
Sekarang hari-hari Gavino tidak lagi sendiri. Ada teman-teman baru, yang welcome pada dirinya. Tanpa melihat bagaimana keadaan dirinya saat ini.
Bersama dengan dua mahasiswa baru yang satu jurusan dengannya, Gavino sering bertemu dan berbincang tentang banyak hal.
Begitu juga juga Gress, yang ikut serta dalam kelompoknya Gavino. Dengan alasan dia tidak ada teman dan sanak saudara di kota Roma ini. Akhirnya Gavino dan kedua temannya itu tidak keberatan dengan keberadaan Gress.
Seperti siang ini, di mana Gavino yang sedang mencari Daniel dan Reo. Nama dia teman Gavino itu. Sedang Gress juga ikut bersama dengannya. Mencari keberadaan kedua temannya, yang menghilang sejak keluar dari kelas setengah jam yang lalu.
"Biasanya kan ada bersama Kamu. Apa Kamu udah cek di tempat parkir?" tanya Gress, yang berjalan bersisian dengan Gavino.
"Aku tidak menemukan mereka berdua. Ponsel mereka juga tidak aktif. Padahal jam kelas siang akan segera di mulai."
Gavino tampak cemas, karena tidak menemukan kedua temannya itu.
Tentu saja Gavino merasa cemas. Karena beberapa menit yang lalu, dia mendapatkan pesan dari nomor handphone yang tidak dia kenali. Yang mengancamnya dengan jaminan keselamatan Daniel dan Reo.
Tapi dia tetao diam dan tidak menceritakan tentang pesan tersebut pada Gress.
Gavino tidak mau jika Gress ikutan panik. Setelah mengetahui tentang isi dari pesan yang tadi dia terima.
"Coba ke kafetaria kampus yuk!"
Gress mengajak Gavino, untuk mencari Daniel dan Reo ke kafetaria kampus. Dia berpikir bahwa, kedua temannya itu sedang lapar dan ingin mengisi perutnya terlebih dahulu. Sebelum masuk ke jam kuliah selanjutnya.
"Apa Kamu yakin mereka berdua ada di sana?" tanya Gavino ragu.
Dia sangat tahu bagaimana kedua temannya itu. Yang tidak terbiasa makan di kafetaria kampus. Karena mereka berdua adalah anak-anak rumahan, yang tidak malu untuk membawa bekal makanan dari rumah.
Tapi Gavino akhirnya berpikir bahwa, apa yang dikatakan oleh Gress bisa saja benar.
Mungkin Daniel dan Reo sedang lapar, dan mereka berdua lupa membawa bekal makanan untuk hari ini.
Akhirnya Gavino mengikuti apa yang tadi dikatakan oleh Gress. Kemudian mereka berdua pun melangkahkan kakinya menuju ke tempat kafetaria kampus berada.
Sebenarnya alasan Daniel dan Reo membawa bekal makanan dari rumah itu ada benarnya juga. Karena selain letaknya yang cukup jauh, menu di kafetaria tersebut juga itu-itu saja setiap harinya.
Jadi membosankan bagi mereka, karena harus makan makanan yang sama setiap hari.
Setibanya di kafetaria kampus, Gavino dan juga Gress, mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Tapi mereka berdua juga tidak menemukan orang yang sedang mereka cari.
Gress mengelengkan kepalanya, melihat ke arah Gavino.
Begitu juga dengan Gavino sendiri. Dia pun mengatupkan kedua bibirnya. Pertanda bahwa dia juga tidak menemukan Daniel dan Reo di tempat ini.
"Ke mana lagi kira-kira kita mencari keduanya?" Gress bertanya pada Gavino. Karena dia tidak tahu lagi. ke mana harus mencari kedua temannya itu.
"Kamu kembali saja ke kelas. Balita Aku yang melanjutkan pencarian mereka berdua."
"Jika sesampainya Kamu di kelas, dan menemukan mereka ada di sana. Segera Kamu hubungi Aku."
Gress pun akhirnya setuju. Dia kembali menuju ke gedung kelasnya, dan membiarkan Gavino mencari keberadaan kedua temannya yang menghilang sedari tadi.
"Semoga mereka berdua tidak kenapa-kenapa." Doa Gress sebelum meninggalkan Gavino sendiri.
Setelah kepergian Gress, Gavino merogoh kantong celananya, untuk mengambil ponselnya. Dia mencoba untuk menghubungi nomor handphone yang tadi mengiriminya pesan singkat.
Tut tut tut!
Tut tut tut!
__ADS_1
Panggilan yang dia lakukan, tidak berhasil.
Sepertinya, ponsel orang yang tadi menghubungi dirinya sedang tidak diaktifkan.
"Bagaimana ini? kenapa mereka berdua yang dijadikan umpan untuk menyerangku?" gumam Gavino bertanya pada dirinya sendiri.
Tapi sedetik kemudian, di saat dia hampir saja ingin menghubungi Gress untuk bertanya keadaan kelas. Gress sudah lebih dulu menghubungi dirinya.
Dengan cepat, Gavino menyambungkan panggilan telpon tersebut. Kemudian bertanya tentang Daniel dan Reo pada Gress.
..."Bagaimana Gress?"...
..."Mereka berdua tidak ada di dalam kelas. Saat Aku coba tanya ke teman-teman yang lain, mereka semua juga tidak tahu." ...
..."Hum..." ...
..."Apa nomor handphone mereka berdua masih belum bisa dihubungi?" ...
..."Belum." ...
..."Lalu, apa rencana mu?" ...
..."Belum tahu." ...
..."Cepat ke kelas Gavin. Dosen akan segera masuk untuk mengisi materi." ...
..."Kamu perhatikan saja materi yang diberikan oleh dosen. Setelah itu, Kamu bisa menjelaskannya padaku nanti." ...
..."Hai! Kau jangan lupa, Kamu adalah salah satu mahasiswa cerdas di fakultas ini. Dan Aku juga tahu jika..." ...
..."Sudah Gress. Aku pergi dulu!" ...
Klik!
**Pergi ke belakang gedung tester. Kamu akan menemukan kedua temanmu. Dan ingat, waktumu hanya lima menit!
Jika lebih dari lima menit, Aku tidak menjamin keselamatan kedua orang yang sedang Kamu cari**!
Membaca pesan tersebut, Gavino mengumpat sambil berlari menuju ke gedung teater. Karena letak gedung tersebut, memang terpisah dengan gedung yang lain.
"Sialll! Mereka mencari gara-gara denganku. Apa mereka bosan hidup?"
"Dasar pengecut!"
Gavino mencoba untuk mengaktifkan sistem mafia miliknya, untuk mengetahui bagaimana keadaan lawannya.
Tapi Gavino juga tetap dalam keadaan berlari, dengan tidak menghiraukan keadaan sekitarnya.
( Ting )
( Selamat siang Good Father )
'Beri Aku informasi tentang lawanku kali ini.'
( Ting )
( Identifikasi dilakukan )
1%
__ADS_1
10%
20%
30%
50%
70%
85%
95%
100%
( Ting )
( Informasi lawan didapatkan )
Jumlah lawan : 5 orang
Masing-masing mempunyai kekuatan setara dengan level 5/8
Kemampuan : Bertarung
Senjata : Tangan kosong, senjata yang ada di sekitarnya.
'Senjata yang ada disekitarnya? apa maksudnya itu?'
( Ting )
( Senjata apapun bentuknya, yang mereka temukan disekitar mereka. Untuk bisa melawan )
'Hemmm... baiklah Aku mengerti.'
( Ting )
Bersamaan dengan menghilangnya layar transparan sistem yang dia lihat. Gavino juga tiba di gedung teater. Di mana tadi pesan memberinya petunjuk.
Dengan hati-hati, Gavino melangkah ke belakang gedung.
Dia belum pernah ke gedung teater ini. Jadi Gavino juga tidak tahu, bagaimana keadaan dan situasi yang ada pada siang hari ini.
Waktumu tinggal setengah menit!
Pesan di ponselnya kembali memberikan peringatan.
"Sialll!"
"Hiattt!"
Akhirnya Gavino mengerahkan seluruh kekuatan yang dia miliki, untuk bisa cepat sampai di tempat di mana Daniel dan Reo berada.
Dan benar saja, dari jarak tak kurang dari tujuh meter, tampak Daniel dan Reo terbaring lemas tanpa daya.
Entah apa yang terjadi pada keduanya. Karena di tempat tersebut, juga tidak tampak adanya orang lain. Selain mereka bertiga sekarang.
"Apa maksud dari semua ini?"
__ADS_1
Gavino bergumam seorang diri, dengan pertanyaan yang tidak bisa dia jawab sendiri.
Tapi tak lama kemudian, keributan terdengar dari kejauhan. Dan yang pasti, menuju ke tempatnya berada saat ini.