
Satu orang lagi, yang yang menjadi penghalang jalannya Gavino, telah hilang.
Yang pertama adalah bos pemilik laboratorium abal-abal. Sedangkan yang kedua ini adalah adalah Alano sendiri.
Kini, masih ada dua orang lagi yang harus Gavino bereskan. Yaitu George, yang dia sendiri masih ragu untuk menghabisi. Dan yang kedua adalah, orang pemerintahan yang bekerjasama dengan para gembong mafia.
Sebenarnya, Gavino bisa bertanya kepada king Black langsung. Tapi dia tidak mau melakukannya, karena king Black tidak mungkin mau mengatakannya. Karena mereka adalah teman-temannya, yang sudah sering membantunya dalam segala urusan.
Tapi king Black akan membantu Gavino, jika orang itu sudah ada di tangan Gavino sendiri. Tanpa meminta bantuannya, sebab dia hanya bertugas sebagai seorang yang mengeksekusi tawanan saja.
Gavino tiba di bengkel mobil Lorenzo, dan menemukan tiga orang preman yang sudah ditangkap oleh anak buahnya. Mereka bertiga sekarang dalam keadaan terikat, sehingga tidak bisa melawan, dan ada di dalam bengkel.
"Suruhannya siapa mereka?" tanya Gavino dingin. Dia menatap tajam ke arah ketiga preman tersebut.
Anak buahnya berbisik pada Gavino, tanpa bisa didengar oleh orang lain. Bahkan, Lorenzo sendiri bisa mendengarnya.
"Ketiganya adalah suruhan satu orang, karena ternyata dua bengkel tersebut dimiliki oleh satu orang saja."
Pemilik bengkel tersebut melakukan taktik pasar, sehingga terlihat dua bengkel mobil yang bersaing. Padahal sebenarnya memang jadi satu, miliknya sendiri.
Dan dia tersinggung, dengan adanya bengkel mobil Lorenzo yang baru buka.
Itulah sebabnya, dia meminta para preman, untuk membuat kekacauan di bengkelnya Lorenzo.
"Bereskan mereka!"
"Emhhh... emhhh..."
Para preman tersebut, berusaha untuk protes dan berbicara dengan jelas pada Gavino. Sebelum dia dihabisi oleh anak buahnya Gavino yang sudah menangkap mereka tadi.
"Buka mulutnya!"
Srekkk!
Para preman tersebut, meringis kesakitan, di saat plester yang menutupi mulut mereka dibuka dengan kasar.
"Bicara dengan cepat!" perintah Gavino tegas.
"Ampun Tuan. Kami akan patuh pada Tuan, jika kami dibebaskan."
"Iya Tuan. Kami akan mengabdi pada Tuan selamanya."
"Iya Tuan. Itu benar."
Mereka bertiga, memohon pengampunan, dan meminta maaf pada Gavino. Mereka bertiga, ingin diberikan kesempatan, untuk bisa bekerja sama dengan Gavino. Menjadi anak buahnya juga.
"Bagaimana Tuan Muda?" tanya anak buahnya Gavino, mendengar permintaan ketiga preman tersebut.
"Kacau balik bengkel orang yang memberimu tugas. Itu adalah tidak tugas pertama untuk kalian. Jika sampai gagal, kalian tidak layak menjadi anak buah buahku!"
Akhirnya Gavino mengatakan keputusannya. Karena dia ingin memberikan kesempatan, kepada orang-orang yang mau bekerja sama dengannya. Tanpa dia harus mencarinya.
"Pantau mereka!"
Sekarang, Gavino meminta kepada anak buahnya, untuk memantau ketiga preman yang baru saja dia beri tugas.
Dia memberikan pesan kepada Lorenzo, untuk tetap berhati-hati. Karena segala sesuatu bisa saja terjadi tanpa di duga sebelumnya, setelah kejadian ini.
Pluk!
"Thank Gavin. Aku tetap mengandalkan kamu." Lorenzo berkata demikian, dengan menepuk pundak Gavino.
Teman sekaligus Bos nya juga.
__ADS_1
*****
( Ting )
( Selamat siang Good Father )
( Sinyal bahaya masih ada di depan )
'Aoa itu adalah George?'
( Ting )
( Belum bisa terdeteksi oleh sistem )
'Sinyal bahaya apa yang terdeteksi?'
( Ting )
( Gadis terdekat Good Father )
'Gress atau Bianca?'
( Ting )
( Keduanya mungkin ada pada target )
'Bagaimana bisa keduanya ada dalam target musuh-musuhku, yang tidak tahu mereka berdua?'
( Ting )
( Lawan Good Father bukan orang jauh )
'Hhh... iya. Aku lupa itu.'
( Ting )
'Baiklah. Aku akan melindungi mereka berdua. Meskipun Aku juga tidak mungkin bisa membuat mereka akur. Tapi akan Aku usahakan untuk itu.'
( Ting )
( Rencana yang bangus Good Father )
Layar sistem menghilang, setelah selesai memberikan sinyal peringatan pada Gavino.
*****
Di kantor polisi.
Sang Kapten menerima laporan dari salah satu orang yang dia tunjuk, untuk memantau keberadaan Bos pemilik laboratorium abal-abal.
Dia tidak pernah menyangka jika, Bos sebut ternyata sudah tidak ada lagi di dunia ini. Karena sudah dibunuh oleh anak buahnya king Black. Atas perintah dari Gavino.
Tapi dia juga tidak tahu, jika orang yang ada di belakang tewasnya Bos tersebut adalah Gavino sendiri.
Orang yang dia percaya, dan banyak memberikan informasi tentang keberadaan orang-orang yang sering membuat kekacauan. Yang salah satunya untuk terakhir kali, adalah memberikan informasi tentang laboratorium tersebut.
Tapi nyatanya, sang Kapten tetap saja tidak tahu siapa sebenarnya Gavino secara khusus.
Dia hanya tahu jika, Gavino adalah salah satu pemuda, yang sering membantu tugas para polisi dengan memberikan banyak informasi. Terutama pada dirinya.
Sayangnya, informasi kali ini Gavino tidak memberikan laporan dan penjelasan apapun. Sehingga sang Kapten benar-benar tidak tahu apa-apa. Terkait dengan hilangkan target buruan, yang pada kenyataannya justru sudah tiada, alias terbunuh.
"Cari tahu, apa penyebab meninggalnya Bos tersebut!" perintah sang Kapten pada anak buahnya yang bertugas.
__ADS_1
"Siap Kapten!"
"Hhh..."
Sang Kapten membuang nafas panjang, kemudian kembali duduk di tempatnya.
Dia merasa penasaran dengan meninggalnya Bos yang sedang diburu. Karena laporan yang dia terima di awal mengatakan bahwa, Bos tersebut ada di luar negeri.
Tapi sekarang, dia baru mendapatkan informasi bahwa, Bos tersebut sudah kembali ke Roma. Tapi Bos tersebut juga sudah dalam keadaan tidak bernyawa alias terbunuh.
Bahkan, kondisinya juga mengenaskan.
"Aku konfirmasi pada Gavin gak ya?" tanya sang Kapten seorang diri.
Dia ingin memberitahukan laporan ini kepada Gavino, tapi dia merasa sungkan, karena dia merasa gagal dalam tugasnya kali ini. Karena tidak bisa menangkap Bos tersebut dalam waktu singkat.
Bahkan sekarang, dia hanya bisa mendapatkan informasi yang tidak berguna lagi. Karena kenyataannya, Bos tersebut teteh tidak ada.
"Tapi... ah, lebih baik Aku lapor juga pada Gavin. Supaya dia tidak berpikir untuk mencari Bos itu lagi."
Akhirnya, setelah mempertimbangkan banyak hal, sang Kapten putuskan untuk menghubungi Gavino.
Tut tut tut!
Tut tut tut!
Tapi ternyata panggilannya untuk Gavino tidak tersambung. Bahkan dia juga mengulangnya kembali, namun tetap saja, Gavino tidak bisa penerima panggilannya.
"Tumben sekali, dia tidak bisa terima panggilan telpon dariku?"
Karena merasa penasaran, sang Kapten mencoba sekali lagi, untuk menghubungi Gavino.
Tut tut tut!
..."Ya halo!"...
..."Hai Gavin! Aku pikir Kamu sudah tidak mau menerima panggilan telpon dariku lagi."...
..."Ada apa Kapten?"...
..."Spa Kamu sibuk?"...
Sang Kapten bukannya menjawab pertanyaan dari Gavino, tapi dia justru mengajukan pertanyaan balik. Dia merasa bahwa, Gavino menanggapi panggilannya dengan datar.
Tidak sama seperti biasanya, yang selalu bersemangat untuk mendapatkan informasi apapun darinya.
..."Aku mau memberitahu, tentang Bos laboratorium yang dulu pernah melarikan diri ke luar negeri."...
..."Ada apa dengan Bos tersebut?"...
..."Dia sudah kembali ke kota Roma ini. Tapi sekarang, dia sudah tidak ada. Karena sudah dibunuh oleh pihak tertentu, yang mungkin merupakan musuhnya selama ini."...
..."Oh, berati tugas Anda tidak perlu diteruskan Kapten. Jadi, biarkan saja."...
..."Apa Kamu tahu, siapa pihak tersebut? Maksudnya, kelompok yang inginkan tewasnya Bos laboratorium tersebut."...
..."Maaf Kapten. Saya tidak tahu "...
..."Oh, ok. Aku hanya memberikan informasi tentang ini saja."...
..."Terima kasih Kapten."...
Klik!
__ADS_1
"Hahhh! Ada apa dengan Gavin?"
Sang Kapten membuang nafas kasar, karena dia merasa bahwa Gavino terlalu dingin menanggapi informasi yang diberikan.