
..."Halo Bi. Maaf ya, Aku terlalu sibuk untuk beberapa waktu terakhir ini."...
..."Tidak apa Vin. Aku tahu kesibukan yang Kamu miliki. Apa semuanya sudah baik-baik saja? Bagaimana dengan Gress?"...
..."Iya. Dia sudah mulai bisa menerima kenyataan, bahwa dia adalah anak dari Tuan Besar. Tapi, dia masih belum bisa bicara baik-baik, sebagaimana seorang anak dengan ayahnya. Kamu tahu kan, iya butuh waktu untuk semua itu."...
..."Iya, Aku bisa mengerti bagaimana perasaannya Vin."...
..."Karena itu juga Bi, Aku tidak bisa ke mana-mana untuk sementara waktu. Karena Aku masih menjaga kestabilan mentalnya, meskipun Aku juga tahu, jika dia adalah seorang gadis yang kuat."...
Bianca menyahuti perkataan Gavino lagi, disaat dia mendengar perkataan Gavino yang memuji gadis lain. Meskipun sebenarnya dia juga tahu bahwa, gadis yang dipuji karena itu adalah kekasihnya Gavino sendiri.
Tapi sebagai seorang gadis, yang juga pada kenyataannya dekat dengan Gavino. Bahkan bukan hanya sekedar dekat, tapi sama dekatnya seperti juga Gress. Dia tentunya memiliki rasa cemburu, tidak nyaman, pada saat mendengar Gavino yang memuji gadis tersebut.
..."Bi, Kamu masih mendengar suaraku kan Bi? apa Kamu tidak mendengar ku Bi? Halo Bi, Bianca? apa sambungan tokonya sudah tutup ini ya?"...
Bianca masih diam saja, mendengar apa saja yang dikatakan oleh Gavino. Bahkan di saat Gavino kebingungan, dan mengira jika sambungan teleponnya tertutup.
..."Halo Bi? Kamu tidak apa-apa kan Bi?"...
..."Bi, Bianca?"...
Klik!
Gavino tidak sabar karena Bianca tidak merespon panggilannya.
Dia langsung menutup panggilan telepon tersebut, kemudian bergegas keluar dari kamar menuju keluar rumah.
Saat ini, dia memang sedang berada di rumah. Karena baru saja mau berangkat ke rumah sakit, untuk menemani Gress yang masih menunggui king Black.
Tapi karena mendapati sikap bianca yang seperti ini, Gavino merasa khawatir juga dengan gadisnya yang satu itu. Dia tidak ingin kehilangan Bianca juga, sama seperti dia yang tidak mau kehilangan Gress.
Meskipun sebenarnya dia juga tidak mau menyakiti keduanya, tapi entah sampai kapan semua ini bisa dipertahankan. Gavino hanya menjalani apa yang dirasakan saat ini.
Dengan kecepatan tinggi, Gavino mengendarai sepeda motornya menuju ke rumah Dante. Di mana Bianca berada selama ini, karena memang kemauan Bianca, untuk bisa tetap berada di rumah sepupunya.
Dia langsung masuk ke dalam rumah, begitu tiba di rumah Dante. Anak buahnya yang masih bertugas menjaga Bianca di rumah Dante, hanya menganggukkan kepalanya samar. Melihat keberadaan bos-nya yang seperti sedang tergesa-gesa.
Tok tok tok!
Gavino mengetuk pintu kamar Bianca, supaya gadisnya itu mau keluar dari kamar.
Tapi kenyataannya, Bianca tetap diam dan tidak mau membukakan pintu kamarnya. Meskipun dia tahu, siapa yang datang kali ini. Karena hanya Gavino saja, yang biasa datang terburu-buru. Dengan mengetuk pintu kamarnya dengan cara terburu-buru juga.
Brakkk!
Gavino akhirnya membuka pintu kamar Bianca dengan kasar. Karena gadisnya itu tidak mau bukakan pintu untuknya.
Gavino tidak menemukan Bianca di dalam kamar, sehingga dia berteriak mencari gadis tersebut.
"Bi, Bianca!"
"Bianca!"
__ADS_1
"Ada apa Vin? Tidak usah berteriak-teriak. Aku bisa mendengar suara langkah kakimu, jadi Aku langsung bersiap."
Gavino melihat bagaimana keadaan Bianca, yang baru saja keluar dari walk in closet, atau ruang ganti pakaian. Karena penampilan gadis tersebut, sungguh sangat menggiurkan hasratnya.
Dengan langkah pasti, Gavino mendekat ke tempat bianca berdiri. Yaitu di depan pintu walk in closet, seakan-akan menunggu dirinya untuk datang mendekat.
"Bi..."
Gavino tidak melanjutkan kalimatnya, karena dia sudah tidak tahan untuk menyerang bibir gadis tersebut.
Akhirnya Bianca juga menyambutnya, sehingga keduanya sama-sama saling berbagi rasa. Karena sudah hampir seminggu, mereka tidak bertemu dan melepaskan rindu.
"Emhhh... Vin..."
Dws4han Bianca, seakan-akan menjadi obat. Yang bisa menambah gairah dan semangat Gavino untuk melakukan lebih.
Dan Gavino akhirnya tidak perlu banyak bicara, sama seperti pada saat menelpon tadi. Karena yang dia perlukan hanyalah sebuah pergerakan demi pergerakan, untuk kegiatan mereka.
Hingga akhirnya mereka sama-sama terbaring, dengan senyum kepuasan.
"Vin."
Gavino hanya menoleh ke arah Bianca yang masih sama seperti dirinya. Yaitu sedang mengatur nafas, yang sedari tadi memburu karena kegiatan mereka berdua tadi.
"Kamu mau bicara apa Bi?" tanya Gavino, sambil memiringkan tubuhnya, dengan mengelus pipi gadisnya itu.
"Apa Kamu... Apa Aku masih bisa mengisi hatimu?" tanya Bianca gagap, karena bingung sendiri dengan pertanyaan yang diajukan.
Grep!
Bianca tidak memberikan komentar ataupun jawaban atas pernyataan yang diucapkan oleh Gavino, tapi dia langsung memeluk tubuh Gavino yang tadi sudah dia nikmati.
"Aku tidak meminta semuanya Vin. Aku mengerti posisimu. Aku hanya ingin, Kamu juga bisa mengerti keadaanku. Jadi tetaplah datang ke sini, tanpa harus Aku minta."
Sekarang, Gavino mengerti apa yang dimaksud oleh Bianca.
Cup!
"Iya Bi. Maaf ya, jika Aku lama tidak datang mengunjungi dirimu. Itu karena Aku harus bolak-balik ke rumah sakit, untuk menemani Gress. Dan keadaannya itu belum stabil secara mental."
Bianca mengeratkan pelukannya, karena sebenarnya dia paham dengan posisi Gavino saat ini.
Tapi sisi egoisnya yang kadang kala tidak bisa dia kontrol, sehingga rada cemburu itu datang dengan sendirinya. Dan dia tidak bisa menyembunyikan rasa itu dengan baik.
"Hiks hiks hiks... maaf Vin. Aku terlalu menuntut mu, supaya bisa memperhatikanku lebih banyak."
Cup cup cup!
Gavino kembali menciumi kening dan bibir Bianca segera bergantian, untuk memberikan rasa tenang dan nyaman pada gadisnya ini.
Sekarang, ciuman yang menenangkan dari Gavino, justru berubah menuntut untuk disambut dan diperlakukan sebagaimana mestinya. Sehingga pada akhirnya, mereka berdua mengulangi kegiatan mereka beberapa menit yang lalu.
*****
__ADS_1
"Hari ini Aku sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah. Apakah Kamu mau ikut pulang bersamaku Gress?"
King Black atau Thomas Bryan, mencoba bertanya kepada anaknya. Karena dia memang ingin selalu dekat dengan Gress.
Apalagi sudah seminggu lebih mereka selalu bersama, dengan Gress yang selalu menemaninya di rumah sakit ini. Meskipun anaknya itu tidak banyak bicara, dan mau diajak untuk bicara juga.
"Gress. Aku berharap Kamu mau tinggal bersamaku. Itu akan jauh lebih baik, meskipun Kamu tidak akan pernah mau memanggilku dengan sebutan papa maupun ayah. Itu tidak akan pernah menjadi persoalan serius untukku."
Gress masih diam, dan tidak memberikan jawaban apapun. Dia sendiri merasa bingung, apa yang harus dia putuskan.
Dalam hati kecilnya, dia ingin sekali memeluk laki-laki paruh baya, yang sudah memproklamirkan diri sebagai papanya. Yang tidak pernah dia kenal selama hidupnya.
Dia sebenarnya sangat bahagia, dan ingin bisa lebih dekat dengan laki-laki tersebut.
Tapi rasa marah dan kecewa di dalam hatinya, masih terlalu besar. Sehingga mengalahkan perasaan sayang, yang ada karena pertalian darah di antara mereka berdua.
Dia sepertinya mewarisi rasa angkuh, dan menjaga gengsi, yang juga dimiliki oleh Thomas Bryan.
Karena itu juga, Gress belum bisa memberikan jawaban apapun, atas pertanyaan yang diajukan oleh Thomas Bryan untuknya. Meskipun dia ingin sekali mengatakan "iya."
"Jika Kamu tidak mau ikut pulang bersama denganku, setidaknya, berilah Aku satu kesempatan. Untuk bisa memelukmu Gress."
"Apakah boleh?"
Gress tertegun mendengar permintaan dari papanya itu. Dia sebenernya ingin menghamburkan dirinya ke dalam pelukan hangat seorang papa. Sosok yang tidak pernah dia miliki selama ini.
Tapi dia masih malu, kecewa, dan marah, atas apa yang dilakukan oleh papanya itu selama ini. Karena ada kenyataannya, sepanjang hidupnya, papanya itu telah membuangnya, atau menyingkirkannya dari sisi sang papa. Bahkan mamanya juga.
Mengingat kembali hal tersebut, wajah Gress memerah karena marah. Akhirnya dia membuang muka, supaya Thomas Bryan tidak melihatnya.
Ini membuat Thomas Bryan bertanya-tanya, apa yang sebenernya diinginkan oleh anaknya itu. Karena Gress tidak mau sedikitpun bicara dengannya sedari tadi.
"Gress, bicaralah Nak! Aku yang sudah tua ini, tidak tahu apa yang Kamu inginkan."
Gress menoleh dengan cepat, setelah dia bisa menguasai dirinya.
"Kamu ingin Aku memaafkan mu?"
"Tidak semudah itu pak tua!"
Setelah selesai bertanya, dan memberikan jawabannya sendiri, Gress langsung berdiri. Dia ingin segera keluar dari ruangan ini, supaya dadanya tidak terasa sesak.
Tapi sebelum dia sempat keluar, Thomas Bryan sudah menangkap tangan Gress, dan membawanya ke dalam pelukannya.
Grep!
"Maafkan Papa Nak. Maafkan Papa mu ini. Kamu boleh memberikan hukuman apa saja, untuk orang tua ini."
Mendengar perkataan dari laki-laki tua yang saat ini sedang memeluknya, Gress justru menangis tersedu-sedu.
Dia menumpahkan segala rasa, di dada sang papa. Yang baru saja dia ketahui beberapa hari kemarin.
"Maafkan Papa Nak!"
__ADS_1