
"Silahkan makan Tuan."
Seorang pelayan mempersilahkan tamu yang datang ke rumah makannya, dengan meletakkan semua piring yang berisi pesanan Gavino tadi.
"Terima kasih," ucap Gavino formal.
Dan orang yang tadi bersama dengannya, hanya diam sambil melihat semua menu makanan yang sudah terhidang di meja makan.
Sepertinya dia benar-benar lapar, karena tatapan matanya langsung tertuju pada piring-piring yang tersaji di meja. Dan tanpa menunggu untuk dipersilahkan oleh Gavino, di mengambil salah satu piring. Kemudian segera dia nikmati makanan tersebut.
Gavino hanya melihatnya dengan datar. Dia senang, orang tersebut makan dengan lahapnya. Bahkan kini, separuh dari sajian makanan sudah berganti masuk ke dalam perutnya.
Orang tersebut benar-benar berhenti, di saat dia sudah merasa kenyang.
"Maaf. Aku sangat lapar."
Mendengar ucapan permintaan maaf tersebut, Gavino hanya mengangguk saja. Kemudian melanjutkan makannya, yang tadi sempat terhenti. Karena dia membiarkan orang tersebut untuk makan terlebih dahulu, agar bisa memuaskan perutnya sampai kenyang.
"Apa Kamu mau ke Monte Isola?" tanya orang tersebut setelah meneguk air minumnya lagi.
Hanya anggukan kepala saja, yang bisa dilakukan oleh Gavino sebagai jawabannya. Dia sendiri sedang makan, jadi tidak mau terganggu dengan pembicaraan.
"Aku ikut!"
Mendengar perkataan orang tersebut, Gavino mengurungkan niatnya untuk menyuap makanan ke dalam mulutnya.
"Kenapa?" tanya Gavino ingin tahu.
Tentu dia merasa penasaran, dengan orang yang tiba-tiba muncul di mobilnya. Menodongkan senjata api ke lehernya untuk mengancam, dan setelah diberikan makanan, justru berniat ikut bersamanya juga.
"Aku ingin pergi dari kota terkutuk ini."
Kening Gavino mengernyit heran, mendengar jawaban yang diberikan oleh orang tersebut. Tapi dia tidak menyahuti lagi, kemudian melanjutkan makannya.
Di lihat dari wajahnya, orang tersebut berumur sekitar empat puluhan tahun. Entah kurang atau lebih. Tapi dari beberapa lukanya yang sudah mengering, bisa dipastikan jika orang tersebut sedang berada di situasi yang tidak baik-baik saja.
Hanya satu hal yang tidak diinginkan oleh Gavino adalah, jika orang ini adalah buronan polisi atau geng mafia besar.
Bisa-bisa dia akan terkena masalah juga. Jika harus bersama dengan orang ini terus-menerus.
Setelah beberapa saat kemudian, Gavino sudah menyelesaikan makanya. Dia memanggil pelayan dan membayar bil tagihan dengan uang tunai yang dia punya.
__ADS_1
Dia tidak mau mengeluarkan kartu untuk membayar, karena bisa jadi, orang yang tadi bilang ingin ikut bersamanya punya niatan jahat dengan apa yang dia miliki.
Setelah semuanya selesai, Gavino pergi dari rumah makan tersebut. Dia kembali ke dalam mobil, tapi tidak memperdulikan orang tersebut. Yang nyatanya masih saja mengekornya.
"Maaf untuk pertemuan kita tadi yang kurang bagus. Tapi, Aku benar-benar ingin pergi dari kota Roma. Dan hanya Kamu yang menjadi harapanku saat ini."
"Kenapa harus Aku?" tanya Gavino, dengan menyipitkan matanya. Melihat bagaimana orang tersebut akan mencari jawaban.
"Karena Kamu yang akan pergi ke sana, bodoh!"
Jawaban yang diberikan oleh orang tersebut justru dengan makian yang ditujukan untuk Gavino. Bukannya mengatakan dengan kalimat yang baik dan sopan.
Meskipun Gavino masih berusia jauh dibawahnya, tetao saja dua tidak suka di maki-maki orang tak dikenal. Apalagi orang itu mau nebeng ke Monte Isola. Tapi malah tidak bersikap baik dengan memaki juga.
"Aku tidak mau mengajakmu. Pergilah." Gavino menolak permintaan dari orang tersebut.
"Hai! Aku akan mematahkan lehermu, jika Kamu tidak mau mengajakku pergi ke sana!"
"Apa peduliku? Kamu pergi saja sendiri!" sahut Gavino cepat. Dia merasa kesal dengan perkataan yang diucapkan oleh orang itu.
"Anak muda yang bodoh!" umpat orang itu lagi, yang bersiap menyerang Gavino dengan tangannya yang sedari tadi sudah mengepal.
Dengan cepat, Gavino menangkap tangan orang tersebut. Sehingga pukulan yang diberikan bisa dia tahan. Bahkan, kini tangan orang tersebut dipelintir oleh Gavino. Sehingga dia meringis menahan rasa sakit.
"Maaf anak muda. Aku hanya ingin ke Monte Isola. Dan secara kebetulan, Kamu juga mau ke sana."
"Hhh... Biarkan Aku ikut denganmu. Aku tidak akan macam-macam. Karena jika Aku masih ada di kota Roma ini, orang-orang yang mengejar tak segan untuk membunuhku."
Penjelasan yang diberikan oleh orang tersebut, membuat Gavino semakin yakin, jika dia bukan warga sipil biasa.
"Keberadaamu justru akan menyulitkan bagiku," ujar Gavino, yang memang ada benarnya.
"Iya Aku tahu."
Mendengar sahutan dari orang tersebut, Gavino menatapnya dengan tatapan tajam.
"Apa maksudmu? Pergilah!" usir Gavino melepaskan tangan yang tadi masih dia pelintir.
"Anak muda. Kamu tahu, perjalanan menuju ke Monte Isola tidak mudah. Selain jaraknya yang jauh, ada saja sekelompok orang yang akan merampok di perjalanan ke sana. Apa Kamu tidak takut?"
Perkataan orang tersebut ada benarnya. Tapi tentu saja Gavino tidak mau mengakuinya, jika itu memang benar.
__ADS_1
"Aku tidak peduli. Justru lebih berbahaya bagiku, jika kamu terus ada di dekatku. Dengan ancaman dan senjata api yang kamu todong ke leherku."
Mendengar perkataan Gavino, orang tersebut justru tertawa terbahak-bahak sendiri.
"Hahaha... maaf. Hahaha..."
"Aku tidak ada pilihan lain. Ini caraku, supaya Kamu memberikan ijin untuk Aku menumpang sampai ke sana. Dan Aku bisa membantumu di jalan, jika Kamu sedang dalam kesulitan."
Gavino hanya menghela nafas panjang, mendengar semua perkataan dan penjelasan yang diberikan oleh orang tak dikenalnya itu.
Tapi karena dia tidak mau berdebat lagi, akhirnya mesin mobilnya kembali dia nyalakan. Kemudian pergi dari area parkir rumah makan.
Dia tidak peduli dengan orang yang ada di dalam mobilnya. Yang penting, orang tersebut tidak lagi menodongnya dengan senjata api.
*****
Di suatu tempat.
"Sialll!"
"Kenapa kalian semua tidak becus? Hanya menangkap satu orang saja tidak bercus! Bre_ngsekkk!"
Laki-laki yang kira-kira berumur lima puluhan tahun, dengan penampilan ala-ala penjabat negara ngamuk, di saat anak buahnya memberikan laporan.
"Maaf Tuan Besar. Kami sudah mencarinya di seluruh kota, bahkan sampai ke pinggiran kota. Tapi tetap tidak menemukannya."
Mendengar penjelasan dari anak buahnya itu, orang tersebut justru membanting asbak yang ada di atas mejanya.
Prang!
"Bod_doh kalian semua!"
"Aku tidak mau tahu, cepat temukan dia. Dengan cara apapun!"
Anak buahnya itu membungkuk dengan wajah pucat pasi, melihat keadaan Tuan besarnya yang sedang marah.
Untungnya, Tuan besarnya itu tidak sedang membawa senjata api. Karena bisa dipastikan, jika nyawanya akan pergi dari raganya. Jika dia datang dengan laporan yang tidak memuaskan.
Begitu tiba di luar ruangan Tuan besannya, anak buah tersebut menghela nafas panjang. Dia merasa lebih lega, meskipun tugasnya belum juga selesai.
Karena setelah ini, dia tidak mungkin datang memberikan laporan. Jika hanya kegagalan yang akan dia berikan sebagai hasil kerjanya.
__ADS_1