Gavino ( Sistem Mafia )

Gavino ( Sistem Mafia )
Harus Tega


__ADS_3

Sekarang, Gress sudah sembuh. Gavino yang selalu ada di sampingnya, menungguinya dan tidak pernah pergi ke mana-mana. Sesuai dengan janjinya pada gadisnya itu.


"Sayang. Terima kasih ya, Kamu udah jagain Aku selama ini. Maaf jika keadaan ku dan keberadaan ku justru membuat mu merasa terkekang."


Gavino menutup mulut Gress dengan jari telunjuknya. Dia tidak akan membiarkan gadisnya itu merasa bersalah atas semua keadaan sekarang. Yang tidak bisa pergi kemanapun, karena harus ada di sisinya untuk menjaganya.


"Jangan berkata demikian Sayang. Aku, Aku justru yang seharusnya meminta maaf padamu. Karena semua ini terjadi karena Aku." Ujar Gavino, yang tidak membiarkan Gress merasa tertekan.


"Kamu boleh meninggalkan Aku sebentar, jika Kamu ada keperluan di luar. Pasti ada banyak sekali urusan yang harus Kamu tinggalkan, hanya karena menunggui diriku."


Gavino hanya tersenyum tipis, mendengar perkataan yang diucapkan oleh gadisnya itu.


Meskipun semua yang tadi sudah dikatakan oleh Gress memang benar adanya, tapi dia tidak mengakuinya.


"Tidak apa-apa. Aku bisa meminta tolong bantu orang lain. Yang penting Kamu harus sehat dulu, dan tidak usah memikirkan banyak hal."


Sekarang, gantian Gress yang tersenyum tipis, sambil menganggukkan kepalanya. Dia tahu, jika ada banyak sekali pekerjaan, yang seharusnya diselesaikan oleh kekasihnya itu di luar sana.


Dan sekarang, sudah waktunya dia untuk tidak meminta pada kekasihnya itu, supaya tidak tinggal di rumah saja.


"Sayang. Boleh Aku berangkat ke kampus? Aku merasa jika Aku sudah sehat?" tanya Gress, dengan memikirkan pekerjaan Gavino. Yang harus terbengkalai, karena sibuk menunggui dirinya di rumah.


"Yang, Kamu masih belum sehat benar. Besok-besok saja ya!"


Tapi ternyata, Gavino tidak terpengaruh dengan pernyataan Gress. Yang sudah menyatakan bahwa dirinya sudah sembuh.


Akhirnya, Gress hanya bisa menghela nafas panjang. Karena dia tidak punya alasan lain, supaya Gavino tidak harus menungguinya sepanjang hari ini.


"Kita ke balkon? Atau mau jalan-jalan ke luar rumah?" tanya Gavino, memberikan pilihan penawaran. Supaya Gress tidak merasa bosan, karena harus berada di dalam kamar sepanjang hari.


"Ayok!"


Gress tentu saja menyambutnya dengan senang hati. Sebab, dia memang sudah merasa bosan. Karena beberapa hari ini hanya berada di dalam kamar saja terus.


Sekarang, mereka berdua keluar dari kamar, untuk menghirup udara segar di luar rumah.


Mereka berdua, berpapasan dengan Robert, yang baru saja keluar dari kamarnya. "Hai, sudah sehat?" tanya Robert menegur Gress.


"Iya Paman. Aku sudah merasa lebih baik."


Robert tersenyum senang, mendengar jawaban yang diberikan oleh Gress padanya.


"Oh ya Gavin, mumpung Gress sudah sembuh. Kamu coba datang dan cek ke kios ya nanti!" pinta Robert pada Gavino, yang sedari tadi hanya diam di sampingnya Gress.

__ADS_1


Gavino mengerutkan keningnya, mendengar permintaan dari Robert.


Sedangkan Gress sendiri, hanya tersenyum tipis. Sebab, tadi dia sudah memberikan waktu atau kebebasan pada Gavino. Supaya bisa keluar dan menyelesaikan pekerjaannya yang ada di luar rumah.


Gress tahu, pasti ada banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikan oleh kekasihnya itu. Meskipun bukan hanya sekedar pekerjaan yang ada di kios dan warabala miliknya. Tapi ada pekerjaan yang lainnya.


Akhirnya, Gavino menghela nafas panjang. Kemudian menganggukkan kepalanya, menyanggupi permintaan dari Robert.


Gress mengusap-usap lengan Gavino, memberikan dorongan semangat, dan menunjukkan bahwa, dia tidak apa-apa, seadanya ditinggal di rumah sendiri.


Gavino akhirnya menganggukkan kepalanya, mengiyakan anjuran dari Gress.


Dia memang punya banyak sekali pekerjaan yang tertunda, karena menunggui Gress untuk beberapa hari kemarin.


Setelah Robert selesai sarapan dan pamit itu untuk pergi, Gavino dan Gress yang masih berjalan-jalan di depan rumah, akhirnya masuk ke dalam.


Gavino akan bersiap-siap untuk melakukan tugasnya, yang akan memberikan hukuman kepada sang kapten. Karena saat ini, sang Kapten masih berada di markas besarnya. Sedangkan untuk anak buahnya, sudah ditangani oleh pihak kepolisian sendiri. Sesuai dengan perintah dari para jenderal, yang dihubungi oleh Thomas Bryan secara langsung. Di waktu kejadian.


Tapi, sebelum meninggalkan rumah, Gavino sudah berpesan dan memberikan perintah kepada semua anak buahnya, supaya tepat waspada dan berjaga-jaga. Terutama untuk memberikan pengawasan kepada Gress.


Setelah selesai memberikan penjelasan pada anak buahnya, Gavino pembeli masuk ke dalam kamar gadisnya itu.


"Sayang. Aku akan keluar sebentar, sesuai dengan permintaan paman Robert. Tapi, Aku juga ada pekerjaan di luar, untuk menyelesaikan permasalahan yang kemarin. Karena memang menunggu Aku ada waktu. Sehingga belum bisa dipastikan untuk penyelesaiannya."


Dia sudah semakin paham, apa yang sebenarnya dilakukan oleh Gavino di luar sana. Sebagai Tuan Muda, yang mempunyai pengaruh sangat besar pada kelompoknya.


Jadi, Gress tidak mau mengekang kebebasan dan aktifitas Gavino. Yang dunianya tidak hanya sekedar dirinya saja.


Cup!


"Aku pergi ya Sayang!"


Gavino mengecup kening Gress, saat berpamitan pada gadisnya itu.


"Iya. hati-hati Sayang!"


"Jika Kamu membutuhkan sesuatu, Kamu bisa bilang pada kepala maid, atau para penjaga yang lain." pesan Gavino, sebelum akhirnya benar-benar pergi.


Gress kembali menganggukkan kepalanya, mengiyakan pesan tersebut.


Akhirnya, Gavino sudah pergi dan Gress benar-benar di rumah sendiri. Meskipun sebenarnya ada banyak orang yang mengelilinginya.


*****

__ADS_1


Urusan di kios Giordano dan Mirele, sudah diselesaikan oleh Gavino dalam waktu yang cukup singkat.


Sekarang, dia melajukan sepeda motornya menuju ke markas besar. Untuk memberikan hukuman kepada sang Kapten, yang sudah berani-beraninya menculik Gress.


Meskipun Gress tidak terluka atau kenapa-kenapa secara fisik, tapi Gress sempat tertekan secara mental, sehingga keadaannya tidak stabil. Jadi, saat ini dia akan memberikan pelajaran kepada sang Kapten. Yang dulunya adalah seorang aparat kepolisian, yang paling dia percaya.


Sayangnya, ternyata apa yang dipercayakan oleh Gavino itu salah. Sebab pada kenyataannya, sang kapten justru ada pada bagian kejahatan. Atau terlibat pada kegiatan yang merugikan negara.


Hal yang selama ini di berantas oleh Gavino, dengan memberitahu pada sang Kapten. Dengan menyerahkan para pelakunya.


Tapi ternyata, semua itu hanya sia-sia belaka. Sebab, dibalik semua itu sang Kapten ternyata ikut terlibat dan menjadi salah satu dari orang-orang tersebut.


Brakkk!


Pintu ruangan berbuka dengan kasar.


Gavino masuk, dan melihat bagaimana keadaan sang kapten yang tertunduk lemas.


Dia memang tidak disiksa, tidak dipukul, tapi juga tidak diberikan makanan ataupun minuman. Sehingga keadaannya sangat lemas. Apalagi, sejak kejadian malam itu, hingga saat ini, sudah lebih dari 4 hari.


Itu artinya, sang Kapten tidak menerima asupan makanan dan minuman, selama hampir lima hari.


"Apa kabar Kapten?" tanya Gavino pingin suara yang datar.


Mendengar suara Gavino, sang Kapten mencoba untuk mendongakkan kepalanya. Melihat ke arah Gavino, yang tidak ditemuinya beberapa hari ini.


"Ka_kamu bar_ru dat_tang?"


"Maaf. Aku ada banyak sekali urusan. Dan ternyata, Aku melupakan keberadaan mu," ujar Gavino dengan mengibaskan tangannya.


Sang Kapten tersenyum kecut, dengan dua bibirnya yang kering. Dia tahu, jika Gavino sengaja tidak menemuinya. Karena anak muda itu merasa sangat kecewa, setelah mengetahui kebenaran tentang dirinya.


"Ma_afkan a_aku. A_ku tah_hu, A_ku sal_lah. Se_karang, bun_nuh saja A_aku."


Ternyata, sang Kapten tidak bisa menahan penderitanya. Sehingga dia memohon untuk dibunuh saja.


Dia tidak mau jika harus mendapatkan siksaan yang lebih, sebab ini saja sudah sangat menyakitkan. Meskipun tidak ada pukulan atau penyiksaan yang lain.


Tapi Gavino tidak menggubris permintaan sang Kapten. Sebab, dia memang ingin membuat sang Kapten tahu, bahwa apa yang dia lakukan selama ini sudah menggerogoti kepercayaan masyarakat pada umumnya, pada penegak hukum yang sah. Yaitu departemen keamanan dan kepolisian.


Jadi Gavino ingin melihat, sejauh mana sang Kapten bisa bertahan. Atas semua yang dia terima kali ini.


Meskipun sebenarnya Gavino juga tidak tega, melihat keadaan sang Kapten. Tapi dia harus mulai terbiasa, untuk melupakan rasa kemanusiaannya. Pada orang-orang yang seperti sang Kapten ini.

__ADS_1


Sebab, orang-orang sang Kapten ini, adalah orang-orang yang tidak pernah memiliki perasaan sama sekali.


__ADS_2