50%...
Sampai selesai menjadi 100%.
( Ting )
Di layar sistem, tertera informasi tentang alasan Bianca pulang ke Roma. Bahkan sekarang, Bianca sedang di buru Alano. Yang berniat pulang ke Roma, untuk menyusul kekasihnya yang kabur darinya.
Gavino menghela nafas panjang, melihat informasi tentang Bianca yang saat ini ada di kota ini.
"Jadi seperti itu," gumam Gavino, sambil menghela nafas panjang.
"Sebaiknya Aku menemui Bianca. Kasian sekali dia." Gavino kembali bergumam, mengetahui tentang nasib Bianca yang tersiksa secara batin bersama dengan Alano.
Gavino berniat untuk menghubungi Bianca, agar gadis itu merasa lega. Di saat selesai berbicara dengannya nanti.
Tapi sebelum dia menekan tombol nomor handphone miliknya Bianca, Dante keburu menghubungi dirinya.
Tring... tring... tring...
..."Hai Dante!"...
..."Hai Gavin. Maaf ya, Aku menghubungi dirimu sepagi ini. Bianca... Bianca berusaha untuk bunuh diri!"...
..."Hah! Sekarang di mana?"...
..."Di rumah. Sudah ditangani dokter keluarga. Soalnya dia menolak untuk dibawa ke rumah sakit."...
..."Baiklah. Aku tunggu."...
Klik!
Gavino segera bangkit dari tempat duduknya, kemudian menyambar jaket kulitnya. Dia harus segera pergi ke rumah Dante.
Saat melintas di ruang makan, Gress yang baru saja mau duduk, bingung melihat Gavino yang berjalan dengan tergesa-gesa.
Tapi di saat dia mau menegurnya, Gavino tampak tidak mempedulikan dirinya.
Robert yang tidak mengerti pada situasi mereka berdua, hanya bisa melihat tanpa bisa melakukan apa-apa. Karena dia tidak ingin ikut campur dalam urusan anak-anak muda.
"Paman, itu... dia, Gavino ada apa, kenapa terburu-buru?" tanya Gress yang bingung melihat Gavino yang mengacuhkannya.
"Aku juga tidak tahu," jawab Robert, yang juga sama bingungnya.
Dan akhirnya, Gavino langsung pergi tanpa pamit pada Gress maupun Robert.
*****
"Dante, di mana Bianca?"
Begitu tiba di rumah Dante, Gavino langsung bertanya pada Dante yang menunggu dirinya di depan pintu.
__ADS_1
"Ayok!"
Gavino mengikuti langkah Dante, menuju ke arah kamar tamu. Di mana Bianca berada.
Clek!
"Dia masih tidur, karena pengaruh obat yang diberikan oleh dokter." Terang Dante pada Gavino tanpa di minta.
Sekarang, mereka berdua ada di pinggir tempat tidur. Di mana Bianca berbaring tanpa sadar dengan kedatangan mereka berdua.
Tak lama kemudian, Dante keluar dari dalam kamar tersebut, tanpa pamit pada Gavino yang hanya mematung, melihat keadaan Bianca yang memprihatinkan.
"Hhh..."
Sekarang, Gavino duduk di pinggir tempat tidur, sambil memegangi telapak tangan Bianca. Yang pergelangan tangannya terbalut perban, dengan noda merah darah yang terlihat jelas.
Bianca berusaha untuk melakukan bunuh diri dengan mengiris urat nadinya sendiri. Dan untungnya, ada maid di rumah Dante yang masuk karena mendengar suara teriakan Bianca. Yang pada akhirnya mengetuk-ngetuk pintu kamar tersebut, tapi tidak ada sahutan.
Bahkan saat pintu di ketuk-ketuk beberapa kali, tetap saja tidak ada sahutan. Yang membuat maid merasa khawatir, sehingga mencari Dante untuk melaporkan semua kejadian yang ada di kamar tamu.
Ketukan pintu yang dilakukan oleh Dante, juga tidak ditanggapi oleh Bianca. Sehingga Dante nekat untuk mendobrak pintu kamar tersebut.
Dan apa yang dia dapati, membuatnya sangat terkejut. Dia melihat keadaan tangan Bianca yang berlumuran darah. Sedangkan tangan satunya lagi, ada pisau buah yang juga sama berlumuran darah.
Dalam keadaan panik, dia hanya bisa menelpon dokter pribadi keluarganya, yang kebetulan rumahnya tidak terlalu jauh dari rumahnya juga.
Di saat sudah mendapatkan pertolongan pertama, dokter menyarankan agar Bianca di bawa ke rumah sakit. Agar bisa mendapatkan perawatan medis yang lebih baik.
Tapi ternyata, Bianca yang sudah sadar menolak usulan yang diberikan oleh dokter.
Dia tidak mau dibawa ke rumah sakit mana pun, dan justru mengancam akan melarikan diri. Seandainya sudah tiba di rumah sakit.
"Bi," sapa Gavino, di saat tangan yang dia genggam bergerak-gerak.
Dan tak lama kemudian, Bianca membuka matanya perlahan lahan.
"Vin... ma_maaf. A_aku... "
"Sssttt... sudah. Tidak apa-apa. Aku ada di sini," sahut Gavino, sebelum Bianca berbicara banyak.
Air mata Bianca justru mengalir lebih banyak lagi. Karena rasa penyesalan yang ada di dalam hatinya.
"Hiks... Aku, Aku tidak tahu harus bagaimana lagi Vin," cicit Bianca dengan suara lirih.
"Hai, tenang Bi. Kamu tidak akan kenapa-kenapa. Aku akan ada di sampingmu. Aku akan menjagamu."
Mendengar perkataan Gavino, Bianca tersenyum lega.
Tapi sedetik kemudian, di saat dia ingat dengan gadis yang bersama dengan Gavino saat pembukaan bengkel mobil Lorenzo, dia segera mengelengkan kepalanya beberapa kali.
"Tidak. Tidak mungkin."
"Apa yang tidak mungkin Bi?" tanya Gavino bingung dengan perkataan Bianca. Karena dia tidak tahu, apa yang sedang dipikirkan oleh Bianca saat ini.
__ADS_1
"Kamu... Kamu tidak mungkin bisa Vin. Aku... Aku tidak mau memaksamu."